
"Oh ya Suamiku, jika kamu memang tak percaya dengan apa yang aku katakan, sekarang juga aku bisa kok, membuktikan semuanya di hadapan kamu." Ucap Sarah mempelihatkan senyuman liciknya dihadapan sang suami.
Sarah mulai berjalan begitu cepat, untuk segera mengambil berkas yang sudah ditanda tangani suaminya. Sebagai bukti jika rumah dan perusahaan sudah menjadi miliknya.
Mengambil pada laci kamar, Sarah tersenyum. " untung aku sudah persiapkan semuanya, saat kejadian seperti ini, yang rugikan bukan pihak wanita. "
Sepuluh menit, kini Sarah datang menunjukkan diri, dengan membawa berkas itu.
"Ini, coba kamu lihat sendiri. "
Menyodorkan berkas itu pada Rudi yang masih berdiri dihadapannya.
"Ayo lihat. " tekan Sarah, raut wajah ragu diperlihatkan oleh Rudi. Perlahan lelaki tua itu langsung mengambil berkas dari tangan sang istri dan melihat isi dari berkas itu.
"Apa, jangan gila kamu Sarah, semua harta milikku. Kenapa hanya sepuluh persen saja yang aku dapatkan, aku yang bekerja keras dari hasil jerih payahku sendiri, kamu yang menikmati semuanya. Benar benar kamu keterlaluan. "
Sarah kesal dengan perkataan suaminya, ia mencekram kerah baju Rudi dengan kedua tangannya, menatap tajam lalu berkata," apa kamu lupa, hah. Kamu sendiri yang berkata seperti itu dulu. "
"Dulu." Sontak Rudi terkejut dengan kata kata dulu, ia berusaha mengigat ngingat.
"Iya, saat aku memegroki kamu berciuman dengan sekertarismu itu siMaya. " pekik Sarah, membeberkan aib suaminya dihadapan Natasha.
Rudi berusaha mengigat kembali semua yang dikatakan sang istri, " gimana, masih tetap berdalil lupa?"
Tiba tiba isi kepala mulai teringat akan masa lalu tentang dirinya dan sekertaris yang sudah dipecat oleh Sarah.
"Eeh, iya. Aku ingat. "
Sudah habi kesabaran, Sarah kini mengusir keduanya. " Cepat pergi dari rumahku. "
Berulang kali.
Hingga Rudi mempelihatkan jurus jitunya, yaitu dengan bersujud terus menerus di depan istrinya, ia tak mau sampai dirinya menjadi gelandangan di luar sana.
"Ampun ma, Please jangan usir papah ya."
Natasha yang melihat sang papah memohon mohon seperti pengemis membuat ia berbisik pada telinga Sarah. " Ma, kasihan papa. Berilah dia kesempatan lagi. "
"Kesempatan lagi dan lagi, mama sudah cape. Terus menerus memberikan papah kamu kesempatan, tapi ia tidak pernah berubah. Sudah tua juga tetap seperti itu. "
Natasha memohon mohon dengan mempelihatkan raut wajah sedihnya. " Mama, ayolah kasihan papah. Please."
"Kamu lihat tidak pah anakmu. Coba kalau Natasha tidak merengek seperti anak kecil, mungkin aku sudah membunuhmu dan membuangmu ke danau buaya. Supaya semua daging dagingmu itu habis, di santap buaya. Sampai tak tersisa dan lagi tuh siotong juga ikut kemakan, biar engga coblos sana sini. "
Deg ....
"Mah, kok gitu sih. Papah dengarnya juga ngeri. "
Rudi menatap sayu kearah istrinya, menampilkan senyum kecilnya "Berati, mama tidak jadi mengusir papah. "
__ADS_1
Menghebuskan napas, menjawab perkataan sang suami. "Iya, semua ini karena anak kamu, tapi kalau papah dibelakang kaya begini lagi, awas saja. Kukulitin semua badan kamu yang sudah peot ini. "
Perkataan Sarah begitu menyeramkan saat terdengar pada telinga Rudi, tangan dan tubuhnya bergetar.
Sedangkan Iyem yang menarik koper, mulai bertanya pada Sarah, " nyonya. "
"APA?"
"Besok saja saya pulangnya ya, saya takut kalau malam begini!"
Sarah menatap ke arah jam di dinding, " Hey, kamu buta ya, nggak lihat apa. Tuh jam sudah pukul empat pagi. "
Iyem menantap ke arah jam di dindingnya dan benar saja, perdebatan sampai menunjukkan jarum jam ke angka empat.
"Jadi tunggu apa lagi. "
"Eh iya, nyonya."
"Cepat pergi. "
"Baik."
Iyem kini pergi dengan kedua bibir yang terlihat mengkerut, ia seperti sampah yang benar benar dibuang begitu saja.
Menatap sekilas kearah Rudi, berharap jika lelaki yang sudah menyentuh dirinya merasa kasihan. Namun pada kenyataanya, jika lelaki sudah kenyang dengan wanita, pasti wanita itu akan dibuang dan tak dibutuhkan lagi.
Rudi terlihat berpura pura tak melihat kepergian Iyem, ia begitu cuek. " Awas ya bandot tua, aku akan meminta pertanggung jawaban nanti kalau sewaktu waktu aku hamil. "
"Iya nyonya, saya permisi dulu. "
*******
Mengusap pelan dada bidang, Rudi terus berterima kasih pada anaknya. "Terima kasih ya sayang. "
"Iya pah, tapi papah jangan ngulangin kaya gitu lagi, kasihan mama."
Menunjukkan jempol tangan, Natasha tersenyum lebar, dimana Sarah berucap. " lebay sekali kalian. "
Sarah kini pergi dari hadapan suami dan juga anaknya, sembari menggerutu kesal.
Menutup pintu begitu keras, membuat Rudi terkejut.
"Natasha, papah tidur di kamar kamu ya, " pinta sang papah, membuat Natasha bergidig ngeri.
"Idih, nggak maulah pah, papah tidur aja di sofa, " ucap Natasha menunjuk sofa ruang tamu.
"Nggak nyaman, " balas Rudi, lelaki tua itu terus memohon mohon pada anak semata wayangnya.
Namun Natasha tetap menolak dan mengabaikan sang papah begitu saja.
__ADS_1
"Natasha, " teriakan dilayangkan, tetap saja Natasha acuh. Ia masuk ke dalam kamar dan segera mungkin merebahkan tubuhnya untuk segera memasuki dunia alam mimpi.
"Ya ampun, masa ia seorang CEO tidur di atas sofa. "
Baru saja terlelap, merasakan hawa dingin yang menyeruak menebus pada dasar kulit, tiba tiba.
"Pah, bangun. Papah. "
Pukulan beberapa kali dilayangkan Sarah pada punggung suaminya.
"Apa sih mah, papah masih ngantuk, " Menggeliat beberapa kali lalu menguap.
"Sudah jam tujuh nih, kitakan mau mengadakan pernikahan Edwin dan juga Natasha," bentak Sarah, berusaha membangunkan suaminya yang masih terlelap tidur.
"Duhhh, mama ini. " Rudi mulai memaksakan diri untuk bangun, menggeliat manja.
"Natashanya mana?" tanya Rudi pada sang istri.
"Dia lagi boker di kamar mandi, padahal mama suruh dia cepat cepat, tapi Natasha malah memperlambat!" balas Sarah, menggerutu kesal didepan suaminya.
Rudi mulai berdiri dihadapan sang istri, berharap jika Sarah sudah tak marah lagi kepadanya.
"Sayang, kamu sudah tidak marah lagikan pada suamimu yang ganteng ini?"
Menatap dengan tatapan tajam," tentu saja sebagai seorang istri yang tersakiti, aku masih marah pada papah, jadi jangan berharap sifatku seperti dulu. "
Menelan ludah, Rudi kini mendapatkan pelajaran yang setimpal dari perbuatannya.
"Mamah jangan begitu dong, papahkan sayang sama mama. "
"Sayang, pah. Kalau lelaki yang benar benar sayang itu tidak akan mengkhianati istrinya sendiri. "
"Papahkan khilaf. "
"Terus saja bilang begitu, sampai kamu mati dikubur, pas nanti di tanya sama malaikat, " maaf aku khilaf. " Helo, siksa kubur menantimu pah. "
"Mama, kok nyumpahin papah sebegitunya sih. "
"Mama nggak nyumpahin kok, hanya mengigatkan saja, kalau papah merasa tersindir ya bagus dong berarti papah itu sadar bahwa papah banyak dosa sama istri. "
Memang mulut wanita itu tak bisa dikalahkan, saat laki laki berkata sepuluh kata, wanita bisa seribu kata, itulah kekuatan seorang wanita tak akan bisa dikalahkan dengan apapun.
"Papah pusing kalau dengar mama ngomong terus. " Gerutu Rudi, menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Loh, papah kenapa malah tidur. Papah ini aneh ya, " Sarah kembali membangunkan suaminya. Dimana ia mengambil air keran.
Byurrrrr ......
"Banjir." Rudi akhirnya bangun berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Dasar bandot tua, semakin tua bukannya sadar diri, ini kelakuan malah kaya bocah, geblek emang. "