
"Butuh duit Mbak, buat makan sama beli baju lebaran, anak sama bini. Terpaksa ngelakuin pekerjaan kaya begini, kan duitnya halal ini. Nggak nyuri," ucap lelaki bernama Asep itu, membuat sebuah pembelaan untuk dirinya.
"Ya tidak sampai segitunya Markona, heh, perkejaan yang lu lakuin ini, sudah ngerugiin orang lain, lu ngerti nggak sih, " balas Natasha, sedikit mendorong kepala Asep.
Asep mengira jika wanita yang ia hadapi adalah sosok wanita lemah, hanya mengandalkan teriakan.
"Ya Maaf, namanya juga orang butuh, kalau nggak butuh nggak bakal lakuin kaya begini. "
Mendengar hal itu, bukan membuat Natasha kasihan, tapi malah membuat Natasha kesal. Karena permintaan maaf laki laki itu terdengar tak serius.
Edwin datang membawa ponselnya, ia mulai menelepon polisi dihadapan Asep, akan tetapi Asep terlihat santai saja, menangapi Edwin dan Natsha yang akan melaporkan dia ke polisi.
"Idih lu, santai saja Asep, nggak takut gitu?" tanya Natasha, membuat Asep mengangkat bahunya.
Menggelengkan kepala, Edwin hanya menatap wajah orang itu dengan tatapan yang sangat aneh.
"Bisa bisanya ada orang yang hanya mengandalkan kepasrahan seperti kamu ini," ucap Edwin, mencubit pipi Asep, melihatnya merasa ingin memekul saat itu juga.
"Lah, gimana lagi. Meberontakpun percuma, sudah ketangkap, " keluh Asep, menundukkan wajah.
Natasha kini menyuruh suaminya untuk memegang Asep, karena ia punya ide untuk membuat lelaki yang sudah bikin resah itu mengaku siapa yang memerintahnya.
Mengambil uang, lalu mempelihatkan dihadapan Asep, " kamu lihat ini apa?" Asep terlihat membulatkan kedua matanya, ketika Natasha mempelihatkan uang gepokan pada wajahnya.
"Uang lah, masa daun, " ketus Asep, nada bicaranya terdengar begitu menyebalkan, " ahk, ia aku tahu ini uang, jadi .... "
Asep terlihat mulai tergiur dengan uang gepokan yang diperlihatkan Natasha, " kamu mau?"
"Ya mau lah, kalau dikasih cuman cuma!" jawab Asep sembari merilik ke arah uang berwarna merah.
Dengan sengajanya Natasha menempelkan uang gepokan itu pada hidung Asep, membuat Asep menghirup lalu berkata, " wanginya."
Natasha yang sudah melihat Asep tergoda, hanya tersenyum kecil, ia melayngkan aksinya. " Jadi kamu mau dong uang ini. "
Asep Dengan semangatnya langsung menganggukkan kepala, " jelas aku mau lah. "
"Oke, kalau kamu mau uang ini, kamu harus mengakui siapa orang yang sudah menyuruh kamu melakukan hal konyol ini, " ucap Natasha, berusaha membuat Asep mengakui.
Namun lelaki berjanggut itu malah menggelengkan kepala, "tidak akan, karena aku sudah berjanji padanya. "
__ADS_1
"Hanya kareba janji, kamu menyia nyiakan uang ini, aduhh sayang banget deh, " ucap Natasha tersenyum lebar.
Perlahan demi perlahan, rayuan maut ini, membuat Asep tak kuat, sampai dimana ia berkata," kalau ditambah satu gepok lagi, mau deh."
Natasha menatap ke arah suaminya, " ternyata kamu matre juga jadi laki. "
"Bukan matre, namanya orang butuh, buat beli bini baru, " balas Asep tersenyum dengan raut wajah malu malu.
Natasha yang mendengar hal itu menggelengkan kepala, " sinting emang lu asep, masih kepikiran bini baru. Buat beli baju lebaran lu ngelakuin kaya begini. "
"Ya realitis saja, namanya kehidupan. Mau bagaimana lagi, " dengan angkuhnya, lelaki itu mempelihatkan sikap sombongnya.
Sarah yang terlihat geram, kini menimpal dan menghentikan obrolan anak dan juga lelaki berjanggut itu.
"Aduh Natasha, ngapain kamu masih nahan nahan tuh orang, nggak ada guna. Masukan dia ke kantor polisi. "
Ucapan Sarah membuat Rudi setuju, " ada benarnya apa yang dikatakan mama kamu, jadi sudah cepat telepon polisi. "
"Dari pada kamu iming iming dia uang, ujungnya dia bohong. "
Sang mama hanya menasehati anaknya, karena jama sekarang orang bisa saja menipulasi ucapan agar terlihat jujur.
Edwin masih berada di dekat Natasha, ia kini berucap, " apa yang dikatakan mama kamu benar sayang. Sudahlah, kita telepon polisi saja, toh si Asep ini orangnya kelihatan tak menyakinkan. "
Edwin mulai merebut ponsel yang tengah dipegang oleh Asep, terlihat Asep berusaha menyelamatkan ponsel.
Tanpa banyak berpikir panjang, lelaki berjanggut itu melemparkan ponselnya pada atas lantai.
Namun Edwin dengan sigap mengambil ponsel yang dilayangkan Asep.
"Berhasil di tangkap. "
Terlihat Asep seperti ketakutan, karena ponselnya berada ditangan Edwin, lelaki berbadan kekar itu langsung mengangkat panggilan telepon dari nomor yang tertera namanya, Bos.
"Halo Asep. Bagaimana perkejaanmu lancar tidak?" suara pada sambungan telepon itu membuat Edwin seakan mengenal suaranya..
"Heh, Asep. Kalau saya ngomong itu jawab, jangan diam saja, apa kamu sudah mengambil poto Natasha dan Edwin tidak, kalau sudah cepat balik, aku butuh poto itu sekarang?"
Asep mendengar ucapan sang bos, membuat ia menelan ludah, perasaanya tak karuan.
__ADS_1
"Halo Asep. "
Terdengar suara itu mengerutu kesal pada Asep yang tak mau menjawab perkataanya.
"Kamu dengar tidak."
Asep yang dipaksa bersuara, membuat Natasha kini menginjak punggung kaki lelaki berjanggut ini. Sampai Asep berteriak kesakitan.
"Ahk." Dengan sepontan, Edwin menutup mulut Asep.
Saat itu Natasha, melayangkan bisikan pada telinga Asep," kamu dengar tidak perkataanku. Aku berharap sekali pada kamu agar kamu mengeluarkan suaramu itu. "
"Mmm. Mmmm. "
Edwin mulai melepaskan tangannya yang membungkam mulut Edwin, " cepat ngomong. " Bisik kembali Natasha.
Asep mulai bersuara. " Bos, saya sekarang tengah."
Natasha menutup ponsel Asep, dimana ia berbisik kembali, " jangan bilang kamu sudah aku tangkap, kalau kamu berani mengatakan hal itu, aku pastikan, kamu akan kena akibatnya. "
Menelan ludah, Asep yang tadinya terlihat biasa saja, kini merasa semakin ketakutan. " kenapa? Kamu takut?"
Asep menganggukkan kepala, " jadi cepat katakan sebenarnya rencana kamu itu berhasil. "
Natasha melepaskan tangannya yang membungkam mulut Asep, membuat bibir lelaki itu bergetar karena menahan rasa takut," ayo katakan. "
"Bos, rencana saya sudah berhasil, jadi bos tenang saja. "
Edwin dan Natasha mendengarkan perkataan pada sambungan telepon itu dengan seksama, " Bagus kalau begitu, tak payah memperkerjakan kamu. "
Edwin menyuruh lelaki berjangut itu menyebut nama sang bos, namun penuh dengan tekanan, Asep menggelengkan kepala, ia takut, akan mengungkapkan kejujuran.
"Jadi kamu tidak mau berkata jujur, baiklah, aku akan membuat hidup kamu, " ucap Edwin mempelihatkan tanganya seperti orang yang akan memotong leher.
Asep semakin ketakutan, ia pada akhirnya memanggil nama sang bos, " Bos Wina. "
Sontak semua menatap ke arah ponsel Asep, Edwin tak menyangka jika Wina, wanita yang ia tolak secara terang terangan, berbuat jahat kepadanya.
Sedangkan Natasha tak tahu menahu tentang Wina, yang ia ingat hanya wanita cantik pertama kali bertemu dengan Edwin di rumah.
__ADS_1
"Kenapa Asep, hah. Kamu ragu dengan bayaranku?"
"Tidak, bos, bayaran sudah cukup!"