Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 64


__ADS_3

"Ya jelas Rudi. Aku ini masih istri sah kamu, jadi pantaslah aku membela diriku sendiri dari anak gadis yang tidak tahu diri ini."


"Cukup Sarah, jangan pernah menghina keponakanku, karena dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita. "


Sarah yang terlihat geram dengan pembelaan suaminya itu terhadap Putri, membuat iya menyunggingkan bibirnya mengikuti perkataan suaminya itu.


"Sarah, kamu dengar apa yang aku katakan?"


"Tentu saja dengar pah, hanya saja aku sangat keberatan sekali dengan perkataanmu, kata kamu dia itu tidak ada hubungannya dengan masalah kita. Kenapa dia sampai menyelidiki ku bukankah ini sama saja dia masih berada dalam masalah kita. "


" Siapa yang menyelidiki Kamu Sarah tidak ada yang menyelidikimu, asal kamu tahu sendiri. Pertama kali melihat perselingkuhanmu itu aku sendiri bukan Putri. Dan saat itulah aku menyuruh Putri untuk merekam kalian berdua. "


Terlihat jika Sarah begitu gelisah, ia berusaha mencari cara agar dirinya tak terlalu malu.


"Ya sudah kalau kamu terus menganggap aku selingkuh. Sebaiknya kita berpisah."


Deg ....


Perkataan Sarah membuat Rudi terlihat gugup, bukan seperti itu yang ia inginkan, Rudi ingin Sarah mengakui dan meminta maaf.


Rudi dengan tegasnya berucap, " baik, jika itu keinginanmu, akan aku turuti. "


Sarah terdiam sejenak setelah mendengar perkataan dari mulut Rudi, ia mengira jika lelaki tua itu akan mempertahankannya, tapi pada kenyataanya, Rudi malah acuh dan tak mempedulikan Sarah sama sekali.


"Rudi kamu akan menyesal."


Sarah malah memarahi Rudi balik, membuat Rudi berusaha tetap sabar menghadapi istrinya itu.


Putri tersenyum sinis, menatap kearah Sarah, sang tante yang terlihat tak berdaya. " apa Tante tidak salah berucap, yang harusnya menyesal itu tante karena sudah membuang Om Rudi."


Sarah tak suka dengan Putri yang selalu ikut campurnya akan masalahnya, ya kini menegaskan keponakan suaminya dengan berkata," jaga mulut kamu, jangan selalu ikut campur masalah orang lain."


Putri mandelik kesel di hadapan Sarah, membuat ia pergi dari hadapan kedua Insan yang tengah berdebat itu.


"Kemana kamu?"


Pertanyaan Sarah membuat langkah kaki Putri terhenti, gadis muda itu mempelihatkan wajah juteknya.


" Bukannya tadi tante menyuruh Putri untuk tidak ikut campur, sekarang malah tanya lagi, situ waras!" jawab Putri mengeluarkan nada kesalnya.


Rudi memberikan kode pada keponakannya, agar tidak terlalu menanggapi perkataan Sarah. Dimana Putri mengerti, ia pergi dari hadapan keduanya.


Namun Sarah berusaha menahan keponakan suaminya itu," Putri, kamu juga harus ikut dalam masalah ini, karena dari awal kamu sudah mencampuri masalah tante dan juga paman."


Putri tak peduli dengan hal yang diucapkan oleh Sarah, dia pergi keluar rumah untuk mencari sesuatu yang tidak membuat otaknya terganggu.


Sampai di mana, Putri melihat Natasha tengah mengobrol dengan suaminya. Rasa penasaran, membuat Putri menguping pembicaraan keduanya.


Natasha berusaha memperlihatkan raut wajah juteknya, di hadapan Edwin.


"Natasha, bagaimana masalah Mamah dan papa apa sudah selesai?"


Natasha menundukkan pandangan, membuat Edwin terlihat heran.


Tangan kekar itu kini memegang dagu Natasha, mengangkat secara pelahan, " Natasha. "


Natasha berusaha menatap suaminya, ini pertama kalinya ia berani menatap wajah Edwin. Wajah dan badan Edwin yang selalu ia hina.


"Kenapa?"


Hembusan napas Edwin terasa oleh Natasha, ia tiba tiba saja terpanah.


Sampai dimana, Brukkk ....


Dorongan kuat Natasha layangkan pada suaminya, " Natasha, kenapa kamu malah mendorong tubuhku. "


Tubuh kekar itu kini terbaring di atas tanah, akibat dari dorongan Natasha. " Maaf Edwin. "


Terlihat wanita yang selalu di sebut barbar oleh Edwin itu menjadi salah tingkah, ia berusaha mengangkat tubuh suaminya.


"Ayo."


Menyodorkan tangan pada Edwin, sampai dimana Edwin dengan sengaja menari tangan istrinya, " Edwinnnn. "


Tertawa terbahak bahak, disaat Natasha jatuh pada pelukannya. " Kenapa?"

__ADS_1


Kedua pipi Natasha memerah, terlihat ia seperti menahan rasa malu.


"Edwin, kamu ini kenapa?"


"Diam sejenak, aku ingin merasakan pelukan ini lebih lama."


Natasha berusaha bangkit, namun Edwin malah menahan sang istri. " Tetap pada pelukanku. "


"Edwin, mana mungkin, ini diluar rumah dan orang orang pasti akan melihat kita. "


"Sudahlah, biarkan saja jika mereka melihat kita. Tak apa, kita ini kan sudah menjadi suami istri. "


"Edwin, bukan begitu ceritanya, walau kita sudah menjadi suami istri tetap saja. Jika di muka umum rasanya malu. "


"Mm, malu. Lalu jika di dalam kamar bagaimana?" keingina yang mengejutkan dari mulut Edwin.


"Jangan bercanda Edwin. "


Lelaki berbadan kekar itu, malah memeluk erat tubuh istrinya.


"Edwin pengap. " Edwin tak mepedulikan perkataan istrinya dimana keduanya saling menatap satu sama lain.


"Apa?"


Menggelengkan kepala, terlihat jika Natasha mengiginkannya namun ia berpura pura menolak.


"Sudahlah jangan berpura pura seperti itu, aku juga tahu jika kamu mengiginkannya bukan. "


"Apa maksud kamu. "


Edwin bangkit, disaat ucapan Natasha terlontar begitu saja. Lelaki berbadan kekar itu kini membopong tubuh istrinya.


"Ayo kita meneruskan keinginan kita."


Natasha berusaha menolak, karena tak mungkin melakukan semuanya di siang hari, " Edwin lepaskan aku. Oke. "


"Edwin dengar tidak. "


Edwin malah mengabaikan teriakan Natasha, ia terus berjalan menuju ke kamar yang selalu membuat tidur mereka nyaman.


"Edwin, pleas jangan gila kamu. "


"Aku nggak gila, aku masih waras sayang. "


Natasha kini terjebak akan rayuan Edwin yang terdengar mematikkan. " Edwin, bisa kamu turunkan aku?"


Edwin menggelengkan kepalanya dan menjawab, " tidak akan pernah. "


Sontak sosok Putri yang tengah mengintip, kini mengerutu kesal, ia menghentagkan kakinya ke atas lantai tak suka dengan pemandangan yang membuat hatinya iri.


Apalagi Putri kini menginjak usia remaja yang terbilang usia dimana daya tarik terhadap laki laki ia rasakan.


"Kenapa mereka bisa semesra itu, bikin iri saja. "


Putri dengan lancangnya, mendekat dan menghentikan langkah kaki Edwin. Melebarkan tangan dan berkata, " Apa yang kamu lakukan pada kakakku jangan sakiti dia. "


Edwin melihat gadis dihadapannya, kini mendorong tubuh Putri, " menyingkir kamu. "


"Putri." Natasha menggelengkan kepala, memberitahu jika ia tak boleh menahan langkah kaki Edwin.


Berkacak pinggang dan berkata, " Kak Natasha."


Edwin tersenyum tipis, akhirnya ia sampai juga di dalam kamar, membaringkan badan sang istri dan berkata, " akhirnya kita bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan di kamar ini. "


"Edwin, jangan gila kamu. " Edwin tersenyum, dan mendekat, lalu membuat Natasha terdiam sejenak. " Kenapa menolak. "


"Aku bukan menolak, tapi waktunya tidak tepat. Edwin, " gerutu Natasha, membuat Edwin malah sengaja mendekatkan tubuhnya pada Natasha.


"Edwin."


"Sudahlah, nikmatin saja oke. Kita jadi bikin dede bayi. "


"Dede bayi?"


Edwin menganggukkan kepala, " iya dede bayi, sudahlah sekarang aku sudah tak sabar ingin menyantap apem kamu yang merah legit itu.

__ADS_1


Natasha bergidik ngeri melihat Edwin seperti orang yang kelaparan.


Sedangkan Putri, berlari menghampiri Rudi.


Dimana kedua insan itu tengah merenung mereka seperti patung yang tak bergerak dan bersuara, saling membelakangi tubuh masing masing.


"Om," ucap Putri menarik tangan sang paman, Sarah yang melihat pemandangan itu kini berdiri dan mencegah Putri.


"Putri, kamu itu tidak sopan. Ngapain kamu pake menarik tangan paman kamu, " pekik Sarah, dimana ia tak ingin jika Rudi pergi, karena masalah keduanya berlum selesai.


Putri menatap sinis kearah Sarah," bukan urusan tante, jadi suka suka Putri dong. "


Mengepalkan kedua tangan, kesal dengan jawaban Putri, Sarah kini menarik tangan suaminya. " lepaskan pamanmu sekarang juga. ".


" Tidak akan, aku ingin mengajak paman. "


"Apa maksud kamu, mengajak kemana? Sudahlah jangan bodoh kamu ini Putri, jelas jelas kami tengah merenungi masalah kami."


"Alah, masalah itu bisa lain waktu. Ini lebih penting, jadi om ikut Putri sekarang juga. "


Putri malah mendorong tubuh Sarah, dimana genggaman tangannya terlepas dari tangan Rudi.


"Putri."


Dan pada akhirnya Putri bisa membawa pergi sang paman dari hadapan istrinya.


Menjulurkan lidah, pertanda ia menang.


"Anak itu. " Karena rasa penasaran mengebu pada hati Sarah, pada akhirnya wanita yang selalu di sebut mama muda itu, berjalan mengikuti langkah kaki Putri yang membawa paksa Rudi.


"Si Putri ini kenapa sih, bisa bisanya dia menarik Rudi, menyebalkan sekali. " Gerutu hati Sarah.


Rudi dan juga Putri sudah sampai di tempat tujuan, dimana mereka sampai di pintu kamar Natasha.


"Putri, kenapa kamu malah membawa om kesini?"


tanya lelaki tua itu, mengerutkan dahinya, meresa heran dengan sang keponakan.


Putri menempelkan telunjuk jari tangannya pada bibir, ia mencegah sang Paman untuk tidak berbicara. " Apa maksud kamu. "


Putri mulai membisikan suatu perkataan dihadapan lelaki tua itu," Sebaiknya om jangan mengeluarkan suara sepatah katapun. "


" Memangnya kenapa?" tanya kembali Rudi.


Putri yang ketakutan dengan keadaan Natasha, kini menempelkan telinganya pada pintu kamar Natasha, dimana ia mendengar suara yang membuat dirinya terkejut.


"Kenapa Putri, apa kamu dengar sesuatu di dalam kamar Natasha?" pertanyaan Rudi membuat Putri menempelkan lagi telunjuk jari tangannya.


Dengan seksama, Putri mendengar suara rintihan yang tak ia mengerti, membuat ia kebingungan sendiri.


"Om, sepertinya Kak Natasha sedang tidak baik-baik saja di dalam kamar, Putri takut kenapa-napa dengan Kak Natasha?"


"Benarkah itu, " ucap Rudi, di mana Putri menganggukkan kepala, menjelaskan apa yang sudah ia lihat di depan matanya sebelum Natasha masuk ke dalam kamar bersama dengan Edwin.


Sontak penjelasan Putri membuat Rudi kuatir, sampai di mana Sarah mendekat ke arah mereka berdua," sedang apa kalian di depan kamar anakku?"


Rudi yang terlihat begitu panik, memperdulikan perkataan istrinya, iya tiba-tiba saja mendobrak pintu kamar Natasha.


. Dimana Sarah berusaha menahan tubuh suaminya agar tidak mendobrak pintu berulang kali," bodoh. Apa yang kamu lakukan,"


"Kamu ini tidak akan mengerti Sarah, anak kita itu sedang tidak baik-baik saja. "


"Tidak baik baik saja bagaimana maksud kamu?"


Rudi menjelaskan semua cerita yang terlontar dari mulut keponakannya itu," tadi Putri melihat Natasha di bawah paksa oleh Edwin masuk ke dalam kamar, sampai Natasha berusaha menolak dan juga memberontak. "


"Hanya itu saja, papa ini bagaimana sih mereka kan suami istri, jadi wajar lah mereka melakukan semua itu. " balas Sarah, menahan suaminya agar tidak mendobrak pintu kamar anaknya lagi.


"Sudah sudah, sebaiknya kita pergi dari depan kamar anak kita," ucap Sarah mencoba membawa suaminya.


Namun Putri yang merasa tak enak hati, ini mengetuk pintu kamar Natasha dengan begitu keras. " Kak Natasha, kak Natasha. "


Sarah melihat Putri melalukan hal yang tak seharusnya, ia kini menjewer telinga keponakan suaminya itu, " ini anak nggak ngerti juga. "


"Ahk, tante sakit. " mendengar teriakan dari luar kamar, membuat Natasha dan juga Edwin terburu-buru beranjak dari tempat tidur, melihat apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Ada saja penganggu, baru juga masuk setengah," gerutu Edwin.


__ADS_2