
"Dad, Edwin minta maaf. "
Perwira yang duduk di kursi mendengar pernyataan maaf dari anaknya, membuat ia tekejut, " kenapa kamu meminta maaf pada, Daddy."
Edwin berusaha mengusap pelan air matanya, menenangkan jiwa yang meronta ronta, merasa bersalah dengan dirinya yang tak berkata jujur dari awal.
"Karena Edwin tak mengatakan jika mommy mejadi seorang pendonor, " ucapan Edwin membuat kedua mata Perwira berkaca kaca.
Tangan kekar lelaki tua itu kini memegang bahu anaknya, " jangan menyalahkan dirimu sendiri, semua sudah menjadi rencana sang maha kuasa."
Edwin menatap ke arah sang papah yang menundukkan pandangan, ia tahu jika lelaki yang menjadi ayahnya sakit hati.
"Daddy tidak marah atau kecewa dengan Edwin?"
Perwira berusaha mengangkat kedua lekuk bibirnya, agar mempelihatkan sebuah senyuman di depan anak satu satunya.
"Apa Daddy terlihat marah dan kecewa padamu!?"
Malah pertanyaan yang di dapatkan Edwin saat ini, " Daddy, Edwin bertanya. "
"Ya, Daddy tahu itu, cuman sekarang untuk apa Daddy marah kepada kamu, dan mempelihatkan kekecewaan, semua sudah terjadi. Daddy kan sudah bilang sama kamu, kita terima semuanya dengan ikhlas, jangan sampai menyalahkan diri kita sendiri. "
Edwin tak menyangka, dibalik kerasnya sang papah, ada sebuah nasehat yang menenangkan jiwa Edwin saat ini.
Ia selalu melihat sisi jeleknya sang papah, sampai merasa tak nyaman dan menjauh, namun ia juga sudah melupakan sisi baik sang papah yang selalu ia abaikan.
"Terima kasih, untuk tidak menyalahkan Edwin atas semua yang sudah terjadi. "
Senyuman dari bibir Perwira tak lepas saat menasehati anaknya agar tetap percaya diri dan tak menyalahkan diri sendiri.
"Kamu memang anak papah yang paling hebat. "
Pujian yang membuat Edwin bersemangat.
*******
Lorenza tersenyum, di saat seorang suster melihat rekaman cctv di ruangan Edwin, " terima kasih sus, sudah membuat saya tersenyum hari ini. "
"Sama sama. "
Lorenza kini bernapas lega, ia bisa meninggalkan seseorang yang membuatnya selalu bahagia, membuat dirinya selalu tersenyum dan nyaman.
Perwira dan Edwin.
Kebahagian dari keduanya, akan selalu ia bawa. Sampai mati.
"Apa ada yang anda butuhkan saat ini?"
"Tidak ada sus, saya sudah tidak membutuhkan apa apa lagi, setelah melihat kedua jagoan saya tersenyum dan mengikhlaskan kepergian saya. "
Suster tampak menitihkan air mata, ia berdiri menemani Lorenza saat ini. " Anda jangan berkata seperti itu, anda harus tetap hidup dan bertahan, jangan jadikan perkataan anda itu seakan anda akan mati besok. "
"Mm, suster. Bagaimana saya bisa hidup, jika jaringan pada tubuh saya sudah rusak. "
"Bu Lorenza saya yakin, akan ada seorang penyelamat untuk anda."
"Penyelamat, tidak mungkin. "
Lorenza mulai menutup matanya untuk beristirahat.
__ADS_1
"Bu Lorenza, ada begitu baik hati dan mempunyai jiwa seorang ibu sejati, yang rela mati demi melihat anaknya bisa bahagia. "
Suster yang mengurus Lorenza, kini keluar ruangan, banyak urusan dan pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Saat keluar dari ruangan. " Ahk, jantungku. "
Apa yang terjadi dengan suster itu?"
********
Di tempat kecelakaan
Kedua orang tua Natsaha, mulai naik pada mobil Natasha, keadaan mereka sangatlah tak karuan.
" Loh bu, pak, ambulannya gimana. Kan sudah saya panggilkan?"
Rudi yang terlihat kesal kini menjawab, " sudah biar kamu saja yang naik ke mobil ambulan. "
Natasha memukul tangan ayahnya yang asal berucap itu, " papah, malu maluin. "
Rudi pada akhirnya membukam mulut, setelah ia mendapatkan teguran dari anaknya.
" Tahu ni papah, bikin orang kesal saja, sudah baik orang bantu kita. Huh, dasar. "
"Sudah mah, jangan bikin papah nangis lagi. Baru saja kalian meminta maaf, sekarang malah mau berantem lagi. "
"Ya habisnya papah kamu, nggak bisa dinasehati."
"Sudah, sudah cukup. Jangan ngomong lagi. "
Kedua orang tua Natasha kini menutup mulut, dimana tangan Natasha mulai merogoh tas yang berada di sampingnya.
Natasha ternyata mengambil sebuah lembar uang, dimana ia memberikan lembaran uang itu pada orang yang berbaik hati membantu kedua orang tuanya.
"Nggak usah mbak, saya ikhlas. "
"Nggak apa apa, pak. Terima saja saya juga ikhlas kok. "
"Terima kasih kalau begitu. "
*******
Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Natasha kini mendengar sang mama mengoceh. " Natasha ngapain coba tadi kamu ngasih tuh bapak bapak uang, dia kan nggak ada jasa jasanya."
"Aduh, mama ini bawel juga ya, nggak papalah ma, itung itung sodakoh. "
"Mm, mana ada. "
Natasha berusaha tetap tenang menghadapi mulut cerewed sang mama. Ia kini mengambil sebuah hensed untuk membuat dirinya tak mendengarkan perkataan sang mama.
Sampai di rumah sakit, para perawat mulai membantu kedua orang tua Natasha, mereka menangani keduanya.
Sedangkan Natasha berjalan untuk menghampiri Edwin, ia ingin tahu ke adaan suaminya.
"Edwin, Daddy. "
Edwin berusaha menyembunyikan kesedihannya, begitupun dengan Perwira.
"Edwin, Daddy. Kalian baik baik saja?"
__ADS_1
Pertanyaan Perwira membuat Edwin tersenyum lebar menyambut kedatangan sang istri.
"Kami baik baik saja, bagaimana keadaan orang tuamu?"
Tanya Edwin, berusaha mengalihkan pembicaraan saat membahas tentang dirinya.
"Mama dan papah sejauh ini baik baik saja, mereka hanya mengalami luka lecet saja!" balas Natasha menyimpan keraguan pada suami dan ayah mertua.
Perwira bangkit dari tempat duduknya, ia tak sanggup menahan air mata yang semakin ia lap, semakin mengalir deras.
Natasha menyipitkan kedua mata, merasa ada yang tak beres, saat dirinya pergi.
"Kenapa aku meresa aneh dengan Daddy dan juga Edwin. Mereka seperti orang yang habis menangis, apalagi Daddy kelihatan jika ia tak bisa menahan air mata. " Gumam hati Natasha, saat menatap ke arah sang ayah mertua.
Edwin tak ingin jika Natasha tahu kalau mereka sedang bersedih karena Lorenza.
"Natasha, Edwin. Papah mau pamit dulu ke ruangan ibu kalian ya. "
Aku hanya menganggukkan kepala setelah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Perwira.
Natasha kini duduk di samping sang suami, ia berusaha mempertanyakan lelaki yang ada dihadapannya.
"Kenapa?"
"Tidak kenapa kenapa?"
"Mm, aku lihat kamu dan Daddy menangis, apa kalian menangisi mommy!"
Edwin ingin sekali memeluk sang istri dengan begitu erat, menghapus kesedihannya saat ini, namun itu tak mungkin, karena bebagai alat terpasang pada tubuh Edwin.
Perlahan Natasha mulai membelai pipi suaminya, " jika kamu merasa sedih atau sesuatu membuat hati kamu sakit, katakanlah, aku akan siap mendengarkan apapun itu. "
"Terima kasih, sejauh ini kamu selalu mengerti dengan kondisiku saat ini. "
"Ya aku tahu itu. "
Edwin berusaha tersenyum setelah Natasha menghibur dirinya, menenangkan setiap kesedihan tentang nasib Lorenza sekarang.
"Kamu harus tenang, aku yakin Mommy akan kuat dan akan ada keajaiban untuk kesebuhan mommy, kamu harus percaya itu. Jangan takut."
"Iya, Natasha, kamu memang istri terbaikku, walau tingkah dan kelakuanmu barbar, aku bahagia bisa memiliki wanita secantik dan sebaik kamu. "
Siapa yang tidak tersipu malu dengan perkataan Edwin, Natasha yang mendengarnya merasa salah tingkah.
"Sudahlah, jangan memuji aku berlebihan, oke. Aku tak suka, " ketus Natasha. Edwin dengan beraninya mencubit kedua pipi Natasha.
"Ahk, sakit Edwin."
"Habisnya kamu lucu sih. "
Perwira yang ternyata belum pergi, ia kini mengintip diluar jendela ruangan anaknya dengan bergumam dalam hati, " Lorenza, apa yang kamu inginkan tercapai, anakmu kini bahagia, ia bisa tersenyum kembali. Namun denganku, apa aku kuat saat ajal menjemput kamu lebih dulu. "
Mengusap lagi air mata, Perwira merasa cengeng akhir akhir ini, " ahk, kenapa denganku betapa lemahnya aku saat ini. "
Perwira kini melangkahkan kakinya untuk segera menemui sang istri, ia ingin menceritakan kabar kebahagiaan kedua anak anaknya.
"Lorenza aku datang. " Melangkahkan kaki dengan tersenyum bahagia menunju kamar sang istri.
Namun, tiba tiba kamar itu sudah banyak orang lain yang berkumpul, Perwira yang baru saja datang tentu saja terkejut dan berkata dalam hati, " Apa yang terjadi dengan istriku, kenapa banyak orang orang yang berkumpul di depan pintu ruangan Lorenza. "
__ADS_1
Perwira berlari menuju ke ruangan sang istri, ia takut jika sesuatu terjadi dengan Lorenza.
Karena dirinya yang tak sanggup, jika Lorenza pergi tanpa mengatakan sebuah perpisahaan.