Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 79


__ADS_3

Tubuh mereka kini saling bersentuhan, serasa ada getaran listrik menyatu, membuat keduanya terhanyut.


"Ahk, sudahhh."


Natasha berteriak sekeras mungkin, ia berlari ke kamar mandi dan benar saja, wanita berambut panjang itu memutahkan isi perutnya.


Edwin merasa bersalah, karena ia sudah membuat istrinya memuntahkan isi perutnya, berjalan mendekat, lalu memegang bahu sang istri dari belakang.


"Maafkan aku, Natasha. "


Kesal dengan nafsu Edwin yang tak bisa ia kendalikan sendiri, membuat Natasha menghempaskan tangan suaminya.


"Menyingkir." Memajukkan atas dan bawah bibirnya, membuat Natasha bergegas pergi.


"Natasha, tunggu sayang, aku merasa menyesal sekali, telah melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan," Edwin berusaha mengejar langkah kaki istrinya yang begitu cepat, hingga Natasha tersandung.


" Ahk." Brukk ....


Natasha jatuh dengan tubuhnya yang menungging, membuat Edwin melihat kueh apem milik istrinya mengugah jiwa, ia berusaha menahan gelora jiwa yang membara.


"Ayolah Edwin tahan, kasihan istrimu, masa kamu tega buat istrimu tak berdaya, " gumam hati Edwin.


Beberapa kali Edwin menurunkan batangnya yang keras itu, " turunlah kau udin, jangan berdiri terus. Pusing kepalaku. "


Pada akhinya batang itu turun dengan sendirinya, Edwin kini membantu sang istri untuk berdiri, " Natasha, mana yang sakit. "


Natasha terduduk di atas lantai, bibirnya semakin menebal seperti orang yang baru saja di gigit sarang tawon.


"Astaga, hahahah. "


Membulatkan kedua mata, " apaan sih. "


Menujuk ke arah istrinya, " kaya artis penyanyi di amerika itu. "


Natasha tak mengerti, ia berusaha berdiri dan menatap wajahnya ke arah cermin, " Astaga, Agojo. "


Edwin mendekat, ia memegang perutnya karena terus menerus menahan tawa. " semua ini gara gara kamu."


"Loh kok, nyalahin aku. Kamu jatuh sendiri loh, " ucap Edwin menunjuk wajahnya sendiri.


"Ish, nyebelin. " Melipatkan kedua tangan, alis dan juga bibir saling mengkerut.


Edwin kini merayu sang istri dengan berkata, " idih, kamu cantik deh kalau lagi marah. "


Natasha menghempaskan tangan suaminya, berkacak pinggang, " sudah sudah, aku tak akan mati dengan rayuan maut kamu itu. "


Natasha kini membersihkan diri, untuk mandi.


"Ahk, mandi lagi, mandi lagi. Biasanya aku mandi dua hari sekali, lah ini. Sehari nyampe tiga kali, ampun Edwin napsumu itu sudah kaya om sug*arto. Eh, siapa dia, kok aku asal nyebut sih. "


Natasha menggerutu kesal dirinya sendiri, ia mengusap pelan tubuh dengan sabun yang sudah ia jadikan busa.

__ADS_1


"Ahk, menyegarkan sekali memang kalau sudah mandi seperti ini, rasanya dunia milik sendiri. "


Tiba tiba kedua tangan merangkul pinggang Natasha, dimana dirinya berada di air mengalir.


Pelukan Edwin membuat Natasha terkenjut, " kok aku nggak dibawa sih sayang. "


Natasha menyingkir dari hadapan suaminya, ia mengelus dada dan berkata, " Edwin sejak kapan kamu ada di kamar mandi, bukannya dari tadi kamu ada di. "


"Di hatimu. "


Natasha menyungingkan bibirnya setiap kali Edwin mengajaknya bercanda, " mau mandi bareng lagi. "


Natasha memikirkan kejadian sebelum belumnya. Membuat ia bergidik ngeri, " ahk, nggak nggak. Nanti batang kamu itu, tahu tahu masuk lagi. Udah ah aku nggak mau, menyingkir sana. "


Natasha mendorong tubuh suaminya, sampai. Barkk ....


Mereka terjatuh.


"Ahk, pinggangku. "


"Sudah aku bilangkan, Edwin kini sudah lakukan ini tiga kali, kamu ini tidak puas apa gimana sih. "


"Ya mau puas gimana, kamunya aja menggoda. "


Wajah Natasha kini memerah, mendengar perkataan Edwin suaminya.


"Sudah sudah, aku mau mandi, sekarang kita mandi bersama. Tapi ingat jangan lakukan itu lagi, aku cape. "


Tetap saja lirikkan Edwin tak pernah lepas, ia selalu memandangi tubuh mulus istrinya yang aduhai menggoda itu.


Apalagi setiap kali air mengalir membasahi badan membuat Edwin menelan air liurnya.


"Mandi cepat. "


"Ahk, iya bawel banget sih."


Edwin kini terburu buru mandi, dan keluar dari kamarnya, ia memakai baju.


Begitupun dengan Natasha, Edwin yang sudah memakai bajupun masih sempat mencium leher istrinya," wanginya. "


"Edwin, ingat apa kataku."


"Ahk, iya. "


Edwin menghentikan aksinya, ia hanya diam menunggu sang istri untuk berdandan.


"Aku nunggu dibawa ya. "


"Oke."


Edwin keluar dari ruangan, ia tak sadar jika air liurnya hampir menetes di depan Natasha,

__ADS_1


Sampai dimana ia bertabrakan dengan seorang wanita.


Brukkk ....


Dengan cepat Edwin menahan tubuh wanita itu, " kamu tak apa apa?"


Terkejut, karena wanita yang ia tabrak adalah Nadia. Wanita itu sekarang tampak anggun dengan pakaian muslimnya, terlihat ayu.


"Nadia, aku nggak nyangka loh, kamu sekarang pakai hijab, " ucap Edwin, Nadia tersipu malu, ia menundukkan pandangan.


"Kebetulan aku ingin membenahi diriku untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi, " balas Nadia, dengan mengeluarkan nada lembutnya.


"Syukurlah kalau begitu, " ucap Edwin, terlihat biasa saja, tak ada kagum kagumnya wajahnya pun datar saat melihat Nadia.


Natasha baru saja selesai berdandan, ia dikejutkan dengan pemandangan dimana suaminya tengah mengobrol dengan seorang wanita berhijab.


Mengerutkan dahi, " siapa dia, emak emak apa masih perawan, ini tak bisa aku biarkan, harus aku samperin sekarang juga. Awas saja Edwin kalau kamu sampai macam macam padaku, tak kupotong potong batangmu, kubuat sop kaldu daging nanut. "


Mengepalkan tangan kanan, menonjok nonjokkan pada telapak tangan kiri, Natasha kini membenahi diri untuk terlihat anggun di depan wanita hijaber itu.


"Hm, hm, hm. Asik betul ni orang pada ngobrol bedua, ngobrolin apa sih. "


Nadia menatap kearah Natasha, ia menunjuk wajah istri Edwin itu, " loh kamu."


"Eh, aku kira emak emak mau ke pasar, ternyata wanita yang aku kasih ee kucing itu ya. "


Mengepalkan kedua tangan, Nadia menundukkan wajah, ada rasa malu pada hatinya.


"Jadi kamu pernah ngerjain Nadia, sayang."


Terkejut ketika Edwin mengatakan kata sayang pada Natasha membuat Nadia membulatkan kedua matanya, " tunggu, Edwin tadi kamu bilang sayang pada wanita barbar ini. "


"Iya."


"Jadi kamu menikah dengan wanita urak urakan model begini. " Nadia melirik Natasha dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Aduhh, emak emak yang mau ke pasar, tadi kamu bilang aku apa? Wanita urak urakan, idih situ nggak nyadar diri apa!" balas Natasha yang terlihat tak ingin kalah dengan Nadia.


"Heh, aku lebih baik tahu dari pada kamu, berhijab dan sopan, lah kamu kaya pereman, " ketus Nadia, membuat Edwin menggelengkan kepala.


"Heh, berhijab model apa. Masa ia hijab sampai buah dada kelihatan," ucapan Natasha membuat Nadia melirik ke arah bajunya.


"Belum lagi tuh celana, apemmu juga kelihatan," Natasha kini menarik kerudung Nadia, membenarkannya, agar bisa menutupi buah dadanya.


"Dan satu lagi, " kedua tangan Natasha menarik baju yang sengaja dimasukkan kedalam celana, hingga baju itu menutupi apem milik Nadia, " Nah ini baru berhijab, gimana sudah paham. Ayo sayang kini berangkat. "


"Ayo."


Nadia berdiri mematung dengan rasa malu, ia seperti orang bodoh yang menyaksikan kedua insan pergi melewati dirinya begitu saja.


"Bay, bay. " ucap Natasha melambaikan tangan.

__ADS_1


__ADS_2