
"Sarah."
Taksi kini melaju dengan kecepatan tinggi, Perwira mengusap kasar wajahnya dan berkata, " Sarah, ahk. Sialan napsuku belum sepenuhnya tersalurkan. "
Perwira mengacak rambutnya dengan kasar, perasaan dan pikirannya tak menentu. " Baru saja memulai pemanasan, ia malah menghentikan semuanya. Ahk sial, sial. "
Perwira kini masuk ke dalam mobil, ia menatap jam pada ponselnya sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Duduk dengan memegang stir mobil, Perwira menatap wajahnya pada kaca, mengusap pelan bibirnya, " setidaknya masih bisa merasakan bibir manis itu. "
Lelaki berkulit sawo matang itu mulai menjalankan mobilnya, ia terlihat tak puas dengan apa yang ia lakukan. Sampai tangannya meraba sesuatu. " tunggu ini bukannya?"
Perwira tersenyum kecil, memegang tali mengendor buah dada Sarah. " Bisa bisanya tali ini lepas. Tapi lumanyan buat pajangan saat aku ingat dengannya. Ahk, kenapa dengan aku ini, bisa bisanya memikirkan Sarah yang jelas jelas sudah bersuami. "
Perwira mulai menyalakan mesin mobil untuk pulang ke rumah, terlihat ia tampak senang dan bersemangat, karena menemukan hal baru.
Barulang kali mengusap pelan rambut, Perwira masih mengingat wajah Sarah yang terlihat napsu akan ciuman yang ia layangkan.
"Bisa bisanya, kamu berpura pura tidak mau tapi malah menikmati semuanya. Sarah, Sarah. "
Perwira tertawa terbahak bahak di dalam mobil, ia tersenyum senang dengan apa yang ia lakukan. Hatinya berbunga bunga pikirannya tak menentu seperti sebuah cinta yang sudah lama tubuh saat itu pada dirinya.
"Sepertinya aku mengalami puber kedua. "
Sampai di rumah, Perwira keluar dari dalam mobil, ia melihat suasanan rumah terlihat hening. Tak ada tanda tanda Lorenza menunggu dirinya.
Membuka pintu rumah, Perwira sengaja membawa kunci candangan, ia terlihat gelisah, karena lupa mengabarkan sang istri.
"Perwira, dari mana saja kamu?"
Pertayaan Lorenza membuat Perwira terkejut, ia melihat istrinya datang dengan memakai masker pada wajahnya.
"Kenapa mas, terkejut?" tanya Lorenza pada Perwira.
Lelaki itu kini mendekat dan menjawab, " tidak, aku tidak terkejut kok, aku hanya syok saja."
Lorenza yang kesal kini melemparkan bantal pada suaminya dan berkata, " sama saja."
Perwira menangkap bantal itu dengan perasaan tak menentu hati dan pikirannya kacau, karena melihat Lorenza marah marah tak jelas.
Mendekat dan berkata, " dari mana saja kamu, jam segini baru pulang, hah. Telepon nggak di angkat angkat, alasan kerja tapi kata sekertarismu tidak ada metting sama sekali. "
Sepertinya Lorenza tampak trauma dengan kejadian yang menimpa dirinya saat Perwira masuk ke rumah sakit. Dimana Perwira menggoda seorang suster.
"Perwira?"
__ADS_1
Lelaki itu tampak diam tak menjawab perkataan Lorenza sama sekali, " Perwira?"
"Iya, sayang ada apa?"
"Kamu ini dengar tidak perkataanku, kenapa diam saja!"
Ternyata dari nakalnya Perwira, ada rasa takut yang ia rasakan saat itu, " papah tadi hanya nongkrong saja sama teman kantor. "
"Mm, yang benar?"
Lorenza malah menekan suaminya, seakan ia tak percaya dengan jawaban Perwira.
"Benar mah, ngapain coba papah bohong. "
Tiba tiba saja Lorenza mempelihatkan sebuah gagang kecil dihadapan suaminya. Dimana Perwira menelan ludah.
"Kenapa pah, kok kaya ketakutan gitu. Santai aja. "
Perwira mengusap pundaknya, tersenyum kecil, " papah biasa aja kok dari tadi. Mama mau ngapain sih, pakai acara pegang tongkat segala. "
Lorenza tertawa pelan dan menjawab, " penasaran ya. "
"Ahk, tidak. "
Deg ....
Memegang burung yang tiba tiba mengeras membuat Perwira ketakutan, " Ahk, mami jangan bercanda lah, papih kan belum masuk lubang belut. "
Membulatkan kedua mata, tatapan Lorenza bagi Perwira sangatlah menyeramkan. "
"Mami sudah ya, papih mau pergi dulu mandi. "
Lorenza terlihat mengendus ngendus baju suaminya, tercium bau minyak wangi wanita.
"Bau ******. "
"Apaan mah. "
"Baju papih, bau ******, kanyanya papah habis pergi sama cewek ya. "
Perwira mencium bau bajunya, dan benar saja, parfum yang dipakai oleh Sarah menempel pada baju perwira.
Lelaki itu berusaha cuek, dia tersenyum dan berkata, " mm, tidak bau juga. Kaya parfum yang biasa papih pakai. "
Lorenza memastikan bau parfum itu dengan mengendus kembali baju suaminya," tetap bau bangkai pa. "
__ADS_1
Lorenza kini menarik baju yang dipakai oleh suaminya," sebenarnya Papi ini habis kencan dengan siapa? "
feeling seorang wanita selalu kuat, tak pernah salah.
"Mami ini, selalu saja berpikir negatif, papah tidak kencan dengan wanita manapun, semua itu hanya pikiran jelek mami saja. "
Lorenza memalingkan wajahnya, " pikiran jelek bagaimana, papi liat ini apa?"
Telunjuk tangan Lorenza kini menunjuk pada jas kantor suaminya, " ini apa pih. "
"Ahk, itu bekas sepidol, sudah ah. Mami ini jadi istri jangan curigaan mulu, nggak baik. "
Perwira kini mengambil jas kantornya, terlihat ia berjalan pergi mengabaikan Lorenza.
"Papih, kalau memang Papi tidak pergi dengan seorang wanita, kenapa celana belakang Papi itu sobek."
Perwira baru saja menyadari apa yang sudah terjadi saat di dalam mobil bersama dengan Sarah, meraba robekan pada celana perwira, membuat lelaki itu kembalikan badan dan tersenyum lebar di hadapan istrinya.
"Mm, Mama ini gimana sih curigaan mulu dari tadi, nih ya, celana sobek itu belum tentu papa itu sudah melakukan hal-hal yang tidak baik bersama wanita lain, bisa saja kan Papa mau duduk celana ini tiba-tiba sobek. "
Lorenza melipatkan kedua tangannya, mendekat untuk melihat wajah Perwira yang terlihat begitu gelisah.
"Kalau memang papi tidak jalan dengan seorang wanita, Kenapa wajah Papi itu terlihat gelisah dan juga tegang?"
"Ahk, anu. Papih ini kecapean saja mami!"
"Alasan."
Perwira berusaha mencari cara agar tidak mendapatkan sebuah pertanyaan dari istrinya terus-menerus, dia ingin kabur saat itu juga.
Namun sosok Lorenza tetap saja berdiri tegap di hadapan suaminya.
"Mami, sudah ya Papa ini gerah mau mandi mau tidur. Besok banyak kerjaan yang harus papi kerjakan. "
Perwira dengan terburu-burunya pergi, ya berlari hingga sesuatu jatuh dari kantong celananya.
Lorenza yang menyadari hal itu, tentunya terkejut. ia mengambil barang yang jatuh dari saku celana suaminya.
"Sebuah cancuet. Bermotip bunga bunga, kenapa bisa ada di kantong celana suamiku, punya siapa ini sebenarnya. "
Mengepal barang berupa kain untuk wanita itu, membuat Lorenza sadar, ia membuang ke atas lantai dan mengedus telapak tangannya. " Mm, bau terasi. Sialan. "
Lorenza melihat barang berupa kain yang selalu menjadi perivasi wanita, telihat tampak kecil sekali, ia curiga jika Perwira sudah bermalam dan bermantap mantap dengan seorang gadis yang memiliki barang itu.
"Kurang ajar juga papah, bisa bisanya dia menghianati aku lagi, awas saja ya?"
__ADS_1