
Pulang ke rumah, Perwira tampak terkejut ketika ia melihat anak satu satunya pulang dengan Lorenza sang mommy.
Mendekat lalu menatap dengan raut wajah heran," kenapa kamu pulang bersama mommy, mana istri kamu?"
Pertanyaan Perwira membuat Edwin, hanya terdiam, ia pergi melewati sang Daddy begitu saja.
"Edwin, kenapa kamu pergi begitu saja. Daddy belum selesai bicara, apa kamu bisa bersikap sopan pada Daddymu ini?"
Teriakan Perwira membuat Edwin malam menutup kedua telinganya, lalu menjauh dan semakin jauh. Masuk ke dalam kamar.
"Cck, anak itu, kurang ajar sekali dia. "
Lorenza memegang bahu suaminya lalu berucap, " jangan kamu marahi anakmu, dia tengah direndungi masalah. Biarkan dia berpikir sejenak, karena dia sudah dewasa."
Perwira memijit perlahan jidatnya, ia pergi untuk segera duduk dan mendengarkan apa yang dikatakan Lorenza.
"Kamu jangan terlalu memikirkan anak kita, dia sudah dewasa, dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. "
"Oke, aku akan mendengarkan apa yang kamu katakan. "
Lorenza bernapas lega, setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut suaminya.
"Oh ya, mertua Edwin, dia bukannya sahabat dekat kamu ya. "
Lorenza mengira jika suaminya sudah melupakan Sarah, namun pada kenyataanya ia masih mengigat.
"Ya, dia itukan musuh bebuyutan aku, sayang."
Perwira tiba tiba tersenyum seperti membayangkan sesuatu yang terlukis pada isi kepalanya.
" Ngomong-ngomong dia awet muda ya, padahal dulu itu dia itu item keriting, dan juga dekil. Tapi sekarang dia tampak kelihatan begitu cantik."
Kedua pipi Lorenza tiba tiba memerah, bibir berdecak kesal, karena mendengar pujian dari mulut suaminya untuk wanita lain.
"Jadi dia lebih cantik dari aku gitu?" Pertanyaan Lorenza membuat Perwira mengusap pelan dagunya.
"Mm."
Perwira seperti mengulur waktu untuk mengatakan kejujuran pada istrinya. Dimana ia pergi dari hadapan Lorenza dan berkata, " papah pergi dulu. "
Namun Lorenza berusaha menahan Perwira terlebih dahulu, ia berucap dengan nada lantangnya. " Kamu belum menjawab perkataanku, jadi cepat jawab dulu sekarang?"
"Jawab apa sih, sayang. Kamu ini suka ngaco kalau ngomong!" balas Perwira seakan tak mengerti dengan kemarahan istrinya.
__ADS_1
Lorenza melipatkan kedua tangan dengan bibirnya yang mengkerut. " Jangan pura pura lah pah. "
Perwira semakin tak mengerti dengan sikap wanita yang tiba tiba saja marah marah tak jelas. "Pura pura apa sih, sayang. "
Mencoba merangkul bahu sang istri lalu menciumnya dengan begitu erat. Lorenza malah menghempaskan tangan sang suami dan pergi begitu saja.
"Sayang, kamu malah pergi, sebenarnya ada apa dengan kamu ini. "
Terlihat Perwira tampak kebingungan sendiri melihat tingkah sang istri yang tiba tiba saja marah tak jelas.
"Kenapa dengan istriku, tiba tiba saja marah marah tak jelas. "
Perwira mengusap perlahan wajahnya, pergi dari rumah untuk segera menghampiri klaen.
Loreza baru saja sampai di dalam kamar. Ia berusaha mengintip pada pintu kamarnya sendiri, tak melihat Perwira menghampirinya sama sekali, berkacak pinggang dan berkata. " Nyebelin, si Perwira ini. Kenapa dia tidak menghampiriku. "
Lorenza duduk, lalu memegang kedua pipinya, " apa setua ini kulitku, sampai Perwira sedikit cuek dan tak peduli. "
Menghempaskan badan ke atas kasur, Lorenza memeluk bantal dan menangis, " sepertinya aku harus memetingkan penampilanku sekarang, agar Perwira tak diembat setan wewengombel. "
*****
Perwira mulai masuk ke dalam mobil, duduk dan ia melihat ke arah jendela sosok wanita cantik yang ia begitu kenal. " Sarah. "
Perwira yang melihat kedatangan Sarah, membuat ia turun dari dalam mobil, wanita yang dulu ia tolak mentah mentah, sekarang seperti sang primadona.
"Sarah, dia begitu cantik. "
Perwira seperti sengaja turun, ia lalu menyapa Sarah. " Hai Sarah. "
Sapaan Perwira tentunya membuat Sarah terkejut, ia kini tersenyum lalu menatap Perwira dengan tatapan genitnya.
"Perwira, hey. Bukannya itu kamu ya. Apa kabar, sudah lama kita tidak bertemu. " Ucap Sarah dengan begitu ramahnya, dimana ia menyodorkan tangan untuk mengajak Perwira bersalaman.
Perwira dengan sigap meraih tangan putih mulus itu, dan menjawab, " kabarku baik tentunya. Sudah lama ya, oh ya kamu makin cantik saja. Beda dengan yang dulu. "
Sarah tersenyum lebar, memegang pipinya. " Ya ampun, makasih. Memang sih banyak orang tak percaya dengan wajahku yang awet muda ini. Padahal aku nggak pernah oprasi ataupun ganti wajah gitu."
Mereka tersenyum satu sama lain, " ngomong ngomong ada apa ya, tumben kamu datang ke sini?"
Pertanyaan Perwira membuat Sarah mempelihatkan rasa simpati dan juga rasa sedihnya.
"Mm, ini aku datang ke sini karena ingin menjemput Edwin, soalnya ada kesalahpahaman yang terjadi. "
__ADS_1
Perwira yang melihat wajah imut Sarah, membuat ia terpanah dan berusaha menahan hati dengan memegangnya.
"Pantas saja, tadi Edwin pulang bersama ibunya. "
"Iya, apa boleh saya masuk. "
"Tentu saja, biar saya antar kamu sekarang juga. "
Mendengar hal yang diucapkan Perwira membuat Sarah hanya menganggukkan kepala, dengan harapan Edwin keluar dari dalam rumah untuk segera pulang menemui Natasha.
Sekertaris yang sudah menyiapkan acara metting Perwira, membuat ia berusaha menahan dengan berkata, " maaf tuan, anda harus segera datang, kalien sudah menunggu anda dari tadi. "
Perwira terlihat kesal dengan sekertarisnya itu, ia baru saja mendapatkan hiburan mata yang membuat dirinya merasa semangat.
Sarah berusaha membujuk Perwira untuk segera pergi. " Perwira sudah sebaiknya kamu pergi metting saja, urusan Edwin biar aku saja datangin dia. "
Ada rasa kecewa pada diri Perwira, karena ia sudah membuat Sarah masuk ke dalam rumah sendirian.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. "
. Dengan wajah anggunnya Sarah menganggukkan kepala dan pergi dari hadapan Perwira.
Saat langkah kaki Sarah semakin menjauh, ia berharap jika Perwira memanggilnya kembali.
"Sarah."
Baru saja dibicarakan dalam hati, Perwira terus memanggil Sarah.
Sarah tersenyum senang dan membalikkan badan. " Iya ada apa Tuan Perwira. "
Sengaja Sarah mempelihatkan kecantikannya didepan Perwira, membuat lelaki itu datang meminta nomor telepon Sarah.
"Apa aku bisa meminta nomor ponselmu?"
Pertanyaan Perwira membuat Sarah tersenyum kecil, ia berpura pura jual malah. Untuk membuat Perwira terpesona.
"Ahk, enggak anaknya, bapaknya juga bisa diembat, toh. Bapanya juga keren. " Gumam hati Sarah, bersikap seperti ingin memeliki lelaki yang pernah menolaknya mentah mentah. "
"Untuk apa? Kenapa tidak minta pada Loreza sekalian. " balas Sarah, semakin bertele tele. Sengaja ingin memacing Perwira sekalian balas dendam.
"Ya hanya untuk sekedar silatuhrami, bagaimana boleh tidak?" tanya Perwira mempelihatkan wajah tampannya walau laki laki dihadapnnya sudah tua. Karisma Perwira tetap terpacar hebat, membuat pikiran nakal tersirat dalam otak Sarah.
"Mm, boleh juga. Nggak ada anaknya, bapaknya pun jadi. " Gumam hati Sarah.
__ADS_1