Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 82


__ADS_3

Putri mengepalkan kedua tangannya, setelah mendengar perkataan yang cukup lumayan melukai hatinya.


Gadis itu tak bisa berkata kata, ia hanya mendelik kesal, mencari kesempatan dimana Rudi keluar dari kamarnya.


Berlari ke arah sang paman, dengan memegang pipi kirinya, Sarah berusaha tetap tenang, " Om. "


Putri merengek, mempelihatkan jika ia kesakitan, " kenapa dengan kamu Putri?"


"Om, Tante Sarah nampar aku om, dia bilang kalau aku cuman numpang hidup!"


Sarah mendekat kearah suaminya, dimana Rudi bertanya?" Apa benar yang dikatakan Putri Sarah?"


"Ya habisnya ucapannya tidak bisa dijaga sih pah, coba kalau bisa jaga ucapannya, mungkin aku tidak akan menampar pipinya yang gelowing kaya miyak jalantah itu. "


Sakin kesal, Sarah mengatai putri, " apa tante bilang, dasar wanita mandul. "


"Tuh kan, apa mama bilang, dia bicaranya lancang. Makanya mama kasih dia teguran. "


Putri kini merengek seperti anak kecil, ia memegang bahu sang paman. " Om. "


Lelaki tua itu terlihat tak bersimpati pada keponakanya, ia menghempaskan tangan Putri, membuat gadis itu terkejut.


"Putri, kamu ini baru saja lulus kuliah, tapi bicaramu itu begitu lancang, harusnya kamu lebih menghargai tante kamu, apalagi di saat kondisi seperti ini, kamu tahu sendirikan Natasha sedang mendapatkan musibah. Jangan kamu malah memperkeruh keadaan yang malah membuat kepala om pusing. "


Putri menundukkan wajah, ia merasa malu. "Ya sudah kamu sekarang minta maaf pada tantemu. "


Putri menatap ke arah Sarah dengan perasaan kesal, ia tak sudi harus meminta maaf kepada orang yang ia benci.


"Putri, kamu dengar tidak apa yang dikatakan om?"


Putri menganggukkan kepala, ia mendekat ke arah Sarah, dan berkata, " aku minta maaf tante. "


"Mm, tante nggak dengar kamu bilang apa?"


Putri mengerutu kesal dalam hati, " bisa bisanya si tante girang ini bikin aku emosi."


"Putri."


Mendengar panggilan dari sang om, membuat Putri meninggikan nada suaranya.


"TANTE SARAH SAYA MINTA MAAF. "


"Ya sudah gadis manis, saya sudah maafkan kamu. " Sarah begitu terlihat baik di depan suaminya, membuat Putri jijik.


"Dasar perempuan berkedok demit, " gumam hati Putri.


"Ya sudah ayo kita pergi ke rumah sakit, mah. Kasihan Natasha pasti dia menunggu kita. "


"Ayo pah. "

__ADS_1


Rudi kini menggandeng tangan istrinya untuk pergi ke rumah sakit, dimana lelaki tua itu berkata pada keponakannya, " kamu jangan pergi kemana mana hari ini. Om hukum kamu, karena kamu sudah berbuat salah pada tante kamu. "


"Apa om," Putri berusaha mengelak, " nggak bisa gitu donk om, masa ia Putri hanya diam di rumah. Putri bosan. "


"Sekarang kamu turuti printah om, atau om pulangkan saja kamu pada orang tuamu."


Mendengar perkataan Rudi, membuat Putri kini diam, ia tak bisa apa apa. Hanya menurut dan pasrah.


"Ahk, sialan bisa bisanya, si Sarah itu buat aku terkurung di rumah ini. "


********


Perwira datang untuk segera menjemput istrinya, terlihat ia kuatir akan keadaan Lorenza.


"Lorenza," ucap Perwira pada istrinya. Terlihat wanita tua itu tengah menangis, membuat Perwira berlari dan memeluk istrinya.


"Sudah tenang, semua akan baik baik saja. Jangan kuatir, " Perwira berusaha menenangkan sang istri," ya sudah, sekarang kita pergi ke rumah sakit, aku mohon kamu tenangkan dulu perasaan sedih kamu ini."


Lorenza menganggukkan kepala, ia berusaha berdiri untuk segera menaiki mobil.


Natasha masih menunggu kedatangan kedua orang tuanya, ia merasa ketakutan karena menunggu sendirian.


"Natasha." Teriakan itu membuat Natasha berdiri ia menatap sang mama berlari menghampirinya.


"Mama." Menangis sejadi jadinya dan memeluk tubuh sang mama.


"Aku tahu itu, kamu jangan menangis ya. Semua sudah takdir, kita doakan saja Edwin tidak kenapa kenapa, tidak ada hal yang buruk menimpanya, " ucap Sarah, mengusap pelan kepala rambut anaknya yang panjang.


Natasha mulai duduk, dimana Sarah menemani anaknya itu, " papah mana mah?"


"Papah nanti ke sini, dia izin ke toilet sama mama!"


"Mertua kamu?"


"Mereka belum datang, sepertinya mereka syok berat mendengar kabar dariku!"


Sarah terus menenangkan anaknya, ia tak mau kesedihan menyerang Natasha berlarut larut.


"Sudah kamu jangan nangsi terus, mama takut kondisi kamu drop lagi."


"Natasha merasa besalah dengan kecelakaan Edwin. "


"Sudah jangan menyalahkan diri kamu sendiri, ini semua sudah takdir, kamu jangan menekan dirimu terus menerus, nanti kesehatanmu ternganggu sayang. "


Sarah perlahan mengusap pelan air mata Natasha yang terus mengalir membasahi pipi. Hati dan perasaanya terlihat tak karuan.


."Kamu yang sabar ya. "


"Iya mam. "

__ADS_1


Rudi kini datang, dimana Natasha berdiri dan memeluk sang papah, " Natasha, papah tahu ini berat bagi kamu."


Tangisan Natasha, membuat Rudi sakit hati, ia baru pertama kali melihat anak angkat kesayangnya menangis, " kamu tenang ya sayang. "


Lorenza baru saja datang, ia berlari sekencang mungkin untuk segera melihat keadaan anak satu satunya.


"Lorenza, tunggu. "


Perwira mengejar istrinya yang terus berlari, ia kini menangkap tangan Lorenza dengan berkata. " Jangan berlari, nanti kamu jatuh bagaimana. "


" Aku ingin melihat keadaan anakku sekarang bagaimana, hatiku benar benar sakit jika ia sampai tiada. "


"Husst, kamu ini bicara apa. Kita doakan yang terbaik untuk anak kita. "


Perwira kini memegang tangan istrinya untuk berjalan mencari ruangan Edwin, dimana ia bertanya pada sang suster.


Suster itu menunjukkan ruangan Edwin, Lorenza dan Perwira menatap ke arah Natasha yang tengah menangis.


"Natasha."


Melepaskan pelukan sang papah, Natasha kini mendekat ke arah mertuanya.


"Mommy, "


Namun tanpa Natasha duga, Lorenza sedikit menghindar membuat ia terkejut.


"Kemana Edwin, bagaimana keadaanya?"


Natasha menundukkan pandangan dan menjawab, " keadaan Edwin, Natasha belum tahu sampai saat ini, karena dokter masih memeriksa Edwin. "


Lorenza berusaha tetap tegar, ia melirik ke arah Natasha, dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Kenapa Edwin bisa celaka sedangkan kamu tidak kenapa kenapa?"


Pertanyaan yang saat ini Natasha hindari, ia takut jika semua yang terjadi karena kesalahnya.


"Ayo jawab. "


Lorenza tiba tiba berubah derastis, Perwira berusaha menenangkan istrinya. " Lorenza, cukup. Kasihan Natasha, dia pastinya sekarang tertekan dan masih syok, kenapa kamu malah mempertanyakan hal itu. "


"Karena aku ingin tahu cerita yang sebenarnya, kenapa Edwin bisa celaka, bagaimana awal motipnya kecelakaan itu terjadi. "


"Tapi tak usah kamu tanyakan sekarang, kita fokus dengan keadaan Edwin saja. Berharap jika Edwin baik baik saja. "


"Ya aku tahu itu, tapi. "


"Sudah, kamu ini terlalu bersedih, hingga bicaramu kemana mana, sekarang kamu sebaiknya duduk. Tenangi diri kamu, semua pasti akan baik baik saja. "


Lorenza kini menuruti perkataan suaminya, ia duduk bersebalahan dengan Sarah, sedangkan Natasha yang masih berdiri, merasa diabaikan.

__ADS_1


__ADS_2