Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
116


__ADS_3

Namun ternyata orang yang berteriak itu bukanlah Lorenza, " Natasha hampir menduga kalau yang berteriak itu adalah mommy. "


" Bukan kamu saja yang berpikiran seperti itu, Daddy juga hampir menduga jika itu mommy. "


Mereka mulai melangkahkan kaki beriringan  untuk segera menghampiri Edwin. 


Saat berhenti di pintu depan ruangan Edwin, Natasha mendengar suara isak tangis dari ruangan,  iya perlahan mengintip dari jendela luar ruangan suaminya. 


"Edwin?"


Natasha tak menyangka jika Edwin begitu Terpukul, setelah sang ibunda menjadi pendonor untuk dirinya sendiri. 


"Daddy lihat, Edwin begitu menyalahkan dirinya sendiri, sampai ia menangis merenungi  ibu yang sudah menjadi pendonor."


"Daddy juga tak menyangka akan menjadi seperti ini setelah Mami menjadi seorang pendonor. "


" sebaiknya kita masuk, Natasha tak mau melihat Edwin terus merenung. "


"Baiklah."


Membuka pintu ruangan Edwin, di mana lelaki yang duduk di ranjang tempat tidur terburu-buru mengusap air matanya. 


" Natasha kamu sudah kembali, Bagaimana keadaan ibu?"


Pertanyaan edwin tiba-tiba saja terhenti saat Perwira masuk ke dalam ruangan. 

__ADS_1


"Daddy, bukannya Daddy lagi menunggu Mommy?"


"Iya, hanya saja sekarang …."


Belum perkataan sang ayah terlontar semuanya, Edwin malah memotong begitu saja. 


"Hanya kenapa?"


Edwin terlihat tak tenang, dimana Perwira mendekat ke arah anaknya. " kamu tenang saja ibu kamu hanya diperiksa untuk perawatan selanjutnya. "


Edwin kini bernapas lega, setelah mendengar perkataan sang papa yang begitu jelas. 


"Kamu jangan kuatir Edwin, mommy akan baik baik saja, jadi percayakan semua pada papah."


"Daddy, akan pastikan itu. "


Perwira hanya bisa menyemangati anak satu satunya.


********


Lorenza baru saja masuk ke ruangan di mana suster Gina terbaring. Iya ingin sekali menyapa wanita yang sudah rela mengorbankan dirinya dan juga hidupnya untuk Lorenza.


kedua mata suster Gina menutup, karena obat bius yang sudah disuntikan oleh dokter pada Suster Gina.


Lorenza perlahan demi perlahan mulai menutup kedua, dia menjalani operasi kedua, yang sangat beresiko tinggi.

__ADS_1


Tak mempedulikan hidup dan juga mati, bagi dirinya ia sudah menjalankan tugas sebagai seorang ibu. Membahagiakan Edwin adalah suatu kebahagiaan untuk dirinya.


Perwira hanya bisa berdoa dengan operasi yang kedua kalinya dijalani oleh sang istri, tanpa memberitahu kedua anak-anakku, hanya dirinya dan juga Lorenza yang tahu akan hal ini.


Rasa gelisah mulai nampak diperlihatkan oleh Perwira, Edwin melihat kegelisahan nampak pada wajah ayahnya kini berkata, " apa Daddy baik-baik saja?"


keringat tiba-tiba saja nampak terlihat dari jidat Perwira, membuat Edwin mengerutkan dahi dan berkata, " yang aku lihat saat ini, Daddy sedang gelisah."


Deg ....


" Gelisah, Daddy ini tidak kenapa-napa itu hanya perasaan kamu saja. "


Edwin mengangkat kedua alisnya." tapi, Edwin merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Daddy, sampai Edwin melihat jika Daddy sekarang tengah gelisah. "


Perwira kini berpura-pura batuk di hadapan anaknya, " kamu ini kalau ngomong suka ngasal. "


Perwira melangkahkan kaki pergi dari ruangan anaknya, iya berusaha menghindar. Agar Edwin tidak mempertanyakan kecurigaannya pada saat Ayah.


"Tunggu."


langkah kaki Perwira kini terhenti saat anaknya memanggil, " kenapa Edwin?"


"Edwin sangat curiga sekali dengan gerak-gerik Daddy yang terlihat begitu gelisah dan juga gugup!"


Perasaan Perwira seakan tak menentu, bagaimana menjelaskan semuanya, sedangkan Lorenza menyuruhnya agar diam dan tidak memberitahu akan operasi yang sedang dijalankan Lorenza saat ini.

__ADS_1


__ADS_2