
Natasha kini berusaha bangkit, untuk berhadapan dengan Nadia," apa kamu bilang. "
Namun Nadia seperti orang yang tak tahu malu, ia mencengkram kerah baju Natasha, " Jangan karena kamu istri dari Edwin aku diam saja, jelas aku tidak akan mengikhlaskan semuanya karena Edwin dari dulu tetap milikku, sebaiknya kamu yang menjadi seorang istri menyerah saja."
Nadia kini melepaskan kedua tangannya yang mencengkram kerah baju Natasha, " Nadia segampang itu kamu berbicara?"
"Tentu saja, memangnya kenapa. Aku mengutarakan isi hatiku kalau aku ingin memiliki Edwin sepenuhnya. "
"Kamu benar-benar perempuan gila, berhati iblis memakai hijab hanya untuk menutupi kebusukan kamu. "
"kamu tidak tahu ya apa yang aku pakai ini adalah senjata ampuh yang mampu membuat tante Lorenza dan juga Edwin takluk di hadapanku."
"Aku sudah menduga dari awal, kamu mempunyai niat jahat. "
Tawa menyeringai itu diperlihatkan Nadia dihadapan Natasha, membuat Natasha berusaha menyingkirkan Nadia dari ruangan Edwin.
" Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini, kedatangan kamu hanya membuat emosiku meluap-luap, " ucap Natasha secara terang-terangan mengusir Nadia.
" Dari tadi kamu terus mengusirku, mau bagaimanapun aku tidak akan pergi dari sini karena niatku untuk menjaga Edwin, " balas Nadia seperti orang yang tak tahu diri.
" Ternyata di dunia ini masih ada wanita tidak tahu diri seperti kamu, " Sindir Natasha di hadapan Nadia.
"Hey, jaga mulutmu, yang tidak tahu diri itu kamu bukan aku, dari awal kamu sudah merebut Edwin dariku, kamu yang menggagalkan acara pernikahanku. " pekik Nadia, menyalahkan Natasha atas semua yang terjadi dalam hidupnya.
"Lah, kan dari awal Edwin sudah bilang kalau dia itu tidak suka sama kamu," Natasha tak mau kalah dengan Nadia.
"Sialan juga kamu," balas Nadia.
Tiba-tiba Natasha mendengar suara orang yang memanggil namanya, membuat dia terkejut lalu berjalan ke arah Edwin.
Memegang pipi sang suami, Edwin perlahan membuka kedua matanya, Natasha begitu bahagia ketika melihat kedua mata itu terbuka lebar.
"Edwin, kamu bangun. "
Nadia yang mencari kesempatan berusaha mendekat, iya menyingkirkan tubuh Natasha yang berada di samping Edwin.
Brakk ....
Tanpa disadari Natasha terjatuh ke atas lantai, kaki dan juga lengan tangannya terdapat luka.
"Edwin, kamu bangun. "
Edwin mulai membuka mulutnya dan menyebut orang yang baru saja ia lihat, " Nadia. "
__ADS_1
"Iya ini aku Edwin, aku Nadia. Kamu jangan banyak bergerak, aku akan membawakan kamu air minum."
Bukanlah Nadia yang ingin dilihat oleh, tapi Natasha seorang istri yang ia selalu rindukan di dalam mimpinya ketika ia sedang merasakan rasa sakit.
"Natasha, mana. "
Nadia baru saja memegang gelas yang berisi air minum, ya terkejut. Setelah Edwin menanyakan Natasha, " Natasha?"
"Iya, dia ada dimana?"
Natasha yang merasakan rasa sakit pada lutut kaki dan juga tangannya, busaha bangkit. Ia menarik belakang baju Nadia hingga wanita itu terjatuh dan menumpahkan air pada wajahnya sendiri.
Natasha memegang tangan sang suami, " ini aku istrimu Edwin. "
senyuman itu kini dilayangkan oleh Edwin di hadapan Natasha, perlahan tangan yang terasa lemas mulai memegang pipi kiri Natasha.
"Kamu kenapa menangis?"
pertanyaan Edwin membuat Natasha berusaha tetap tenang, dia mengusap air matanya yang terus mengalir.
"Aku bahagia melihat kamu bisa tersenyum dan memanggil namaku?"
Ingin sekali Natasha memeluk sang suami saat itu, namun apa daya tubuh masih terhalang oleh selang yang membantu Edwin untuk tetap hidup.
Natasha menundukkan pandangan setelah mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut suaminya, " kamu mengalami kecelakaan setelah kita bergegas pulang dari villa."
Nadia berusaha bangkit dengan mengelap wajahnya yang penuh air, dia menyunggingkan bibirnya. Berusaha tetap tenang tidak terpancing emosi.
"Nadia, Sejak kapan dia ada di sini, dan kenapa yang pertama kali aku lihat malah dia?"
Nadia terlihat senang dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Edwin, seperti sebuah kesempatan emas untuk dirinya untuk bisa mendapatkan hati lelaki yang sudah beristri.
"Jelas, saat kamu membuka mata, yang kamu lihat itu aku, yakinlah. Kita ini masih berjodoh. "
Siapa wanita yang tidak cemburu dengan perkataan Nadia yang asal berucap itu, Natasha yang tak terima dengan perkataan Nadia kini menginjak kaki wanita yang berada di sampingnya itu.
"Ahkkk."
Edwin terkejut dengan teriakan Nadia, " kenapa Nadia kenapa kamu tiba-tiba saja berteriak seperti itu?"
Natasha berpura-pura perhatian di hadapan wanita yang berada di samping, " ahk kakiku sakit."
Natasha tak puas dengan teriakan Nadia, apa ia mencubit pinggang wanita itu dengan begitu. " Ahk, pinggangku. "
__ADS_1
Membulatkan kedua mata, memberi kode agar Nadia tidak melampaui batas dalam berbicara.
"Edwin, aku."
Natasha kini merangkul bahu Nadia," Ayolah Nadia Kamu ini kenapa kok berteriak segala, apa karena kamu senang melihat Edwin bisa kembali lagi bangun ya. "
Rangkulan tangan Natasha ternyata membuat Nadia kesakitan, " lepaskan." gadis berhijab itu pada akhirnya bisa melepaskan rangkulan tangan Natasha yang begitu mencengkeram lehernya.
"Nadia, aku tahu kamu ini wanita yang sangat baik, sampai bisa akrab dengan Natasha."
Natasha berusaha membuang wajah saat tatapan Nadia memperlihatkan, kebahagiaan. " Edwin, kamu memang dari dulu selalu mengerti perasaanku."
Natasha menarik nafasnya secara perlahan, Ya berusaha menghempaskan segala sesuatu yang membuat hatinya kesal.
"Sayang, coba minum dulu. "
Natasha berusaha memberikan air minum pada Edwin, di mana lelaki itu hanya menganggukkan kepala.
Nadia melihat pemandangan kemesraan keduanya, membuat dia merasa iri, " harusnya aku yang berada di posisi Natasha saat ini. "
Perlahan Edwin meminum air yang disodorkan oleh istrinya, " gimana tenggorokannya sudah terasa lega. "
Edwin menganggukkan kepala. Iya tak banyak bergerak, karena badannya yang belum stabil dan juga belum mendapatkan donor yang sesungguhnya.
Nadia yang terlihat begitu carmuk di hadapan, mulai membuka kantung tas, perlahan ia mengambil ponsel untuk segera menghubungi Lorenza.
Di mana Natasha juga melakukan hal yang sama, namun panggilan Nadia yang lebih dulu diangkat oleh Lorenza.
Natasha kesal dan geram, ia kini mengambil ponsel dari telinga Nadia.
"Halo. Tante. "
di mana Nadia terkejut dengan aksi Natasha yang tiba-tiba saja merebut ponselnya.
"Halo, mommy. Ini aku Natasha, Kebetulan sekali aku memakai ponsel Nadia," ucap Natasha Pada sambungan telepon kepada Ibu mertuanya.
Nadia mulai merebut ponsel dari telinga Natasha, namun Natasha yang menyadari hal itu berusaha menghindar," Ada apa Natasha, apa Sesuatu terjadi dengan Edwin?"
"Tidak mommy, sekarang Edwin sudah siuman!"
Mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Natasha membuat Lorenzo sangatlah senang, wanita tua itu menangis dan bersyukur dengan berita yang dikatakan oleh menantunya, " syukurlah kalau begitu, sekarang Mommy dan mama kamu akan segera datang ke sana."
"Iya mom. "
__ADS_1