Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 38


__ADS_3

Lelaki bertato dengan gaya rambut cepak tersenyum seketika, " Ehh, ayang bebeb. "


Edwin mengibas ngibaskan tangan pada baju, membersihkan debu bekas tangan lelaki yang berani memegang bajunya.


Mengerutkan dahi, mendengar kata kata sayang terlontar dari mulut lelaki yang berada dihadapannya.


Natasha mendekat pada sang suami, memegang tangan Edwin, lalu berbisik, " dia itu cowok yang ngejar ngejar gue. Namanya Sodikin panggilannya Diki "


Edwin memajukan bibir bawahnya, mengusap pelan dagu, kedua mata menatap ke arah penampilan lelaki bernama Diki itu.


"Model ke sapu injuk kaya begini. "


"Apa kamu bilang. "


Natasha kini menutup mulut suaminya, menarik paksa Edwin agar menjauh dari hadapan Diki.


"Natasha, ayang, mau kemana kamu.


Natasha melirik ke arah belakang, tersenyum kecil dengan berharap Diki tak mengejarnya.


Sampai di gudang, tanpa satu orangpun. Natasha perlahan melepaskan tangan yang menempel pada mulut Edwin.


Terlihat ada sedikit lendir dari mulut Edwin pada telapak tangan, membuat Natasha bergidik ngeri, " ih bau jigong ( Bau mulut). "


Mendengar ucapan Natasha membuat Edwin malah menarik bahu istrinya, menc!um bibir tebal itu, hingga m£nj!l@tinya.


Dengan berusaha keras, Natasha mendorong tubuh Edwin, mengusap kasar bibirnya yang basah.


"Mm, kurang ajar kamu Edwin. "


Tertawa pelan, " gimana bau jigongnya, makin asik kan. "


Menyunggingkan bibi atas, mengerutu kesal didepan Edwin. "Kamu bisa bisanya melakukan hal ini kepadaku. "

__ADS_1


"Loh, memangnya salah, kita'kan suami istri dan tak apa lah melakukan hal seperti ini sah, sah saja. Ngapain coba aku menikahi kamu kalau hanya dijadikan pajangan saja, sama aja bohong. " Edwin terlihat nakal, dengan menjulurkan lidahnya, mencubit hidung pesek sang istri.


"Ahk, apaan sih lu hah. Sudah kaya ular sawah tuh lidah di julur julur ke gitu, " ketus Natasha melipatkan kedua tangannya, terlihat ia tampak bete membawa suaminya ketempat perkumpulan pada Rock in roll ya.


Berkacak pinggang layaknya seorang bos, Edwin kini menegaskan sang istri, " ngapain coba kamu datang ke acara kaya begini, hah. Kagak ada faedahnya. Mendingan pulang dan kamu belajar jadi ibu rumah tangga yang baik, oke. "


"Idih sok ngatur, siapa juga yang ingin jadi ibu rumah tangga. Lu yang ngajak ngajak gue nikah," ketus Natasha, berkacak pinggang memperlihatkan keberaniannya, jika ia tidak takut sama sekali dengan Edwin.


"Bisa bisanya kamu berbicara seperti itu, bagaimanapun, kamu sudah sah menjadi istriku dan harus menuruti apa yang aku katakan dari sekarang juga. " Teriak Edwin pada sang istri, Natasha yang mendengar perkataan suaminya, kini menarik rambut pendek Edwin.


"Ahkk, kurang ajar kamu. Tak sopan, bisa bisanya berbuat seperti ini, " Natasha semakih berani, ia membalas perlakuan istirnya.


"Edwin. Ahkk. "


"Mm, aduhh. "


Diki terlihat penasaran dengan Natasha yang menarik paksa lelaki yang membuatnya kesal, ia kini berjalan mencari keberadaan keduanya, karena rasa penasaran yang berlebihan.


Tanya Diki dalam hati, perlahan ia terus berjalan menelusuri setiap ruangan. Untuk mencari keberadaan keduanya.


Sampai Diki terkejut mendengar suara yang membuat ia menjadi salah menduga, " seperti suara Natasha dan laki laki itu. "


"Edwin, ahkkkk. Hentikan sakit. "


Diki tampak terkejut dengan teriakan Natasha, ia berusaha mendobrak pintu gudang itu dengan tubuhnya yang cungkring," Natasha, aku akan menyelamatkanmu, tunggu saja. "


Pintu terbuka, penampakan keduanya membuat Diki malu sendiri, ternyata keduanya hanya berdebat dan saling menjambak rambut satu sama lain.


Ia hampir berpikir hal yang tidak tidak, karena teriakan Natasha yang terdengar seperti orang yang sedang dip£rkos@.


Natasha berusaha meminta bantuan terhadap Diki, karena Edwin terus menjambak rambutnya, lelaki yang menjadi suaminya itu tak mau mengalah sedikitpun kepada Natasha.


Setelah selesai membubarkan keduanya, Edwin mulai berteriak di hadapan Diki, " aku peringatkan kepada kamu Natasha sebaiknya kamu pulang sekarang juga. "

__ADS_1


Diki yang terlihat begitu so pahlawan kesiangan, mempelihatkan badan kerepengya. " Heh, siapa lu, sok ngatur ngatur ayang beb gue. Kalau mau pergi, pergi saja sono, jangan ajak ajak ayang beb gue. "


"Ya elah, kamu cugkiring sok jadi pahlawan kesiangan, nggak ada pantas pantasnya. Kaya kayu kering tahu nggak, sekali dipatahkan udah hancur, " balas Edwin, ia kini mempelihatkan kedua tangan berotot miliknya.


Sontak Diki terlihat menelan ludah, seperti tak berani melawan Edwin sama sekali.


"Sok kuat lu, otot palsu kaya begitu juga. Hah, gue juga bisa, noh lihat. " Diki dengan begitu pedenya memamerkan tangan yang terlihat tulang berlulangnya saja. "


Edwin yang melihat pemandangan itu tertawa tebahak bahak, ia tak bisa menahan diri untuk terus mentertawakan Diki. Karena melihat tangan yang kurang giji itu.


"Ada juga ya, tangan udah kaya tulang doang. "


Diki tak terima dengan perkataan yang terlontar dari mulut Edwin, hingga ia memanggil para teman-temannya, untuk bisa menghadapi Edwin yang terlihat begitu sombong.


Di sisi lain, Natasha mulai menghentikan perdebatan antara Diki dan juga suaminya," hentikan, sebaiknya kita akhiri saja perdebatan ini. "


Edwin mengerutkan dahinya, lalu menatap ke arah sang istri. " Kenapa, apa kamu takut jika aku kalah menghadapi teman-temanmu yang kurang gizi ini. "


Edwin terlihat begitu santai, apalagi ya sampai meledek Diki dan juga teman-temannya yang hanya menyisakan tulang-belulang pada badan mereka.


"Jaga ucapan kamu, jangan sampai kami menghajar kamu habis-habisan."


Mendengar perkataan Diki membuat Natasha memohon agar tidak melakukan hal yang tak ter duga," Diki jangan lakukan hal yang membuat Edwin terluka, sebaiknya kalian berdamai saja, aku tidak kenapa-napa kok, tolong maafkan kesalahan Edwin yang asal bicara itu. "


Edwin tak suka dengan pembelaan yang terlontar dari mulut istrinya. Ia kini berucap, " Sudahlah, tak perlu kamu membela aku, karena aku bisa menghadapi para sahabatmu yang kekurangan gizi ini."


Mereka semua tak terima sama sekali dengan ucapan yang terdengar meledek.


" Sudah aku bilang berulang kali, jaga ucapan kamu. Jangan sampai anak buahku ini menghajar kamu habis-habisan, hingga kamu tidak bisa pulang ke rumah dalam keadaan utuh seperti sekarang. Kami bisa nekat melakukan apa saja pada orang yang sudah berani meledek kamu dan juga menghina kamu."


Natasha berusaha Melambaikan tangan, ke arah suaminya, memberikan kode agar tidak membalas perkataan Diki. Namun seketika kode dari Natasha diabaikan begitu saja oleh Edwin, dengan angkuhnya dan juga keberaniannya Edwin akan menghajar para orang-orang yang ia katakan kurang giji.


Hingga pada akhirnya Natasha menyerah dan berkata, " mampus, gimana ini, Edwin akan celaka, aku harus mencari ide agar Edwin bisa menghindar dari Diki dan anak buahnya, " gerutu hati Natasha.

__ADS_1


__ADS_2