
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, kedua insan yang berada di dalam kamar, dengan satu ranjang berdua. Saling membelakangi tubuh satu sama lain.
Natasha yang memang terkesan jahil, kini mengeliatkan badannya, berpura pura menguap dengan kaki yang ia layangkan pada b0k*ng suaminya.
Brukkk.
Baru saja Edwin merasakan tidur yang sangat nyenyak, kini terganggu oleh Natasha. Yang tiba tiba saja menendang b0k*ng suaminya.
"Aduhh." Edwin bangkit, menarik kaki Natasha. " Kurang ajar kamu. "
Tubuh kekar Edwin kini ia himpitkan pada tubuh mungil Natasha, membuat napas Natasha terasa sesak. " Akh. Edwin cepat menyingkir dari tubuhku. "
"Mm." Edwin malah sengaja, ia menutup kedua matanya dimana wajahya begitu dekat dengan wajah Natasha.
"E-d-win. Bengek nih. " Ketus Natasha, berusaha mendorong tubuh kekar suaminya dengan sekuat tenaga.
"Sialan, dia ternyata mau mengerjaiku. " Gumam hati Natasha.
Tangan Natasha kini mulai memegang sesuatu yang tak pernah ia pegang, padahal niatnya ingin menggelitik pinggang sang suami. Namun seperti suatu benda asing, begitu keras tersentuh oleh tangannya.
"Apa ini?"
Edwin malah tertawa, dimana Natasha yang penasaran malah memegang kembali benda keras itu, " Apa ini, keras seperti pohon singkong atau buah singkong." Gumam hati Natasha, meraba dan menebak nebak.
Edwin yang merasakan sensasi pegangan tangan Natasha, membuat ia pastinya terkejut. Kedua pipi memerah, karena baru pertama kali b*tang miliknya meng*ras dan di sentuh secara perlahan.
"Hey, Edwin. Sejak kapan lu menyimpan singkong di celana lu ini?" pertanyaan Natasha membuat Edwin tak mempedulikannya, ia tetap menikmati.
Sampai rasa gairah itu keluar, kedua mata Edwin membulat, menatap ke arah Natasha dengan tatapan penuh hawa napsu yang menggila.
"Kamu kesurupannya. "
Natasha berusaha mendorong tubuh Edwin, namun tenaga sang suami begitu kuat, membuat ia benar benar tak kuasa melawan.
"Edwin, dedemit apa yang merasuki tubuh lu. Atau lu akan berganti menjadi dedemit."
Edwin memegang kedua tangan Natasha, dimana wanita itu, berusaha mengayun ngayunkan kaki, hingga. Brakk. Ayunan kakinya mampu menendang benda keras yang ia pikir itu adalah singkong.
"Ahk." Tubuh Edwin terpental ke ujung tembok. Membuat ia lemah dan kesakitan.
__ADS_1
Sedangkan Natasha dari tadi terus bergidik ngeri karena batang keras yang ia pengang sangatlah berbeda.
"Kenapa Natasha, kamu malah mendorong tubuhku, bukannya kamu yang membangkitkan gelora dalam jiwa ini, kamu harus bertanggung jawab, jangan pergi dan menolak seenak yang kamu mau. "
"Apa maksud dari perkataan lu itu, Edwin. Gila apa lu. "
Edwin kini tertawa, ia berusaha berjalan setelah tubuhnya terpental oleh dorongan Natasha.
Natasha kini naik pada ranjang tempat tidur, ia membanting banting bantal ke arah tubuh suaminya. Hingga bantal itu tak tersisa lagi.
"Natasha, apa lagi yang kamu mau banting, hah. Kenapa kamu tidak membanting tubuhmu saja sekalian, agar aku bisa memelukmu sekarang juga. "
Karena sudah malam, perkataan Edwin sudah tak karuan, membuat Natasha yang mendengarnya ketakutan sendiri, bulu kunduknya merinding.
Hingga ia mengambil air minum di atas meja dan membaca mantra, " sing song seng, beng bong beng. Dedemit, setan. Juring. Atau apalah yang ada pada diri Edwin, cepat keluar. CEPAT KELUAR. Jangan lu buat Edwin seperti orang tak waras, Wahhhhh. "
Meminum dan menyemburkan pada wajah suaminya. Sontak Edwin yang medapatkan semburan kuat dari mulut istrinya membuat ia mengusap kasar wajahnya dan mencium bau air itu. " Mm. Bau apa ini, ******. "
"Natasha." Edwin mempelihatkan kekesalannya, ia kini menarik tangan Natasha, hingga tubuh istrinya sekarang berada dipangkuannya.
"Mm, sekarang kamu ada di pelukanku. " ucap Edwin, tersenyum lebar. Mengedipkan kedua matanya.
Namun tenaga Edwin malah semakin kuat, ia menarik baju Natasha, mendorong tubuh istrinya hingga tubuh mungil itu terbaring di atas kasur.
"Edwin apa yang mau lu lakuin pada gue. Hah, cepat menyingkir, atau gue bakal buat singkong lu itu hangus. "
Edwin tertawa terbahak bahak. " Bhahhha. Kalau bisa silahkan saja. "
Lelaki berbadan kekar terlihat menantang perkataan Natasha, dimana tangan wanita bermata bulat dan berbibir tebal itu meraih sebuah korek api di atas meja.
Menyalakan dan mendekatkan pada benda keras yang Natasha pikir itu singkong.
Sontak merasakan hawa panas dari korek api, membuat Edwin melocat loncat kesakitan dan kepanasan.
"Ahkkk, sakit. Perih. "
Natasha yang melihat pemandangan itu, kini tertawa tebahak bahak, bagian dari dirinya yang mentertawakan sang suami.
"Wah, singkong bakarnya mulai matang tuh. "
__ADS_1
Edwin berlari menuju kamar mandi, untuk membersihkan sisa percikan api yang hampir mengenai keperjakaannya sebagai lelaki. "
"kurang ajar, wanita gila memang si Natasha ini."
Natsaha menarik selimut dan mulai menutup kedua matanya untuk segera tertidur, namun Edwin baru saja keluar dengan gaya ngakangnya.
Ia merebahkan tubuhnya di dekat Natasha, dimana tangan kekar itu memeluk tubuh Natasha.
"Apa lagi si Edwin ini, ingin aku bakar lagi tuh singkong. " Gumam hati Natasha.
"Singkirkan tangamu itu, aku tak suka. " ketus Natasha pada sang suami.
Beberapa kali Natasha berusaha menghidarkan tangan suaminya itu, namun Edwin malah keras kepala, ia kini merangkul kuat tubuh istrinya.
"Jangan bergerak atau aku akan menciummu sekarang juga. "
Pelukan Edwin begitu kuat, padahal begitu munafiknya Edwin ketika belum menikah dengan Natasha.
"Ih, lepaskan. Lu ini gila ya, peluk aja tuh guling. "
"Kagak mau. "
Setiap malam begitulah perdebatan kedua Insan yang baru saja menjalani pernikahan, mereka seperti anak kecil yang memperebutkan sebuah mainan, i selalu bertengkar karena hal sepele.
******
Sang Papah yang merasakan kegalauan, kini keluar dari kamar, dia mengacak rambutnya dengan begitu kasar. Merasa frustasi karena sang istri tak mau melayaninya.
"Ahk, bisa-bisanya Sarah tidak mau melayaniku sebagai seorang suami, apa yang ada di pikirannya saat ini." Gerutu Rudi, padahal baru saja kemarin ia merasakan sesuatu yang berbeda dari pembantu barunya itu.
Namun sekarang pembantu baru yang bernama Iyem itu telah pergi, karena diusir oleh Sarah secara terang terangan.
Rudi. Baru saja melewati kamar sang pengantin, iya penasaran dengan aktivitas pengantin baru, mencoba mendekatkan telinga pada pintu kamar anaknya.
Tidak ada suara sama sekali, membuat Rudi semakin penasaran, " kok adem ayem ya, nggak ada gitu suara kaya kemarin. Ahk, ih. Uh. He. "
Rudi kini mengintip pada lubang clop, melihat sedang apakah pengantin baru di jam malam.
"Kok, mereka nggak kelihatan sedang di rajang tempat tidur ya. Aneh. Apa beda tempat. "
__ADS_1
Rudi mulai mengintip lagi, hingga. Brukkkk ....