Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 55


__ADS_3

"Edwin, lepaskan aku. Kenapa kamu malah menggendong seenaknya, " ucap Natasha berusaha memberontak.


Edwin kini melemparkan istrinya ke atas kasur yang begitu empuk, badan kekar Edwin dia perlihatkan di hadapan Natasha.


"Jangan mendekat, atau aku akan buat batangmu itu bengkok. Hah. "


Menunjuk dengan jari tangan pada wajah Edwin, terlihat lelaki berbadan kekar dengan kulit kuning langsatnya, mencoba menggigit jari tangan Natasha dengan lembut.


"Ahk."


"Kenapa, pasti sakit kan?"


Pertanyaan Edwin membuat Natasha ingin sekali mencekik leher suaminya sendiri.


Natasha kini mengkerahkan kedua tangannya, untuk mendorong dada bidang Edwin agar segera menyingkir dari hadapannya.


"Pergi kamu dari sini. "


Namun tenaga Edwin begitu kuat, terlihat Natasha begitu lemah saat mendorong suaminya sendiri," seenaknya kamu mau mendorong tubuhku. "


" Menyingkir dari hadapanku atau aku akan .... "


Edwin malah sengaja memotong perkataan istrinya sendiri," menjerit keenakan. "


"Sialan, kamu Edwin, bisa-bisanya kamu bercanda di situasi seperti ini, cepat menyingkir aku benar-benar merasa tak nyaman. "


"Begitulah wanita ketika diajak selalu banyak menolak, tapi setelah Lost door tahu-tahu seperti cacing kepanasan."


"Apa maksud dari perkataan kamu itu, kamu itu menyindirku. "


"Mm, sejak kapan aku menyindir kamu, itu hanya perasaan kamu saja."


Natasha berusaha bangkit, mendorong tubuh Edwin agar menyingkir dari hadapannya.


"Aku ingin tidur, jadi aku berharap kamu tidak menggangguku saat ini juga."


Edwin mengangkat kedua alisnya, ia membiarkan Natasha dengan keinginannya sendiri. Dimana wanita itu berjalan, hingga terpeleset di hadapan Edwin.


Namun Edwin yang begitu singkat, menahan tubuh istrinya lalu berkata," kalau jalan itu pakai mata bukan pakai mulut."


Edwin melepaskan tangannya, sampai di mana Natasha terjatuh ke atas lantai. " Aw. "


Natasha kesel dengan Edwin yang malah membiarkannya terjatuh, " Edwin, Kamu ini kurang ajar sekali bisa-bisanya kamu membiarkan aku jatuh di atas lantai."


Lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya begitu saja, berusaha tak mendengarkan ocehan yang keluar dari mulut Natasha sedikitpun.


"Edwin, Sebenarnya kamu ini dengar tidak apa yang aku katakan," Natasha terus mengoceh tiada henti, di mana telinga Edwin sengaja ditutupi oleh headset.

__ADS_1


Natasha yang melihat tingkah suaminya kini melepaskan headset yang menutupi lubang telinganya.


"Kamu ini tak mendengarkan apa yang aku katakan apa?"


"Untuk apa aku mendengarkan perkataanmu, Natasha!" Edwin yang terlihat gemas dengan kemarahan Natasha, kini menarik tangan istrinya.


Sampai Natasha terjatuh pada tubuh Edwin, kedua wajah mereka saling pandang satu sama lain," Lepaskan. "


" Aku tidak akan pernah melepaskanmu, sebelum mulutmu itu berhenti mengoceh, asal kamu tahu ya, mulutmu yang sering mengoceh itu seperti nenek-nenek yang kekurangan kalsium,"


Natasha mengerutkan bibirnya, berusaha menghindar dari tubuh suaminya sendiri.


"Natasha, ayolah bersikap santai. Jangan kamu anggap aku ini sebagai musuhmu. "


"Ckk, Kenapa kamu keberatan jika aku menganggap kamu sebagai musuhku. "


"Aku tidak keberatan hanya saja, aku merasa tak nyaman jika mendengar bentakan kamu yang seperti nenek gombel itu. "


"Apa maksud kamu mengatai aku nenek gombel, sudah berani kamu menghina aku terus-menerus."


Edwin kini melayangkan aksinya, memeluk erat Natasha, membuat wanita itu tak bisa pergi kemana-mana.


Terlihat Natasha hanya bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya.


Dengan sengajanya Edwin membalikkan tubuh Natasha, sampai di mana Edwin yang kini berada di atas tubuh istrinya.


Edwin malah sengaja menghampiri tubuh istrinya, sehingga Natasha merasakan hal yang tak terduga.


"Pengap." Menendang batang keras itu.


Bruk ....


Edwin kini menyingkir dari hadapan Natasha, dimana ia berjingkat jingkat kesakitan, " Ahkk. "


Natasha yang melihat pemandangan itu tertawa terbahak bahak, " ah, hahhahahah. "


Tawa terdengar begitu nyaring membuat Edwin membulatkan kedua mata dan menunjuk ke arah istrinya. " Kamu bisa bisanya berbuat seperti itu, hah. Kurang ajar sekali. "


Melipatkan kedua tangan berdiri di hadapan suaminya, " kenapa, kesakitan ya. Hahhaha. "


Tawa Natasha terus dilayangkan dari mulutnya, di mana Edwin mengepalkan kedua tangan, ingin sekali membungkam mulut istrinya.


"Sudah ah, aku mau bobo cantik. By by, Edwin. "


Natasha terlihat merasa tak bersalah, dengan apa yang sudah ia lakukan, Iya kini membaringkan badannya ke atas Keranjang tempat tidur, mempedulikan suaminya yang terlihat kesakitan.


Edwin berusaha menahan diri agar tidak menyakiti istrinya, dia pergi dari dalam kamar untuk segera mengobati batang yang sudah tak berdaya itu.

__ADS_1


"Udin, udin. Bisa bisanya kamu dapat lubang ganas seperti Natasha. Mana brutal lagi orangnya, " keluh Edwin, tenggorokannya terasa kering, ia melangkahkan kaki untuk pergi menuju ke dapur.


Terlihat Edwin merasa tak bersemangat setelah apa yang dilakukan Natasha kepada dirinya.


"Natasha, Natasha. Ingin aku bikin kamu lemas saat itu juga. "


Edwin mengambil air minum yang berada di atas meja dapur, perlahan ia meminum.


Sampai Edwin merasakan rasa geli pada tubuhnya, sebuah tangan lembut mengusap pelan badannya.


"Hai Edwin. "


Bisikan itu membuat bulu -punduk Edwin berdiri, iya mengusap kasar pundaknya, menatap ke arah belakang, di mana ia terkejut, sosok wanita yang menjadi ibu Natasha.


"Mama, ada apa?"


Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, Edwin terlihat gelisah dengan kedatangan Mama mertuanya, ya berusaha menaruh gelas yang sudah tak tersisa airnya.


Sarah yang melihat kepergian menantunya, kini menahan tangan Edwin, di mana sang menantu terlihat semakin ketakutan.


"Maaf ma, Edwin mau tidur. "


Sarah malah sengaja mendekatkan tubuhnya pada tubuh Edwin, membuat sosok sang menantu berusaha menghindar, " ayolah Edwin, cumbu Mamah Mertuamu ini sekarang juga. Apa kamu tidak mau melihat gua lebar milik mamahmu ini. "


Pikiran Edwin terlihat tak karuan, ya berusaha menguatkan keimanannya, " sebaiknya Mama jangan seperti ini, kita ini adalah seorang menantu dan mertua. Tak baik berduaan di dapur dengan lampu yang gelap kualitas seperti ini."


Sarah kini memegang rahang menantunya, meraba perlahan demi perlahan, anak Edwin berusaha menghindari elusan tangan lembut itu.


"Kenapa, dari tadi kamu terus menghindari mamamu ini. Apa kamu tidak merasa jika mamamu ini begitu cantik dan menyenangkan. "


"SETAN, DEMIT. SEBANGSA JIN TERKUTUT PERGI KAU DARI HADAPAN SUAMIKU, HOBAH. HUHHH. "


Bruyyy ....


Kedatangan Natasha mengagetkan keduanya yang berada di dalam dapur, di mana wanita itu mengguyur Edwin dan juga sang mamah yang terlihat begitu menempel.


"NATASHA, APA APAAN KAMU INI. KENAPA KAMU GUYUR MAMA?"


kemarahan diperlihatkan oleh Sarah kepada anaknya, penampilannya yang begitu seksi sekarang terlihat begitu basah kuyup.


Natasha berpura-pura tak tahu dengan apa yang sudah ia lakukan, menutup mulutnya dengan telapak tangan," ups, Natasha kira di sini tidak ada orang, makanya gelap gulita dan tadi Natasha mendengar suara ah, eh. Hoh, Eh. Gitu. "


Edwin menyunggingkan bibirnya pergi dari hadapan Natasha dan juga mertuanya.


"Edwin."


Teriakan sang ibu mertua tak didengar sama sekali oleh menantunya.

__ADS_1


__ADS_2