
"Tunggu. Kamu Perwira. " Rudi menunjuk kearah lelaki yang duduk di samping istrinya.
Sarah menundukkan kepala, iya lupa bahwa dirinya juga datang bersama Perwira.
"Pak Rudi, apa kabar?" Perwira tersenyum sembari menyodorkan tangannya ke arah Rudi, berpura-pura seperti orang yang baru saja melihat Rudi.
"Baik, anda di sini!?" jawab Rudi dengan melayangkan sebuah pertanyaan, dimana Perwira memutar bola matanya.
"Kebetulan saya ada acara di sini, dan saya bertemu dengan istri anda yang sendirian dan akhirnya kita saling menyapa, " jelas Perwira, membuat sebuah karangan cerita dengan kebohongan.
"Owh, " Rudi mengusap kasar dagunya, merasa ada yang tak beres di hadapannya saat ini.
Sarah merasa tenang ketika Perwira pintar dalam mengarang cerita. Ia lega dan kini mempelihatkan dirinya yang merasa tersakiti.
"Om, Putri sudah belanjanya kita pulang sekarang yuk, " ucap gadis itu, membuat amarah Sarah mengebu gebu.
"Tenang dulu ya Putri, nanti kita pulang bersama kok. " balas Rudi, terlihat begitilu perhatian pada gadis berpakaian SMA itu.
__ADS_1
Sarah berusaha tenang tidak memberontak gadis yang berada dihadapannya.
"Ahkk, Putri udah lelah. Om. " keluh Putri mengusap-usap kedua matanya, seketika mulutnya, marasakan rasa kantuk yang sangat luar biasa.
Rudi menurut gadis itu, mereka pergi berdua dengan bergandengan tangan. Sarah yang melihat pemandangan itu hanya bisa menghias nafas mengeluarkan terasa sesak.
"Tunggu."
Keduanya kini berhenti saat Sarah menyuruh mereka untuk diam, "Kenapa?"
"Jadi, kamu lebih mementingkan gadis SMA itu daripada aku istrimu sendiri!" balas Sarah, keterima dengan perlakuan yang diperlihatkan oleh suaminya.
Wanita mana yang tak kesal dengan perkataan sosok lelaki yang menjadi suaminya itu, Sarah kini berkacak tinggal menyuruh suaminya untuk tidak mengantarkan gadis SMA itu.
"Cukup, aku tidak akan mengizinkan kamu mengantarkan gadis itu," ucap Sarah memerintah suaminya seperti Bos.
"Sarah, kamu jangan egois seperti itu. Jika bukan aku yang mengantarkan gadis ini Lalu siapa lagi." balas Rudi kepada istrinya,
__ADS_1
" Aku tak peduli, siapa suruh kamu mengenal gadis ini tanpa pengetahuanku, " tegas Sarah, membuat Rudi tak bisa berucap satu patah katapun.
" kamu jangan salah paham dulu, hanya menolong dia. Di saat dia benar-benar kesulitan sekarang, kamu jadi wanita jangan egois dong, " telunjuk tangan kini menuju ke arah suaminya, cara benar-benar terterima dengan perkataan yang terlantar dari mulut suaminya itu.
" segampang itu kamu berbicara," Rudi malah mengabaikan perkataan istrinya ia kini menarik tangan putri untuk pergi dari hadapan Sarah.
Sarah mengira jika Rudi akan mengerti dengan keinginannya saat itu, namun sungguh disayangkan Rudi seperti orang bodoh, yang pergi begitu saja tanpa melirik ke arah istrinya.
"Kamu benar-benar jahat Rudi."
Kedua Insan itu sudah pergi jauh dari hadapan Sarah, di mana Sarah tiba-tiba saja menangis, membuat perwira yang berada di sampingnya kini merangkul dan menenangkan Sarah.
"Dia tega sekali kepadaku. "
Menangis dengan suara yang terdengar begitu kencang, membuat Perwira berusaha membujuk dan juga menenangkan Sarah pada saat itu juga.
Namun sungguh di sayangkan, semakin dibujuk dan juga dirayu, cara begitu terdengar kencang. Membuat Perwira semakin kebingungan.
__ADS_1
"Ya ampun aku harus bagaimana?"