
"Apa salahnya Mommy berkata jujur, Edwin tidak mau ada kebohongan di antara kita."
Lorenza menundukkan pandangan, mendengar ucapan yang terlontar dari mulut anaknya. " Maafkan Mommy. "
Lorenza pergi dari hadapan anaknya, sampai Edwin berteriak. " Jika mommy, melangkahkan kaki lagi, Edwin tak segan segan, mencabut selang yang menempel pada tubuh Edwin sendiri."
Lorenza berusaha tetap tenang, ia menghapus air matanya. Membalikkan badan bersikap tegas pada Edwin.
"Mommy." Tangan kekar itu memegang selang dan alat bantu pada tubuh Edwin.
"Edwin, jika itu yang kamu mau, lakukan lah," tegas Lorenza, membuat Edwin terdiam.
"Jadi mommy sudah ikhlas jika aku tiada, " ucap Edwin pada wanita yang sudah melahirkannya.
Lorenza mendekat pada Edwin, menatap mata anaknya, " mommy ikhlas nak, tapi apa kamu tidak pernah memikirkan anak dan istrimu?"
Perkataan yang membuat hati Edwin tersentuh, ia ingin melihat sang mommy bahagia, lupa dengan anak istrinya yang sangat membutuhkan dia.
" Edwin, seorang ibu mana yang tak ingin melihat anak istrinya bahagia, semua mengiginkan hal itu. Makanya mommy rela mempertaruhkan nyawa mommy demi kamu bahagia bersama anak dan istri kamu. "
Perkataan Lorenza membuat air mata perlahan menetes mengenai pipi Edwin, ia tak sanggup mendengar suara peluh itu. Membuat hatinya sakit.
"Tetap saja, tidak ada seorang anak yang mau kehilangan ibunya. "
Deg ....
Lorenza juga ingin merasakan bagaimana rasanya mengendong seorang cucu, melihat Edwin bahagia bersama Natasha.
"Sudahlah Edwin, ini sudah menjadi keputusan mommy, mommy ingin yang terbaik untuk kamu. Mommy tak mau melihat kamu menderita. "
"Tetap saja Mom, Edwin juga tak ingin melihat Mommy menderita, karena mommy mendonorkan semua untuk Edwin. "
Ingin rasanya Lorenza memeluk anak semata wayangnya itu, namun terhalang oleh selang yang menempel pada badan anaknya.
Jika alat itu di lepaskan, bagaimana dengan keadaan Edwin nantinya.
"Mommy pergi dulu, mommy berharap kamu tidak memberi tahu siapapun soal ini, karena mommy tak ingin membuat kegaduhan pada keluarga kita."
Edwin tak bisa berkata apa apa, dia hanya diam, menahan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
" Edwin, tolong jaga rahasia ini. "
__ADS_1
Ceklek.
Pintu dibuka, sosok Natasha datang dengan sebuah senyuman kecil dari bibirnya.
"Natasha, kamu sudah kembali. "
"Iya mom, " Natasha sekilas melihat ke arah Edwin yang hanya diam membisu, membuat ia mengerutkan dahinya.
"Mommy pergi dulu ya, ada urusan penting. Oh ya Edwin, jaga dirimu baik baik. Ingat pesan mommy." Edwin tak menjawab perkataan sang mommy, ia hanya diam membisu dengan tatapan matanya yang penuh arti.
"Hati-hati mommy. "
Menganggukkan kepala, wanita tua itu pergi tanpa mempelihatkan kesedihan sedikit pun pada raut wajahnya.
"Edwin."
Natasha duduk, dimana Edwin tak mempedulikannya sama sekali. " Edwin, kamu kenapa, pas lihat aku kenapa cuek begitu?"
Pertanyaan dari Natasha, membuat Edwin menatap sekilas kearah istrinya dan menjawab, " aku tak kenapa kenapa. Aku hanya ingin tidur. "
"Mm, ya sudah kalau begitu."
Edwin mulai menutup kedua matanya ia mulai tertidur, tanpa mempedulikan istrinya.
Perasaanya tak karuan hatinya penuh rasa bimbang. Bertanya, namun jawabannya begitu terdengar ketus seakan Edwin malas membalas jawaban dari istrinya.
Natasha yang tak ingin ambil pusing, ia kini melipatkan kedua tangan, menyenderkan badan pada kursi, sampai hitungan beberapa detik Natasha tertidur pulas.
Edwin kini terbangun dari tidurnya, ia melihat wajah istrinya, entah apa yang ada pada pikirannya saat ini.
Ia tak mau kehilangan seorang ibu dan juga istrinya, dia juga tak mau mati sesingkat ini.
Edwin ingin bahagia berkumpul dengan semua orang yang ia sayang.
"Kenapa aku harus memilih, itu rasanya menyakitkan. "
Edwin berusaha menahan isak tangis, ia hanya bisa membekam mulutnya sendiri tanpa mengeluarkan suara.
"Kenapa aku seperti wanita, cengeng begini."
Natasha terbagun dari tidurnya, ia seperti mendengar suara tangisan, " Edwin, itukah kamu yang menangis. "
__ADS_1
Edwin yang menyampingkan badannya, dengan terburu buru mengusap air mata, seorang lelaki menangis untuk istri dan ibunya.
"Edwin, kenapa? Apa kamu merasa kesakitan?" Natasha begitu kuatir, ia mengusap pelan jidat suaminya, membuat Edwin membalikkan badan.
"Kamu menangis, kenapa, apa aku menyakiti hatimu Edwin?" tanya Natasha, perlahan tangan lembutnya itu mengusap air mata yang mengalir.
"Ayo bicara padaku, kenapa, apa aku sudah menyakiti hatimu?" Natasha terus melayangkan sebuah pertanyaan terus menerus membuat Edwin terlihat tak nyaman.
"Apa bisa kamu tidak bertanya padaku saat ini."
Deg ....
Baru pertama kali Natasha mendengar Edwin membentaknya, ia perlahan melepaskan tangan yang memegang jidat suaminya.
"Aku pusing dengan pertanyaan kamu terus menerus. " pekik Edwin, urat leher ia perlihatkan, sepertinya Edwin tertekan dan takut kehilangan istri dan ibunya. Ia sampai tak bisa menahan kesedihan dan emosinya, sampai tak terkendali dan meluap pada seseorang yang tak seharunya menjadi sasaran amarah.
"Maafkan aku, aku ...." Kedua mata berkaca kaca, Natasha berusaha menghindar, ia tak mau melukai hati dan perasaan suaminya sendiri.
"Maaf, apa dengan sebuah maaf, mempu membuat sedihku hilang, " ucap Edwin, Natasha benar benar tak mengerti dengan perubahan Edwin secara tiba tiba.
"Edwin, aku disini. "
Edwin semakin meluapkan emosinya, ia kini membentak lagi Natasha, tak bisa mengendalikan diri karena rasa stres. " pergi, cepat pergi dari sini. Aku tak mau melihat kamu. "
Natasha melangkahkan kaki kebelakang, ia berusaha tetap tenang, " Edwin, aku tahu kamu sedang marah, tapi jangan seperti ini please. "
Natasha mengusap pelan perutnya, ia menenangkan Sang suami yang terlihat marah besar.
"Kenapa diam saja, hah. Pergi cepat pergi. "
Kata kata Edwin, membuat Natasha merasa sakit hati, ia pergi dari ruangan Edwin, berusaha menahan isak tangis.
"Kalau itu keinginan kamu, aku pergi dulu."
"Cepat pergi. "
Berlari dengan air mata yang berlinang. Edwin melihat Natasha berlari membuat ia menangis, entah kenapa dengan emosinya, ia berani memarahi sang istri.
"Apa yang aku lakukan, apakah sudah benar. Hah, membuat Natasha membeciku adalah hal yang terbaik bukan, agar ia tak terlalu berharap. Agar ibu tak perlu repot repot jadi pedonor."
Edwin terus mengoceh, menyalahkan dirinya sendiri, ia tak mau jika orang orang yang ia sayang menanggung kesedihan yang ia rasakan.
__ADS_1
Natasha, menutup pintu ruangan suaminya, ia duduk dengan hati tak percaya dan tak menyangka, disaat keadaan Edwin sedang tidak baik baik saja, ia berani mengusir Natasha.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada kamu Edwin, kenapa kamu seperti kesal denganku. "Ucap Natasha, duduk di kursi dengan perasaan tak menentu, ia ingin menghampiri lagi Edwin, namun pikirannya berkata lain.