
"Edwin, kenapa kamu ada disini. " Natasha berusaha menutup tubuhnya dengan tangan, ia tak melihat ada handuk yang mengantung di dalam kamar mandi.
Edwin berusaha tetap tenang, ia membalikkan badannya tak menatap sama sekali ke arah Natasha.
"Maaf, aku tak sengaja masuk ke sini, karena melihat mama kamu tiba tiba saja membuka pintu kamar kita. "
Terlihat pipi Natasha memerah, mereka kini dalam keadaan tanpa busana. " Cepat keluar. "
Printah Natasha tak di dengar sama sekali oleh Edwin, lelaki berbadan kekar itu malah diam berdiri.
"Edwin." Teriakan Natasha membuat Edwin berusaha membukan clop pintu kamar mandi dengan terburu buru.
Namun sangat disayangkan tiba tiba clop pintu itu macet. Beberapa kali berusaha membuka pintu clop, tetap saja tak bisa dibuka.
"Kenapa?"
Natasha tak berani mendekat, karena ia tak memakai busana sedikitpun.
"Pintunya susah sekali dibuka. "
"Apa."
Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Edwin membuat Natasha terkejut, " jangan gila kamu, cepat buka. "
Edwin berusaha keras membuka pintu kamar mandi, tetap saja tak bisa dibuka sama sekali, membuat Edwin kesal.
"Gimana, bisa dibuka nggak?"
Pertanyaan Natasha membuat Edwin kesal, lelaki berbadan kekar itu hanya diam dan menatap sekilas ke arah Natasha.
Byurrr ....
Pancuran air dilayangkan Natasha pada wajah Edwin, " jangan melirik ke sini. "
Edwin mengusap kasar wajahnya, " Bisa diam tidak kamu ini. "
Natasha yang mendapatkan bentakan dari Edwin pada akhirnya diam membisu, tak bersuara lagi.
"Ya, aku akan diam. "
"Begitu dong. "
Edwin kini memberikan acang acang untuk mendobrak pintu kamar mandi.
Melangkah mundur, sampai.
Brakk ....
Edwin terpeleset, sampai ia tak sadar menarik tangan istrinya.
Kepala Edwin terbentur cukup lumayan keras, membuat Edwin meringis kesakitan.
__ADS_1
"Ahk, kepalaku. "
Tanpa Edwin sadari, Natasha kini berada diatas badannya. " Edwin. "
Air mengalir, menbasahi tubuh keduanya, mereka saling bertatapan satu sama lain, hawa dingin membuat badan keduanya merasa tak karuang.
Sentuhan tubuh, terasa hangat. Sampai tangan Edwin perlahan menyentuh pipi sang istri.
Bibir mulai ia dekatkan, " apa kamu kedinginan."
Entah suasana apa yang mereka rasakan, keduanya seakan hilang kendali tak terkontrol. Gaira jiwa terus merasuk, hingga sentuhan itu menjadi sebuah hasrat yang mengebu gebu.
Dekat semakin dekat, kecupan mendarat tepat di bibir Natasha, ia hanya diam, hingga ajakan dari permainan Edwin, membuat Natasha hilang kendali dan tak terkontrol.
Hawa napas terasa panas, keduanya seperti menemukan sensani baru, sensasi yang belum pernah mereka rasakan.
Sentuhan demi sentuhan dilayangkan Edwin, Natsaha yang sering menolak seperti pasrah dengan keadaan yang saat ini ia rasakan.
"Ada apa dengan tubuhku ini, kenapa aku tidak bisa menolak. " Gumam hati Natasha, masih dengan tatapan polosnya.
"Natasha." Suara lembut Edwin, kini terdengar dari telinga Natasha.
"Apa kamu sudah siap. "
Entah apa yang ada dipikiran Natasha saat itu, ia kini mengikuti perkataan Edwin, tiba tiba saja membalikkan badan hingga keduanya pindah posisi.
Air yang terus berjatuhan, membuat gairah dalam jiwa seakan mendukung, keduanya memulai permainan yang belum pernah mereka lakukan.
"Aku berharap kamu bisa menahan rasa sakit ini. "
Sampai. " Ahk. " Teriakan lembut itu, membuat Edwin pada akhirnya, mencium bibir tebal sang istri.
Edwin sengaja melakukan semua itu, agar suara Natasha dan kesakitan Natasha yang sementara itu tak di dengar oleh orang lain.
"Ahk, Edwin. Ini terasa perih. "
Edwin semakin tak terkontrol, ia terus memainkan permainannya.
"Kamu tahan saja, saat ini masih terasa sakit."
Natsaha hanya menganggukkan kepala menurut, mereka seperti terbius. " Edwin, ahk. "
Keduanya terlihat tenang, karena gelora dalam jiwa sudah tersalurkan.
Natasha masih tak percaya dengan apa yang ia lakukan bersama suaminya.
Dimana pintu kamar mandi tiba tiba saja terbuka, setelah keduanya selesai menyelesaikan permainan mereka.
"Edwin pintu sudah terbuka, tunggu. "
Natasha tediam sejenak, memikirkan kejadian tadi. " jadi kamu ini. "
__ADS_1
Edwin berusaha menjelaskan kepada istrinya itu, " kamu jangan salah sangka dulu Natasha, tadi itu memang benar, kita itu terkunci. "
Natasha hanya membulatkan kedua matanya di depan Edwin, dimana ia berusaha bangkit untuk segera memakai pakaian.
"Natasha."
Teriakan Edwin tak di dengar sama sekali oleh Natasha, membuat Edwin hanya memukul tembok kamar mandi.
"Ahk, sakit ternyata. " Baru ia sadari jika menggunakan tangan untuk memukul tebok rasanya begitu menyakitkan. "
Edwin berusaha mengusap pelan tangannya yang ternyata terluka, ia melihat langkah kaki Natasha terlihat berbeda.
Setelah melihat kepergian Natasha yang sudah berada di dalam kamar, Edwin berusaha bangkit untuk menyusul sang istri.
Ia melihat suasana kamar tampak biasa saja, dimana ia melihat keadaan Natasha yang terlihat seksi.
"Natasha."
Sang istri terlihat memajukan kedua bibirnya, ia tampak kesal, di mana kedua matanya berkaca-kaca.
Berulang kalia Edwin terus memanggil nama istrinya, tetap saja Natasha tak menengok sedikitpun.
Sampai dimana Edwin memeluk istrinya dari belakang, namun Natasha sadari, pelukan itu bukan malah membuat Natsha menjadikan tenang, tapi malah menjadikan dirinya beban.
Natasha berusaha melepaskan pelukan dari suaminya, ya terlihat begitu tak nyaman dengan pelukan yang dilayangkan oleh Edwin.
"Natasha, Kamu ini kenapa sih?" pertanyaan Edwin malah membuat Natasha terdiam.
"Natasha." Sekali lagi Edwin memanggil nama istrinya itu, Natasha malah menunjuk wajah suaminya.
"Kamu sudah membuat mahkotaku hilang. "
Edwin mengerutkan dahinya, setelah mendengar apa yang dilontarkan oleh Natasha.
"Edwin, aku benar-benar tak menyangka sekali, karena kamu sekarang aku bukan lagi perawan. "
Edwin tertawa terbahak-bahak setelah mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya," jadi hanya karena masalah itu kamu membenciku dan tidak mau menjawab panggilanku. "
Natasha menundukkan pandangan ini seperti enggan menjawab perkataan dari suaminya. Setelah memakai pakaian, Natasha pergi dari hadapan sang suami, perutnya terasa keroncongan akibat permainan di kamar mandi.
"Natasha kamu mau kemana?" pertanyaan Edwin membuat Natasha menggerutu kesal.
"Aku mau berak, kamu mau ikut!" jawab Natasha terdengar ketus.
"Jorok kamu. "
Edwin masih melihat gaya berjalan Natasha seperti pinguin, ia menyadari jika istrinya itu tengah kesakitan.
karena ulahnya yang sudah membuat Natasha ini kehilangan mahkotanya, Edwin tak tega melihat langkah kaki istrinya yang terlihat begitu lambat.
Dengan terburu-buru memakai pakaian seadanya, menyusul sang istri dengan berlari mengejar Natasha.
__ADS_1
Setelah dekat dengan Natasha, saat itulah Edwin langsung membopong tubuh istrinya, Natasha yang menyadari hal itu kini memukul-mukul dada bidang Edwin dengan begitu keras.
"Edwin lepaskan aku. Kamu ini kenapa sih, tiba tiba saja datang dan mengangkat tubuhku ini, norak tahu." Gerutu Natasha, membuat Edwin kini mencium bibir istrinya hingga tak berkutik lagi.