Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 103


__ADS_3

Nadia mulai mengambil ponsel yang berada pada tangan Natasha, " tidak sopan sekali kamu mengambil ponselku begitu saja."


Wanita berhijab itu terlihat murka dengan aksi yang dilakukan oleh Nadia, kedua bibirnya mengkerut.


Namun Natasha tidak menanggapi hal itu, ia malah berpura-pura sok baik di hadapan Nadia, memegang kedua tangan wanita berhijab itu," kamu memang wanita baik Nadia. Terima kasih ya. "


Natasha melakukan hal itu sengaja agar terlihat oleh Edwin. Jika ia tidak melakukan kesalahan Karena sudah merebut ponsel Nadia.


Karena rasa malu di hadapan Edwin dan tak mungkin ia marah terhadap Natasha. " tidak apa-apa Natasha itu sudah menjadi kewajibanku untuk menolong kamu dan juga Edwin. "


"Wah, kamu baik banget, walau dulu cinta kamu di tolak sama suamiku, kamu tetap jadi orang baik, " sindiran dari Natasha yang membuat hati Nadia tiba-tiba saja merasa panas.


"Mm, maksud kamu?" Nadia berusaha meredam emosinya untuk tidak meluap-luap di hadapan Edwin.


"Maksud aku, kamu itu tidak pernah membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan lagi, sangat salut terhadap kamu!" jawaban yang membuat Nadia merasa risih.


Nadia merasa jika Natasha telah mencari Simpati dihadapan suaminya agar tidak terpojokan oleh Nadia.


Natasha saat itu berusaha mencari cara untuk bisa mengusir wanita yang tak pernah ia suka di hadapannya, wanita yang selalu ia sebut dengan duta ee.


"Oh ya, Nadia Katanya kamu mau pulang ya sekarang ada urusan penting keluarga, " ucapan Natasha secara terang-terangan mengusir kembali Nadia yang tidak punya rasa malu.


Nadia terkejut, mengerutkan dahinya," aku perasaan .... "


Natasha berusaha memotong perkataan Nadia, " sudah tak apa aku bisa menjaga suamiku sendiri kok tanpa bantuan orang lain, sebelumnya terima kasih ya kamu sudah datang ke sini jauh-jauh."


"Tunggu, aku belum mau. "


Setiap kali Nadia ingin mengatakan jika ia tak mau pulang, selalu terpotong akan ucapan Natasha, " Aku tahu kamu begitu kasihan terhadap Edwin, jadi kamu belum mau pulang kan karena nggak enak hati melihat aku kelelahan."


Nadia malah menganggukkan kepala setelah mendengar perkataan Natasha, " aku ini kan istrinya jadi Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan aku ya, aku pasti bisa kok jaga Edwin sendirian. "


Ceklek.


Pintu ruangan Edwin tiba-tiba saja terbuka, di mana Lorenzo datang dengan sebuah senyuman dan juga tangisan kebahagiaan.


"Edwin."


Wanita tua itu kini mendekat ke arah Edwin, memperlihatkan senyuman di hadapan anaknya," Mami nggak nyangka banget kamu bisa bangun dan tersenyum lagi. "


"Mommy ini lebay banget. "


Ucapan Edwin membuat Lorenza memukul pipi kiri anaknya, " bisa-bisanya kamu mengatakan hal itu kepada mommy kamu sendiri, mommy itu sangat mengkhawatirkan Kamu tahu nggak. Setiap malam mommy menangis karena memikirkan kamu yang belum bangun-bangun dari masa kritis. "


Edwin memegang erat tangan Lorenzo, " Mommy ini gimana sih kok malah bersedih, Edwin bisa membuka kedua mata Edwin itu kan Karena ada Mommy dan juga Natasha, karena kalian adalah penguat Edwin selama ini, yang membuat Edwin bisa bertahan dan juga melihat dunia ini lagi. "


Ingin rasanya Lorenza memeluk anak satu-satunya itu, namun apa daya karena alat Rumah Sakit menghalangi Lorenza membuat ia mengurungkan niatnya.


Natasha kini melirik ke arah Nadia yang masih berdiri dengan melipatkan kedua tangannya, " si cucunguk ini kenapa tidak pergi-pergi dari sini." gumam hati Natasha yang terlihat risih dengan Nadia yang masih berada di ruangan suaminya.


"Mm." Natasha mulai melayangkan aksinya kembali, untuk mengusir Nadia secara halus agar ia merasa malu jika di posisinya saat ini bukanlah siapa-siapa di keluarga Edwin.

__ADS_1


"Loh, Nadia bukannya kamu masih ada urusan keluarga ya, kok masih ada di sini, Kasian loh keluargamu dari tadi kayaknya menunggu. "


"Ah, tapi. "


Lorenza kini ikut berbicara, " Nadia jika memang keluargamu sedang membutuhkan kamu sebaiknya kamu pulang saja, Edwin kan sudah mempunyai istri jadi tak apalah kamu tidak menunggu dia di sini. "


Ucapan yang sangat terwakili untuk Natasha dari sang mamah mertua. " Tuh, kamu dengarkan, jadi sebaiknya kamu pulang saja urusi keluarga kamu ke sana mereka menunggu kamu."


Natasha berhasil menekan Nadia untuk pergi dari ruangan suaminya, pada akhirnya Nadia menyerah ia tak bisa membela dirinya. Karena Natasha yang begitu licik membuat ia tak bisa mendekati Edwin.


Sebelum Nadia pergi, ia mendekat ke arah Edwin, di mana Natasha yang tak suka dengan hal itu, berusaha menarik baju Nadia, " kamu mau pamitan pergi ya hati-hati di jalan ya, biar aku antarkan ke depan pintu."


Niat hati tak jadi mencium pipi kiri kanan Edwin, karena Natasha yang sigap menarik baju Nadia.


"Baiklah."


Lorenza tersenyum lebar melihat Natasha begitu baik di hadapan Nadia," Ya sudah kamu hati-hati di jalan ya Nadia, Makasih atas kunjungan kamu yang sudah peduli terhadap. "


"Sama sama tante. Oh ya Edwin aku pamit pulang dulu, kapan-kapan aku akan datang ke sini untuk melihat keadaan kamu."


Natasha yang semakin risih dengan perkataan Nadia kini menjawab, " Kamu tidak ke sini juga nggak papa kok, masih ada istrinya di sini. "


Nadia mendelik kesal ketika ucapannya selalu dibalas oleh Natasha.


Mereka kini berjalan beriringan untuk keluar dari ruangan Edwin, " Mm, sudah aku antarkan pulang ya, oh ya. Hati hati di jalan ya. "


Natasha yang mulai melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam ruangan, kini ditahan oleh Nadia, " Aku nggak nyangka banget ya ternyata kamu bisa juga mengusir aku dari ruangan Edwin, padahal aku ingin sekali berlama-lama di ruangan suami kamu sendiri. "


Nadia tak memperdulikan hinaan yang terus terlontar dari mulut Natasha, Ia hanya mengharap napas, " yang tidak tahu diri itu kamu Natasha, jelas-jelas kamu yang datang tiba-tiba saja merebut calon tunanganku. Kamu yang menggagalkan perjodohanku dengan Edwin. Apa salahnya aku melakukan semua yang sudah kamu lakukan. "


"Tidak salah sih, tapi posisinya dulu kamu tidak benar-benar tunangan dengan Edwin, hanya rencana di jodohkan saja, dan kamu tahu sendiri kan Edwin menolak kamu mentah-mentah. Iya Malah memilih aku dan menikahi aku sampai sekarang, jadi sudahlah terima takdirmu itu, jangan menyalahkan orang lain, ikhlaskan saja karena percuma saja kamu ingin mendekati suami orang, hanya membuang-buang waktu saja dan merendahkan diri kamu sendiri. "


kesal yang kini dirasakan oleh Nadia karena ucapan Natasha sangatlah keterlaluan, telunjuk tangan mulai menunjuk wajah Natasha, " Terserah kamu mau bilang apa pun, Karena semua itu sudah jadi tujuan, aku akan mendekati Edwin merebut dia dari tangan, kamu dengarkan perkataanku baik-baik."


Natasha berusaha tetap tenang menghadapi wanita yang tidak tahu diri di hadapan, " oke, kalau kamu bisa silahkan saja, karena aku yakin kalau Edwin itu tidak akan mau bersama kamu."


"Ciihh, sok paling menang kamu, lihat saja nanti. "


Nadia kini menurunkan telunjuk tangannya, ia membalikan badan lalu pergi dari hadapan Natasha, perasaan kesal kini bercampur aduk menjadi satu.


Sampai dimana ia menginjak air di atas lantai.


Brukkk ....


Nadia terjatuh sampai celananya begitu basah, Natasha yang belum neranjak pergi, kini tertawa terbahak-bahak melihat apa yang ia lihat di hadapannya.


"Nadia."


Natasha berpura-pura peduli, ia menahan tawanya berlari lalu membantu Nadia untuk berdiri.


"Ayo biar aku bantu."

__ADS_1


Namun tatapan mata Nadia, begitu menyeramkan, membuat Natasha tersenyum. " Ayo biar aku bantu, apa kamu tidak malu jika dilihat orang orang. "


Mendengar Natasha berkata seperti itu, membuat Nadia dengan terpaksa meraih tangannya.


Dan di saat Nadia mulai berdiri, dengan begitu sengajanya, Natasha melepaskan tangan Nadia, hingga wanita berhijab itu terjatuh lagi untuk kedua kalinya.


"Ahk."


Orang-orang yang ternyata berada di sana menertawakan Nadia, ini adalah kedua kalinya Nadia mendapatkan perlakuan dan kejahilan dari Natasha yang membuat imeznya buruk.


"Aduuhh, Nadia, kenapa kamu malah jatuh lagi. "


Natasha berusaha menahan tawa, berpura-pura betapa ia begitu peduli di hadapan orang-orang lain pada Nadia.


"Ayo, aku bantu. "


"Tidak mau. "


Nadia berusaha bangkit dari gendangan air di atas lantai, namun usahanya tidak membuat ia berdiri dari posisi semula, dari tadi Nadia terus jatuh dan terjatuh lagi.


Karena lantainya yang begitu licin, membuat Nadia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya sendiri.


Natasha yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepala, Iya lalu menyodorkan tangannya kembali," Ayolah Nadia biar aku bantu kamu berdiri, tidak mau orang-orang lain menertawakan kamu terus-menerus. "


Nadia masih kesal dengan Natasha, ia menolak bantuan dari Natasha yang malah menjahilinya terus-menerus.


Sampai di mana dan dia mencari ide untuk bisa pergi dari hadapan orang-orang yang menertawakannya.


"Ayo, kamu mau aku bantu tidak. "


Nadia kini mengesod, mengunakan tubuhnya untuk pergi dari air yang ia rasa begitu licin.


"Kenapa air ini begitu licin. "


Nadia melirik ke arah Natasha, dengan tatapan kesal, " aku sudah menduga kita semua ini adalah rencana jahat Natasha yang ingin mengerjaiku habis-habisan. Kurang ajar sekali dia, bisa bisanya buat aku malu. "


"Nadia, bagaimana. Apa kamu bisa berdiri. "


Dengan sekuat tenaga yang ia bisa, pada akhirnya Nadia bisa menyeimbangkan tubuhnya untuk pergi dari hadapan Natasha," aku pergi dulu."


"Ya, terserah kamu. Deh. "


Nadia pulang dengan rasa malunya, kedua pipinya memerah, bisa bisa dia mendapatkan hal yang membuat hidupnya selalu apes.


"Ahk, nggak di villa, nggak di rumah sakit, pasti saja. Aku selalu apes seperti ini. Gila apa si Natasha, mengerjaiku habis habisan, pokoknya aku akan membalas semuanya. Lihat saja nanti. "


Nadia masuk ke dalam mobil, ia kini membuka mobilnya dan betapa terkejutnya seseorang mengguyurnya dengan air comberan.


Byurrr.


"Ahkkkk."

__ADS_1


__ADS_2