Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 21 Salah


__ADS_3

Sarah berusaha menahan amarah, ia duduk di atas kasur menenangkan diri, " tenang, tenang." Mengusap pelahan dada dengan begitu lembut.


Sampai ketenangan itu terganggu lagi.


Tok .... Tok ....


Mendengar ketukan pintu membuat Sarah kini beranjak berdiri, ia perlahan berjalan kearah pintu kamarnya. Membuka. " APA?" penampakan wajah sang suami membuat Sarah jijik.


"Mama, kenapa sih?" tanya Rudi, lelaki berambut putih itu mulai masuk ke dalam kamar. Tampa mempelihatkan rasa bersalanya sedikit pun.


"Mama!" panggil Rudi kepada istri tercinta, lelaki tua itu kini duduk di atas kasur. Berharap sang pujaan hati datang menidih tubuhnya.


"Sayang sini dong," panggil Rudi dengan rayuan mautnya.


Brottttt .....


"Haduh pah, maaf mama kentut sampai keluar hampasnya."


Rudi mengibas ngibaskan tangan di depan wajahnya, mencium aroma yang tak sedap. Menutup hidung," mama makan apa sih, sampai bau bangkai seperti ini."


Sarah tertawa dalam hati, ia sedikit menyugingkan bibir atasnya. " Lah, mama makan sama aja kaya papah, sama urab, jengkol. Sambal terasi, lah memang makan apa sih. "


"Tapi baunya kok busuk sekali." ucap Rudi. Masih tak berani melepaskan jari tangan pada hidungnya.


"Mm, jadi papah mau baunya wangi gitu?" tanya Sarah, menatap ke arah suaminya.


"Memangnya ada kentut baunya wangi!" balas Rudi. Mengerutkan dahi, ia kini melepaskan jari tangan dari hidungnya. Karena rasa penasaran akan ucapan istrinya.


"Jelas ada lah pah," ucapan Sarah membuat Rudi masih tak percaya.


"Kalau memang ada coba tunjukan pada papah," Rudi penasaran sekali, sampai akhirnya Sarah menghampiri suaminya.


Tubuh Rudi kini di dorong, dimana Sarah sengaja menidih wajah suaminya dengan bok*ng. "Mm. Mama. "


Rudi hampir saja tak bisa bernapas, karena tertidih bok*ng sang istri. Mendorong tubuh istrinya, Rudi kini bangkit.


"Mama ini apa apaan sih." Ketus Rudi memperlihatkan raut wajahnya di depan sang istri, ia mengusap ngusap kasar wajah, berharap bau itu hilang seketika.


Sarah tertawa dan menjawab, " katanya mau bau wangi, ya sudah mama tempelkan hampasnya yang masih menempel pada bok*ng mama."


"Mama keterlaluan. "


"Loh, kenapa malah berkata seperti itu, bukannya papa sendiri yang minta. "


"Itu mah bukan bau wangi tapi bau tai. "


Rudi tiba tiba mual, ia ingin sekali mengeluarkan isi dalam perutnya, Sarah yang melihat sang suami muntah muntah, membuat ia mengusap perlahan demi perlahan pundak Rudi.


"Bagaimana pah, menyenangkan bukan."


"Mama ini stres ya. Mempelakukan suami seperti itu, dosa tahu. "


Sarah menatap wajahnya pada cermin, lalu berkata. " Sok alim, tadi saja sempat sempatnya di dapur sama si Iyem yang berdiri sambil ngakang."


"Jadi mama balas dendam?"

__ADS_1


Pertanyaan Rudi, membuat Sarah membersihkan tubuhnya.


"Balas dendam! Papah lucu sekali, untuk apa mama balas dendam, toh si Iyem sudah mama pecat, dan lagi tak ada pengganggu di rumah ini. Jangan sok polos deh pah, sudah rambut berubun aja banyak bohong. Kualat nanti sama istri."


"Mm, mana ada suami kualat sama istri, terbalik yang ada."


"Papah belum tahu saja, kalau si otong kepunyaan papah, mama cingcang dan di jadiin sate."


Menelan ludah, mendengar perkataan sang istri membuat Rudi ketakutan. " Sudahlah, mama jangan ngaur kalau bicara."


"Ya sudah kalau begitu. "


Rudi kini membalikkan badan, ia berjalan pergi dimana kakinya terpeles. Brakkk ....


"Ahkkk."


Suara jeritan dari mulut Rudi terdengar begitu jelas.


"Baru aja di omongin sudah kena karma. Kasihan kasihan."


"Aduhhh, tolongin papa, mah. "


Karena melihat raut wajah memelas Rudi, membuat Sarah tak tega, akhirnya ia meraih lengan suaminya, membantu Rudi untuk segera berdiri.


Setelah berdiri, bertapa terkejutnya Rudi, melihat si otong terjepit jebakan tikus. " Siapa yang sudah menaruh jebakan tikus ini. Kurang ajar, Sarah, kamu panggilkan pegawai rumah. "


Mendengar printah sang suami, membuat Sarah malah tertawa terbahak bahak. " Sarah, kenapa kamu malah tertawa?"


"Kenapa papah malah menyalahkan orang orang rumah, bukannya kemarin papah yang menaruh jebakan tikus itu."


Bagai membuang ludah lalu dijilad sendiri, seingat Rudi, ia tidak menaruhnya di kamar.


Sarah malas sekali mendengar suaminya terus berbicara, hanya karena jebakan tikus mengenai kakinya. " Aduhh, ahk. Sakit. "


"Makanya jadi laki jangan ganjen sama pembantu, kena kan akibatnya. "


"Mamah, siapa yang ganjen. Orang Iyem yang menawarkan kue apemnya. "


"Hem, kalau lakinya nggak ngeladenin ya nggak bakal mau lah dia. Orang papahnya sama sama ganjen. "


Sarah sengaja mencabut jebakan tikut itu tanpa hati hati, " Aduhh, mamah sakit. "


"Lebay."


"Mama ini hanya gara gara Iyem jadi berubah kaya singa. Namanya laki laki, ngggak jauh beda kaya kucing, di kasih ikan ya pasti dilahap lah."


Brakk ....


Telapak tangan kini memukul meja, membuat kedipan mata secara tiba tiba, Rudi terkejut.


"Owh, jadi wajar laki laki mau kalau dikasih cuman cuman."


Nampak Rudi terlihat gugup, lelaki berambut putih itu menggaruk belakang kepalanya.


"Ehh."

__ADS_1


"JAWAB." Bentak Sarah, membuat Rudi semakin salah tingkah.


"Iya." Saking kesalnya, Sarah kini memencet keperjakaan sang suami. " Mencet sampai peot. "


"Aduhhhh .... Mama pelan pelan. "


Palkk.


"Mama kenapa tampar papah sih?"


"Mama kasih peringatan, malah susah di atur?"


Tok .... Tok ....


Perdebatan mereka kini terhenti, saat pintu terdengar di ketuk, " siapa yang datang?"


Sarah menatap tajam pada suaminya, " jangan kemana mana. Awas ya. "


Sarah berjalan lalu membuka pintu kamarnya. " Astaga. "


Sarah terkejut, saat melihat penampilan anak semata wayangnya itu. " Natasha, apa yang sudah kamu lakukan."


"Mama, bantu Natasha sekarang. Ini perih. "


"Kamu ini ada ada aja, pake aliner kemana mana, buka matamu."


"Nggak bisa mah, susah. "


"Loh kok bisa. "


Sarah kebingungan sendiri, melihat wajah Natasha yang sudah berlepotan di daerah mata dan bibirnya.


"Kamu ini pake apa, sampai mata kamu ini tidak bisa di buka?"


Natasha kini menjelaskan apa yang terjadi padanya. " Tadi Natasha berlajar pasang bulu mata anti sunami."


"Mm, lalu. "


"Natasha pasang dulu lemnya di sekeliling mata, eh malah kaya gini."


Sarah tertawa terbahak bahak dengan penjelasana anaknya, " Ih, mama kok malah ketawa. "


Memukul kepala sendiri, Sarah menggelengkan kepala," Kamu ini ada ada aja sayang. Dimana mana, lemnya dulu dipakaikan pada bulut mata palsunya. "


"Oh ya, ngomong ngomong ini pake lem apa? Kok sampai mata kamu tidak bisa dibuka."


"Ya lem yang selalu mama pakai untuk lem sepatu. "


"Apa."


"Kenapa emang salah ya. Bukannya lem sama aja."


Menarik napas mengeluarkan secara pelahan, Sarah tak tahu harus mengajarkan anaknya dari mana dulu, karena Natasha begitu tak memperlihatkan ciri sebagai wanita.


"Ya sudah, ayo kita basuh dulu matamu ini pake kanebo. "

__ADS_1


"Apa mah. "


"Maksudnya pake lap, terus cuci. "


__ADS_2