Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Seperti mimpi.


__ADS_3

"Ini benarkah? Saya masih tak percaya.


Perwira melihat Lorenza yang terkejut, membuat ia mendekat dan merangkul bahunya. " Kenapa?"


Lorenza menyodorkan surat yang baru saja ia baca pada sang suami. " Kamu lihat ini."


Perwira membaca surat itu merasa tak percaya, " ini benar kah?"


Menganggukkan kepala, menjawab, " entahlah aku masih tak yakin. "


Suster yang membawa surat itu pada Lorenza kini berucap, " apa yang dikatakan surat itu memang benar, semua keinginan pasien Renata."


"Betapa mulianya hati Suster Renata," ucap Lorenza.


"Akhirnya kamu akan mendapatkan kebahagian yang kamu inginkan, dan aku tak akan kehilangan kamu, Lorenza istriku. "


Tersenyum, sembari memeluk sang istri," ya, aku mengira kalau ini hanya mimpi, tapi pada kenyataanya ini semua bukan rekayasa. "


"Ya, syukurlah."


"kamu bahagia?" tanya Perwira pada sang istri.


"Ya, aku bahagia sekali!"


Ingin memeluk namun tak kuasa, pada akhirnya aku hanya mencium kening istriku.


"Sekarang Suster Renata ada dimana?"


Pertanyaan Lorenza membuat suster itu menundukkan pandangan, " sebenarnya suster Renata sedang di rawat, ia pingsang karena penyakit jantungnya. "


Mendengar hal itu membuat Lorenza shock, " jadi dia sudah lama sakit?"


"Tidak juga, hanya akhir akhir ini saja. Setelah kepergian anak dan suaminya!"


Mendengar cerita dari sang suster membuat LOrenza ingin tahu lebih jelas, " tadi suster bilang, anak dan suami Suster Renata. "


"Iya, minggu yang lalu, anak dan suami suster Renata, mengalami kecelakaan. "


" innalillahiwainnailaihirojiun, "

__ADS_1


Lorenza tak tahu jika nasib wanita yang akan menjadi pendonornya itu mempunyai nasib yang kelam. Ia merasa kurang bersyukur dengan nasibnya sekarang. " ternyata masih ada nasib orang yang lebih menyedihkan dari pada nasibku."


Perwira yang berada di samping sang istri, mencoba menenangkannya, " sudah jangan berkata seperti itu."


"Tapi, selama ini aku. "


"Husst, " menempelkan jari tangan pada bibir Lorenza membuat wanita tua itu diam, dan kini menundukkan pandangan.


"Apa boleh aku menemui suster Renata, suster yang selalu aku panggil dengan sebutan Ita. "


"Untuk sekarang, sepertinya tidak bisa, suster Renata sedang dalam penangana dokter. "


"Ya ampun, malangnya nasib suster Renata. "


"Sudah, semua orang mempunyai kesedihan masing masing. "


"Mungkin besok anda bisa menemui suster Renata. "


Besok bagi Lorenza terasa lama, ia ingin sekali bertemu dengan Renata sekarang.


"Apa tidak bisa sekarang. "


Suster itu kini berpamitan pada Lorenza," kalau begitu saya permisi dulu, Bu Lorenza. "


Setelah kepergian sang suster membuat Lorenza hanya bisa menangis, Perwira yang melihat tangisan istrinya kini berkata, " kenapa?"


"Aku tidak kenapa kenapa, hanya merasa sesak setelah mendengar kenyataan dari suster yang lain jika nasib Suster Renata menyedihkan."


"Mungkin itu cara sang maha kuasa menguji umatnya, kamu sebagai seorang wanita harus tetap kuat, karena aku di sini sebagai suamimu akan selalu menemani kamu sampai kapanpun. "


Siapa yang tidak terharu dengan perkataan sang suami, dimana Lorenza melebarkan bibirnya tersenyum lepas.


"Kamu memang selalu menjadi penyemangat di saat aku sedang terpuruk atau sakit seperti sekarang. "


"Karena aku istrimu dan aku sangat mencintaimu."


Senyuman di perlihatkan oleh Perwira, dimana lorenza merasa bahagia, karena cinta sang suami masih utuh kepadanya.


*******

__ADS_1


Kini keadaan Sarah dan juga Rudi terlihat baik, dimana mereka hanya diam, tak mengeluarkan satu patah katapun.


Sampai sosok suster datang untuk memberikan sebuah obat pada Rudi.


"Pak, diminum obatnya. "


Tatapan Sarah mempelihatkan ketidak sukaan, dimana ia berpura pura batuk, " Huuk, huuk. "


Sedangkan Rudi yang mendengar suara batuk istrinya itu, kini mendelik kesal dan menjawab, " kenapa, cemburu. "


Sarah tak menyangka jika sang suami akan berkata seperti itu, dimana ia berpura pura muntah.


"Uwek, uwek. "


Siapa yang tak akan kesal dengan suara Sarah, Rudi kini membalas, " mabok kecubung. "


Menyungingkan bibir, Sarah mulai bangkit dari tempat tidurnya. Ia menghampiri Rudi yang tengah di suapi oleh sang suster.


Mendekat, dan brakk ....


Dengan sengajanya, Sarah melemparkan piring yang masih berisi makanan itu.


"Mah, apa apaan sih, baru saja papah makan dan mau makan obat, malah dibanting. "


"Mm, lalu papah marah. "


"Ya."


Kesal akan hal itu, Sarah kini menjewer telinga suaminya. " Heh, jadi kamu berani sama istrimu ini. "


"Ahk, sakit, mama ini apa apaan sih. "


Sarah melipatkan kedua tangannya, melepaskan tangan yang menjewer telinga sang suami.


"Makanya jangan genit. "


"Idih siapa yang genit. Suster ini kan hanya menjalankan tugasnya, jadi nggak papa dong. Cuman di suapin ini, bukan di obok obok sama papah. "


Mendengar jawaban dari sang suami, membuat wajah Sarah memerah. " beraninya, si tua bangka ini. " Gumam hati Sarah. Dengan kemarahan yang menggebu gebu.

__ADS_1


__ADS_2