
Aksi Wina yang akan melarikan diri tertahan oleh para pelayan Villa yang sudah menunggunya di depan mata," kalian semua. "
Para pelayan itu malah tersenyum, menantikan Wina yang gagal dengan aksinya, " kenapa malah diam saja, bukannya mau kabur?"
Pelayan di villa Edwin begitu banyak, sampai membuat Wina kewalahan untuk kabur dari hadapan mereka semua, "MANYINGKIR."
Perkataan Wina diabaikan para pelayan Villa, kata takut dengan ancaman Wina, lebih santai menghadapi wanita jahat yang akan menghancurkan pemilik villa itu.
Edwin mendekat ke arah Wina yang terlihat kebingungan untuk pergi dari villa yang sudah tak aman bagi dirinya, " mau pergi ke mana lagi kamu Wina, semua orang sudah mengepung kamu di sini, sebaiknya kamu pasrah saja."
Wina menggelengkan kepala dengan rasa takut yang memburu pada hatinya, " Aku harus pergi dari sini?"
Edwin mulai menyuruh para satpam untuk menangkap Wina, di mana wanita itu berusaha memberontak. " Sudahlah Wina jangan memberontak seperti itu, yang ada tenaga kamu nanti habis tak tersisa. "
"Kurang ajar kalian semua. "
Natasha baru pertama kali melihat wanita cantik di hadapannya, yang sudah berniat jahat pada keluarga Edwin.
Wanita bernama Wina yang pernah ditolak cintanya oleh sang suami. " Dia begitu cantik. " gumam hati Natasha.
Edwin mulai memerintahkan para satpam untuk membawa Wina ke kantor polisi sekarang juga.
"Lepaskan aku, jangan bawa aku ke kantor polisi."
Edwin tak mempedulikan teriakan Wina, tidak ada rasa kasihan sedikitpun di hadapan wanita yang sudah pernah ia pernah tolak.
"Edwin, aku mohon tolong lepaskan aku, jangan masukkan aku ke dalam penjara. "
"Wina. Aku tidak akan memberi kamu ampun sama sekali, karena perlakuan kamu sudah keterlaluan. Kamu mau membunuh Ibuku. "
"Edwin, bukan maksud aku seperti itu."
Lelaki berbadan kekar yang menjadi suami Natasha itu tak mempedulikan lagi perkataan Wina, " sudah cukup omong kosongmu itu, nanti polisi yang menanyakan semua kejahatan kamu itu. "
" Edwin. "
Teriakan Wina tak digubris sama sekali oleh Edwin, " sialan gimana nasibku, kalau begini jadinya. "
Edwin bersyukur jika sang ibunda baik-baik saja," bu, jika Ibu baik-baik saja, Edwin begitu mengkhawatirkan Keadaan ibu, Edwin takut jika ibu sampai kenapa kenapa?"
Wina tersenyum pada anak satu satunya itu, " kamu jangan kuatir, ibu tidak kenapa kenapa, semua orang di sini berpihak pada ibu. "
Raut wajah wanita tua itu, memperlihatkan kebahagian yang tak bisa ditebak oleh anaknya sendiri, " terima kasih, kamu selalu peduli pada ibu, Natasha. "
"Ibukan sama ibuku juga. "
__ADS_1
Lorenza tak menyangka jika anak dari musuhnya itu begitu baik hati, tak seperti ibunya sendiri." Kamu begitu baik nak, tak seperti ibu kamu. "
Natsaha hanya tersenyum dan tak menjawab perkataan Lorenza, sampai dimana mereka semua dikejutkan dengan kedatangan Perwira.
"Lorenza, " mendengar suara Perwira membuat Lorenza menghindar.
"Daddy, ngapain datang ke sini?" tanya Edwin dengan begitu tegas, Perwira hanya menatap ke arah istrinya.
"Lorenza, sayang. Ayo kita pulang, aku begitu merindukan kamu. "
Lorenza mengabaikan perkataan Perwira, ia lebih baik diam dan berada di samping anaknya.
"Dad, sudahlah jangan ganggu mommy biarkan dia itu sendiri dulu. "
"Edwin, kamu jangan ikut campur, ini masalah orang tua, kamu tahu apa dengan perasaan kami berdua. "
"Masih sempat Daddy mengakui perasaan Daddy yang penuh kebohongan itu, " dengan lancangnya Edwin mengatakan hal itu.
"Edwin berhenti ikut campur, sebaiknya kamu urusi saja diri kamu dan istri kamu itu. "
Edwin tak suka dengan perkataan sang Papa yang malah membuat dirinya kesal, sebagai seorang anak yang perduli pada sang ibunda, Edwin berusaha mengusir Perwira saat itu juga.
" Sebaiknya Deddy pergi dari sini, mommy tak butuh kehadiran Daddy sama sekali. "
"Edwin bukan lancang, tapi Edwin berusaha menyelamatkan mommy dari pengkhianatan Daddy. "
Perwira mengusap kasar wajahnya, ia tak terima sekali dengan perkataan anak satu-satunya itu.
"Lorenza, ayo kita pulang. "
Rayuan Perwira tak membuat hati Lorenza luluh, dia tetap diam, " Lorenza. "
Lelaki tua itu mulai menarik tangan sang istri, " Lorenza ayo kita pulang. "
Edwin tak suka dengan cara sang Daddy yang terkesan kasar. " jangan tarik tangan Mommy, dad. "
"Edwin, sudahlah kamu jangan ikut campur, daddy ini hanya ingin bisa bersama dengan Mommy kamu."
Rudi dan Sarah tiba tiba saja datang, membuat suasan menegangkan.
"Natasha, bagaimana keadaan kamu. Apa kamu baik-baik saja?"
Perwira tak menyangka jika ia akan bertemu dengan Sarah, wajahnya tanpa memerah menahan rasa malu, " Lorenza ayo kita pulang. "
Sedangkan Sarah, masih berada di samping Rudi, ya berusaha tak menatap lelaki yang hampir saja berselingkuh dengannya.
__ADS_1
Natasha tak menyangka jika kedua orang tuanya akan menyusul," Papa dan Mama kenapa datang ke sini?"
Kedua mata orang tua Natasha terlihat begitu kuatir, " kami takut kamu kenapa-napa nak."
"Sebaiknya kalian pulang. "
"Hah, kenapa?"
"Suasana tak memungkinkan untuk Natasha bercerita!"
Rudi sudah mengerti, jika Perwira dan juga Lorenza masih tak akur karena masalah yang dihadapi keduanya.
"Lorenza."
Wanita tua itu tetap saja diam saat suaminya terus memanggil-manggil namanya.
"Kenapa kamu diam saja, ayo kita pulang. "
Ditengah tengah, ketegangan yang melanda Rudi dan juga Sarah, mereka pada akhirnya berpamitan untuk pulang.
Namun di saat langkah kaki melangkah untuk pergi dari hadapan lorenza dan juga yang lainnya, tiba-tiba saja wanita tua itu memanggil sang musuh.
"Sarah."
Sarah menghentikan langkah kaki begitupun dengan sang suami.
"Sarah. Aku ingin bertanya kepada kamu?"
Sarah menelan ludah mendengar pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut Lorenza.
"Bertanya apa!" Sarah berusaha memberanikan diri, mengembalikan badan ke arah wanita tua yang menjadi musuhnya dari dulu.
Lorenza berusaha tetap tegar dengan pertanyaan yang akan ia lontarkan di hadapan Sarah.
"Sarah, tentang isu perselingkuhan kamu dengan Perwira suamiku. Apakah benar?"
Sarah menghelap napas begitu panjang, berusaha tetap tenang menjawab pertanyaan dari mulut Lorenza yang terlihat begitu kecewa.
"Sarah, aku bertanya kepada kamu, kenapa kamu malah diam saja?" Lorenza sudah tak sabar ingin mendengar jawaban dari mulut Sarah.
"Sebenarnya kami hanya berniat bertemu cuman cuman, kami tidak ada niat sama sekali untuk berselingkuh. " Pengakuan Sarah, membuat Perwira setuju.
"Kamu dengarkan apa yang dikatakan Sarah, kami berdua ini tidak ada niat untuk berselingkuh," timpal Perwira membuat sebuah pembelaan agar dirinya tak tersalahkan.
Sedangkan Rudi hanya bisa mendengarkan dan merasakan apa yang dirasakan Lorenza, jika ia juga kecewa dengan sang istri.
__ADS_1