
Semua anak buah Diki mulai berancang-ancang untuk segera menghajar Edwin yang hanya seorang diri.
Mereka mempersiapkan kedua kepalan tangan mereka untuk segera menghajar Edwin, " kamu lihat, aku bisa saja membuat kamu mati di tempat. "
Perkataan Dicky membuat Edwin kini melepaskan bajunya, hingga di mana otot-otot dada dan juga lengan tangan terlihat begitu menonjol, apalagi saat ini memperlihatkan otot yang begitu besar di hadapan para anak buah Diki, begitupun para wanita yang berada di sana.
Kedua mata Natasha membulat, begitupun dengan bibirnya, dia tak menyangka jika Edwin mempunyai otot yang begitu besar.
Padahal waktu kejadian kemarin saat handuk terlepas dari pinggang Edwin, Natasha tak sempat melihat otot-otot pada dada dan juga lengan tangan Edwin. Yang iya lihat hanyalah sebuah gantungan kunci dengan kedua anak buahnya yang bundar."
Diki tersenyum kecut," hanya bermodalkan otot saja begitu bangga. "
Edwin yang mendengar perkataan Diki, membuat ia tertawa terbahak-bahak," tapi keren kan? Dari pada kamu tulang-belulang doang, seperti orang yang kurang gizi."
"Sialan." Diki, mengepalkan kedua tangannya, iya bersiap-siap memberi ancang-ancang, untuk segera meninju lelaki yang ada di hadapannya.
Namun baru saja Diki maju, tangan kekar Edwin, kini mencengkram tangan yang tak berisi daging itu dengan sekuat tenaga.
"Ahkkk. Tanganku. " Diki meringis kesakitan, setelah Edwin sengaja membalikkan tangan lelaki yang sok jagoan di hadapannya.
"Gimana, pasti enakkan rasanya, " ucap Edwin, masih bersikap lembut, dengan tangannya yang kekar itu.
Diki mulai memanggil para anak buahnya untuk segera maju menghadapi Edwin, dimana mereka dengan begitu semangatnya menghajar Edwin habis habisan.
Namun tanpa di duga, Edwin menang dalam perkelahian antara keduanya.
Natasha yang melihat kehebatan Edwin terlihat kagum dan tentunya sedikit memuji.
"Gimana, apa kalian mau aku hajar lagi?" tanya Edwin kepada para anak buahnya.
Mereka malah pergi begitu saja, dengan rasa takut yang mereka rasakan.
Sedangkan Diki tengah meratapi nasibnya, ia berusaha berdiri. Namun begitu lemah, sembari meringis kesakitan.
__ADS_1
Edwin masih mempelihatkan kebaikannya, dengan menyodorkan tangan.
"Ayo, biar aku bantu berdiri. Agar tanganmu yang satunya patah lagi. "
Deg ....
Diki terlihat ketakutan sekali, setelah mendengar apa yang dikatakan Edwin, membuat ia memaksakan diri untuk segera bangkit.
Setelah bangkit, Edwin berucap." Baaahhh. "
Berlari terbirit birit, karena mendengar ucapan Edwin, Natasha ikut tertawa.
"Dia lari. Bhahhaha. "
Edwin hanya diam, ia memandangi wajah cantik istrinya. "
Natasha yang merasa jika Edwin terus menatapnya, kini menghentikan tawanya, memukul pipi Edwin.
"Apaan sih lu, hah. " Tetap saja, wajah garang Natasha masih diperlihatkannya dihadapan Edwin, tidak ada perubahan sedikitpun.
Namun karena tenaga Edwin yang begitu kuat, membuat Natasha kini masuk ke dalam mobil, sampai di mana tendangan dari kaki Natasha mengenai kedua bola kecil milik suaminya.
Sembari menjerit dan memeganginya, Natasha mulai keluar dari dalam mobil, di mana Edwin berusaha menahan rasa sakitnya. Iya berlari mengejar sang istri," tunggu Natasha kamu mau ke mana."
Natasha terus berlari berharap jika suaminya tidak bisa mengejarnya lagi, karena ia tak ingin kehilangan rutinitasnya menjadi seorang Rock N Roll.
Namun Natasha tak memperhatikan jalanannya, iya tiba-tiba saja menabrak salah satu tiang yang berdiri kokoh.
Membuat dirinya terjatuh pada atas aspal jalanan, Edwin yang melihat pemandangan istrinya menabrak tiang listrik. Membuat ia berusaha menghampiri Natasha.
Melihat keadaan Natasha yang terlihat mengenaskan, membuat Edwin malah tertawa terbahak-bahak. Karena ada sebuah benjolan pada dahi istrinya.
Natasha menatap kesal di hadapan suaminya, mengusap pelan jidat yang terlihat menonjol, membuat Edwin semakin tertawa.
__ADS_1
"Ahkkk, Edwin ini semua gara-gara lu, kalau saja Lu tadi nggak ngejar gue, kemungkinan besar jidat gue yang cantik ini tidak akan mendapatkan sebuah benjolan besar. "
Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Natasha malah semakin membuat Edwin tertawa terbahak-bahak.
" Sialan lu. Ketawa lagi."
Natasha merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa pada jidatnya, di mana jidat itu terus berdenyut, membuat rasa pusing pada diri Natasha sendiri." Aduh gimana ini Kepala gue sakit banget."
Melihat sang istri yang terlihat begitu menderita, membuat Edwin terpaksa membopong tubuh sang istri menuju ke dalam mobil." Idih. Apaan sih lu main gendong-gendong gue?"
Terlihat jika Natasha tak nyaman jika digendong oleh Edwin, ya terus memukul-mukul dada bidang suaminya sendiri," cepat. Lepasin gue, gue nggak suka kalau lu gendong gendong gue kayak gini. "
Edwin membiarkan Natasha mengoceh terus menerus, di mana ia berusaha menahan rasa sakit akibat pukulan yang dilayangkan oleh istrinya.
"Edwin, cepat turunin gue kalau lu nggak nurunin gue sekarang juga, gue pastikan hidup lu dan kepala lu itu buntung."
Perkataan Natasha begitu tak jelas dipahami oleh suaminya sendiri, " Natasha. Jika kamu tidak mau aku bantu, ya sudah, sekarang aku akan membawa kamu ke tengah jalan biar kamu dilindas sekalian tuh sama truk, biar benjolan kamu itu pecah sekalian sama isi otak kamu ini yang sudah nggak waras."
Natasha membulatkan kedua matanya, setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut suaminya terdengar begitu mengerikan.
Ternyata Edwin tidak sedang bercanda saat mengatakan hal seperti itu, iya langsung melangkahkan kakinya ke tengah jalan sembari membopong sang istri.
" Edwin." teriak Natasha tak mau jika hidupnya berakhir dengan terlindas oleh truk yang melintas.
Edwin malah sengaja, membuat Natasha terus memberontak dalam gendongan sang suami." cepat lepaskan gue kalau lu nggak lepasin Gue, gue pastikan setelah gue mati terlindas truk lu yang akan gue hantui seumur hidup."
Edwin malah tersenyum lebar, Iya perlahan demi perlahan menurunkan tubuh istrinya itu, hingga di mana Natasha terus berteriak, yakini memeluk erat tubuh Sang suami.
" Aku tidak mau. Please, tolong. Sekarang juga aku mau pulang ke rumah, " rengekan Natasha membuat Edwin kembali mengangkat tubuh istrinya.
kedua mata yang tadinya menutup kini terbuka kembali, Natasha mulai bernapas lega, Jika ia masih diizinkan untuk hidup.
Edwin mulai memasukkan Natasha ke dalam mobil, di mana tatapan tajam Edwin membuat Natasha menundukkan pandangan.
__ADS_1
Edwin kini menaiki mobil untuk segera pulang dari acara yang bagi dirinya itu tak berguna, dia menatap pada kaca yang menggantung di dalam mobilnya, Natasha terus mengusap-usap dada, wanita yang menjadi istrinya itu seperti syok berat ketika Edwin ingin menurunkannya di tengah jalan.