Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 12


__ADS_3

"Ya gimana lagi, cuman baju itu yang bisa mama berikan." balas sang mama dengan begitu santainya.


Natasha kini mendengus kesal, ia melipatkan kedua tangan lalu menatap tajam ke arah wanita muda yang menjadi ibunya.


"Mama, bukannya ada baju papah. Kenapa mama tidak pinjamkan baju papah saja."


Sarah tersenyum tipis, mengusap bahunya lalu menjawab." Mm. Itu, ahk. "


"Yang jelas dong ma, kalau ngomong, Ahk, ih. Eh." Ketus Natasha pada sang mama.


"Sudahlah, mama mau tidur ngantuk, " balas Sarah


berpura pura menguap di depan anaknya.


Wanita muda yang hanya memakai handuk pada tubuhnya, berlengak lenggok masuk ke dalam kamar, dimana Natasha bergumam dalam hati, " dasar nenek peot, sudah beranak juga pake baju kaya abg."


*******


Di dalam kamar Edwin tertawa terbahak bahak, melihat tingkah Natasha yang terlihat ketakutan, ia hanya menggelengkan kepala, lalu berkata dalam hati, " ternyata cewek aneh itu lucu juga."


Edwin terpaksa tidak memakai pakaian dalam, karena semua sudah basah terciprat susu. Merebahkan tubuh, melihat hari esok akan seperti apa nantinya.


Menutup kedua mata, lalu tertidur dengan lelap.


Tok .... Tok ....


Ketukan pintu terdengar pada kedua telinga Edwin, lelaki itu mulai bangun membuka kedua mata. Terlihat sinar matahari sudah menyoroti kaca jendela yang masih tertutup oleh gordeng.


Melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Edwin mulai bangun, ia segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Ketukan pintu terdengar kembali, Tok .... Tok ....


Edwin segera mungkin memakai baju yang diberikan Sarah semalam. Walau mungkin kepejakaannya tak tersimpan rapi, yang terpenting tertutup oleh kolor pendek.


Berjalan membuka pintu kamar," Heh, lu dipanggil mama buat makan. "


"Ya iya, aku ke sana sekarang. "


Natasha melihat baju kesayanganya tengah dipakai oleh Edwin, dimana ia menggerutu kesal dalam hati. " Baju kesayangan gue, mama benar benar keterlaluan. "


Mengerutkan bibir, Natasha mendelik kesal, ia pergi.


"Ih, cewek aneh. "


Edwin mulai mengeringkan rambutnya, ia membukan jendela, pemandangan pagi terlihat begitu cerah.


Perlahan keluar dari kamar mandi, memakai baju yang ternyata sudah disediakan rapi di atas kasur. Edwin melirik kesana kemari tapi tidak ada satu orang pun di dalam kamarnya.


"Siapa tadi yang masuk kamar, apa cewek bengek itu." Edwin tak mempedulikkan siapa yang menaruh baju, yang terpenting ia bisa memakainya.


"Ternyata baju si cewek itu semua laki, pantas saja aneh. "


Di meja makan, Natasha tertawa sendiri, ia seperti mendapatkan sesuatu yang membuat hatinya gembira.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Tasya?" tanya sang mama, menyebut nama panggilan anaknya.


"Tasya lagi, senang aja. Emang kenapa mam, nggak boleh apa!?" jawab Natasha kepada sang mama dengan raut wajah masih mempelihatkan kekesalannya.


"Rasakan pembalasanku cowok cugkring. Setelah pulang dari rumah ini, kamu akan merasakan hal tak terduga dariku. " Gumam hati Natasha sembari mengaduk ngaduk makanan.


"Heh, Tasya." ucap sang mama membuyarkan lamunan anaknya.


"Apa sih, mah. " balas Natasha mengerutkan dahinya.


"Makanan itu dimakan bukan di aduk aduk, ke gitu, "tegas sang mama, mengigatkan anaknya.


" Ya, ya. " Natasha mulai menyuapkan makanan yang berada pada sendoknya, ia menikmati setiap suapan demi suapan.


Dimana sosok Edwin datang dengan memakai pakaiannya. " Aduh Nak Edwin sudah datang, ayo makan. "


Natasha yang berada di samping Sarah mengikuti gaya bicara mama muda itu dengan mengerakan bibirnya saja tanpa bersuara.


Edwin duduk, melihat hidangan di atas meja begitu menggugah selera, " waw, ini tante yang masak. "


"Bukan, yang masak tuh dedemit. Ngaco lu, pake acara nanya segala, makan ya makan. " timpal Natasha kepada Edwin.


Sarah kini menyenggol bahu anaknya, mengedipkan mata, " Hey, Natasha nggak boleh ngomong gitu, nggak baik. "


Natasha menggerutkan dahi, lalu berkata, " bela saja sampe mampus. "


"NATASHA."


"Papah pulang. "


Deg ....


Jantung Sarah seketika berpacu lebih cepat dari sebelumnya, mendengar suara lelaki yang menjadi suaminya.


"Hai sayang. "


Ciuman mendarat pada wajah Sarah, dimana Edwin terkejut, melihat sapaan lelaki tua sembari menciummi pipi Sarah dengan begitu mesra.


"Loh."


Sarah menyunggingkan bibirnya lalu bergumam dalam hati, " ya elah pake acara pulang segala, ngaku ngaku jadi jandanya gagal deh. "


"Tante bukannya tadi semalam tante bilang .... "


Belum perkataan Edwin terlontar semuanya, Sarah bangkit dari tempat duduk, berusaha mengalihkan perkataan Edwin.


Mama muda itu merangkul bahu sang suami, menyuruh lelaki tua itu untuk duduk.


"Sayang sebaiknya kamu duduk, kita makan bersama. "


"Oke."


Lelaki tua dengan rambut putihnya kini duduk pada kursi, ia menatap hidangan lalu melihat lelaki tampan tengah memakan makanannya diatas piring.

__ADS_1


"Dia siapa?"


Pertanyaan sang papa membuat Natasha tercengang, gadis itu mulai menjawab, namun didahului sang mama. " Dia calon menantu kita. "


"APA." Sorot mata lelaki tua itu menatap ke arah Edwin, membuat Edwin yang mengunyah makanan tiba tiba terhenti.


"Saya Edwin om. " Sapa Edwin dengan keramahanya, namun Rudi terlihat tak menyukai lelaki tampan dihadapannya.


Edwin menyodorkan tangannya, dimana Rudi malah bertanya." Sejak kapan kamu ada sini?"


"Tadi .... "


Sarah memotong pembicaraan Edwin, " Barusan. Hampir barengan sama papah. "


Rudi menatap kearah Edwin dari ujung kaki hingga ujung kepala, dimana ia kini menatap ke arah istrinya silih bergantian.


"Tapi kenapa tampilan lelaki ini seperti habis mandi dan bau sabunnya pun sama seperti di rumah kita?" tanya Rudi dengan begitu tegas.


Sarah kembali menjawab, " kebetulan, mungkin. "


Rudi yang mulai kesal, nampak murka, ia memukul meja makan, " papah tanya sama anak muda ini bukan sama mama. Apa bisa mama diam."


Edwin yang berada dihadapan lelaki tua sedikit was was ketakutan, karena wajah Rudi sedikit terlihat menyeramkan.


"Baiklah." balas Sarah. Iya tak berani melawan suaminya.


"Hey, anak muda."


Edwin menatap ke arah Rudi dengan tatapan rasa takutnya, baru kali ini ia bertatapan dengan seorang laki-laki yang akan menjadi mertuanya.


"Iya om, kenapa?"


"Setelah kamu menghabiskan makanan ini, tolong segera pergi dari sini!"


Tentulah jawaban lelaki tua itu begitu mengejutkan, membuat Edwin berkeringat menahan rasa takut karena raut wajah Rudi yang tak mempelihatkan keramahan.


"Baik, om. "


Sarah berusaha menasehati suaminya," papah dia. "


"Sarah dari tadi kamu membela dia terus menerus, sudah papah tak suka dengan anak muda ini, biarkan dia pergi. "


Perdebatan keduanya membut Edwin kini berdiri, " karena om mengusir saya, saya akan pulang saat ini juga. "


"Pah, dia itu .... "


"Mama, berhenti menimpal perkataan papah."


Sarah menundukkan pandangan, ia tak berani mengucapkan satu patah katapun, saat sang suami mempelihatkan kemarahannya.


"Tenta, Natasha saya pulang. "


"Ya pulang aja lu, kagak berguna juga ada di sini." Usir Natashan terang terangan.

__ADS_1


__ADS_2