Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Terkejut


__ADS_3

"Coba kamu duduk di atas lantai. "


Perwira malah menyuruh Rudi duduk, membuat ia heran.


"Kenapa aku harus duduk?" pertanyaan mulai dilayangkan Rudi pada Perwira, dimana Sarah tak sanggup melihat semua yang akan terjadi pada suaminya.


Sarah mulai pergi meninggalkan suaminya, sedangkan Rudi yang melihat kepergian sang istri, mencoba memanggil," Mama mau ke mana?"


Sarah mengabaikan panggilan dari suaminya, Iya terus berjalan pergi untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Gimana kamu sudah siap?"


Karena rasa penasaran yang begitu menggebuk-gebuk pada hatinya, pada akhirnya Rudi menganggukkan kepala. Dimana Perwira sengaja ingin mengerjai Rudi.


"Coba tunjukkan. "


Perlahan Perwira mulai membuka jas kantor yang ia lingkarkan pada celananya, perlahan dan.


"Astaga. Manuk. "


"Sudah tak penasaran lagi. "


Rudi menghindar, ia menyeret tubuhnya ke belakang, " jadi iromen yang di bahas itu, ******."


Mengusap kasar wajah, Rudi menggelengkan kepala, "Gimana."


Rudi mulai bangkit dari atas lantai, Iya kini berdiri sejajar dengan Perwira yang sedang membenarkan jas kantornya.


"Benar benar iromen. "


Perwira tertawa, " Bhahaha. "


"Jadi kamu nunjukkin ****** kamu itu sama perawat. "

__ADS_1


"Sebenarnya nggak nunjukin, cuman apes aja tuh perawat, jatuh nggak sengaja melorotin jas kantor. Ya, terjadilah yang tak diharapkan. "


"Ceroboh."


"Ya namanya juga kecelakaan mau apa lagi, kalau tahu dari awal ya pastinya udah menghindar. "


"Iya juga, kalau begitu aku pulang duluan. Istriku pasti nunggu lama di mobil. "


"Oke kalau begitu. "


Rudi berjalan, menuju mobil, untuk menemui segera pulang dari rumah sakit.


Saat membuka pintu mobil, Rudi melihat istrinya masih menutup wajah dengan kedua tangan.


"Mah, kenapa?"


Membuka perlahan kedua tangan, Sarah kini menatap ke arah suaminya, " papah nggak terkejut, melihat batang milik si Perwira itu. Dan gambar iromen yang menonjol. "


Menggelengkan kepala, Rudi mulai menyalakan mesin mobil. " Jadi papah nggak terkejut?"


pertanyaan Sarah membuat Rudi menggelengkan kepala." sama-sama laki-laki, Kenapa harus shock?"


Sarah baru terpikirkan akan hal itu," iya juga ya."


Rudi yang memegang setir, Kini membisikkan suatu perkataan pada istrinya, " jadi menurut mama. Siapa yang lebih besar?"


Sarah terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya, Iya membulatkan kedua matanya, " apa maksud papa?"


" Haduh Mama kenapa harus dijelasin dengan detail, Sudahlah jangan berpura-pura. Mama sudah mengerti kan apa yang dikatakan papa?"


"Mm, Papa ini ngomong apa sih ngawur banget!"


" Sudah lah ma. Jujur saja, jawab pertanyaan Papa tadi. "

__ADS_1


" Pertanyaan apa sih, pah. Nggak jelas banget. "


"Mm, mama suka pura pura."


"Udah hah, pah jangan bahas hal kaya gitu, nanti pas mama bahas papa sakit hati kesingung, karena milik siapa yang paling gede."


"Ngapain ke singgung, toh milik papah itu gede kok, dari pada milik si Perwira. "


Sarah tiba tiba tertawa terbahak bahak, membuat Rudi mengerutkan dahi dan bertanya. " Kenapa mama ketawa, ada yang aneh sama perkataan papah."


"Papah ini, bhahha."


"Mama, kenapa ketawa kaya orang gila?"


"Papah kali yang gila, sok pedeaan paling gede, nggak nyadar diri apa, punya bapak buntet."


"Yang penting gede, walau buntet. "


"Bhaha, gede sih gede tetap aja kalau buntet nggak bisa bikin .... "


Kesal karena ledekan sang istri membuat Rudi berucap, " kenapa?"


"Idih, papah langsung nyongot gitu. "


"Siapa yang nyongot."


"Tuh buktinya, mama belum selesai ngomong papah udah seenaknya motong pembicaraan mama. "


Rudi yang tak ingin debat, malah menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi malah pergi begitu saja.


"Papah, gila apa ya? Berhenti. "


Ahkkkk.

__ADS_1


__ADS_2