Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 41


__ADS_3

Sarah berusaha menenangkan Natasha di dalam kamar, dia menatap sayu wajah anaknya. Meminta Natasha untuk duduk di atas, dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada anak angkatnya itu.


Kedua tangan Sarah kini merai tangan Natasha, dia memperlihatkan kedua mata yang berbinar," Mama tanya sama kamu, kenapa kamu malah mencekik Edwin, dia itu suami kamu Natasha. "


"Iya aku tahu ma, dia itu memang suamiku. "


"Lantas kenapa kamu mencekik dia?"


Pertanyaan Sarah membuat Natasha menundukkan wajah, ia seakan berat menceritakan kepada sang Ibunda. Apa alasannya ia mencekik leher Edwin.


"Karena dia bahas tentang kacang."


jawaban yang terdengar begitu polos, saat diucapkan oleh Natasha.


Sarah yang mendengar hal itu malah tertawa terbahak-bahak, " hanya karena masalah kacang kamu sampai mencekik dia?"


"Ini bukan masalah kacangnya, dianya yang tak sopan!"


"Ya ampun Natasha kalau suamimu tak sopan pada kamu, ya nggak papa. Diakan sudah sah, kalau suami kamu kurang ajar baru kamu cekik dia sampai mati. "


Sarah ternyata salah sangka, Dia mengira jika Natasha membela dirinya karena Natasha berani mencekik sang suami," Natasha Ibu berharap kamu itu menjadi istri yang baik untuk suami kamu sendiri, jangan kamu sia-siakan Edwin di hidup kamu."


Nasehat yang bijak, terlontar dari mulut Sarah, di mana wanita itu berjalan menghampiri Edwin dan juga kalau Lorenza.


Namun saat melangkahkan kaki keluar dari kamar Natasha, Sarah tak melihat keadaan Edwin dan juga Lorenza. Membuat kepanikan tumbuh pada diri Sarah.


Mama muda itu mulai bertanya pada para sopir dan juga pembantunya, jawaban mereka sangatlah mengejutkan, ternyata Lorenza membawa pulang Edwin ke rumah karena kejadian yang hampir mencelakai Edwin sendiri.


Sarah mulai menghubungi sang menantu, untuk segera kembali ke rumah Sarah, ya tak mau ada perdebatan sepele yang membuat keduanya berpisah.


******


Di dalam perjalanan Lorenza, terus menggerutu kesal sembari menyetir mobil. Edwin yang mendengar kekesalan sang mommy, membuat ia berusaha menenangkan wanita tua yang sudah melahirkannya itu.


"Mommy tenang ya. "

__ADS_1


"Kamu ini hampir saja mati oleh istrimu sendiri, bisa-bisanya ya Natasha melakukan hal yang malah membuat dirinya rugi."


Sebenarnya Edwin sudah tak tahan dengan ocehan yang terlontar dari mulut ibunya sendiri, ia kini mengambil handset, menutupi kedua telinganya, dengan harapan jika ia bisa tidur nyenyak di dalam mobil.


Dan menjauhi kegelisahan dan juga ocehan Lorenza yang tiada henti-hentinya. ponsel terus saja berbunyi, membuat Lorenza memberikan ponsel itu kepada Edwin.


" Edwin, coba kamu jawab. Siapa yang menelepon pada ponsel mama?"


Edwin tak mendengar perkataan Lorenza, ya begitu sibuk dengan ponselnya dan juga lagu yang ia dengar.


"Edwin."


Berulang kali memanggil anaknya yang berada di samping kiri dekat dengannya, membuat Lorenza sangatlah kesal. Ia sekilas menatap ke arah anaknya yang ternyata memakai handset, mengambil headset itu, selalu berteriak di telinga Edwin," Edwin kalau mama bicara itu coba kamu dengarkan, jangan kamu enak-enak sendiri main hp seperti itu."


"Iya ma. "


Edwin melepaskan headset dari telinganya, ia kini mengambil ponsel yang diberikan sang mama.


Melihat layar ponsel itu berkedip lalu membaca nama dari panggilan telepon.


"Tante Wulan. "


"Sialan, mau apa dia meneleponku lagi, sudah puas anaknya membuat ulah. "


"Jadi gimana mom, angkat atau biarkan saja. "


Dengan tegasnya, Lorenza menjawab, " biarkan saja, jangan diangkat. Siapa suruh anaknya bikin ulah."


********


Pada saat itulah Edwin menuruti perkataan sang mommy, dimana Sarah tampak begitu gelisah, karena Lorenza tak mengangkat panggilan telepon darinya.


Sarah kini mengirim pesan pada Lorenza.


(Lorenza, aku mau minta maaf sama kamu, atas perlakuan Natasha yang hampir saja membuat Edwin celaka.)

__ADS_1


Ponsel yang masih dipegang oleh tangan kini menyala lagi, " pesan dari Tante Sarah. "


Lorenza kini menyuruh anaknya untuk membaca isi pesan dari musuh bebuyutannya itu. Setelah mendengar pesan yang dibacakan oleh Edwin, membuat Lorenza tertawa terbahak-bahak di hadapan anaknya.


Edwin yang melihat kebahagiaan sang ibunda hanya bisa menggelengkan kepala.


Ada rasa penasaran dalam benak Edwin, Ketika sang mommy terlihat begitu puas setelah Sarah meminta maaf kepadanya.


"Mommy ini, seperti bahagia sekali, telah mendapat pesan dari Tante Sarah?"


Sekilas Sarah, menatap ke arah anaknya, lalu menjawab, " jelas dong mama bahagia. Asal kamu tahu, mertua kamu itu si Sarah, adalah musuh bebuyutan mama. "


"Mm, pantas saja setiap kali bertemu dengan tante Sarah. Mertuaku sendiri, kalian itu sering bertengkar dan juga berdebat."


" Ya begitulah, dari dulu Momi memang selalu bersaing dengan Si Sarah itu, asal kamu tahu, tapi kamu itu lelaki tertampan di sekolah. Mommy dan juga Sarah mertua kamu itu bersaing untuk mendapatkan Papi kamu."


" Oh jadi karena hal itu kalian menjadi tak akur sampai sekarang?"


" Ya begitulah, mertua kamu itu tak terima jika Mommy ini menang, dia selalu menyindir Mommy mengata-ngatain Mommy, dan banyak lagi perbuatan yang membuat mommy sangat benci sekali dengan dia. "


" Lantas Kenapa Mommy mau menyetujui pernikahan Edwin dan juga Natasha, Seharusnya kan sebagai seorang ibu yang mempunyai musuh seperti tante Sarah, Mommy harusnya menjauhi dan tidak menyetujui kami berdua. "


" Kamu ini bagaimana sih, Mommy ini terpaksa setuju, karena kamu yang sudah berulah dengan Natasha, Siapa suruh kamu main kuda-kudaan di dalam mobil, coba saja kalau kamu tidak main seperti itu mungkin Mami tidak akan menikahkan kamu dengan anak Si Sarah itu musuh bebuyutan mami sejak dari orok sampai sekarang."


Edwin menggelengkan kepalanya, setelah Sang mommy membahas tentang kuda-kudaan yang sudah Edwin lupakan perlahan demi perlahan, karena perkataan kuda-kudaan itu hanyalah sebuah fitnahan Semata yang membuat orang tidak pernah berpikir positif.


" Terserah Mommy-lah. Aku capek dengar Mommy tidak percaya kepadaku, bahwa aku dengan Natasha itu tidak pernah melakukan hal yang mommy katakan."


Tring .... Pesan kembali lagi datang, dari Natasha melalui ponsel Edwin. ( Edwin aku minta maaf atas perbuatanku yang sudah hilang kendali, mencekik kamu, membuat napas kamu hampir saja punah.)


Lorenza penasaran dengan suara ponsel anaknya yang berdering, wanita tua itu kini bertanya," Siapa yang mengirim pesan kepadamu. Apakah Sarah atau istrimu sendiri nemu minta maaf karena sudah mencekik kamu."


Terlihat sekali wajah malas diperlihatkan oleh Edwin untuk menjawab perkataan sang Mommy. " Edwin, Kenapa kamu tidak menjawab perkataan mommy, "


" Ya siapa lagi kalau bukan Natasha yang mengirim pesan kepada Edwin, kalau Tante Sarah ya nggak mungkin lah dia kan mertuaku sendiri."

__ADS_1


"Iya juga sih, cuman mertua kamu itu si Sarah, bisa bisanya. Wajahnya awet muda?"


Pertanyaan sang Mommy membuat Edwin kini menjawab, " mungkin pake pormalin kali, mom."


__ADS_2