Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 81


__ADS_3

Edwin berlari dimana Natasha terus mengejar, " Edwin kembali kamu?" Teriakan Natasha, membuat Edwin menatap ke arah istrinya, " ayo kejar kalau berani!"


Edwin seakan menantang istrinya untuk mengejar, tak peduli sejauh mana, " Edwin gila apa kamu."


Mereka tak sadar berlari begitu jauh, sampai ke tengah jalan, Natasha yang melihat suaminya berlari sejauh itu membuat ia berteriak, " jangan lari kesana."


Edwin malah menatap ke arah Natasha, tanpa ia sadari satu mobil melaju dengan kecepatan tinggi.


"Edwin, awas .... "


Edwin menatap ke arah samping kirinya,


Bark ....


Mobil kini menghantap tubuh Edwin, lelaki itu terkulai terpental membuat Natasha melayangkan jeritannya.


Natasha berlari, tak terasa air mata mengalir membasahi pipi, Edwin berlinang darah, terlihat ada sobekan pada kepalanya.


Orang orang yang berada disana berusaha membantu Edwin, perlahan mereka menggangkat dengan hati hati, takut terjadi apa apa.


"Edwin."


Natasha masuk ke dalam mobil, dimana ia berusaha menyadarkan suaminya, "Edwin, kamu harus kuat. "


Menggenggam tangan sang suami, berharap jika lelaki yang sudah menikah dengannya masih hidup.


Sampai dimana mobil kini berhenti disebuah rumah sakit, " Edwin bertahanlah, " hanya itulah yang bisa dilayangkan Natasha saat kepanikan melanda hati dan pikirannya, ia benar benar tak bisa berpikir jerni.


Tubuh suaminya sudah masuk ke dalam ruangan, ia hanya bisa menunggu dan berharap jika Edwin masih bertahan untuk hidup.


Menangis terus menerus membuat perasaan Natasha tetap tak bisa tenang, ia melihat ke ruangan Edwin, dokter belum keluar sama sekali.


Tangan bergetar, saat mendengar suara ponsel dari tasnya. Natasha berusaha meraih ponsel itu, melihat siapa yang menelepon.


Ternyata sang mertua, apa yang harus dikatakan Natasha saat ini, perlahan jari jemari itu mulai menekan tombol untuk mengangkat panggilan dari Natasha.


"Halo, mom. "


"Halo sayang, mommy mau tanya kenapa Edwin tidak menganggkat panggilan dari mommy ya. "


Deg ....


Perasaan Natasha tak karuan, ia berusaha tetap mengendalikan diri agar tenang saat mengobrol dengan mertuanya.


"Natasha, halo."


"Ahk, iya mom. "


"Loh, kok kamu diam saja, apa Edwin sekarang bersamamu, kalau iya tolong kasih tahu Edwin mommy ada hal penting yang ingin mommy bicarakan. "


Natasha berusaha tidak menangis, ia kini mengatakan hal yang mungkin akan membuat sang mertua syok berat.


"Halo sayang, Natasha. "

__ADS_1


"Mom, sebenarnya. "


Ternyata beteng pertahanan agar tidak menangis kini lemah, Natasha menangis sejadi jadinya, membuat Lorenza heran.


"Loh, kok kamu nangis sayang. Kenapa, ayo coba cerita sama mommy, apa Edwin menyakimu. "


"Tidak mom. "


"Lalu kenapa?"


"Edwin kecelakaan, dan sekarang ia berada di rumah sakit sedang ditangani dokter. "


Dan benar saja dugaan Natasha, sang ibu mertua langsung diam tak bersuara, ia seperti syok berat.


"Halo, mom. "


"Halo."


Lorenza berusaha tetap tegar walau sebenarnya hatinya sekarang begitu rapuh.


"Mommy, baik baik sajakan?" pertanyaan Natasha membuat Lorenza berulang kali menarik napas, berusaha menahan air mata.


"Kamu tenang saja, sekarang mommy dan Daddy akan menyusul kesana!"


"Iya mom, Natasha tunggu. "


Lorenza kini mematikkan panggilan telepon sebelah pihak, dimana ia terburu buru berlari menuju ke kamar.


Wanita tua itu lupa, dia belum memberi tahu suaminya tentang kecelakaan yang menimpa Edwin.


"Halo Lorenza, ada apa?"


"Perwira, sebaiknya kamu pulang sekarang juga. Anak kita!"


Lorenza malah menangis, ia seakan berat mengatakan kecelakaan yang menimpa anak satu satunya, padahal tadi Lorenza masih tegar.


"Kenapa dengan Edwin, apa yang terjadi dengannya, kenapa kamu malah menangis. "


"Anak kita kecelakaan. "


Deg ....


Hati seorang ayah mana yang tak hancur mendengar kabar yang tak menyenangkan dari mulut istrinya.


"Sekarang kamu ada dimana, aku akan jemput kamu agar kita ke rumah sakit bersama. "


Perwira kuatir dengan keadaan istrinya jika berpergian sendirian dalam keadaan bersedih seperti itu.


"Aku masih di rumah, rasanya kedua kakiku terasa lemas, aku masih tak menyangkan dengan berita yang menimpa anak kita. "


"Kamu harus tenang ya sayang, aku akan datang sekarang juga, jangan pergi sendiri. Biar kita pergi ke rumah sakit sama sama. "


Lorenza hanya bisa menurut, ia memeluk lututnya, berusaha menenangkan diri.

__ADS_1


"Edwin, semoga kamu baik baik saja nak. "


Natasha masih menunggu sendirian di luar ruangan, ia belum mendapatkan kepastian dari dokter yang menangani suaminya.


Melihat jarum jam pada tangannya, sudah dua jam suaminya ada di dalam ruangan, " Edwin, aku merasa bersalah. "


Menangis, ia merasa hatinya terasa rapuh.


Menghubungi sang mama, " halo, mam. "


"Halo, Natasha, tumben kamu nelepon mama. Ada apa?"


" Edwin mengalami kecelakaan mam, sekarang dia ada di rumah sakit. "


"Natasha kamu harus tenang ya, sekarang juga mama dan papa akan datang ke sana menemani kamu, oh ya. Apa kamu sudah memberitahu kedua orang tua Edwin?"


"Sudah mah, mereka sedang di dalam perjalanan."


"Ya sudah, mama sekarang akan datang ke sana, kamu tunggu mama dan papah ya. "


Setelah memberitahu sang mama, perasaan Natasha sedikit lega, tinggal menunggu kepastian dokter.


******


"Papah, papah. "


Rudi dan Putri kini menatap ke arah Sarah, membuat keduanya heran." Ada apa sih mah, kok teriak teriak. "


"Pah, Edwin mengalami kecelakaan, "ucap Sarah, Rudi terkejut sedangkan Putri tampak terlihat biasa saja.


" Ya sudah, ayo kita siap siap untuk pergi ke rumah sakit. "


Keduanya sibuk, sedangkan Putri hanya membaca majala dan duduk santai, membuat Sarah yang melihat pemandangan keponakan suaminya itu merasa kesal.


Ia kini mendekat ke arah Putri, " heh, kamu sebagai sodara tidak ada rasa simpati sedikit pun apa pada Natasha. "


Putri terlihat berani, dimana ia berpura pura tak mendengarkan perkataan Sarah.


Melihat tingkah Putri yang hanya numpang hidup di rumah Sarah membuat ia langsung mengambil majala itu dan membuangnya begitu saja.


"Heh, kalau orang tanya itu jawab jangan diam saja, dasar nggak sopan, nggak punya malu. "


Putri malah menatap sinis kearah Sarah, ia bangkit dan berdiri tegap dihadapan sang tante.


"Lalu aku harus apa, terkejut gitu, karena suami Natasha kecelakaan, menangis atau tertawa. "


Plakk ....


Kesal dengan Putri yang lancang bicara itu, membuat Sarah murka, ia menampar pipi keponakan suaminya dan juga menunjuk ke arah wajah Putri, " heh jaga mulutmu. Kamu di sini hanya numpang hidup, ingat ini rumahku."


Putri melipatkan kedua tangan, ia mempelihatkan sifat santainya, " baru punya rumah segede gini juga belagu. "


Sarah tersenyum kecil, " mm, belagu masih lebih baik karena punya sendiri, dari pada kamu numpang hidup tanpa tahu tujuan. Kerja juga nggak, memalukkan, katanya lulusan luar negri, tapi hidup masih bergantung suami saya."

__ADS_1


Sindiran yang lumayan pedas, dilayangkan Sarah pada keponakan suaminya.


__ADS_2