
"Mama ini kenapa, papah lihat kaya nggak tenang gitu, apa yang mama pikirkan?" pertanyaan Rudi membuat Sarah kini menjawab. " Papah sedikit kuatir dengan Natasha."
"Mm, Natasha lagi, kan dia itu sudah gede, apalagi sekarang ada Lorenza yang menemani Natasha!" balas Rudi tanpa rasa kuatir sedikit pun.
Sedangkan Sarah menggelengkan kepala, mencubit telinga suaminya, " bisa bisanya ada suami model kaya begini. "
"Aduhh, mama ini kenapa sih. Sakit tahu, " ucap Rudi, memegang bekas cubitan dari istrinya.
Lelaki tua itu kini mengecangkang mesin mobilnya agar segera sampai di tempat tujuan.
"Papih, pelan pelan dong. "
Sampai di restoran yang diinginkan Rudi, mereka langsung memesan makanan yang mereka inginkan.
*******
Di dalam ruangan, hanya ada Natasha dan juga Lorenza, mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Jadi, kamu sudah mengerti?"
Natasha menganggukkan kepala, air matanya menetes kembali, perasaanya tak karuan.
"Saya sebagai orang tua Edwin, ingin yang terbaik untuknya!"
Air mata Natasha tak terbendung lagi, ia tak bisa menahan tetesan demi tetesan air yang keluar dari kedua matanya, perasaanya benar benar kacau saat itu.
Sampai dimana Edwin memanggil Lorenza, " ibu Lorenza. Pasien memanggil nama anda. "
Lorenza berdiri sedangkan Natasha hanya duduk menundukkan wajah sembari menangis, sebelum Lorenza datang menghampiri Edwin, ia kembali berpesan pada menantunya, " Natasha, semoga kamu mencerna perkataan saya ya. "
Natasha hanya menganggukkan kepala, ia tak bisa berkata kata.
Lorenza berjalan dengan perasaan leganya, karena pada akhirnya sang menantu menurut.
Kecewa, memang yang kini dirasakan Natasha. Tapi bagaimana lagi, ia hanya menuruti perintah sang mertua,
******
Lorenza masuk ke dalam ruangan dimana Edwin belum juga sadarkan diri, ia hanya menyebut namanya sekali dan kembali lagi tertidur.
"Apa ada kemungkinan untuk anak saya sembuh dok?"
"Kami belum yakin bu, karena satu satu jalan untuk kesembuhan anak ibu yaitu keikhlasan bagi si pendonor, dimana si pendonor sudah ikhlas mendonorkan beberapan organ tubuh anak ibu yang mengalami kerusakan parah. Kami hanya sementara membantu pasien dengan alat bantu di rumah sakit ini saja. "
Suasana nampak menegangkan, perasaan wanita tua itu tak karuan, apa yang harus ia lakukan, mana mungkin Lorenza melihat anak satu satunya terbaring diatas kasur rumah sakit selamanya.
"Kenapa kecelakaan ini terjadi padamu Edwin. "
__ADS_1
Lorenza duduk, memegang tangan anaknya yang tak bergerak, ia melihat tubuh anaknya sudah penuh dengan alat bantu dan selang untuk bisa bertahan hidup.
Natasha penasaran, ia berjalan perlahan, ingin melihat lelaki yang baru saja ia cintai, terbaring di ranjang tempat tidur dalam keadaan koma.
Memegang kaca, " Edwin, aku yakin kamu bisa sembuh, aku akan mendonorkan apa yang kamu butuhkan. "
Sarah terkejut mendengar hal itu, ia hampir saja menjatuhkan makanan yang baru saja ia beli.
"Mama ini hati hati dong. "
Rudi dengan sigapnya memegang beberapa makanan dari tangan sang istri.
Perlahan Sarah mendekat dan memeluk tubuh putrinya. " jangan asal bicara kamu Natasha. "
Natasha melepaskan pelukan dari sang mama, " aku tidak asal bicara ini tekadku. "
"Natasha jika kamu memberikan milimu, sama saja kamu membunuh diri kamu sendiri."
"Tak apa mah, itu lebih baik, dari pada aku sekarang melihat Edwin menderita. "
Rudi masih tak mengerti dengan topik pembicaraan keduanya ia kini bertanya, " sebenarnya ada apa?"
Rudi yang memang terlihat kelaparan tengah menguyah makanan yang baru saja ia pesan.
Dimana Sarah membulatkan kedua matanya, " apa papah ini tak waras ya, bertanya sambil menguyah makanan. "
Kesal dengan perkataan Rudi, Sarah kini mendorong tubuh suaminya. " sudah sana papah sebaiknya pergi, menganggu suasana. "
"Ya beginilah kalau laki laki, selalu menjadi penggangu dimata wanita. Hah, bodo amat ah, aku mau menikmati makanan restoran ini. "
Rudi berjalan tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia menikmati setiap suapan demi suapan.
*******
"Natasha, pantas saja tadi mama melihat kamu menangis. Awalnya mama mengira jika kamu disakiti oleh mertuamu."
"Tidak ma, Natasha bersedih karena mendengar banyak kerusakan pada organ tubuh Edwin yang harus diganti. "
Sarah masih tak percaya jika menantunya akan bernasib menyedihkan, sampai sampai banyak organ tubuh yang rusak.
"Kamu harus sabar ya, jangan sampai kamu menaruhkan hidupmu. "
"Tapi mah, sekarang aku merasa jika hidupku sepi tanpa Edwin, dia penyemangat, dia yang mampu membuat aku bahagia."
"Mama tahu apa yang kamu rasakan jadi kamu harus tenang ya. "
Natasha menganggukkan kepala, setelah mendengar kata penyemangat dalam hidupnya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menenangkan hati Natasha mah, kalau bukan karena mama siapa lagi?"
"Mama tahu itu. "
Rudi baru saja selesai memakan makananya, ia kini menghampiri Natasha dan juga Sarah, dimana lelaki itu berkata." Natasha dan mama. Sudah nangisnya, kalau sudah kita nunggu di kursi yuk, papah ngantuk sekali, besok ada proyek besar besaran. "
Ketika bersedih, Rudi malah membuat lelucon yang kini membuat istrinya kesal, " papah, bisa mengerti situasi tidak sih. "
Rudi mengaruk belakang kepalanya, " situasi apaan sih mah, nggak jelas banget. Emang ada apa?"
Sarah tak tahan dengan kebodohan suaminya, ia kini membisikan suatu perkataan yang membuat Rudi terkejut dan menelan ludahnya.
"Wah, sepertinya pertanyaan papah, membuat mama lama kelamaan geram ya. "
Lelaki tua itu menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
Sarah yang ngeram mulai mencubit kedua telinga suaminya dengan keras dan bertenanga.
"Gimana pah, sakit. "
"Ahk, ampun ma. Ampun. "
Natasha yang melihat sang mama berbuat seperti itu kini berkata, " sudah mah jangan lakukan lagi, kasihan papah pasti kesakitan."
"Biarin, siapa suruh bikin kesal terus mama. "
Lelaki tua itu memohon ampun pada istrinya, " sayang sudah dong sakit tahu tidak, kamu ini nggak kasihan sama papah apa. "
"Kasihan, orang tua nyebelin kaya gini mau dikasihani, aduhhh pah. Ada ada aja. "
"Siapa yang ada ada aja. "
Setiap perkataan Rudi benar benar membuat Sarah geram, bisa bisanya sang suami selalu menganggap sebuah lelucon.
"Papah memangnya mau, organ tubuh papah ini di berikan pada menantu pada Edwin."
Orang mana yang tak terkejut dengan perkataan Sarah, Rudi pun langsung bergig ngeri . " mama ngomong apa sih, organ tubuh dibawa bawa. Sembarangan kalau ngomong."
"Siapa yang sebarangan ngomong, emang pada kenyataannya kok, papahnya saja yang nggak percaya. "
Rudi berusaha menghela napasnya, tidak terlalu memikirkan hal itu, ia pergi meninggalkan istri dan anaknya, untuk segera tidur di dalam mobil.
"Kemana pah?" tanya Sarah berteriak memanggil nama suaminya.
"Mau tidur di mobil!" jawab Rudi membalas dengan teriakan. Sarah yang ingin menguji suaminya kini berucap, " hati hati ada suster ngesot lagi sendirian di mobil. "
Belum ada reaksi.
__ADS_1