Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 63


__ADS_3

Natasha bolak balik kesana kemari, ia terlihat begitu gelisah. Setelah menelepon Edwin, " Ah sial, Kenapa perasaanku menjadi aneh seperti ini ya,"


Natasha terlihat pusing, ia bingung saat menghadapi Edwin, suaminya sendiri, " Natasha, ayolah, ada apa dengan kamu, jangan sampai kepedulianmu ini menandakan jika kamu cinta terhadap Edwin, ahk nggak mungkin."


Setelah masalah antara ibu dan ayahnya selesai, Natasha merasa tak tenang, ia takut jika Edwin tak pulang ke rumah. " Natasha harusnya kamu senang dong, kalau Edwin tak pulang."


Natasha terus menghibur dirinya sendiri, agar tak larut dalam rasa gelisah yang terus menganggu hati dan pikirannya.


Tok .... Tok.


Ketukan pintu terdengar dari kamar Natasha, dimana ia mendekat dan membuka pintu kamarnya, melihat siapa yang datang.


"Mama."


Kedua mata Sarah terlihat merah, ia sepertinya habis menangis, masuk dan duduk begitu saja pada ranjang tempat tidur milik anaknya.


Natsaha duduk di samping sang mama, sebenarnya dalam hatinya ia merasakan rasa kesal dan benci, namun karena Sarah sosok seorang ibu yang sudah mengurusnya, membuat Natasaha berusaha menurunkan rasa egonya.


"Natasha."


Terdengar suara tegas sang mama keluar begitu saja dari mulut Sarah, dimana Sarah menatap ke arah ibunya.


"Ada apa mah?" tanya Natasha, berusaha tetap tenang menghadapi sang mama.


" Sekarang mama tanya sama kamu, " ucap Sarah membuat anak angkatnya itu penasaran.


"Tanya apa?" balas Natasha malas mendengar perkataan sang mama, yang sudah mengecewakan.


Sarah kini menghadap ke arah Natasha, memegang kedua bahu anaknya," sekarang mama tanya pada kamu, kamu pilih Mama atau papa kamu?"


Natasha terkejut dengan perkataan yang terlontar dari sang mama, di mana Sarah menyuruh anaknya untuk memilih," kenapa Mamah malah berkata seperti itu? Jelas Natasha tidak akan memilih Mama ataupun papa! karena Natasha ingin selalu melihat Papa dan Mama bersatu."


Sarah bingung harus menjelaskan semua yang dirasakanya, " Please Mama tidak butuh jawaban seperti itu sekarang, Mama butuhkan sekarang Itu kamu untuk memilih satu pilihan."


Natasha melepaskan kedua tangan sang mamah yang memegang bahunya, ya berdiri membelakangi tubuh Sarah, melipatkan kedua tangan, " kenapa? Apa Mama sudah bosan bersama dengan papa, sampai Mama menekan Natasha untuk memilih antara mama dan juga Papa."


Sarah beranjak berdiri mendekat ke arah anaknya," bukan seperti itu Natasha, Mama melakukan semua itu demi kebaikan kamu dan juga mama sendiri."


" kebaikan apa maksud Mama? Jika seorang anak harus memilih antara dua pilihan, sama saja Mamah membuat Natasha semakin kecewa, bukan itu yang diinginkan Natasha sekarang, tapi Mamah menyadari diri Mama sendiri bahwa Mama itu salah."

__ADS_1


Sarah terlihat tak terima dengan perkataan yang diucapkan oleh Natasha, " Sudahlah Natasha jangan banyak bicara, sebaiknya kamu jawab sekarang juga."


Menghembuskan napas, menundukkan pandangan, " Natasha tidak bisa memilih antara papa dan juga mama. Natasha lebih baik hidup sendiri daripada harus diberikan sebuah pilihan."


Sarah memukul kepalanya sendiri, mendengar jawaban yang terlontar dari mulut anaknya. " Ayolah Natasha. " memegang tangan Natasha dengan bersikap lembut, berharap jika anaknya itu akan luluh.


"Natasha, ayolah. "


Tok .... Tok ....


ketukan pintu terdengar begitu keras, di mana Natasha membuka pintu kamarnya.


"Maaf nona, ada Tuan Edwin menunggu Nona di depan. "


"Baik saya akan ke sana. "


Natasha hanya melirik ke arah sang Mama sekilas, pergi begitu saja.


"Natasha, " panggilan Sarah tak di jawab sama sekali oleh anaknya.


Natasha pergi begitu saja dengan langkah kaki yang begitu cepat," Kenapa sih anak itu susah sekali di atur."


"Aku harus bagaimana?"


Terlihat kebingungan sendiri, sampai akhirnya Sarah pergi dari kamar anaknya itu.


Sosok Putri mendekat ke arah Sarah," eh Tante sedang apa di kamar Natasha?"


Pertanyaan Putri membuat Sarah begitu, wanita tua itu mengabaikan perkataan keponakan suaminya, dia pergi memperlihatkan wajah kesalnya.


"Aduhh, tante. Kok main pergi begitu saja, padahal Putri belum selesai ngomong lho. Tante," ucap Putri, terlihat anak gadis itu seperti ingin menantang Sarah.


Langkah kaki Sarah tiba-tiba saja terhenti, ia mengepalkan kedua tangannya


"Masa sih, belum selesai ngomong. Padahal dari tadi tante dengar kamu itu terus nyerocos terus. "


Putri tertawa kecil mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Sarah, " Ih tante ini. "


Putri memperlihatkan kepolosannya, dia mendekat dan membisikkan suatu perkataan pada Sarah," Kenapa bisa ada wanita yang tidak tahu diri seperti anda di muka bumi ini."

__ADS_1


Sarah begitu kesal dengan perkataan Putri, ia mendorong tubuh gadis berumur 18 tahun itu hingga tersungkur jatuh ke atas lantai.


"Jaga mulut kamu, aku tidak seperti apa yang kamu katakan. "


"Mm, masa sih tante?"


Putri malah semakin memancing Sarah untuk menjadi sosok yang emosi.


"Sarah."


Rudi tiba-tiba saja datang mendekat ke arah keponakannya, di mana lelaki tua itu berusaha membantu Putri untuk berdiri.


"Putri kamu tidak kenapa kenapa kan?" pertanyaan Rudi membuat Putri terlihat menangis.


"Loh, kok kamu menangis?" tanya Rudi, membuat Putri kini menjawab dengan isak tangisnya," Putri nangis karena dihina oleh tante Sarah, dan lagi Putri didorong sampai terjatuh ke atas lantai."


Sarah yang mendengar perkataan keponakan suaminya itu, membulatkan kedua matanya ia kini menimpa," jaga bicara kamu, jangan asal memfitnah begitu saja."


Putri berpura-pura ketakutan, ketika melihat kemarahan Sarah.


"Tuh, Paman juga lihat sendirikan. "


wanita mana yang tidak kesal dengan sosok Putri yang mencari perhatian dan kesalahan orang lain," Sarah padahal aku masih memberi kamu kesempatan, untuk kita bisa memperbaiki diri kita masing-masing, tapi kenapa kamu malah membuat masalah lagi dengan Putri, jelas jelas dia itu keponakanku. "


Sarah geram, yakini menjawab perkataan suaminya, " asal kamu tahu Rudi, dia yang mulai duluan, dia yang terus memancing-mancing."


Putri merengek seperti anak kecil di hadapan sang paman. " Paman, kenapa Tante Sarah begitu membenci Putri, jelas-jelas Putri ini keponakan paman, Kenapa harus dijahatin tante Sarah."


Kesal dengan pengaduan yang terlontar dari mulut Putri, membuat Sarah berjalan, ia kini menjewer telinga keponakan suaminya itu," kamu ini kecil-kecil sudah belajar berbohong."


Rudi berusaha menghentikan aksi istrinya itu, " stop Sarah, jangan pernah lakukan itu terhadap keponakanku, jelas-jelas itu tidak punya salah apapun terhadap kamu. "


Setelah Sarah ketahuan selingkuh dengan Perwira karena Putri, saat itulah perubahan dari sikap Rudi nampak terlihat sekali berubah.


"Jadi kamu lebih baik memilih keponakanmu itu daripada aku yang jelas-jelas istrimu."


" kamu masih mengakui diri kamu sebagai istriku?"


Deg ....

__ADS_1


__ADS_2