
Sarah membuka pintu dengan begitu keras, membuat pembantu di rumah terkejut, terlihat raut wajah kesal dia perlihatkan.
Natasha duduk di depan pintu kamarnya, mendengar suara pintu seperti dibanting, ia mulai bangkit melihat suara yang membuat telinganya sedikit terganggu.
Natasha melihat Sarah duduk dengan memajukan bibir, iya duduk dengan gaya ngangk*ng. Natahsa yang melihat keanehan dari sang mama kini mendekat, " mama. "
Wanita yang menjadi mamah muda itu, berusaha membenarkan cara duduknya, " Eh, Natasha."
Terlihat raut wajah gelisah sang mamah, membuat Natasha mengerutkan dahinya. " Mama kenapa sih, kok pake lipstik belepotan. "
"Ahk. Masa sih. " Sarah mengambil cermin pada tas, melihat make up yang menempel pada wajah terlihat begitu berantakan. " kok bisa berantakan begini ya, tadi aman aman saja. "
Natasha mengerutkan dahulu, menatap sinis ke arah sang mama, " mama tidak macam macam di luar sana kan?" pertanyaan Natasha dengan tangannya yang menunjuk, membuat sang mama berusaha tetap tenang.
Sarah menghindari pandangan di hadapan anak angkatnya itu, mengibaskan telapak tangan selalu berucap dengan ada pelan, " Apaan sih kamu ini, memangnya Mama ngapain di luaran. "
"Ya bisa saja sih, mama kan masih muda, sedangkan papa sudah tua dan tak menarik. Pastinya ada rasa bosan pada hati mama, yang di mana Mama pasti akan mencari sosok seorang lelaki pengganti papa."
Tebakan Natasha kepada Sarah, sesuai isi hati wanita yang selalu disebut mamah muda itu.
"Natasha. Kamu kalau ngomong itu asal ceplok saja. "
"Ceplok, ahahahha. Ceplos kali, ceplok tuh kaya mama cium leher burik papah. "
"Heh, markonah, ***** kali. "
"Salah ya. "
Wajah polos Natasha ia perlihatkan di hadapan sang mama, " sudah salah, nyolot lagi. "
Natasha menggaruk belakang kepalanya yang terasa begitu gatal, sampai kuku-kuku panjangnya itu membuat kutu yang bersarang di kepalanya menempel.
"Ihh, kutu. Kenapa masih ada di kepala kamu Natasha, bukannya sekarang kamu sering kesalon?"
Natasha malah tersenyum lebar, yakini menjawab perkataan sang mama," hehe. "
"Apa maksud hehe. Apa jangan-jangan kamu tidak pernah pergi ke salon ya, kamu coba bohongin mama?"
"Iya, habisnya Natasha nggak suka pergi ke salon, rasanya itu membosankan. "
Sarah menggelengkan kepalanya, tak mengerti dengan cara berpikir anaknya yang masih saja seperti dulu," Natasha Kamu ini sudah menjadi seorang istri, ada baiknya kamu ini merawat diri untuk menyenangkan suami kamu."
Mendengar perkataan Sarah malah membuat Natasha menyunggingkan bibir atasnya.
__ADS_1
"Natasha, kamu ini dengar tidak apa yang mama katakan?"
"Iya mah!"
Edwin tak mendengar teriakan istrinya, ia mulai bangkit dari ranjang tempat tidurnya. Mencari keberadaan istrinya.
"Kemana Natasha?"
Edwin perlahan berjalan menuju ke ruang tamu, di mana Edwin melihat Natasha tengah mengobrol dengan Sarah.
Edwin yang terlihat begitu penasaran, tiba-tiba saja mengintip dari balik tembok.
"Apa yang mereka obrolkannya?"
"Natasha, mama tidak suka ya kalau kamu tidak menurut sama mama."
"Iya mam. "
"Bukan hanya ia saja, tapi kamu itu harus bisa mengikuti apa yang mama perintahkan. "
"Mama ribet sih, Natasha ini kan bukan anak kecil lagi Mah. Natasha ini udah gede, sya bisa mengatur hidup Natasha sendiri "
" Tetap saja walaupun kamu itu sudah besar, pola pikirmu itu seperti anak kecil, masih banyak yang harus kamu pelajari sebagai seorang istri."
" Natasha, seperti ini karena mama itu sayang terhadap kamu, jadi please menurut lah dengan Mama. "
Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, Natasha memajukan bibirnya," Iya deh terserah mama."
"Baguslah kalau begitu. "
Natasha masih terlihat heran dengan wanita yang berada di hadapan, Iya menatap jas yang dipakai oleh mamanya sendiri, membuat Natasya kini bertanya dengan memegang Jas itu. " Ini jas siapa? Bukannya waktu mama pergi, Natasha gak melihat mama memakai jas ini. "
Sarah memperlihatkan raut wajah gelisahanya, wanita yang menjadi mama muda itu berusaha menenangkan," ini, tuh jas papah kamu, tadi ada di mobil. "
"Mobil, bukannya mama pergi menaiki taksi?" pertanyaan Natasha membuat Sarah semakin gugup.
"Mama, kenapa wajahnya kaya tegang begitu, " ucapan Natasha. Membuat sang mama menjadi salah tingkah. " Kamu ini bicara apa, jelas jelas mama tidak tegang, itu hanya perasaan kamu saja. "
"Owh, ya sudah Natasha mau pergi istirahat dulu, mama jangan lupa tidur ini sudah malam loh. "
"Ah iya. "
Natasha pergi menjauh dari hadapan Sarah, ia ingin segera tidur di dalam kamarnya, karena rasa kantuk menyerang begitu saja.
__ADS_1
"Natasha."
Membalikkan badan menatap ke arah sang mama, dan bertanya. " Kenapa?"
"Tidak kenapa kenapa, mama hanya ingin kamu tidur di kamar mama bagaimana?"
"Mm, baiklah. "
Tanpa banyak basa basi, Natasha menyetujui perkataan sang mama. Terlihat ia malas jika tidur bersama dengan Edwin.
"Apa Edwin tidak keberatan jika kamu tidur di kamar mama malam ini?" tanya Sarah pada anak satu-satunya itu.
"Tentu saja. "
"KEBERATAN." tiba-tiba saja Edwin muncul di hadapan Natasha dan juga Sarah, ia menjawab perkataan sang mertua dengan sedikit lancang.
Sarah yang mendengar jawaban dari Edwin terlihat kesal," Eh lu kenapa pake jawab segala. "
Edwin kini mendekat tubuh istrinya," kamu ini kan istriku jadi kamu harus menurut apa yang aku katakan."
" Aku, harus menuruti. Apa yang kamu katakan, hey apa tidak salah. "
"Mm, kenapa kamu malah berkata seperti itu, jelas aku tidak pernah salah dalam berucap."
Sarah yang mendengar perdebatan keduanya berusaha menenangkan dengan berkata," sudah-sudah kalian. Jangan bertengkar lagi, Natasha sebaiknya kamu menuruti perintah suamimu sendiri, pernah membantah. "
Natasha kini berkaca pinggang setelah mendengar nasehat dari sang mama, Sarah berlalu pergi meninggalkan keduanya, memijat-mijat kepala yang terasa berdenyut nyeri.
"Mama, aku .... "
Edwin kini menarik tangan istrinya, membawa Natasha masuk ke dalam kamar. " Bukannya tadi kamu membiarkan aku duduk sendirian di luar kamar, sekarang kamu tiba-tiba saja menarikku seenaknya masuk ke dalam kamar. Sebenarnya apa sih yang ada di isi kepalamu ini."
Natasha memperlihatkan wajah kesalnya, yang menghempaskan tangan Edwin yang memegang tangannya.
"Jadi kamu ini sekarang sedang marah kepadaku?" Pertanyaan Edwin membuat Natasha menggerutu kesal, " ya aku sedang marah kepadamu!"
Edwin berusaha mencairkan suasana agar lebih tenang, dia mencoba mencubit dua pipi istrinya," kamu ini memang menggemaskan ya, gayamu itu seperti Rock N Roll, tapi hatinya seperti Hello Kitty."
Natsha memukul kedua tangan Edwin yang terus mencubit pipinya," lepaskan kamu ini apa apaan sih, memangnya aku ini anak kecil yang bisa seenaknya kamu cubit. Hah. "
"Natasha, Natasha. "
Edwin mulai menggendong Natasha secara tiba-tiba.
__ADS_1