
Lelaki berpakaian putih itu hanya duduk dengan tenang, tak ada kesedihan sama sekali terlihat dari raut wajah Edwin.
Berbeda dengan Natasha yang terus menangis terisak isak, " kenapa kamu menangis."
"Aku takut kamu mati dan aku sendiri di dunia ini."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, aku masih ada di samping kamu saat ini."
Natasha mulai membuka kedua matanya setelah ia menangis, melihat ruangan begitu putih
Sampai bayangan sang pujaan hilang sekejap mata, " Edwin. "
Natasha berteriak, ternyata wanita itu hanya bermimpi setelah memeluk Edwin, ia menatap ke arah ranjang tempat tidur. Suaminya masih terbaring lemah.
"Edwin, ternyata dia masih tertidur. "
Perasaan tak menentu, hati dan pikiran terasa kacau, Natasha mulai melangkahkan kakinya. Untuk menghampiri sang pujaan hati.
Ia berharap ada suara yang terdengar memanggil namanya, namun tak ada sama sekali, yang tadi itu ternyata hanyalah sebuah mimpi.
Natasha berusaha tetap kuat menerima kenyataan yang ada, entah sampai kapan ia akan kuat menyimpan kesedihan.
Perlahan tangan mulusnya itu, mulai meraba wajah Edwin, air mata mengalir deras. Membasahi pipi, hati dan perasaan sudah tak karuan.
"Edwin, bangun. Apa kamu mendengarku saat ini, aku sangat merindukanmu. "
__ADS_1
Tak ada respon sama sekali, ia takut mimpi itu awal perpisahan dengannya. " Edwin, bertahan, aku yakin pasti kamu kuat, aku akan mencari pendonor organ tubuhmu yang rusak, aku janji. Kalau pun tak ada biarkan aku saja yang jadi pengantinya.
Lorenza mengintip pada jendela, mendengar perkataan Natasha, membuat wanita tua itu menangis.
"Betapa besarnya cinta istrimu Edwin, makan bangunlah. Jangan sampai Natasha mempertaruhakan hidupnya demi kami, " gumam hati Lorenza.
Sarah yang tak bisa tidur, kini terbangun, melihat suara tangisan dari Lorenza. Ia penasaran dan memegang bahu wanita tua itu.
"Lorenza."
Membalikkan badan, Lorenza kini menantap ke arah Sarah, segera mungkin ia mengusap kasar air mata dengan kedua tangan.
"Sarah."
Sarah berusaha tersenyum, ia memegang tangan Lorenza dengan lembut, dan menyemangatinya, " kamu harus tenang dan sabar ya. Lorenza, aku tahu Edwin pasti bisa melewatinya."
"Natasha mewarisi sifat baik dari ibu kandungnya. "
Mendengar perkataan yang tersampaikan oleh Sarah, membuat Lorenza mengerutkan dahi. " Maksud kamu, aku benar benar tak mengerti. "
Sarah berusaha tetap tegar mengatakan kejujuran dihadapan sahabatnya. " Sebenarnya, Natasha itu bukan anak kandungku. "
Deg ....
"Ahk, Lorenza pasti kamu terkejut mendengar perkataanku. "
__ADS_1
Meraih tangan Sarah, " aku tidak bermaksud seperti itu Lorenza. "
"Ya aku tahu, sudah kamu tak usah kuatir, apapun itu aku sudah menerima frekuensinya, kalau memang aku ini wanita mandul. Aku punya kelebihan awet muda, cantik. Dan karirku bangus, tapi masalah anak, aku wanita yang tak sempurna. "
Sarah, menundukkan wajah, ia terlihat bersedih setelah menceritakan tentang dirinya sendiri.
Mengangkat dagu Sarah, Lorenza kini berucap kembali, " Jangan berkata seperti itu, kita ini wanita sempurna, hanya takdir yang berkata lain. "
Mendengar perkataan Lorenza membuat Sarah menangis, ia merasa tenang. " Terima kasih. Lorenza, kamu ternyata orang baik. "
"Ya, aku orang baik, sama seperti kamu. "
Kedua ya saling memuji satu sama lain, " baru kali ini kita akrba seperti ini, biasanya kita saling musuhan."
"Hahah, kamu bisa saja. "
********
Rudi melipatkan kedua tangan, menatap ke arah Sarah dan Lorenza. " Ibu, ibu pasti selalu begitu."
Perwira datang tiba tiba, ia berkata, " kamu mau seperti mereka. "
"Heh, mereka cewek sedangkan kita cowok. Jangan gila ya. "
Rudi lelaki tua yang menjadi ayah Natasha, berusaha menyingkirkan debu debu pada bajunya.
__ADS_1
"Mm."