
"Lorenza." Teriakan sang suami, membuat lamunan Lorenza membuyar, di saat langkah kaki ia langkahkan menuju mobil.
"Tunggu." Lorenza mulai menatap ke arah lelaki yang menjadi suaminya itu, terlihat ia terengah engah karena berlari untuk menghampirinya.
"Papih, ada apa? Tumben sekali manggil nama?" tanya Lorenza tak senang dengan sebutan nama dari mulut suaminya.
Perwira berusaha mengatur napas agar setabil. " Mami, dari tadi itu papih manggil manggil mommy, tapi mommy malah diam saja. Melamun terus. "
"Hem, siapa yang melamun. Nggak juga, perasaan Papih saja. "
Perwira memegang dadanya yang berdetak begitu cepat, membuat ia menarik tangan istrinya untuk duduk di kursi yang berada di samping mereka.
"Papih."
"Mommy, duduk."
Lelaki tua itu menatap ke arah sang istri, ia mengerutkan dahinya, lalu berucap, " apa ada yang mommy pikirkan, coba cerita pada papih, takutnya papih bikin salah atau nyakitin hati mami dengan perkataan papih. "
" Semua terasa melau, membuat aku tak bisa menahan air mata. Apa sebentar lagi ajal menjemputku dan aku akan melihat suamiku tak ada lagi disampingku. " Gumam hati Lorenza.
Perwira merasa heran, ia kini memegang dagu istrinya, " kenapa. Kok kaya mau nangis gitu?"
Lorenza menyingkirkan tangan suaminya, ia berusaha tersenyum di saat hatinya benar benar bersedih. " Ayo Lorenza kuatkan hatimu, jangan kamu bersedih dan menangis di hadapan Perwira yang nantinya malah membuat ia curiga." Lorenza terus membisikan hatinya agar tetap kuat, menerima resiko yang akan terjadi dengan keputusannya sebagai seorang pendonor.
Perwira sudah menduga jika istrinya menahan air mata, ia memegang pipi Lorenza perlahan, menatap sayu ke arah istrinya. " Ayo ceritalah, apa yang sedang kamu pikirkan saat ini istriku?"
Lorenza memegang tangan Perwira, merasakan kepedulian dari hati suaminya." kamu ini terlalu berpikir aneh aneh, tentang diriku, aku tidak kenapa kenapa kok. "
"Lorenza kita menikah sudah lama dan tak mungkin aku tak tahu di saat kamu sedang sedih atau bahagia. "
Lorenza tiba tiba saja meminta izin pada sang suami. " Bolehkan aku memeluk tubuhmu, papih."
Perwira melebarkan tangannya, menyiapkan dada bidang untuk merasakan pelukan dari sang istri. " Dengan senang hati, ayo peluk. "
"Perasaan macam apa yang ada pada hatiku saat ini, rasanya nyaman. Tak ingin meninggalkan keyamanan ini, ingin selalu seperti ini. "
Gumam hati Lorenza, berusaha tersenyum dan mengikhlaskan semuanya.
__ADS_1
Perwira merasakan kehangatan yang sudah lama ia rindukan, mendekap tubuh sang istri, tersenyum penuh bahagia. " Rasanya benar benar hangat, kita akan seperti ini," ucap Perwira.
Lorenza tak tahu harus menjawab bagaimana, karena bagi dirinya, ini adalah sebuah pelukan terakhir.
Ia ingin lebih lama merasakan pelukan dari suaminya, menutup mata dan berkata. " Jika pelukan ini yang terakhir kalinya, bagaimana?"
Perwira tertawa terbahak bahak, mendengar ucapan Lorenza, ia menganggap sebuah lelucon.
"Tidak ada pelukan terakhir, kita akan mati bersama sama. Ingat itu. "
Lorenza mengeratkan pelukannya, perkataan Perwira yang malah membuatnya dirinya tiba tiba menangis terisak isak. " Lorenza, apa aku salah mengatakan hal itu?"
Lorenza tetap memeluk suaminya, ia tak ingin lepas dari tubuh Perwira. " Tidak, perkataan papi membuat mami terharu. "
"Lorenza, kamu ini ada ada aja, ini tuh bukan cerita sedihnya, kaya novel novel. "
Kedua pipi Lorenza memerah dengan sindiran dari mulut suaminya. " Apa sih, kamu kalau di ajak serius pasti bawanya bercanda. "
Perwira malah tertawa, ia tak tahu jika sang istri sudah menjadi pedonor untuk anaknya.
" Kamu melow kaya gini, kaya orang yang mau pergi jauh aja. "
Membulatkan kedua mata, Perwira mempelihatkan wajah terkejutnya." Wah, yang benar. "
Tiba tiba saja perkataan Perwira membuat Lorenza tertawa tebahak bahak, melepaskan kesedihan yang ia rasakan.
Walau sebenarnya hatinya begitu sakit, karena ia akan meninggalkan hidup yang penuh kebahagiaan dari orang orang yang ia sayangi.
"Kamu ini suka bercanda ya. Kalau kamu pergi jauh, aku sebagai suami kamu yang terdepan akan ikut serta," ucap Perwira dengan penuh semangat yang mengebu gebu. " Kamu ini ada ada saja. "
"Mm, kamu nggak percaya, benar loh sayang. Aku ini akan selalu ada di samping kamu. "
"Mm, modus. Laki laki. "
Kesedihan kini menjadi sebuah tawa untuk keduanya, dimana mereka begitu menikmati momen yang sudah lama mereka tak merasakanya.
"Oh ya mami, siapa yang jaga Edwin sekarang?" tanya Perwira, membuat Lorenza kini mejawab," Natasha, baru saja Natasha datang dan sekarang dia ada di ruangan suaminya. "
__ADS_1
"Gimana, kalau kita kesana?"
"Boleh juga, ayo!"
Perwira belum menjenguk Edwin anaknya sama sekali, karena kesibukan di kantor membuat ia tak sempat datang lagi ke rumah sakit.
Di saat berjalan beriringan, Perwira kini bertanya pada istrinya. " Jadi gimana, apa ada orang yang mau jadi pendonor untuk anak kita. "
Lorenza menjawab, " ada. "
Perwira tampak senang dengan jawaban istrinya, ia tak menyangka jika ada orang baik yang mau jadi pedonor untuk anaknya.
"Papih benar benar tak menyangka, secepat itu Edwin mendapatkan pedonor. "
"Iya, mami juga nggak nyangka. "
Terlihat Lorenza menyembunyikan, pakta yang sebenarnya, ia sengaja melakukan semua itu demi kebaikan Edwin.
"Loh, itukan Natasha, kenapa dia duduk sendirian, kata mami dia ada di ruangan Edwin. "
Perwira kini menunjuk ke arah Natasha yang tengah duduk sembari menundukkan wajah, Lorenza yang melihat hal itu sangatlah penasaran, mereka berdua kini berjalan dengan begitu cepat untuk segera menghampiri Natasha yang duduk sendirian.
keduanya mendekat ke arah sang menantu, wanita tua itu kini memegang pundak menantunya dan bertanya, " Natasha Kenapa kamu ada di sini?"
Natasha terkejut dengan kehadiran sang mertua, ia berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan mengusap air mata.
"Mommy, Daddy. "
" Apa Edwin baik-baik saja?" karena melihat Natasha yang berada di luar ruangan sendirian membuat keduanya kuatir dengan keadaan Edwin.
" kebetulan Edwin tidak ingin diganggu terlebih dahulu, dia ingin menyendiri," balas Natasha pada kedua mertuanya.
Lorenza merasa Curiga dengan perkataan menantunya yang tak biasa, yang merasa jika admin marah karena dirinya yang akan menjadi seorang pendonor.
Perlahan Lorenza kini mendekat, duduk di samping menantunya dan bertanya," apa Edwin melukai hati kamu Natasha?"
Natasha berusaha menyembunyikan. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, dia menjalankan kepala lalu menjawab, " Edwin tidak pernah melukai hati Natasha, ia hanya ingin menenangkan dirinya sendiri. "
__ADS_1
Lorenza menatap ke arah suaminya, iya tak yakin dengan perkataan sang menantu, " Bagaimana kalau kita masuk lagi ke dalam ruangan Edwin?"
Natasha malah melirik ke arah wajah Lorenza dan juga Perwira, ia berusaha menolak ajakan kedua mertuanya.