Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
120


__ADS_3

Saat keluar dari rumah, Edwin malah terpikirkan akan keadaan Natasha.


"Dad, kayanya nggak jadi deh pergi ke cafenya. Besok lagi aja. "


Perwira menarik tangan anaknya untuk masuk ke dalam mobil, " heh, sudah jangan pikirkan istrimu, sekarang pikirkan mental dan keinginan yang belum terpenuhi. "


Edwin terlihat kebingungan sendiri, ia duduk di kursi mobil dengan perasaan bimbang dang gelisah.


"Edwin."


Perwira menatap pada kaca mobil, " iya Dad, kenapa?"


"Kamu kok jadi gugup gitu, ayolah santai saja!"


Edwin terlihat tak tenang, lari dari masalah dan menenangkan diri bukan cara pergi bersenang senang, tapi menyadari diri untuk menjadi suami yang lebih baik lagi.


"Edwin, masih memikirkan istrimu?"


"Ahk, iya. Dad!"


Menggelengkan kepala, Perwira tak menduga jika anaknya begitu sayang terhadap istrinya.


Perwira kini melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, " kemana kita, Dad?"


"Sudah kamu diam saja, kita pergi hiling hiling. "


"Hiling apaan?"


"Hiling itu jalan jalan!"


"Ohh."


Perwira sengaja mengajak anaknya untuk pergi ke suatu tempat, dimana Edwin menatap jalanan, " kita kemana Dad. "


"Sudah diam saja. "


Perwira mulai memarkirkan mobilnya, ia melihat Edwin kebingungan. " Ayo turun. "


"Iya."


Mereka kini turun bersamaan, melihat tempat penuh bunga dan juga perhiasan.


"Kita ngapain ke sini?"


Perwira memukul jidatnya, " Edwin, memangnya kamu tidak pernah membawa istrimu jalan jalan?"


Edwin menggelengkan kepala, jangankan jalan jalan, makan keluarpun tak pernah yang ada Edwin selalu dibawa ke tempat rock in roll milik sahabatnya.


"Dad, Natasha itu beda. "


"Beda gimana?"


"Natasha tidak seperti cewek lain, ia tak suka berlian atau bunga!"


"Lah, terus ia suka apa?"


Edwin mulai mendekatkan bibirnya pada telinga sang ayah.


"Heh. Ngapain kamu. "


Menghindar dari hadapan Edwin, Perwira mengira jika anaknya akan m*ncium pipinya.


Namun ternyata ia salah menduga, " idih, Edwin masih normal Dad. Masa ia laki sama laki. "


"Sudah katakan, apa kesukaan istri kamu. "


"Dia suka .... "


"Hah, lama. "


Perwira menarik tangan anaknya masuk ke dalam toko perhiasan. " Dad, sudah Edwin bilang. "


Perwira menutup mulut anaknya agar tidak bersuara. " Dad. Mm. Mm. "


Perwira kini memesan sebuah kalung emas bermotip tegkorak.


"Saya pesan kalung, gantelnya tengkorak ada tidak?"

__ADS_1


"Ada pak. "


"Ya sudah ambilkan sekarang. "


Pelayan toko itu kini mempelihatkan kalung mas yang dipesan oleh Perwira, dimana Edwin terkejut dan berkata, " kalung tengkorak. "


Edwin perlahan memegang kalung itu, ia tersenyum lebar dan berkata, " kayanya Natasha bakal suka. "


"Jadi gimana? Beli nggak?"


"Beli dong, oh ya. Ada gelang sama cincinnya!"


"Ada pak. "


Pelayan itu kini mengambil satu set perhiasan, Edwin melihat kalung itu terasa senang dan bahagia.


"Luar biasa. "


"Gimana?"


"Bagus Dad, Edwin nggak nyangka jika Daddy bisa menebak. "


"Tentu dong, kenapa nggak bisa!"


"Sudah bungkus ini. "


Lelaki tua itu kini memilih milih satu set perhiasan untuk Lorenza sang istri tercinta, ia tak sabar dengan senyum bahagia saat Perwira memberikan satu set perhiasan.


"Kamu lihat ini Edwin, kira kira ibu kamu bakal suka tidak?"


Edwin berpikir sejenak, ia berkata, " bagus. "


"Baiklah kalau menurut kamu bagus, Daddy akan beli ini buat mommy kamu. "


Edwin menahan tawa dan kini berbisik, " sepertinya demi apem basah, Daddy rela membelikan mommy apa saja. "


Menyenggol bahu Edwin yang begitu dekat, Perwira kini membalas, " sudah jangan munafik kamu Edwin, sama saja. "


Selesai berbelaja perhiasan, waktunya Perwira mengajak Edwin pergi ke suatu tempat, " kemana lagi?"


"Ya elah Dad, segitunya. Memangnya Edwin anak kecil. "


Di setiap langkah kaki, mereka saling berdebat satu sama lain, keduanya kini tak akur.


Sampai Perwira sesuatu yang akan ia beli untuk sang istri tercintanya lagi.


"Ayo kita ke sana?"


"Padahal tadi nggak akur, sekarang ngajak ngajak, emang ya punya bapak agak gila, " ucap pelan Edwin. Membuat Perwira yang mendengarnya kini bertanya, " kamu ngomong apa tadi?"


"Edwin tidak ngomong apa apa, hanya perasaan Daddy saja. "


Masuk ke toko baju, membuat Edwin merasa risih," beli baju wanita?"


"Iya, kamu belikan istri kamu sekarang, agar dia mau memberikan ampem basah yang sudah kering itu. "


Edwin menyungginhkan bibirnya mendengar perkataan sang ayah, " sok tahu. "


Tak banyak waktu, Edwin dan Perwira kini berpecar, dimana Perwira membelikan baju dres seksi untuk Lorenza, ia ingin memberi sebuah surprise Ketika pulang nanti.


"Baju dres ini bagus juga, sepertinya istriku cocok dengan warna merah ini. "


Tanpa berlama lama, Perwira memesan baju yang ia pilih, " bungkus. "


Lelaki tua itu menatap ke arah anaknya yang terlihat kebingungan, " Edwin, Edwin, belanja segitu juga kaya orang linglung."


Setelah selesai membayar, Perwira kini datang mendekat pada anak satu satunya itu.


"Gimana sudah ketemu belum bajunya?"


Pertanyaan Perwira mengagetkan Edwin, " Daddy, bisa pelan tidak saat bicara. "


"Heh, cunguk, dari tadi Daddy, perhatiin kamu itu kaya orang linglung. Nyari baju kesusahan gitu. "


Mendengar ocehan dari sang ayah, membuat Edwin tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya, " hehe. Kebetulan sekali, mungpung Daddy ada di sini. Pilihin lah. "


Perwira menunjuk dirinya sendiri, " Daddy lagi, kamu suaminya, selalu nyuruh Daddy pilihin. Aneh. "

__ADS_1


"Ayolah Dad, Edwin tak paham masalah Fasion seorang wanita."


"Aduhh, kamu ini jadi laki gimana sih,"


Edwin hanya tertawa pelan, ia berdiri tegap melihat sang ayah tengah memilih milih baju untuk menantunya.


Setelah melihat baju yang dirasa bagus, pada akhirnya Perwira mengambil satu baju seksi.


"Kamu lihat ini, bagus dan seksi. "


"Hah, aku tak nyakin jika istriku akan menyukainya. "


"Masih tak yakin, kamu memangnya nggak mau lihat istrimu seksi dan menggoda. "


Edwin membayangkan apa yang dikatakan sang ayah. " benar juga. "


"Jadi gimana, mau nggak yang ini. "


Dengan begitu semangat pada akhirnya, Edwin menganggukan kepala membeli baju yang dipilih oleh sang ayah.


Saat menyodorkan baju pada kasir, Edwin melihat baju yang lebih seksi, ia membayangkan begitu cantiknya dan indahnya tubuh sang istri setelah memakai baju yang ia lihat pada pajangan manikin. "


"Edwin."


Panggilan dari Perwira tak dijawab sama sekali oleh Edwin, ia fokus berjalan mengambil baju untuk istrinya.


"Edwin, apa lagi?"


"Nih, kaya nya istriku bagus pakai baju ini!"


"Ya."


Perwira mengusap dagunya membuat Edwin berkata, " Daddy, jangan berani membayangkan Natasha ya. "


Perwira menatap tajam ke arah anaknya, " heh, Daddy ini masih waras mana ada Daddy mebayangkan istrimu. Natasha kan dadanya kecil nggak kaya ibu kamu semok. "


"Hah, sok tahu. Kecilpun kenyal, dari pada mommy udah peot. "


"Berani kamu menghina mommy kamu sendiri. "


"Daddy, yang duluan. Kadang aneh ya. Bisa bisanya nyalahin orang lain yang jelas jelas Daddy sendiri yang mulai. "


"Mm."


Perwira terlihat malu dengan ucapan yang dilayangkan anaknya. Kedua pipinya memerah.


" kenapa kedua pipi Daddy merah kaya begitu?"


"Sudah, cepat pilih bajunya, Kita pergi ke toko lain, untuk membeli dalaman."


"Ya sebentar. "


Perwira benar benar mengajak anaknya untuk berbelanja, " sudahlah pah, Edwin sudah cape. "


"Edwin, ini demi mempertahankan kue apem basah, jadi ayo."


"Dad, nggak harus gini juga. "


"Kamu nggak paham ya, mood wanita itu selalu berubah ubah jadi ayo senangi mereka. "


"Hah."


Edwin merasa kelelahan, tak biasanya ia berjalan. Sampai mengeluarkan keringat begitu banyak.


"Ayo, jalanmu lama sekali. Kaya siput. "


"Lama, bagaimananya ini sudah cepat. "


Edwin menggerut kesal dalam hati, " bisa bisanya punya bapak repong kaya emak emak. Mimpi apa semalam. Hah. "


Edwin berusaha sabar menghadapi semua yang ada di depan matanya, ia terus berjalan mengitu langkah kaki sang ayah yang begitu cepat saat berjalan.


Sampai Edwin harus berlari mengejar lelaki tua itu, " jalan begitu cepat, hah. Memang harus menderita dulu ya, hanya ingin menikmati kue apem. "


"Edwin ayo. "


Teriakan sang ayah, membuat Edwin mendengus kesal. " dasar kakek kakek tua. "

__ADS_1


__ADS_2