Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 11


__ADS_3

Ketukan pintu terdengar dari pintu kamar Natasha.


Tok .... Tok ....


Beberapakali, membuat Sarah beranjak bangkit dari tempat duduknya, untuk segera membuka pintu kamar.


Ternyata orang yang mengetuk pintu adalah Edwin, terlihat baju lelaki itu basah karena terkena susu yang tumpah di atas lantai.


"Kamu, ada apa?"


"Maaf tante sebelumnya, jangan marahin Natasha, dia tak salah apa apa, tadi Edwin tak sengaja menabrak Natasha saat mau pergi ke dapur!"


Sarah terdiam mendengar penjelasan dari Edwin. " Kami tidak melakukan hal yang belum di sahkan sebelum menikah, jadi tante jangan khuatir dan sampai memarahi Natasha lagi, dia tidak salah.


Sarah semakin bersimpati pada perkataan Edwin, dimana lelaki itu terdengar gagah, dalam membela Natasha.


"Tante."


"Iya Edwin. "


"Apa tante mau memaafkan saya?"


Pertanyaan Edwin terdengar begitu manis, pastinya Sarah tidak akan menyia nyiakan lelaki yang selalu membela anaknya, dalam masalah apapun.


"Tante?"


Edwin menunggu jawaban dari ibunda Natasha. " Mm, ya sudah kali ini saya maafkan kamu, anggap saja tadi kejadian tak sengaja. "


Natasha yang mendengar sang mama berbicara dengan Edwin begitu lembut, membuat darahnya seketika naik ke atas ubun ubun.


"Menyebalkan sekali, bisa bisanya mama tidak marah terhadap Edwin. Sedangkan kepadaku mama selalu tak percaya dan terkadang membentakku. "


"Hanya itu saja kan. "


Edwin menganggukkan kepala dimana Sarah mulai menutup kembali pintu kamarnya, namun tertahan oleh Edwin.


"Tante tunggu dulu. "


Sarah yang mendengar Edwin berucap, ia kini membuka kembali pintu kamarnya. " Ada apa lagi?"


"Tante, apa tante tidak lihat baju saya sekarang ini. Basah dan lengket, kalau saya tidur dalam keadaan seperti ini kemungkinan semut akan memakan saya!"


Sarah menatap ke arah Edwin, dari ujung kaki hingga ujung kepala, terlihat baju Edwin basah dan terlihat lengket.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan pinjamkan kamu baju Natasha. "


Mendengar hal itu, tentunya membuat Edwin terkejut, bisa bisanya Sarah meminjamkan baju Natasha. Yang jelas baju wanita.


"Natasha, Daniel pinjam baju kamu katanya. "


"Apa, mama gila ya."


"Loh, mama masih waras lah, masa kamu bilang mama gila. "


"Bukannya baju Tasha sudah mama ganti dengan baju permatur. "


"Peminim sayang, bukan permatur. "


"Iya itu lah. Pokoknya. "


"Ya sudah, kamu cepat mandi ganti bajumu yang serba pink itu dengan baju yang mama siapakan di lemari kamu. "


Sarah keluar dari kamarnya, dimana Natasha menghentag kakinya ke atas lantai, " Sialan mamaku ini, mau ya apa sih. Baju diganti serba pink, sekarang alat make- up untuk manggung malah diganti dengan alat make-up serba warna pink. Ahkkk, setres aku lama lama kalau begini jadinya. "


Sarah mulai mengambil baju Natasha yang berniat ia buang begitupun dengan ****** ***** yang tak mecing bangi wanita, dimana Natasha selalu memakai celana berwarna hitam. Tanpa ada kesan bagus bagusnya saat dipakai seorang wanita.


Karena Sarah biasanya memakai ****** ***** bermotip bunga dan kadang bolong tengahnya jadi sewaktu waktu, kalau kebelet pipis tingal cuur. Tidak usah susah payah dibuka.


Sarah langsung saja masuk, ia tak menyadari jika Edwin baru saja keluar dari kamar mandi. Terlihat badan yang selalu dihina anaknya itu begitu mempesona, mempelihatkan lengan yang berotot dada bidang berbentuk kotak dan sedikit menonjol membuat Sarah terpesona.


Wanita itu menggigit telunjuk tangannya, tak kuat menahan godaan badan kekar Edwin.


Mengibas ngibaskan rambut basah, dengan kasarnya mengeringkan rambut itu, " Astaga. Tante ada disini. "


"Edwin, kamu terkejut ya karena ada tante disini tiba tiba. " ucap Sarah sedikit terlihat genit didepan Edwin.


"Ehh," Edwin mempelihatkan senyum tipisnya, sedangkan Sarah, melihat air mengalir pada dada bidang Edwin membuat ia sesekali menelan air ludah.


"Tente." Panggilan Edwin membuyarkan lamunan Sarah.


"Ahk, iya kenapa?"


Tanya Sarah berusaha tetap waras dan menjaga harga dirinya sebagai seorang janda.


"Tolong sadarkan hambamu ini yang tamak dan serakah, jangan sampai tergoda akan calon menantu hamba. Amin. " Sarah berdoa dalam hati, berulang kali mengucap istigfar berulang kali, karena tak sanggup melihat pemandangan yang menggugah hasrat jiwa yang terus bergelora.


Sarah menyodorkan baju kepada Edwin, "Kamu pake baju ini dulu sementara, ini model baju laki laki yang selalu Natasha pakai. Tante pergi dulu ya. "

__ADS_1


Memberikan pada tangan Edwin, Sarah langsung pergi begitu saja, sedangkan saat Edwin melihat ****** ***** bermotif tali berwarna hitam membuat ia memanggil ibunda Natasha.


"Tante tunggu. "


Sarah pergi begitu cepat, membuat Edwin tak sempat mengejar mama muda itu, meletakan di atas kasur. Edwin kini mengambil ****** ***** itu, lalu melebarkannya. " Ini cacuet. Masa ia laki laki pake beginian. Ahk tidak tidak, ukurannya pun sangat kecil. "


Edwin mulai memandangi bawah pusarnya, ia melemparkan ****** ***** itu, sampai mendarat pada wajah Natasha yang baru saja masuk.


Natasha, mengambil calana dalam yang berada pada wajahnya, sampai ia membulatkan kedua matanya. " Ini kan. "


"Heh, Edwin. "


Edwin masih dalam balutan handuk, Natasha yang kesal kini menarik handuk itu. Dan terjadilah, Edwin dengan sigap menarik Natasha pada pelukkanya, dimana lelaki itu kini membekam mulut Natasha.


"Mm." Natasha berusaha memberontak, namun Edwin menggerahkan seluruh tenanganya. Agar Natasha tidak berteriak. " Diam, heh. Kamu mau nanti mama kamu salah sangka lagi tentang kita. "


Natasha baru menyadari hal itu, pada akhirnya ia menurut. " Diam jangan berteriak, aku bukan lelaki b*j*ngan yang ada dipikiranmu itu."


Akhirnya Natasha menganggukkan kepala, " jangan berteriak. Oke. "


Menganggukkan kepala lagi, pada akhirnya Edwin perlahan melepaskan tangannya yang sengaja ia tempelkan pada mulut Natasha.


"Jangan berteriak. "


Perlahan Natasha mulai membalikkan badannya, bergidik ngeri melihat sesuatu yang menggantung.


"Cepat pakai handuk. "


Edwin baru ingat, ia langsung mengambil handuk, menutupi sesuatu yang tak seharusnya ia perlihatkan sebelum menikah.


"Siapa suruh kamu menarik handukku, jadi kamu lihat semuanya kan?"


"Iih, " Natasha terus bergidig ngeri, terlihat bulu punduknya berdiri. Membuat Edwin tersenyum tipis. " Kamu sudah melihat benda pusakaku, jadi giliran aku melihatnya. "


"Hah."


Tentu saja Natasha lari terbirit birit mendengar hal itu, ia segera mungkin pergi ke kamarnya. Tanpa sengaja ia bertabrakan dengan sang ibunda. " Aduhh Natasha, kamu ini kenapa sih, bisa tidak kalau jalan itu lihat lihat. "


"Lah mama, siap suruh jalan jalan di sana."


Sarah berusaha berdiri, begitupun dengan Natasha, mereka berhadapan bersamaan dimana sang mama menatap ****** ***** yang dipegang anaknya. " Tunggu ini kan, mama sudah berikan pada Edwin."


Natasha langsung mengambil kembali ****** ********, lalu berkata, " jadi ini ulah mama, keterlaluan sekali mama. Bisa bisanya mempermalukkan anaknya sendiri. "

__ADS_1


__ADS_2