
Rasa kesal mulai menggebu pada hati Perwira, terlihat lelaki itu tampak frustasi dengan kepergian istri dan juga anaknya. Mengusap kasar wajah dengan tangan kanannya, Perwira kini membantingkan patung kesayangannya sendiri.
"Kenapa bisa, Edwin tahu semua ini. Siapa yang sudah membeberkan kedekatanku dengan Sarah," gerutu Perwira, ia duduk dengan mengacak rambutnya kasar.
Menatap layar ponsel, Perwira berniat untuk menghubungi Sarah. Namun, ia lupa jika masalah ini pasti sedang dihadapi Sarah.
Melempar ponsel ke atas kasur, Perwira berusaha berpikir dengan jerni, " apa yang harus aku lakukan setelah ini. Anak dan istriku pergi. "
Bangkit dari tempat tidur, Perwira mengerutu kesal dirinya sendiri, " bodoh, kamu Perwira, ahk. Sekarang aku harus mengejar Lorenza dan Edwin."
Berlari menyusul anak dan juga istrinya, ia tak mau kehilangan keduanya.
Menaiki mobil, walau tak tahu dimana keberadaan istri dan anaknya sekarang.
"Kemana mereka pergi?" Perwira terlihat begitu kuatir, ia tak mau kehilangan anak dan istrinya.
********
Sedangkan di dalam perjalanan, Lorenza terus menangis ia menatap pada kaca mobil.
Tubuhnya terasa lemah setelah mendengar perkataan Edwin dan Perwira.
"Mommy."
Wanita tua itu perlahan menatap ke arah Edwin dengan kedua mata berkaca kaca, " mommy, sudah jangan bersedih, Edwin selalu ada untuk mommy disini. "
Ucapan Edwin membuat sang mommy, tersenyum. Hati dan pikiran sedikit terobati.
"Mommy, ayolah jangan bersedih seperti itu. Edwin tak mau melihat mommy menangisi lelaki tidak tahu diri itu. "
Lorenza berusaha mengukir senyum pada bibirnya, mengusap kasar air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
Edwin terus memberikan support pada wanita yang sudah melahirkan," coba mommy tarik napas mommy, lalu keluarkan perlahan. "
Lorenza menuruti perkataan Edwin, ia kini menarik napasnya mengeluarkan berulang kali. Masih ada rasa sesak yang mendera pada hatinya, tangisan kini pecah kembali.
"Bagaimana? Apa perasaan mommy tenang sekarang?"
Wanita tua yang sudah basah dengan air mata, kini menganggukkan kepala.
"Terima kasih ya, Edwin. Kamu memang yang terbaik, mommy nggak tahu jika tidak ada kamu, akan seperti apa jadinya. "
"Mommy kenapa malah terima kasih pada Edwin, seharusnya mommy berterima kasih pada diri mommy sendiri, karena mommy yang bisa merubah dan membuat diri momny kuat dan tegar. "
"Tetap saja Edwin, jika tidak ada dukungan dari kamu, mommy mungkin akan terpuruk. "
Wanita tua itu melihat jalanan yang tak pernah ia lalu, dimana Lorenza kini bertanya. " Kita, mau kemana?"
Pertanyaan sang mommy membuat Edwin lupa untuk menjawab, " Edwin lupa mommy, kita akan pergi ke vila. Edwin ingin mommy tenang di vila itu tanpa gangguan orang lain. "
Lorenza hanya bisa menurut dan mendengarkan perkataan anaknya, " Mommy tidak keberatankan?"
Pertanyaan Edwin membuat sang mommy menatap sayu ke arah anaknya. " Apa papah kamu tidak akan tahu keberadaan mommy. "
Edwin tersenyum lebar dan menjawab, " mommy tenang saja, Daddy tidak akan tahu keberadaan mommy. "
"Syukurlah kalau begitu. "
Edwin melihat raut wajah sang mommy yang terlihat Gelisah kini tersenyum kembali, seperti wanita tua itu mendapatkan ketenangan.
Mobil sudah berhenti di tempat tujuan, saatnya Edwin membangunkan sang mommy. Terlihat wanita tua itu terlelap tidur.
"Betapa malangnya nasibmu Mom, sampai Daddy tega bikin mommy sakit hati seperti ini, " Gumam hati Edwin. Ia tak berani membangunkan sang mommy sama sekali, merasa kasihan ia terpaksa menunggu Lorenza bangun di dalam mobil.
Ponsel kini bergetar, menandakan satu pesan datang, Edwin mulai mengecek ponselnya. Melihat siapa orang yang sudah mengirim pesan padanya.
__ADS_1
(Kamu dimana Edwin?)
Ternyata orang yang mengirim pesan itu adalah istrinya , ia terlihat ragu untuk membalas pesan dari Natasha. Karena masih merasakan rasa kesal dengan kelakuan mamanya yang sudah membuat keluarga Edwin hancur.
(Edwin, aku tidak menyangka kamu akan pergi dari rumah selama ini. Sekarang kamu ada dimana?)
Edwin hanya membaca setiap baris kata dari pesan yang dikirim oleh istrinya, jari tangannya seakan berat untuk membalas pesan dari Natasha.
"Apa aku harus membalas pesan dari Natasha?"
Mengacak rambut dengan kasar, ada rasa prustasi melanda hati Edwin saat ini. Tanpa Edwin sadari jika sang mommy sudah terbangun dari tidurnya, wanita tua itu menatap ke arah samping anaknya yang terlihat kebingungan.
Melihat layar ponselnya yang masih menyala, membuat Lorenza mengintip dan melihat pesan menantunya belum dibalas.
"Kenapa kamu tidak membalas pesan dari istrimu?" Pertanyaan sang mommy membuat Edwin terkejut.
"Mommy, bangun!" jawab Edwin terlihat terkejut dengan sang mommy yang tiba tiba saja tersenyum dihadapnya.
Wanita tua itu melebarkan senyumanya dihadapan Edwin, tangan yang terlihat mengkerut kini memegang bahu sang mommy.
"Edwin. Ayo balas pesan istrimu, kasihan dia menghuatirkan keadaanmu, mommy tidak ingin kamu terbebani dan malah membenci istrimu sendiri karena kejadian perselingkuhan antara mama mertuamu dan juga papih." ucap Sang Mommy menasehati anak satu satunya itu.
Edwin menarik napas, mengeluarkan secara perlahan. " Edwin, ayo balas, kasihan Natasha pasti menunggu kabar dari kamu. "
Edwin hanya menganggukkan kepala, jari tangannya mulai mengetik pesan untuk sang istri.
"Baiklah demi mommy, Edwin akan lakukan apa saja!"
Lorenza mengerutkan dahinya, mendengar perkataan anak satu satunya menjawab perkataan yang membuat Lorenza tak suka.
Memegang bahu Edwin mengusap dengan lembut, " Edwin, jangan libatkan mommy pada rumah tanggamu itu. Karena mommy hanya ibu kamu, sebagai seorang kepala rumah tangga kamu harus punya prinsip sendiri. "
Edwin mengerutkan dahinya, mendengar perkataan Sang Mommy, dimana wanita tua itu tak pernah menghilangkan senyuman lebar dihadapan anak satu satunya.
"Mommy, Edwin sayang mommy. "
"Kalau kamu memang sayang pada Mommy, kamu juga harus menyayangi Natasha istri kamu juga, dia adalah wanita yang sudah menerima kamu apa adanya, siap melayani kamu. Sepenuh jiwa. "
"Ahk, iya mommy. "
Edwin mendelik kesal, perkataan sang mommy bagi dirinya berbanding balik, karena sifat Natasha tidak sama dengan ucapan yang dikatakan sang mommy.
"Sebaiknya kita istirahat di vila saja mom, aku ingin mommy melupakan rasa sakit yang sudah ditorehkan oleh Daddy. "
"Kamu memang terbaik Edwin, terima kasih karena sudah mengerti mommy. "
Edwin menganggukkan kepala, dimana ia membukakan pintu mobil, membantu sang mommy yang terlihat lesu untuk berjalan.
"Mommy hati hati ya, Edwin nggak mau kalau sampai mommy jatuh. "
"Kamu ini ada ada aja, memangnya mommy ini anak kecil. "
Melangkahkan kaki menuju vila, Edwin di kejutkan dengan Wina, wanita yang dulu dijodohkan oleh kedua orang tuanya.
"Hai Edwin, apa kabar. "
Lorenza tersenyum ramah, ia menyapa Wina, " Baik, kabar kamu gimana Nak Wina?"
Wina mempelihatkan senyumannya, " ahk, tante. Ternyata masih ingat dengan Wina! Hehe, Wina kira sudah lupa. "
Gadis itu mempelihatkan senyumannya yang lebar, ia kini membantu Edwin.
"Biar Wina antar ke kamar tante. "
Wina yang terlihat perhatian, membuat Edwin merasa heran. Ia baru tahu jika wanita yang pernah dijodohkannya sekarang bekerja di vila
__ADS_1
Edwin.
Merangkul bahu Wina, Lorenza berusaha berjalan dengan perlahan, terlihat Wina begitu perhatian dan penuh dengan rasa keibuan dalam membantu Lorenza berjalan.
"Ini minumnya, tuan. "
"Oke, terima kasih. "
Baru saja pelayan di vila itu pergi dari hadapan Edwin memanggil pelayan vila.
"Hey, tunggu. "
Pelayan itu terburu buru mendekat kearah Edwin, ia kini mejawab. " Ada apa, tuan?"
"Saya ingin tanya pada kamu, sejak kapan wanita bernama Wina itu bekerja di vila ini?"
Mendengar pertanyaan Edwin, membuat pelayan itu teringat akan pesan dan acaman Wina, dengan terpaksa ia berbohong dihadapan Edwin. " Sudah ada tiga bulanan tuan. "
Tiga bulan adalah waktu yang cukup lumayan lama, Edwin mengira jika Wina masih baru bekerja di vilanya. Ia takut jika Wina mencari kesempatan dalam kesempitan dengan berpura pura bekerja di Vila Edwin.
"Owh, ya sudah kamu kembali lagi bekerja. "
"Ahk, iya tuan. "
********
Setelah sampai di dalam kamar, Lorenza menatap gadis manis yang ditolak Edwin mentah mentah. Gadis itu masih mempelihatkan aura cantiknya, membuat Lorenza senang jika bertemu dengan Wina.
"Wina, apa kamu sudah menikah?"
Pertanyaan Lorenza membuat raut wajah Wina berubah.
"Wina, wajah kamu kok muram begitu, apa tante salah bertanya sama kamu?"
Wina menggelengkan kepala, seperti sengaja mempelihatkan kesedihannya.
"Tante tidak salah kok, Winanya saja yang terlalu cengeng, jadi kalau ada yang tanya pasti selalu sedih. "
Lorenza menyuruh Wina untuk duduk di sampingnya, " sini Win, kamu duduk dekat tante, sudah lama kita tidak bercerita. "
"Tidak tante, Wina tidak pantas duduk di samping Tante, karena Wina hanya seorang pelayan di vila ini. "
Lorenza tersenyum lebar, " memang kenapa? Kita kan sama saja dimata sang kuasa. Sama sama manusia. Ayo duduk dekat tante. "
Karena Lorenza terus memaksa, pada akhirnya Wina duduk disamping kiri Lorenza.
"Wina, maafkan tante ya dulu. Sudah menjodohkan kamu dengan Edwin, dimana pada akhirnya Edwin malah menikah dengan wanita lain."
Wina berusaha mempelihatkan senyuman lebarnya, " sudahlah tante, tak usah minta maaf. Mungkin Wina dan Edwin belum jodoh ya."
"Kamu memang anak baik Wina. "
Lorenza menunjukkan senyumannya di depan Wina, terlihat jika Lorenza begitu menyayangi Wina seperti anaknya sendiri.
Edwin berniat menghampiri sang mommy, ia ingin membicarakan urusan yang sangat penting.
Baru saja membuka pintu kamar Lorenza, Edwin melihat wanita tua itu memeluk Wina, terlihat jika Lorenza begitu menyayangi Wina.
Sampai pintu kamar terpaksa Edwin tutup kembali. Ia tak ingin mengganggu kenyamana sang mommy dan juga Wina.
"Aku tak menyangka jika ada Wina, keadaan mommy terlihat membaik, walau ini masih perasaanku saja. Karena aku lihat dari wajah mommy ada rasa bahagia dan senang ketika dekat dengan wanita yang ia tolak dulu.
Karena Edwin tak suka dengan sikap manja Wina dan juga dari segi bicaranya, Wina seperti anak kecil yang baru saja belajar berbicara, dan ingin terlihat imut dihadapan orang lain yang melihatnya.
Ceklek, lamunan Edwin membuyar saat Wina tiba tiba saja keluar dari kamar sang ibunda.
__ADS_1