
Rudi berjalan dengan pelan bersama Putri, perlahan kedua mata menatap ke arah keponakannya itu.
"Kenapa kamu melakukan semua ini, Putri?"
Putri menghentikan langkah kakinya, menatap ke arah Rudi, ia melipatkan kedua tangan. Lalu berkata, " mm, jelas Putri melakukan semua ini, karena Putri sayang sama om, bisa bisanya istri om itu tega menghianati om. "
Rudi menundukkan pandangan, ia merogoh saku celananya dengan berkata, " kamu tak usah marah seperti itu, om kan sudah tua. "
Putri kini berkacak pinggang, menatap tajam ke arah Rudi, " karena Om sudah tua, jadi pasrah begitu saja? Hah?"
"Bukan seperti itu!" jawab Rudi yang terlihat begitu lemah.
"Lalu, " tekan Putri merasa kesal dengan Rudi. Wanita yang baru saja pulang dari luar negri itu tak suka dengan kelemahan sang paman yang mengandalkan kepasrahan saja.
"Ya sudah begitu saja, " ucap Rudi pergi dari hadapan keponakannya. Langkah lelaki tua itu begitu cepat, dimana Putri berusaha mengejar sang paman.
"Paman, tunggu, " teriak Putri. Wanita berumur delapan belas tahun itu, merasa kelelahan, napasnya terengah engah.
"Sialan, bisa bisanya paman meninggalkanku begitu saja, " keluh Putri di dalam hati.
Rudi menatap sekilas ke arah keponakannya itu, dia tersenyum lebar dan berkata, " Putri, kamu ini tak jauh berbeda seperti dulu. "
"Paman."
Rudi malah semakin sengaja mengerjai keponakannya dengan berlari menjauh dari hadapan Putri.
"Kenapa semakin jauh, ahk. Kurang ajar lelaki tua ini. " Gerutu Putri, menghentagkan kaki mengejar kembali sang paman yang malah berlari.
*******
Perwira berusaha menenangkan Sarah, mengusap pelan bahunya, dimana Sarah kini menyenderkan kepala.
"Apa yang kamu rasakan saat ini, pastinya sakit. "
Sarah masih saja menangis, hatinya tak karuan, langkah kaki seakan berat mengejar sang suami.
"Kenapa Rudi tega kepadaku, dia lebih memilih gadis abg itu dari pada istrinya ini. "
"Kamu yang tenang ya, Rudi pasti sadar dengan kelakuannya itu. "
"Ya aku tahu itu, tapi tak sepantasnya dia berselingkuh. "
Perwira terlihat bersemangat seakan ingin masuk pada ruang hati Sarah yang merasa kecewa dengan perlakuan suaminya.
Sampai nada ponsel terdengar dari kedua telinga Sarah. "Ponselmu berbunyi kenapa kamu tidak mengangkatnya. "
Perwira tersenyum, menatap layar ponselnya berdering, ternyata yang menelepon adalah Lorenza.
"Mm, ternyata Lorenza menelepon. "
__ADS_1
Perwira bukan mengangkat panggilan dari istrinya, yang ada Perwira malah mematikkan ponselnya itu. Di saat posisi seperti ini yang ia pikirkan bukannya sang istri malah wanita lain yang ada di sampingnya.
"Kenapa?"
Perwira tersenyum lebar, ia menjawab, " biarkan saja. "
"Tapi. Dia itu istrimu, lebih peting loh."
"Aku tak peduli, yang aku inginkan adalah kamu. "
"Mm."
Sarah terkejut dengan perkataan Perwira, dimana bibir lelaki yang menjadi ayah Edwin itu mendekat ke arah bibir Sarah.
Sarah masih sadar, ia menghindar dengan mendorong pelan bibir Perwira. " Maaf, aku tidak bisa. "
Menundukkan pandangan Sarah terlihat berpura pura menolak, Perwira tak putus asa, ia mengangkat dagu Sarah, sampai kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Apa yang kamu pikirkan saat ini?"
"Maafkan aku Perwira, kita tidak bisa melakukan hal yang malah membuat kita rugi. "
Tangan kekar Perwira masih memegang dagu Sarah, " Rugi, tidak ada yang rugi. "
Perwira tersenyum kecil dan merayu Sarah, " ayolah, aku pastikan kamu akan merasa tenang. Setelah mendapatkan cinta dariku. "
Perwira kini mencium bibir wanita yang ia inginkan saat itu, tak peduli dengan sang istri yang terus menghubunginya.
Sarah baru saja merasakan hal itu, ia terlihat jauh berbeda, hatinya merasa tenang. Memegang bibir, ia merasa apa yang sudah ia lakukan adalah kesalahan besar. Tapi ia juga merasakan jika hati dan pikirannya merasa tenang.
"Apa yang aku rasakan saat ini seperti obat penenang. " Gumam hati Sarah.
Perwira memegang kedua tangan Sarah dan tersenyum lebar, " bagaimana perasaan kamu sekarang, legah bukan?"
Sarah berusaha membuang egonya, ia menganggukkan kepala, hati dan pikirannya sedikit tenang.
Perwira malah melakukan hal itu berulang kali pada Sarah, membuat Sarah hanya pasrah.
Sedangkan Lorenza yang berada di rumah tampak panik, perasaanya tak karuan, ia seperti merasakan sesuatu yang tak beres dalam hatinya.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tak ada tanda kepulangan Perwira saat ini juga.
"Kemana dia, kenapa jam segini. Belum pulang juga, aku benar benar kuatir dengan ke adaanya. Mudah mudahan saja dia tidak kenapa kenapa?"
Lorenza menyimpan ponsel, ia masuk ke dalam kamar, tak sengaja menyenggol poto suaminya yang terpajang di dalam kamar.
Mengambil poto, ada perasaan yang benar benar tak karuan. " Sebenarnya kamu sedang apa Perwira, kenapa perasaan dan feelingku ini terasa tak karuan. "
Manarik napas mengeluarkan secara perlahan, Lorenza kini menyimpan poto ke tempat semula, menatap sekilas poto suaminya.
__ADS_1
Ia mulai beranjak naik pada kasur untuk segera tidur, menarik selimut, mematikkan lampu kamar.
Lorenza berusaha tidur, tapi perasaannya seakan tak karuan.
Bangun dari tidur, menyalakan lampu. Lorenza kini mengusap kasar wajahnya. " Sebenarnya kamu ini sedang apa sih, pah. "
*******
"Hentikan Perwira, ini terlalu berlebihan. "
Di dalam mobil, Sarah terlihat menberontak. Dia tak mau terlalu lelap dalam dosa.
Perwira terlihat tak bisa mengendalikan napsunya, ia perlahan menenangkan Sarah agar mau mengikuti perkataanya.
"Tidak apa apa Sarah, ini semua menyenangkan. "
Mendorong tubuh Perwira, Sarah berusaha sadar, " hentikan. "
Perwira yang mendengar suara teriakan Sarah, terpaksa menghentikan aksinya.
"Oke aku akan berhenti dan tidak akan memaksa kamu. "
Sarah mengusap kasar air matanya yang terus jatuh membasahi pipi, ia keluar dari dalam mobil Perwira.
"Kamu mau kemana?" tanya Perwira, melihat Sarah seperti kesal dengan dirinya.
"Sarah, ayolah. Aku hanya bercanda kenapa kamu pergi begitu saja, " ucap Perwira berusaha menahan Sarah agar tidak pergi dari hadapannya.
"Aku mau pulang, kamu sudah buat aku tak nyaman, " Sarah menendang mobil Perwira, ia terlihat marah besar dengan perlakuan Perwira yang keterlaluan.
"Sarah."
Sarah, kini menghentikan mobil, ia menatap sekilas ke arah mobil Perwira dengan tatapan dinginya. " Sarah. "
Perwira berusaha menahan Sarah agar tidak pergi begitu saja. Namun disayangkan Sarah malah mengabaikan panggilan dari Perwira.
Sarah baru saja duduk di atas kursi mobil Taksi, ia menggerutu kesal pada hatinya sendiri. " Bisa bisanya Perwira mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia kurang ajar sekali. "
"Jalan pak. "
Perwira turun dari dalam mobil, memukul mukul kaca mobil taksi, dengan harapan jika Sarah keluar dan ikut pulang bersamanya.
"Sarah, ayolah turun, biar aku antarkan kamu pulang. Oke. "
Sarah tak mendengar hal itu, ia malah menyuruh sopir taksi untuk segera menjalankan mobilnya.
"Pak, cepat jalan. Malah bengong. "
"Baik bu. "
__ADS_1