Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 45


__ADS_3

" Ya ampun mah. Biarin aja kali mah, toh enak jadi janda bebas. "


Sarah yang mendengar perkataan anaknya kini menggelengkan kepala," kamu ini benar benar gila."


"Hey, mama. Aku ini bakal jadi janda sehat dan waras, bukan jadi janda gila. "


Memukul kepala sendiri, Sarah berusaha menasehati anaknya, " Natasha, mama tidak suka kalau kamu sampai bercerai dengan Edwin. "


"Loh, mama kok gitu, nggak papa dong. Itukan hak masing masing wanita, kok mama yang ngatur. "


Sarah mencoba menjelaskan kepada anaknya," jadi janda itu nggak enak Natasha, itu memalukan sekali untuk keluarga kita."


Natasha menghembuskan napasnya, melipatkan kedua tangan lalu menjawab perkataan sang mama, " Memalukan apa sih mah, mama ini aneh. Hanya karena aku mau jadi janda, selalu membahas rasa malu. "


Sarah hampir putus asa menasehati anaknya, berulang kali ia. Iya terus menegur anaknya untuk tidak bercerai dengan Edwin, " mama tidak mau kamu jadi janda. "


"Mama kok gitu, aku akan tetap jadi janda. Meminta cerai pada Edwin. "


"Tapi, aku sebagai suamimu tidak akan menceraikanmu dan membuat kamu menjadi seorang janda. "


Deg .... Jantung Natasha tiba-tiba saja bergetar, mendengar suara Edwin yang tiba-tiba saja muncul.


keduanya membalikkan badan ke arah belakang, setelah mendengar suara," Edwin, kamu kembali lagi. "


Pertanyaan Natasha membuat Edwin tersenyum lebar, di mana lelaki berbadan kekar itu mengusap kasar kepala rambut istrinya.


"Aw."


Sarah begitu senang saat Edwin datang kembali lagi ke rumah, membuat Sarah langsung menyambut hangat sang menantu.


"Akhirnya kamu kembali lagi Edwin, padahal mama tadi pagi susah payah datang ke rumah kamu. Kata mommy kamu, kamu tidak mau Mama ganggu. "


"Maaf ma, Edwin berusaha menenangkan diri dulu sejenak." balasan Edwin membuat Sarah memaklumi menantunya itu.


Natasha yang mendengar percakapan antara mama dan juga suaminya, membuat ia mengerutkan kedua bibir.


"Kenapa sih. Si jangkrik ini datang lagi, sudah tenang tak ada penganggu. " Gerutu hati Natasha.


Sarah yang melihat keduanya saling terdiam, membuat ia berpamitan untuk pergi," kalian ngobrol saja ya, mama mau pergi dulu ada urusan. "


Natasha berusaha menahan sang mama," mah, tunggu, Natasha ikut. "


Saat Natasha mulai mengikuti langkah kaki sang mama, tiba-tiba saja Edwin menahan tangan istrinya.


"Edwin, lepaskan. "


Edwin malah menarik tangan istrinya, hingga tubuh istrinya itu mendekat pada tubuhnya.


"Ahk, Edwin lepaskan. "


Edwin sengaja mengusap pelan rambut panjang Natsha, menciumnya lalu membisikan sesuatu.


"Aku tidak akan membiarkan kamu jadi janda. "

__ADS_1


Natasha berusaha memberontak, dari cengkraman erat tangan Edwin. " Lepaskan. "


Bukannya melepaskan, Edwin malah sengaja menarik tubuh Natasha untuk segera masuk ke dalam kamar.


"Edwin, lepaskan aku. Kamu ini gila ya. "


Edwin tak mendengarkan teriakan Natasha, ya malah sengaja membuat Natasha lemah.


Melemparkan badan Natasha ke atas kasur, membuat Edwin tersenyum sinis.


Natasha berusaha bangkit, namun tubuhnya tiba tiba terhimpit oleh tubuh Edwin.


"Edwin, menyingkir. "


Edwin malah sengaja, menekan tubuhnya.


"Edwin, pengap. "


"Sekarang juga, kamu harus melayaniku. "


Kedua mata Natasha membulat setelah mendengar perkataan itu, " jangan gila kamu. Menyingkir. "


"Natasha. Sudahlah jangan munafik kamu, pasti kamu mengiginkannya juga kan, " ketus Edwin pada Natasha.


"Sialan, aku tidak mengiginkannya, berhenti memaksaku, " teriak Natasha, terlihat kewalahan saat menghadapi Edwin.


"Kamu selalu menghinaku, mengatakan jika aku ini lemah dan sekarang aku akan buktikan. "


"Kamu meremehkan kekuatanku ya. "


Natasha berusaha berpikir sejenak, mencari cara agar ia bisa menghindar dari hempitan tubuh Edwin.


Sampai di mana, Natasha menendang benda berharga milik suaminya dengan begitu keras.


Brukkk.


Edwin yang tadinya terlihat begitu bersemangat tiba tiba lemah, ia memegag benda berharga itu dengan tangannya sembari meraung kesakitan.


"Ahkk. Natasha. "


Bangkit dari tempat tidur, melihat Edwin kesakitan, Natasha berusaha lari untuk menyingkir.


"Kabuurrr."


Namun Edwin tak tinggal diam, ia menarik lagi tangan sang istri, hingga mereka berpelukan.


"Kamu mau pergi kemana. "


Satu tinjakan, kini mengenai kaki Edwin, Natasha benar benar membuat Edwin lemah.


"Ahkk, sakit. Kurang ajar sekali kamu. "


Tenanga Edwin semakin kuat, ia berusaha menarik lagi Natasha untuk berbaring ke atas kasur.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Edwin berhasil merobek baju yang dikenakan istrinya.


"Edwin, gila kamu, hah. Ini namanya pemaksaan."


Edwin hanya diam, ia kini mendekat dan menghempit kembali tubuh istrinya.


"Ini bukan pemaksaan, tapi ini semua kewajiban untuk kita berdua. "


"Menyingkir. Kewajiban apa maksud kamu, heh, Edwin. "


"Ayolah jangan berpura pura polos, kamu ini sekarang itu istriku, harus siap melayaniku segenap jiwa dan ragamu. "


"Najis lu. Gue nggak mau. "


Kata kata kasar itu keluar kembali dari mulut Natasha, Edwin yang mendengarnya hanya bisa cuek dan bersikap santai. Tak peduli, bagi dirinya ia bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang saumi.


Natasha kembali berniat memukul benda berharga milik Edwin, namun hasil nihil. Semua kacau, Edwin bisa membuat Natasha lemah.


"Sudahlah, jangan sok soan menolak begitu, sudah masuk juga. "


Natasha terkejut, ia tak mengerti apa yang dikatakan Edwin.


"Heh, jangan macam macam ya lu, gue potong tuh pisang lu yang tiba tiba mengeras itu. Singkirkan dari lubang hutan riba gue. "


"Baru juga mocongnya yang masuk, kamu sewot amat. "


"Terserah lu, @j!n& ini sakit tahu tidak. "


"Sekarang aja bilang sakit, sudah masuk semua pasti bilangnya. WAH ENAK TENAN. "


Natasha menyugingkan bibirnya, berusaha menyingkirkan beda keras yang akan merusak mahkotanya.


"Gue nggak sudi, cepat menyingkir."


Dengan sekuat tenang, Natsha berusaha menghindar, hingga saat dimana ia menemukan beda keras dan mulai melayangkannya pada kepala Edwin.


Brukkk


Edwin tak bisa menahan diri, tubuhnya tak seimbang, sampai akhirnya ia terjatuh ke atas lantai.


Natasha berusaha menutup tubuhnya, mengambil selimut. " Rasain lu, emang enak. "


Edwin memegang kepalanya, benda pusaka tiba tiba melemah, membuat Natasha berusaha bangkit. Mendekat dan berkata, " heh lu, gue benar benar jijik dengan lu, gue nggak mau ada lagi pemaksaan kaya begini, bisa bisa gue potong tuh pisang lu itu. "


Natasha berusaha pergi dari hadapan Edwin, dimana lelaki berbadan kekar itu, memukul tembok. " Sialan gagal lagi, ya elah kamu kenapa sih malah lemah. "


Menggerutu kesal pada dirinya sendiri, Edwin bangkit, hingga tiba tiba saja Sarah masuk membuka pintu kamar anaknya tanpa permisi.


"Natasha."


Membulatkan kedua mata, melihat sesuatu mengantung di sana, Edwin berlari menuju kamar mandi. Ia mendorong tubuh istrinya, hingga keduanya berada di kamar mandi berduaan. Sedangkan Sarah berusaha menutup pintu kamar anaknya kembali, ia tersenyum bahagia melihat sesuatu yang begitu besar. " Ahhha. "


Tertawa sendiri.

__ADS_1


__ADS_2