
"Ayo Lorenza, kita tinggalkan para kakek kakek tua ini," ucap Sarah, menarik tangan Lorenza, ia tahu jika Perwira begitu penasaran dengannya. Sampai tatapan matanya terlihat dalam menatap wajah dan tubuhnya.
"Dasar laki laki buaya. "
Mendengar Sarah menggerutu kesal, membuat Lorenza yang berjalan sejajar denganya bertanya." Apa maksud kamu."
Sarah menatap ke arah Lorenza, " aku langsung pada intinya deh. "
"Mm, memangnya kenapa?"
" Kamu ini sudah tahu kan tatapan Perwira ke aku bagaimana!"
"Tatapan apa maksud kamu?" Lorenza masih saja menutupi ketidak peduliannya, padahal jelas jelas, Lorenza tengah terpuruk.
Melipatkan kedua tangan menatap ke arah Lorenza, " ahk, sudahlah. Kamu jangan pura pura lagi, oke. Aku tahu sekarang hati kamu ini meresa tak nyaman dengan perlakuan Perwira, si cocodot tidak tahu diri itu. "
Lorenza akhirnya mengakui, jika dirinya iri melihat kecantikan Sarah yang tak berubah. Sedangkan dirinya berubah sembilan puluh persen dari sebelumnya.
"Ayolah Lorenza, bicara. "
"Memang iya, aku merasakan rasa sakit itu, tapi aku menyadari diriku yang sekarang, kamu tahu menjadi sosok Lorenza sangatlah berat. Perwira akhir akhir ini sering menyalahkan aku atas penampilanku. "
Sarah mencoba melirik Lorenza dari atas sampai ke bawah. "Benar benar perubahan yang begitu terlihat drastis."
"Kamu juga menyadarinya kan?"
"Sebenarnya kenapa, apa si Perwira pelit, atau di tak memetingkan uang perawatan kamu!"
Lorenza menggelengkan kepala lalu berkata, " dia selalu memenuhi kebutuhanku, soal materi, tapi tidak dengan kasih sayang yang sudah lama tak ia tunjukkan kepadaku. "
"Jadi, kamu merasa tidak diperlakukan adil, karena itu, kamu merasa tertekan, " balas Sarah dimana sang sahabat menganggukkan kepala.
Sarah yang merasakan rasa simpati, kini memeluk tubuh Lorenza dengan begitu erat.
"Ahk, sahabatku ini ternyata tidak baik baik saja."
"Baiklah, aku akan mengubah penampilan kamu yang ketuaan ini, oke. Mengubah kulit keringmu jadi terlihat segar. "
"Benarlah masa bohongan. "
"Terima kasih Sarah, kamu memang sahabat terbaikku. "
"Mm, sama sama sayangku Lorenza. "
Keduanya kini berjalan ke arah mobil, mereka sudah bersiap diri untuk tidur, Sarah dan Lorenza saling bercerita, dimana Sarah memberitahu apa yang seharusnya dilakukan seorang wanita agar terlihat percaya diri.
Apalagi masalah yang lebih serius, seperti suami.
*******
Sedangkan di kursi, Rudi terlihat Murka, " bagaimana, kamu ingin jadi seorang lelaki setia, kalau kedua matamu itu, saat melirik istriku sangatlah kacau, ahk. Aku benar benar kecewa dengan kamu Perwira. "
"Aku repleks, karena kecantikan istrimu begitu menggoda. "
Rudi, memukul belakang kepala dan berkata, " heh, itu hanya napsu. Sarah istriku, kamu itu harus sadar. "
"Bagaimana sadar jika godaan Sarah begitu kuat, membuat aku sebagai lelaki tak bisa menahan diri. "
"Kamu benar benar stress."
Perwira menunjuk dirinya sendiri, " hey. Yang stres itu kamu kali, idih bawa bawa aku. "
"Aduhh, Perwira, memang ya kamu itu harus dibawa kepisikolog. "
"Ngapain memang aku sakit jiwa. "
"Bukan sakit jiwa lagi, tapi sudah jadi orang gila. "
"Sialan lu. "
Natasha keluar dari ruangan Edwin, untuk mencari keberadaan Sarah sang mama, " kemana mama sama ibu mertua. "
Namun di saat langkah kaki terus menerus berjalan, Natasha melihat pemandangan yang tak biasa.
Kedua lelaki yang menjadi ayah kandung dan ayah mertua, membuat Natasha malu pada dirinya sendiri. " mereka itu kenapa sih, memalukkan sekali. Pake beranten di rumah sakit segala."
Karena saking kesalnya, Natasha menghentikan keduanya yang terus berdebat.
"Papah, Daddy, stop."
Tak ada yang mendengar perkataan Natasha sama sekali, membuat Natasha melirik ke arah ember penampungan air .
Ia kini mengangkatnya dan menguyurkan pada badan sang papah dan mertuanya.
Bruyyy
__ADS_1
Keduanya kini menatap kearah Natasha dengan keadaan basah kuyup, " Natasha. Kamu ini kenapa?"
Mereka membulatkan kedua mata ke arah Natasha, dimana ia membalas tatapan kedua ayahnya sembari bekacak pinggang. " Apa, kalian mau marah pada Natasha."
Keduanyan mengusap pelan air yang masih berada pada wajah. Tersenyum, lalu, " Ah, nggak kami hanya ingin memberi tahu kamu, kenapa kamu menguyur badan kami berdua."
"Mm, masih tanya kenapa? Kenapa kalian tidak mendengarkan panggilan Natasha, kalian berdua malah sibuk berantem dan saling berdebat. Ayolah, kalian itu sudah tua, sudah dewasa, masalah apa sih yang kalian debatkan di muka umum seperti ini. "
Natasha terlihat bersedih dengan kelakuan keduanya, perasaanya tak karuan, karena melihat Edwin masih terbaring lemah di atas ranjang tempat tidur.
Rudi dan Perwira, kini mendekat untuk segera menenangkan perasaan Natasha, " Maafkan kelakuan kami yang ke kanak kanakan, karena masalah sepele, kami jadi berantem, kami berdua berjanji deh, nggak akan mengulangi kesalahan yang menbuat kamu bersedih."
Natasha menghembuskan napasnya, ia kini menenangkan perasaannya yang kacau, " syukurlah, kalau kalian sekarang sadar. Natasha berharap jika kejadian ini tak akan terulang lagi, karena jujur saja Natasha malu dengan tingkah kalian yang tidak patut di contoh."
Natasha membalikkan badan, ia pergi dari hadapan keduanya, mencari keberadaan sang mama dan mertuanya.
"Natasha." Panggilan Rudi, membuat Natasha membalikkan badan, " ya, kenapa pah. "
"Kamu mencari keberadaan mama kamu kan?" tanya Rudi, dengan raut wajah merasa bersalah dihadapan anaknya.
"Iya, papah tahu keberadaan mama, lantas dimana mereka sekarang!?" balas Natasha, membuat sang papah menunjuk tempat keberadaan istrinya.
"Mama kamu berada di mobil itu. Mereka berdua sedang beristirahat, jika kamu betul betul perlu, kesanalah. "
Natasha menganggukkan kepala, tersenyum dihadapan sang papah yang baru saja ia tegur karena kelakuannyan salah.
"Terima kasih, pah. "
"Iya sayang. "
Natasha mulai berlari menyusul keberadaan Lorenza dan Sarah.
Dimana Perwira mendekat dan berkata," kamu merasa tidak orang orang menatap kita?"
Keduanya mengusap ngusap mata, melihat kesekeliling mereka begitu banyak orang, padahal tadi tidak ada siapa siapa, sampai mereka berani berantem di tempat sunyi.
"Kamu merasa ada yang aneh tidak, setelah kedatangan Natasha yang tiba tiba memarahi kita. "
Rudi melirik ke arah orang orang yang terdiam, perlahan memandangi keduanya.
"Mm, ya aku merasa sekali. Tapi sejak kapan mereka datang dan memandangi kita dengan raut wajah pucat mereka."
"Ahk, aku juga tak tahu, makanya aku berani bertanya pada kamu, wajah mereka sama seperti orang yang sakit tahu tidak. Kamu lihat tidak semua yang ada di sini memandangi kita. "
"Ee, apa kita harus pergi dari sini?"
Rudi kini menatap jam tangan yang menunjukkan jarum jam menunjuk pada angka dua belas, ia membulatkan kedua matanya, terasa horor sekali, sampai sampai tangan dan kakinya bergetar hebat karena manahan rasa takut.
"Sepertinya mereka bukan manusia. "
Perkataan Rudi, membuat orang orang itu tiba tiba berdiri.
Deg, deg. Membuat jantung Rudi tak karuan, napasnya terdengar tersenggal senggal.
" Aduh, kenapa kamu malah mengatakan hal itu?"
"Ah, aku tidak mengatakan hal apapun, hanya mengatakan jika mereka seperti demit!"
Perwira mengusap kasar wajahnya, dan memang ia merasakan hal yang sama, seperti orang orang yang mati dihidupkan kembali, tapi kenapa sampai bisa mempelihatkan wajah.
"Ahk, setan mana ada mempelihatkan wajahnya."
"Lah, terus kenapa mereka pucat dan seperti orang yang sudah mati. "
Sssttt.
Tiba tiba mereka membalikkan badan menatap ke atah suara yang menegangkan.
"Ahkk."
Perwira memukul pipi besannya, " gila kamu teriak, tak ada apapun."
"Namanya orang kalau terkejut seperti itu. Jadi Ekspresinya, mangap dan berteriak.
Bukan ekspresi mangat dan teriaka. Ah, ah. "
"Sialan, emang suara ah, ah. Apa."
"Kamu mau tahu, apa kamu sudah tahu dan berpura pura tak tahu. "
"Mm, tidak ada yang berpura pura, aku memang tak tahu. "
"Ya ampun, terus kamu sama istrimu kalau bergulat ngeluarin suara apa."
"Ya, cuman .... "
__ADS_1
"Cuman suara ngok, ngok. Kaya babi, atau suara ayam kongkorongok. Gitu. ''
" Sembarangan lu kalau ngomong, gue jitak baru tahu rasa. "
"Ya elah jitak aja, emang aku takut. "
Hemm.
Debat mereka membuat suara aneh mencul lagi, mereka berdua menatap ke arah orang orang yang duduk dengan wajah pucat mereka.
"Lah, kemana. Orang orang yang tadi duduk di dekat kita dan di kursi itu Rud, tadi mereka masih ada. Hah, kanyanya rumah sakit ini tidak ada yang beres. "
"Benar, aku juga mendugan hal itu, sebaikanya kita menyusul istri kita masing masing, bagaimana?"
"Ya sudah, aku setuju. "
Krekek, krekak.
Rudi mengibas ngibaskan wajahnya, ia mencium bau amis yang membuat dirinya tak nyaman.
"Bau apa ini?" Mencium pada baju Perwira, Rudi tak menemukan asa bau amis dan perlahan berubah menjadi bau bangkai."
"Kamu ini kenapa, nggak jelas tahu nggak. "
"Kamu emang nggak nyium bau bau aneh gitu. Kaya bau amis atau bau bangkai. "
Sembari mengendus ngendus di depan wajah Rudi, membuat Perwira memukul pelan pipi Rudi.
"Jangan ngawur kamu, aku nggak mencium bau apa apa?" Suasana tampak tegang, Perwira berpura pura tak mencium bau apapun.
Yang sebenarnya ia tak tahan sama sekali, " yang benar kamu nggak cium bau apapun. "
Sampai tiba tiba tangan memegang kedua bahu mereka, " apa kita lari, hah. "
"Aku merasa ada yang tidak beres. "
"Ya, ada tangan yang memegang bahuku."
"Ahk, bahuku juga sama, ada yang megang."
"Huuk huuk. "
Suarw batuk itu mengejutkan mereka berdua, membuat Rudu berlari terbirit birit, sedangkan Perwira malah kecing di celananya.
"Rudi tunggu. "
Rudi baru saja menyadari jika Perwira tidak ikut dengan dirinya berlari, membuat ia merasa kasihan dan kini menyusul.
"Ya elah, si Perwira badan gede malah kagak lari sih. "
Perwira berusaha tetap tenang, dengan keringat dingin ia menatap ke arah belakang, dimana ada tangan yang meraih bahunya.
Dan .... Ahk keduanya menjerit, sosok itu ternyata seorang satpam rumah sakit tengah keliling memastikan jika lingkungan aman.
"Ternyata satpam, aku kira demit atau hantu."
"Sebarangan kalau bapak ngomong, ngapain bapak teriak hah. Bikin orang jantungan."
"Lah, bapak yang ujug ujungnya nyentuh pundak saya. Ya saya kaget lah. "
Perwira menggelengkan kepala, terlihat kesal dengan satpam penjaga di rumah sakit.
"Makanya kalau di rumah sakit jangan berisik, bapak ini nggak sadar apa, di samping kiri bapak itu kamar mayat."
Deg ....
Perwira tak menyadari hal itu, " kok bisa. Bukannya tadi aku baca ruangan pasien ya."
"Makanya sudah tua pake kacamata, biar nggak terlihat rambun. "
"Aduh si bapak satpam ini cerewed sekali. "
"Saya bukan cerewed, hanya mengigatkan saja bapak. "
Rudi yang berhasil menyusul Perwira, kini melihat lelaki tua itu tengah mengobrol dengan seorang satpam.
Menyusul dengan napas terengah engah. " Hah, ternyata yang tadi itu hanya satpam ya. Aduhh, ampun sekali, gara gara terkejut sampai berlari terbirit birit. "
Satpam itu tertawa terbahak bahak, mendengar perkataan Rudi, " makanya kalau kalian penakut jangan sok soan jaga pasien dimalam hari, sudah tahu gini kalap sendiri. "
Satpam itu mencium bau aneh, dimana mengendus ngendus hidupnganya dan apa yang terjadi. " Bapak ngompol. "
Perwira malu sendiri, setelah satpam itu mengatakan hal yang tak terduga, dimana Rudi, tertawa melihat semua kejadian yang tak terduga.
"Ahhahahah, bisa bisanya Perwira. Ngompol, badan aja gede, nyalinya menciut. "
__ADS_1
Kedua pipi Perwira, memerah, ia kesal. Pergi dari hadapan satpam dan Rudi, untuk mengambil baju ganti.
"Ahk, ada ada aja, hal semacam ini, tahu gini aku tidur saja di rumah, toh Edwin banyak yang jaga."