
"Aduhh, gimana ya pak. Saya takut nanti istri bapak malah marah marah sama saya." balas Sarah dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Terlihat iya sedikit menggoda Perwira, dengan kode kedipan kedua matanya.
Menolak dari mulut, tapi mengizinkan dari hati, " ayolah. "
Perwira terlihat bersemangat, dikala kedipan mata itu, begitu sangat menggoda. Apalagi dengan body bak gitar sepayol, tanpa rasa takutnya Perwira memberikan ponselnya pada Sarah.
Agar wanita cantik yang berada dihadapnnya memberikan nomor ponselnya sekarang juga.
Sarah yang memang mempelihatkan penolakannya dari mulut, kini mengetik nomor ponsel dengan tersenyum dihadapan Perwira.
"Karena memaksa, ya sudah aku berikan saja nomor ponselku. "
Perwira yang terasa gatal dari tadi, tangannya kini memegang dagu Sarah dengan perlahan.
"Kamu memang begitu menggemaskan Sarah, " puji Perwira, lelaki yang menjadi suami Lorenza itu , kini mulai menaiki mobil untuk segera pergi.
"Saya pergi dulu ya, Sarah. Kapan kapan bisa ketemu kan," ucap Perwira melayangkan nada menggodanya.
Sarah yang mendengar hal itu hanya tersenyum lebar, ia memperlihatkan kode mata. Jika dirinya setuju dengan apa yang dikatakan Perwira.
Lorenzo yang berada di dalam kamar, perlahan mendekat ke arah jendela kamarnya, iya melihat kepergian sang suami, di mana dirinya terkejut saat melihat Sarah tengah melambaikan tangannya ke arah mobil Perwira.
"Sarah? Apa maksud dia tersenyum ke arah mobil suamiku. " Ucap Lorenza, memperhatikan gerak-gerik Sarah, yang baru saja ia lihat.
Rasa penasaran mulai menggebu pada hati Lorenza untuk segera menghampiri Sarah yang berada di luar rumahnya.
Perlahan ia berjalan keluar dari dalam kamar, mendekat ke arah Sarah yang masih menatap mobil Perwira yang sudah tak terlihat lagi.
Memegang bahu Sarah, membuat wanita itu membalikkan badannya, ia mengukir senyum di hadapan Lorenza. " Sarah, sedang apa kamu disini?"
Pertanyaan Lorenza membuat Sarah memperlihatkan kesedihannya secara tiba-tiba," Lorenza, aku datang ke sini hanya untuk menjemput Edwin anaknya. Kebetulan masalah yang terjadi saat itu hanyalah kesalahpahaman semata, jadi tolonglah aku membawa anakmu pulang ke rumah agar bisa menyelesaikan masalah dengan baik bersama anakku."
Lorenza melipatkan kedua tangannya, melihat wajah yang tadinya ceria itu kembali bersedih, rasa curiga mulai mengganggu hatinya.
__ADS_1
" Bukannya, kalian sendiri yang sudah membuat Edwin pergi dari rumah kalian, dan juga Natasha Kenapa dia tidak datang ke sini kalau memang dia merasa bersalah,"
Perkataan Lorenza ada benarnya, seharusnya Natasha datang dengan meminta maaf, jika dirinya merasa bersalah karena kelakuannya yang sudah membuat Edwin sakit hati.
"Untuk hal itu, sebenarnya saya sudah menasehati anak saya, namun ya malu. Karena takut jika Edwin menolak kedatangannya. "
Jawaban yang tak masuk akal saat didengar oleh Lorenza, iya hanya menyipitkan kedua mata. Lalu tersenyum sinis.
" Aku tidak bisa, menyuruh Edwin datang lagi ke rumah kamu dan menemui istrinya, karena aku tidak punya hak lagi untuk anakku, dan juga ikut campur akan masalah mereka."
Sarah terlihat begitu bersemangat sekali, iya memegang kedua tangan Lorenza, dengan harapan jika Lorenza mau membujuk Edwin untuk segera pulang ke rumah menemui Natasha.
"Ayolah Lorenza, bujuk anakmu itu, agar dia mau bersama lagi dengan anakku, aku takut jika nanti hubungan rumah tangga mereka hancur hanya karena masalah sepele."
Lorenza juga berpikir seperti itu, namun bagi seorang ibu iya tak bisa mengatur keinginan anaknya yang sudah dewasa, karena Edwin juga mempunyai jalan pikirannya sendiri.
Sarah terlihat begitu bersemangat sekali, saat membujuk Lorenza untuk menuruti keinginannya.
Lorenza masuk ke dalam rumah tanpa menyuruh besannya itu untuk duduk, terlihat kedua kaki Sarah merasa pegal, karena dari tadi ya terus berdiri tak di tawarkan masuk ke dalam rumah.
"Lorenza, dia ternyata menyebalkan sekali, bisa-bisanya aku disuruh menunggu di luar. Seperti gelandangan yang dimintai kasihhani. "
Terlihat raut wajah Sarah amat begitu kesal, kerongkongan yang tadinya tidak merasakan rasa haus, tiba-tiba saja terasa begitu kering.
Sarah datang ke rumah Lorenza, seakan tak di hargai sebagai tamu.
"Rumah segede begini nggak ada pembantu apa."
****
Lorenza perlahan mengetuk pintu kamar anak, berharap jika Edwin membuka pintu dan mau mendengarkan perkataannya.
"Edwin, nak. Ini mommy ayo buka pintu kamarnya."
__ADS_1
Mendengar teriakan dari balik pintu kamar Edwin, membuat lelaki itu seketika mematikan musik yang ia sengaja putar, hanya untuk menenangkan pikirannya sejenak.
Gedoran tangan sang mommy yang mengetuk pintu kamar anaknya, membuat Edwin merasa kesal, baru saja ia sejenak merasakan kebebasan, sekarang terganggu lagi.
"Ada apa, mommy?"
"Mommy hanya ingin memberitahu kamu, jika mertuamu yang awet muda memakai formalin itu datang ke sini untuk menyusul kamu!"
"What, menyusul untuk apa? Untuk pulang ke rumahnya maksudnya?"
Lorenza mengangkat kedua bahunya, ia menjawab perkataan Edwin, " Ya sepertinya, itu tujuan mertua kamu datang ke sini."
Edwin memperlihatkan ketidak inginannya untuk pulang ke rumah Sarah, iya kini memerintahkan sang mommy untuk mengatakan jika Edwin sudah malas untuk pulang ke rumah Sarah.
" Katakan saja sama mertuaku, jika aku tidak ingin pulang ke rumah," ucap Edwin menutup kembali pintu kamarnya.
Lorenza yang melihat ketidakinginan anaknya, hanya bisa menurut tanpa harus memaksa, karena yang menentukan semua itu hanyalah anaknya sendiri.
" Edwin. Apa kamu yakin dengan perkataanmu itu?"
Mendengar teriakan sang mommy sedikit membuat telinga Edwin terasa panas, iya kini menghampiri pintu kamar, membuka kembali pintu kamarnya itu. " Sudahlah Mommy. Jangan berteriak terus, jika aku tidak mau ya tidak mau aku tidak suka dipaksa ataupun diperintah-perintah."
Mendengar hal itu, membuat sang mommy tak lagi bersuara, ya terburu-buru pergi untuk segera menghampiri Sarah, agar wanita yang tidak suka itu pergi dari rumahnya sekarang juga.
Sarah yang menunggu dari tadi tanpa diberikan tempat duduk ataupun minuman untuk membasahi tenggorokannya, merasa senang dengan kehadiran Lorenza yang datang menemuinya kembali.
Dalam hati Lorenzo yang paling dalam, ya bergumam dalam hatinya," malas sekali aku berhadapan lagi dengan musuh bebuyutanku dari dulu, ingin rasanya aku menyingkirkan dirinya dengan mendorong dan juga menghinanya saat itu juga. Namun apa daya aku tidak bisa melakukan hal yang membuat harga diriku jatuh. "
Sarah yang biasanya jutek ketika berhadapan dengan Lorenza, kini selalu melebarkan senyuman," Jadi gimana Lorenza, apa anak kamu mau pulang ke rumah untuk menemui istrinya yang dari tadi menunggu akan kehadiran Edwin."
Lorenza hanya menggelengkan kepala, Iya kini menjawab perkataan Edwin," sayangnya, anak aku sudah tidak mau pulang ke rumah kamu lagi,"
Sarah yang mendengar hal itu tentunya terkejut, iya tak menyangka jika Edwin akan semarah itu, sampai sang menantu tidak mau menemui anaknya.
__ADS_1