Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
kejutan


__ADS_3

Sarah merasa kuatir dengan keadaan Lorenza yang tak kunjung datang, iya takut jika sahabatnya itu kenapa kenapa. Sampai di mana Sarah melihat seorang suster berjalan ke arahnya. 


"Suster tunggu. " Suster itu kini menghentikan langkah kakinya, " Iya, ada apa bu. "


Sarah mulai menanyakan keberadaan Lorenza, " suster ini kan yang tadi ngobrol sama teman saya. "


Suster itu mengerutkan dahinya, " ya. "


"Apa suster tahu keberadaan teman saya ada dimana sekarang?"


"Bu Lorenza?" Tampak raut wajah sang suster begitu ragu mengatakan keberadaan  Lorenza. 


"Suster tahukan keberadaan teman saya?"


Pertanyaan Sarah membuat Suster itu berpura-pura sibuk. 


"Aduh, maaf saya harus bekerja. "


Pergi dari hadapan Sarah, membuat wanita itu memanggil dan mengejar sang suster kembali. 


"Tunggu suster. "


Sang suster melangkahkan kakinya begitu cepat, membuat Sarah tak bisa mengejar. 


"Kenapa ya dengan suster itu. Ditanya malah pergi dan banyak alasan."


Sarah kembali mencari keberadaan Lorenza di rumah sakit, berharap jika sahabatnya itu ditemukan saat ini juga. 


Sampai. 


Brukk ….


Tubuh Sarah kini beradu dengan Perwira yang baru saja datang, " Perwira. Mana Lorenza?" Sarah memegang kepalanya yang terasa berat, membuat Perwira membantu Sarah untuk berdiri dari atas lantai. 


"Lorenza, dia sedang bertemu dengan teman-teman arisannya."


"Mm, mana mungkin. Tadi aku bertemu dengan Sarah di rumah sakit, dan sekarang aku berusaha mencarinya. "


Perwira terkejut dengan perkataan Sarah, " Lorenza ada di rumah sakit tadi, jadi benar dugaanku. Dia berbohong. "


"Perwira."


"Mm, iya. "


"Jadi kamu tidak tahu Lorenza datang ke rumah sakit. "


Perwira menggelengkan kepalanya, dimana Sarah berucap, " Kok aneh ya. Sebenarnya kejutan apa yang akan ditunjukan Lorenza, sampai suaminya pun tak tahu. "


Perwira yang mendengar perkataan Sarah, kini mengerutkan dahi, " apa maksud kamu dengan kejutan. "


Sarah menggaruk belakang lehernya, ia berusaha tetap tenang dan  menjelaskan semua yang terjadi. 


"Tadi Lorenza berkata padaku, dia mau memberikan kejutan pada Edwin, tapi sekarang dia malah tak ada."

__ADS_1


"Kejutan?"


"Ya kejutan. Masa kamu sebagai suaminya Lorenza tak tahu!"


Perwira mengangkat bahunya, " mana aku tahu, yang aku tahu itu kalau Lorenza meminta izin ingin pergi ke teman teman arisannya."


Semua menjadi sebuah kejanggalan, Perwira tak mengerti dengan Lorenza yang sudah berani berbohong akan kepergiannya.


"Lorenza sebenarnya kamu kemana? Dan apa kejutan yang kamu akan berikan pada kami. "


Natasha duduk sendirian di depan pintu oprasi. Ia terus melayangkan doa untuk suaminya, " semoga saja oprasinya berjalan. "


Beberapa jam menunggu, pintu oprasi terbuka, Natasha kini berdiri. Melihat Edwin berada pada ranjang tempat tidur, membuat ia mengikuti sang suster yang akan memindahkan suaminya ke ruangan lain.


"Edwin."


Lelaki itu belum sadarkan diri, kedua matanya masih menutup.


Natasha kembali lagi ke tempat operasi, ia penasaran dengan orang yang menjadi pendonor untuk suaminya.


"Sebenarnya siapa yang mejadi pendonor Edwin, aku penasaran sekali dengan orang itu?" Natasha mencoba berjalan begitu cepat ke ruang operasi.


Dimana ia melihat para suster membawa seorang wanita pada ranjang tempat tidur yang di dorong.


Mendekat dan betapa terkejutnya Natasha melihat


wajah wanita itu.


"Mommy."


"Mommy, apa ini kejutanan yang mommy berikan untuk Edwin. "


Air mata tak bisa ditahan lagi, menetes begitu saja. Hati dan perasaan sudah tak bisa terkendali lagi, benar benar hancur dan remuk menjadi satu.


"Mommy, kenapa mommy tidak memberitahu Natasha. "


Kedua mata wanita tua itu masih menutup, membuat Natasha perlahan mengikuti suster.


Perwira dan Sarah berlari, mereka berdua melihat Natasha berlari ke ruangan berbeda.


"Sarah, itu Natasha. Kenapa dia malah ke sana. "


"Ya sudah, kalau begitu kita ikuti Natasha."


Perwira setuju, mereka berjalan begitu cepat untuk menyusul Natasha.


Dimana Natasha mengikuti seseorang yang berada pada ranjang tempat tidur.


"Siapa wanita itu, kenapa Natasha mengikuti wanita yang dibawa pergi oleh suster, sebenarnya siapa wanita yang terbaring di ranjang tempat tidur itu?" Gumam hati Perwira, ia semakin cepat melangkahkan kakinya untuk mengejar Natasha.


"Perwira ayo. "


Sampai di suatu ruangan, dimana Natasha masuk. Sedangkan Perwira mengintip dari luar kaca.

__ADS_1


Menyelidiki Natasha, sampai dimana Perwira melihat wanita yang terbaring di ranjang tempat tidur.


"Lorenza. Istriku. " Mengucek ngucek kedua mata, Perwira tak salah melihat, jika wanita itu adalah istrinya.


"Lorenza."


Perwira masuk ke dalam ruangan, ia berjalan cepat. Sampai. Brukk, berewek. Saking cepatnya berjalan, Perwira terjatuh ke atas lantai, celana yang ia kenakan sobek pas di batangnya itu.


Berusaha bangkit, Sarah menghampiri Perwira membantu lelaki itu berdiri, " aduhh, gimana sih. Sudah tua malah tak hati hati. "


"Aduhh, auhhh, pinggangku rasanya patah. "


Memegang batang, dimana Sarah mencoba mengalihkan tangan Perwira, " sadar nggak sih, pinggang itu dipinggir perut kamu, bukan di bawah perut. "


Sarah terkejut, setelah mengalihkan tangan Perwira, ia melihat penampakan yang menonjol dimana penampakan itu tertutup kain bermotip iromen.


"Astaga, demi apa, batang aki aki ini tertutup gambar iromen. "


Sarah kini membalikkan badan, menutup wajahnya.


" Cepat tutup itu batang, sebelum orang lain tahu. Dan menganggap kamu ini mesum. "


"Ahk, ia aku lupa. Maaf."


Perwira kini melepaskan jas kantor yang ia pakai, menutup bagian yang tak seharusnya ia perlihatkan pada orang orang.


"Sudah."


Sarah kini membalikkan badannya, dimana kedua tangan masih menutup wajah. " Gimana sudah ketutup. "


"Sudah, lihat saja. "


Perlahan Sarah melepaskan jari tangannya yang masih ia tempelkan pada wajah. Menatap, dan Sarah pada akhirnya bisa bernapas lega.


Mengusap pelan dadanya, " ahk, syukurlah. Iromennya sudah tertutup. Ngapain sih, pake acara lari lari, kan bisa jalan santai. "


"Aku terkejut melihat Lorenza terbaring di ranjang tempat tidur rumah sakit, sampai akhirnya syok dan berlari. "


"Untung saja masih di luar ruangan, coba kalau di dalam, sudah pada dilihatin para suster dan dokter. "


Mendengar kata Lorenza membuat Sarah penasaran, pada akhirnya ia melirik pada jendela luar ruangan yang dimana Natasha berada di dalamnya.


Membulatkan kedua mata dan mulut, membuat Sarah syok berat. " Benarkah itu, Sarah. Tunggu tunggu, apa jangan jangan kejutan itu, kalau Lorenza menaruhkan nyawanya untuk menjadi seorang pendonor. "


Perwira baru saja menyadari hal itu, " mana mungkin, kalau semua terjadi, Lorenza tak akan lama hidup. "


Perwira tak percaya akan hal itu, ia kini berjalan untuk meneruskan langkah kakinya, menghampiri Lorenza.


Berharap jika kejadian saat ia terjatuh ke atas lantai tak terulang lagi. " Lorenza, apa yang sebenarnya ada dipikiran kamu saat ini. "


Berjalan dengan mengerutu kesal, akhirnya Perwira masuk dan memanggil sang istri.


"Mami."

__ADS_1


Air mata mengalir deras, saat Perwira memandangi wajah istrinya.


__ADS_2