
"Edwin, kamu kenapa sayang?" Pertanyaan sang mommy, membuat Edwin semakin muram.
Memegang kedua pipi anaknya, " hey, kok murung gitu, kenapa?"
Perwira kini menjawab perkataan istrinya, " kayanya si Edwin, kagak dapat jatah deh!"
Edwin menatap ke arah sang ayah, seakan terwakili dengan perkataan lelaki tua yang ada dihadapannya.
"Good, Dad. "
Siapa yang tak terkejut dengan jawaban Edwin, Lorenza kini melipatkan kedua tangan dan berkata, " hah, ini anak sama bapak nggak jauh beda. Sama sama sengklek. "
Lorenza mulai menghindar dari kedua laki laki yang berharga dalam hidupnya.
"Sudah ah, mommy mau pergi dulu."
"Mommy, Edwin kan belum selesai bercerita. " Mendengar perkataan sedih dari anaknya, membuat Lorenza tak tega. "
"Memangnya kamu mau bercerita apa?" tanya Lorenza sedikit bernada ketus.
"Mommy, jawabnya kok kaya kesal gitu!" balas Edwin, sekilas menatap ke arah sang ayah.
"Perasaan kamu saja, " tegas Lorenza, dengan kedua tangan yang ia lipatkan.
"Memangnya kamu mau cerita apa Edwin?" tanya sang mommy mengeluarkan nada sebalnya.
"Itu mah, soal orang ngidam!"
jawab Edwin napak serius terdengar oleh Lorenza.
"Memangnya istri kamu ngidam apa?" tanya sang mommy, begitu serius.
Menggaruk belakang kepala, merasa tak enak hati mengatakan semuanya. " Edwin, coba katakan, mommy mudah mudahan bisa bantu kamu?"
Edwin malah tersenyum tipis, menatap sekilas ke arah sang ayah. " kenapa Edwin, ayo katakan?"
"Ini mom, kenapa ya orang ngidam banyak muntahnya, setiap kali. Edwin dekati Natasha dia selalu muntah. " ucap Edwin mempelihatkan kesedihannya.
"Oh, itu hal yang wajar, kamu sebagai seorang suami harus memaklumi akan hal itu, jangan marah, harus sabar, itu resikonya istri yang lagi ngidam, " balas Sang mommy menjelaskan semuanya, tak lupa ia juga menasehati Edwin agar tetap sabar.
"Sabar? Mana tahan mom," keluh Edwin.
"Mana tahan, apa maksud kamu Edwin." balas Lorenza, obrolan seperti tak jauh berbeda dengan perkataan suaminya.
"Ya itu," Edwin tampak ragu, di saat lelaki tua yang ada di sampingnya memukul bahu Edwin." Sudah katakan saja yang sejujurnya. Jangan ragu, Daddy sebagai ayah kamu mengerti kok."
"Ya itu, ngelongok apem basah. "
__ADS_1
Kesal dengan jawaban Edwin, Lorenza membulatkan kedua matanya.
"Duhh, Edwin, kenapa kamu itu nggak jauh berbeda seperti bapak kamu, pasti yang dibahas apem basah, kaya nggak ada lagi topik pembicaraan. Ayolah jangan membuat mommy darting. "
"Bukan maksud Edwin membuat Mommy darting, Edwin hanya menjelaskan unek unek yang Edwin pendam selama ini, jadi mom."
Belum perkataan Edwin terlontar semuanya, sang ayah kini menepak bahu anaknya, " sudah percuma Edwin, kamu jelaskan tentang masalah rajang, atau kepuasan seorang lelaki. Pada mommy kamu. "
"Lah, kenapa memangnya pah. Mommy kan berpengalaman, jadi bisakan Edwin bertanya seperti itu. " Bertanya boleh sih bertanya, asal kamu tahu mommy kamu nggak tahu kalau seorang lelaki tidak mendapatkan keinginanya, batang yang ia miliki akan berkarat dan jamuran. "
Edwin malah memegang keperkasaannya, ia kini membalas perkataan sang ayah. "
Mm, aku kira besi saja berkarat dan kayu berjamur. Batang kita juga bisa megalami hal itu ya. "
"Ya, Edwin. Benar sekali perkataan kamu, jadi kamu harus hati hati. "
Kesal mendengar nasehat yang tak benar dari Perwira, membuat Lorenza menarik telinga suaminya.
"Papih gimana sih, ngasih tahu anak sendiri nggak benar. "
"Loh, mih benar kok, Edwin juga paham ya nak. "
Edwin menganggukkan kepala dan berkata, " sudah kamu jangan dengarkan perkataan Daddy kamu. "
"Memangnya kenapa dengan Daddy mom?"
Pertanyaan Edwin, membuat Lorenza berpikira.
Edwin bingung dengan sang mommy, ia kini bertanya lagi, di saat wanita tua itu gelisah dan banyak berpikir.
"Mommy, kok diam!"
Tiba tiba saja Perwira tertawa dengan berucap, " ahha, pasti mommy kamu kebingungan menjeleskan antara karatan dan jamuran. Hah, sudah Daddy duga mommy kamu terlalu banyak teori dari pada peraktek. "
"Daddy, ngomong apa sih,"
"Huh, ngambek. "
Lorenza menatap ke arah anaknya. " Edwin, kamu dengar mommy ya, selama istri kamu ngidam kamu harus sabar. "
Edwin mengerutkan dahi dan menjawab, " bukannya tadi mommy sudah menjelaskan hal itu. "
"Ah, iya gitu, mommy lupa. "
Wanita tua itu berusaha tetap tenang, ia menjelaskan lagi, " yang dimaksud Daddy kamu tadi .... "
Diam kembali, sampai sang ayah menimpal. " Edwin, sudah dengarkan apa yang tadi Daddy katakan, sebaikanya kita pergi mencari udara segar. Agar otak kita lebih fres dan tak dibayang bayangi oleh kue apem. "
__ADS_1
"Edwin tunggu, mommy akan menjelaskannya. "
Perwira malah menarik tangan Edwin, untuk pergi dari hadapan Lorenza, dimana wanita tua itu mengepalkan kedua tangan dan berkata. " bisa busanya papih. "
Edwin dan juga Perwira pergi dari hadapan Lorenza dimana mereka keluar rumah dengan raut wajah muram.
"Dasar laki laki, tidak mengerti ya apa artinya sabar. " Gerutu Lorenza menatap kepergian Edwin dan juga Perwira.
Ceklek, suara pintu di buka, Natasha keluar dengan badan sepoyongan, kepalanya terasa sangat sakit. Ia perlahan menatap ke arah depan, sembari menahan badan pada tembok.
"Mommy."
Natasha melihat sang ibu mertua berdiri, membuat ia berjalan secara perlahan untuk menghampiri mertuanya.
Kepala terasa berdenyut dari tadi, membuat Natasha benar benar tak bisa menyeimbangkan tubuh.
"Mommy."
Mendengar suara lembut Natasha, membuat Lorenza membalikkan badan dan menatap ke arah belakang punggungnya.
"Loh, Natasha kamu. "
"Mommy, kenapa berdiri di sini, mana Edwin?"
Natasha hampir saja terjatuh, membuat Lorenza berusaha menahan sang menantu. " kamu terlihat lemas?"
"Ahk, iya mom. Kepalaku terasa sakit sekali, jadi aku nggak kuat jalan," balas Natasha, memegang tangan sang ibu mertua.
"Kalau nggak sanggup jalan, ya sudah istirahat saja sekarang juga, " ucap Lorenza penuh perhatian pada sang menantu, dimana Natasha tersenyum bahagia, dengan perhatian lembut dari Lorenza.
"Sebenarnya, Natasha memaksakan diri berjalan, Natasha mencari keberadaan Edwin, oh ya mommy lihat Edwin pergi kemana?"
Lorenza sudah menduga jika Natasha sedang butuh perhatian Edwin, tapi watak Edwin yang keras kepala membuat ia lupa akan kewajibannya sebagai seorang suami di saat sang istri tengah sakit.
"Mommy, kenapa diam saja?"
"Ahk, iya. Maaf sayang, tadi mommy lihat Edwin keluar sebentar sama Daddy!"
"Keluar ya, padahal Natasha ingin sekali di pijit, soalnya badan Natasha sakit semua. "
"Ya sudah, biar mommy saja yang pijit kamu, gimana?"
"Nggak usah mom, kan mommy belum sembuh total!"
"Nggak papa, Natasha."
"Natasha nggak enak sama mommy. "
__ADS_1
.
"Santai saja. "