
"Edwin, saya permisi dulu untuk berkerja. "
Mendengar kata pamit dari mulut Wina, membuat Edwin tampak cuek, ia hanya menganggukkan kepala dan masih mempelihatkan wajah dinginnya.
Sang Mommy memanggil anak satu satunya itu untuk masuk ke dalam kamar. " Edwin. "
"Iya, mom. "
"Mommy tak menyangka di Wina bekerja di vila kamu, oh ya apa kamu yang merekomendasikan?"
Edwin menggelengkan kepala dan tak mengerti, kenapa Wina bisa bekerja di villanya, padahal ia tak pernah membuka lowongan pekerjaan atau bekerja sama dengan orang.
"Entahlah, Edwin juga tak mengerti. Kenapa bisa dia bekerja di Villa ini, saat menanyakan pada pelayan disini, katanya Wina sudah bekerja selama tiga bulan. "
"What, selama itu. Kenapa? Bukannya dia anak Pak Adi, dia itu sahabat papih kamu. Dan bergelar CEO. "
"Edwin juga tak mengerti, ya sudah sih ma. Dari pada pusing mikirin kaya begitu, mending mommy istirahat saja, oke. Biarkan saja Wina bekerja di sini, asalkan tidak mengganggu kenyamanan kita."
"Iya juga sih, tadinya mommy berpikir kalau dia ada disini berniat balas dendam, karena pepatah mengatakan jika cinta ditolak dukun bertindak. Atau cinta ditolak dendampun tiba. "
"Husst, jangan asal bicara gitu mom, nanti jatuhnya fitnes loh."
Plakkk ....
Sang mommy menampar pipi kiri Edwin dan membenarkan perkataan anaknya. " Fitnah."
"Oh ya benar. "
Suara ponsel Edwin kini berbunyi lagi, membuat sang mommy mengerutkan dahinya. " Edwin, itu pasti Natasha?"
Edwin menatap ke arah layar ponselnya, ia menganggukkan kepala, " iya mom. "
"Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan dari istri kamu? Apa jangan jangan, pas tadi mommy suruh kamu balas pesannya tak kamu balas?"
Edwin menarik napas, ada rasa sesak pada hatinya, ia terlihat egois, " iya mom, Edwin ingin menenangkan diri dulu, Natasha sepertinya tak sejalan dengan pernikahan ini, banyak sekali perdebatan dan perbedaan antara kami berdua. "
Lorenza mengerti kesedihan yang dirasakan anaknya, ia kini memegang tangan anaknya. Menenangkan disetiap keresahan dan rasa tak percaya diri, " coba kamu bicarakan hal ini dengan kepala dingin pada istrimu. Dia pasti akan mengerti. "
Mengusap kasar wajah dengan kedua tangan, Edwin kini menundukkan padangan dari tatapan sang mommy, " bagaimana Edwin bisa menjelaskan semuanya, saat situasi memungkinkan Natasha tetap seperti itu. "
__ADS_1
"Seperti itu bagaimana, maksud kamu?" pertanyaan Lorenza membuat Edwin menarik napas dan mengeluarkan secara perlahan. Lelaki berbadan kekar itu menatap ke arah sang mommy. " Dia itu kaya anak kecil mom, hobbynya aneh, nyanyi rock in roll apa lah kaya begitu, terus susah di atur, kelakuannya terlalu barbar dan kurang cocok jadi istri. "
"Lah, terus kamu kaya apa? Ayo. Mommy tanya, setelah kamu mengatakan kejelekan istri kamu?"
balasan dari sang mommy membuat Edwin, berusaha tetap tenang.
"Ya Edwin bedalah mom, berkarisma, tampan. Dan coll lah dia, kaya cewek vs laki. " ucap Edwin menyombongkan dirinya, terlihat ada sifat Perwira yang menempel pada diri anaknya itu.
Menggelengkan kepala, sang mommy perlahan menyentil telinga anak laki lakinya itu," pandai juga kamu berbicara Edwin, tanpa kamu sadari kamu sudah membuka kejelekan kamu sendiri. "
"Dih, mom, kejelekan apanya. Hanya membandingkan saja," ketus Edwin terlihat tak mau kalah dengan sang mommy.
"Kamu tahu tidak, istri kamu itu cerminan dari diri kamu, kalau kamu menjelekan istri kamu sama saja kamu menjelekan diri kamu sendiri, kamu paham tidak Edwin?"
Edwin terdiam, mencerna perkataan sang mommy.
"Heh."
kesal dengan diamnya Edwin, Lorenza kini mencubit pipi anaknya.
"Aduhh, mom. Sakit, " teriak Edwin, membuat Wina yang sengaja menguping dibalik pintu kamar Lorenza terkejut.
Membuat Edwin meminta maaf, " iya deh maaf."
Wina berusaha tetap tenang, walau sebenarnya pikirannya saat ini sedang kacau, " kenapa mereka berteriak seperti itu, kaya orang yang lagi anu anuan. Ahk, mana mungkin, mereka kan ibu dan anak."
Wina kini menguping kembali percakapan Edwin dan Lorenza, ia penasaran dengan obrolan keduanya, apakah ada informasi menarik.
Karena jika ada, sebuah kesepatan untuk Wina, bisa membuat Edwin jatuh ke sarang sawahnya. Menempelkan telinga pada pintu kamar Lorenza kembali, Wina kini mendengar hal yang membuat otaknya tak bisa berpikir jerni.
"Ah, ah. Mommy, ini sakit. "
Wina kembali berdiri tegap, ia berusaha tetap tenang, walau dalam hati penuh rasa penasaran sedang apakah keduanya di dalam kamar.
Pada akhirnya Wina memutuskan untuk pergi dari depan kamar Lorenza, ia takut jika isi kepalanya yang tidak sedang baik baik saja.
"Dari pada aku berpikir aneh aneh, lebih baik aku pergi saja deh. "
Di dalam kamar Lorenza.
__ADS_1
Ibu dan anak masih tengah berdebat, tak ingin kalah.
"Edwin, mommy sudah kasih tahu kamu berulang kali. Tapi kamu tetap berpura pura nggak mengerti. "
Edwin berusaha menenangkan sang mommy yang terlihat kesal padanya, " mommy ini, bisa nggak kalau marah tak usah nyubit ataupun mukul, sakit tahu. "
"Siapa suruh, kamu bikin mommy kesal hah. "
"Ya sudah lah, mommy sekarang harus jaga kesehatan jangan mikirin yang aneh aneh, Edwin janji akan jaga mommy. "
Perkataan Edwin membuat sang mommy mengusap pelan pipi anaknya dengan penuh kehangatan, dimana ia tersenyum lebar dan berkata, " terima kasih Edwin. "
Suara ponsel berbunyi lagi.
"Ya sudah, kalau begitu. Edwin mau mengangkat panggilan telepon dari Natasha. "
Sang mommy menganggukkan kepala dimana Edwin pergi untuk segera mengangkat panggilan telepon dari istrinya.
Kini Edwin keluar dari ruangan sang mama, dimana ia mencari ruangan yang terlihat sepi.
Perlahan mengangkat panggilan dari sang istri.
"Halo, ada apa?"
"Edwin, kamu dimana? Kenapa jam segini kamu belum pulang ke rumah, apa sesuatu terjadi padamu?" Baru kali ini Edwin diperhatikan oleh sosok wanita yang ia nikahi dan menganggap wanita itu hanya mainan sematanya, karena hasil perjodohan oleh kedua orang tua.
"Bisa tidak kamu bertanya satu persatu!" jawab Edwin terdengar ketus, mungkin ia masih kesal dengan sang mertua yang diam diam berselingkuh dengan papanya.
"Heh, lu. Gue perhatian malah ketus ke begitu, " ucap Natasha tiba tiba menutup sambungan telepon.
Edwin sengaja ingin menguji wanita yang dia anggap barbar itu, marah atau tidak.
Pada kenyataanya, Natasha seperti malu dan tak terbiasa sampai ia marah dan mempelihatkan sifat aslinya.
"Natasha, Natasha. Bisa bisanya kamu selucu itu, gemas sekali jika dipikir pikir, walau ya menyebalkan dan bikin kesal. "
Edwin mulai menelepon kembali Natasha, ia berharap jika Natasha tidak marah lagi.
Namun pada kenyataannya, Natasha malah mematikkan panggilan telepon dari Edwin.
__ADS_1
"Ternyata dia marah dan kemungkinan malu juga. Biarlah, aku kerjain kali kali, syukur syikur pas aku pulang dia berubah kaya cindera atau tuan putri atau seorang princes, pastinya lucu sih. "