
Suster dan juga para sahabatnya masuk ke dalam ruangan. Dimana Sarah memberikan sebuah senyuman, ia perlahan melangkahkan kaki mendekat ke arah suster dan juga para sahabatnya, " ini wanita yang agresif itu. Sepertinya kita harus membawa dia ke rumah sakit jiwa. "
Mendengar perkataan suster yang dibenci oleh Sarah itu kini membuat Sarah, berpura-pura menangis menitiskan air mata.
Ia berjalan sembari memegang gunting, di hadapan para suster. Semua Suster itu menghindar dari langkah kaki Sarah yang semakin mendekat.
"Aku hanya ingin memberikan ini, Kebetulan sekali, suster sudah ceroboh."
Deg ....
Suster bernama Gina itu tak mengerti akan perkataan yang dilontarkan oleh Sarah, " Maksud kamu itu apa?"
Sarah menyodorkan gunting, " ini gunting yang kamu bawa ke ruangan ini kan?"
"Heh, Jangan pernah memfitnah aku ya, jelas-jelas kamu yang membawa gunting itu ke ruangan ini!" balas Gina membela diri di hadapan para sahabatnya.
" Aku ini hanya seorang pasien, untuk apa aku membawa gunting ini ke ruangan, " ucap Sarah memperlihatkan kepolosannya di depan orang lain.
Di mana para sahabat saling berbisik satu sama lain, Gina berusaha mencari ide. Agar dirinya tak terjebak dengan fitnahan yang dilontarkan oleh Sarah.
__ADS_1
"Ayo terima. "
Gina malah memajukan langkahnya ke arah belakang, di mana Sarah yang terus menyodorkan gunting itu malah berpura pura terjatuh.
"Ahk."
Sontak para suster yang dibawa oleh Gina ke dalam ruangan Sarah, terlihat begitu terkejut, mereka mulai membantu Sarah untuk berdiri.
"Ayo, berdiri. Ibu ini tidak kenapa kenapa kan?"
Sarah yang mendapat bantuan dari para suster perlahan menitihkan air mata ia berkata, " saya hanya ingin memberikan gunting ini, tapi kenapa anda mendorong tubuh saya. "
"Kenapa begitu ramai?" Gumam hati Rudi.
Ia melirik ke arah Sarah, terlihat istrinya menangis," Sarah, kamu kenapa?" Pertanyaan Rudi, membuat wanita itu malah menangis histeris. " Pah, huhhh. Uhuhhh. "
"Sarah mau nangis apa partai. " Gumam hati Rudi, lelaki tua itu berusaha beranjak berdiri dari tempat tidurnya melangkahkan kaki.
Gina yang melihat hal itu berusaha membuat sebuah pembelaan, " Pak Rudi. "
__ADS_1
Rudi menatap ke arah Gina dengan tatapan heran, "Iya kenapa sus?"
Gina mendekat ke arah Rudi, membuat Sarah menyugingkan bibirnya, " suster itu tidak ada kapok kapoknya apa?" Gerutu hati Sarah, berusaha tetap tenang agar tidak terpacing emosi.
Menarik napas mengeluarkannya secara perlahan, saking kesalnya Sarah pada suster itu, ia mulai melayangkan sebuah perkataan.
"Kalian lihat, sahabat kalian seorang suster begitu genit, merayu suami saya. "
Mereka kini terhasut akan ucapan Sarah yang menangis.
"Tidak, saya tidak merayu atau bertingkah genit pada suami anda. Justru saya ingin menyelamatkan Pak Rudi dari kegilaan anda."
"Sudah genit, sekarang berani memfitnah saya, anda ini manusia dari apa sih. Tega teganya mengatakan hal itu, anda itu sebagai seorang suster tidak tahu malu apa. "
Sembari menangis mempelihatkan kesedihan, sahabat Suster Gina lebih percaya pada tangisan Sarah, " kalian jangan percaya kepada wanita tua yang munafik itu. "
Kini pembelaan datang, " yang munafik itu bukan ibu ini, tapi kamu Gina. Kamu seperti wanita murahan bertingkah genit di depan pasien."
"Tidak ada bukti jika aku genit, mana ada?"
__ADS_1
Sarah menatap tajam ke arah Gina, " lalu itu tangan kamu q apa?"