
Mereka kini berjalan beriringan untuk segera menemui Lorenza, Edwin yang sudah mendengar kabar bahagia dari ayahnya terlihat bernapas lega ia tersenyuman tak sabar ingin segera menghampiri sang Ibunda yang sudah menunggunya.
Membuka pintu ruangan, terlihat tatapan mata sayu diperlihatkan oleh Lorenza untuk anaknya, air mata mengalir deras dari kedua mata Edwin.
"Mommy."
Panggilan dari Edwin membuat hati Lorenza begitu bahagia. Momen yang sudah ia tunggu tunggu dari kemarin, pada akhirnya ia rasakan saat ini juga.
"Edwin." Lorenza, membalas panggilan anaknya, ia ingin sekali memeluk tubuh kekar anak satu satunya, mempelihatkan betapa sayangnya Lorenza pada Edwin.
Natasha yang melihat pemandangan itu hanya bisa menahan isak tangis yang sudah terbendung. Ia kini berucap dalam hati, " sebuah kebahagiaan yang tak pernah aku lihat sebelumnya. "
"Mommy, maafkan Edwin. "
Kata maaf terlontar begitu saja dari mulut Edwin, membuat air mata mengalir deras dari kedua mata Edwin.
"Kenapa kamu minta maaf, kamu tidak salah apa apa," ingin sekali memeluk sang mommy, dalam isak tangis, namun tak bisa.
"Jadi yang dikatakan Daddy itu benar?"
Lorenza menganggukkan kepala, ia tak percaya keajaiban itu benar benar datang.
Semua keluarga berkumpul dengan kebahagiaan.
********
Sampai satu bulan kemudian.
Lorenza datang ke pemakaman Gina, wanita yang sudah rela memberikan hidupnya untuk Lorenza.
Ia menaruh begitu banyak bunga pada pemakaman Gina, mengusap batu nisan sang suster. " Suster Gina, padahal kita baru dua hari bertemu, belum saling bercerita satu sama lain. Tapi kamu sudah menaruhkan nyawamu untukku, kamu seperti malaikat. Semoga kamu tenang di alam sana. "
Lorenza bangkit, dimana Perwira berdiri di belakang punggungnya," bagaimana perasaan kamu sekarang?"
Menarik napas, mengeluarkannya secara perlahan, " agak tenang. "
Mereka berdua kini meninggalkan pemakaman, perlahan Perwira mulai memegang tangan sang istri.
"Aku tak menyangka jika kita bisa merasakan kebahagiaan seperti ini, setelah badai menerpa dan sekarang kita berada di titik tenang merasakan kedamaian. "
Lorenza menatap ke arah Perwira dan menjawab," begitu lah kehidupan."
Mereka mulai masuk ke dalam mobil untuk segera pulang, tak sabar ingin menemui anak dan juga menantunya.
*******
Sedangkan di dalam rumah.
Edwin merebahkan tubuhnya, ia menatap ke arah Natasha yang duduk sembari memainkan ponselnya.
"Sudah sebulan ya. Hem, hem. "
Natasha mengerutkan dahi dengan kode yang dilayangkan sang suami," memangnya kenapa? Kalau sudah sebulan. "
__ADS_1
Nada ketus itu terdengar dari mulut Natasha, membuat Edwin perlahan menyenderkan kepala pada p*h* sang istri.
"Geli Edwin. "
Edwin malah semakin sengaja, menggelengkan kepala pada hutan riba milik istrinya.
"Edwin. " Semakin terasa geli, membuat Natasha tak bisa lagi menahan tawa.
Sampai rasa mual itu terasa lagi, Natasha bangkit dari tempat duduk, dimana kepala Edwin kini terbentur pada besi ranjang tempat tidur.
"Ahk."
Natasha mengeluarkan isi perutnya, ia merasa tak kuat menahan rasa mual.
Perlahan bangkit dari tempat tidurnya, menghampiri Natasha yang masih mual mual.
"Biar aku pijit. Mau tidak, " ucap Edwin menawarkan pijitan pada istrinya.
"Tidak usah, aku pengen istirahat saja sekarang, " balas Natasha pada Edwin.
Lelaki berbadan kekar itu terlihat murung, wajahnya tak senang, seperti lemas. Setelah mendengar perkataan dari mulut Natasha.
"Aku tidur dulu ya, badanku rasanya lemas sekali. "
Edwin ingin sekali mencium bibir mungil milik istrinya, namun apa daya melihat Natasha yang tak napsu itu, membuat Edwin tak bersemangat.
Berjalan tergopoh gopoh, Natasha kini merebahkan tubuh di atas kasur.
"Natasha, " ucap Edwin, dimana wanita yang sedang hamil itu langsung tertidur pulas.
"Natasha."
Sampai dimana Natasha mengeluarkan suara dengkuran, " Astaga, bisa bisanya istriku mengeluarkan suara dengkuran. "
Tersenyum, Edwin kini mencium keningnya. " selamat tidur. "
Ia menggigit bibirnya, berulang kali, tak sanggup rasanya menahan h*srat yang menggebu menganggu jiwa.
Beranjak berdiri, pergi dari hadapan Natasha," aku harus menahan diri untuk saat ini, kasihan Natasha pasti dia kelelahan karena masa ngidamnya."
*****
Lorenza dan Perwira pulang memanggil Natasha dan Edwin.
"Natasha, Edwin. Mereka pada kemana ya?"
"Mm, mami ini kaya nggak ngerti aja mereka pada kemana!"
"Emang kemana pih?"
Perwira menggerakan kedua tanganya, memperaktekan hubungan antara wanita dan laki laki setelah menikah.
Namun Lorenza berpura pura tak mengerti. " Apaan sih, papih nggak jelas. "
__ADS_1
Perwira mengangkat kedua alisnya berulang kali,
Membuat sebuah kode pada istrinya.
"Jadi kapan, di kasih apem. "
Mendengar perkataan Perwira membuat Lorenza membulatkan kedua matanya, " baru saja sebulan operasi masa udah minta jatah. "
" ya kan batangnya udah gatel, butuh kehangatan, masa Mami nggak ngertiin papi sih. "
Lorenza mendelik kesal setelah mendengar perkataan Perwira, " sabar pih, tunggu setahun lagi. "
wanita tua itu pergi tanpa melirik ke arah suaminya sedikitpun, Perwira yang mendengar perkataan sang istri hanya melongok, Iya mengacak rambutnya kasar, bergumam dalam hati, " kalau setahun lagi ya udah karatan dong,"
Lorenza menghentikan langkah kakinya, ia membalikan badan ke arah suaminya yang berdiri tegak, " kamu keberatan pih, mami bicara seperti itu?"
Terlihat Perwira begitu ragu mengatakan kejujuran yang ia ingin katakan di hadapan istrinya.
"Ee, nggak kok mih. Papih akan setia menunggu mami, suer deh. Yang penting nggak karatan aja ni batang. "
Mendengar kata karatan, membuat Lorenza mendekati sang suami, melipatkan kedua tangan, " tadi papih bilang apa, karatan?"
"Iya, soalnya kan nggak di gesek!"
"Emangnya besi, mm, papih ini. Ngomong aja nggak kuat gitu. "
"Hehe, " Perwira malah tertawa dihadapan sang istri. Ia seperti takut mengatakan kejujuran.
"Hehe, kenapa?"
"Itu mah, nggak kenapa kenapa, papih hanya keselek saja. "
"Papi ngaco, masa keselek kaya orang ketawa, ahk sudahlah laki laki emang semua sama, nggak ada yang nggak kuat kalau masalah ranjang. "
"Apaan sih mah, papi cuman bercanda kok. Mama kok marah gitu. "
"Bercanda apaanya, jelas jelas papi bilang tadi kalau kelamaan dan batang berkarat. "
"Ya kan itu bercandah mi, gitu aja di masukin ke hati. "
"Hha, ngomong aja pengen sekarang jadi bercandanya kelewatan. "
LOrenza pergi begitu saja, membuat Perwira menggaruk belakang kepalanya, " aduhh, bisa bisanya mami malah marah ke papih segitunya. "
Perwira kini mengejar sang istri, " Mami, tunggu papih. "
Lorenza tiba tiba saja berhenti, saat ia melihat anak semata wayangnya itu murung, "Edwin."
Perwira baru saja sampai di hadapan Lorenza kini memegang tangan istrinya, " mami, tarik perkataan papih tadi, harusnya jangan berkarat. Berjamur aja ya. Mami jangan marah dong, please. "
Lorenza melepaskan tangannya, ia berjalan menghampiri Edwin yang terlihat begitu bersedih.
"Mami, mau kemana lagi?"
__ADS_1
"Edwin."