Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab Rasa penasaran Perwira


__ADS_3

Dua hari setelah tanda tangan menjadi seorang pendonor untuk anaknya, waktunya Lorenza kembali lagi ke rumah sakit.


Wanita tua itu, tak memberi tahu Perwira akan dirinya yang berani mengambil resiko untuk menjadi seorang pendonor.


Menghelap napas, berusaha tetap tenang, Lorenza kini menatap wajahnya pada cermin di dalam kamar. "Sudah waktunya. "


Perwira mengerutkan dahi, setelah mendengar


perkataan sang istri yang membuat dirinya penasaran. " Sudah waktunya apa?"


Lorenza membalikkan badan menatap ke arah suaminya, " ee, papih! Mami mau pergi arisan. "


Kebohongan yang dibuat buat oleh Lorenza membuat Perwira percaya begitu saja.


"Mm, papih kira kenapa? Ya sudah, kalau mami mau pergi arisan, biar papih antar. "


Lorenza berusaha menahan Perwira, " tak usah pah. "


Perwira merasa heran dengan perkataan istrinya, karena tumben sekali, di saat situasi seperti ini, Lorenza tidak mau di antar oleh suaminya sendiri.


"Kenapa, tumben sekali mami tidak mau papih antar?"


"Eeeh, anu. Itu!"


Dari perkataan Lorenza yang terdengar gugup, membuat Perwira heran. " Tidak ada sesuatu yang mami sembunyikan dari papih kan?"


"Hah, sesuatu, apa. Tidak ada kok!" Keringat dingin tiba tiba bercucuran, membuat Lorenza mengibas ngibas tangan. " Gerah ya, pih, mami keluar dulu. "


Lorenza pergi begitu saja, di saat Perwira menunjuk Ace, " lah, bukannya ada Ace ya. Kok bilang gerah sih. "


Perwira kini mengikuti langkah kaki istrinya yang pergi keluar rumah, membuat Lorenza berucap, " ngapain papah ngikutin mami. "


Perwira melangkahkan kaki lebih cepat dari istrinya, " idih, ge'er. Papi mau pergi ke kantor. "


Lorenza yang terlihat membulatkan kedua mata, membuat Perwira terburu buru masuk ke dalam mobil.


Menggelengkan kepala, merasa heran dengan tingkah istrinya, Perwira juga melihat gaya busana yang dipakai istrinya sangatlah berbeda jauh.


Karena Perwira tahu jika sang istri pergi arisan selalu menggunakan pakaian serba gelamor, tidak seperti yang ia lihat sekarang, pakaian sang istri tampak terlihat sederhana sekali.


Perwira belum juga menyalakan mesin mobilnya, ia masih memantau sang istri yang berjalan untuk menaiki taksi, " Tuben sekali mami nggak bawa mobil. " gumam hati Perwira.


Ia mengusap jagut, penasaran dengan kepergian istrinya.


"Apa aku harus mengikuti Lorenza pergi, perasaanku ada yang aneh dengan tingkah Lorenza. "

__ADS_1


Menghela napas, Perwira mulai mengikuti taksi yang membawa istrinya, disaat pertengahan jalan, Perwira melihat jika taksi yang membawa istrinya itu malah pergi ke jalan yang biasa mereka lalui.


"Kok, malah ke jalan sana, bukannya Mami mau arisan, lah ini kok kaya mau ke rumah sakit."


Rasa penasaran dari hati Perwira semakin menggebu gebu, di mana ia menjalankan mobilnya kembali untuk mengikuti mobil taksi.


Namun, Perwira dikejutkan dengan suara ponselnya. Ia mulai mengangkat panggilan dari karyawannya di kantor.


"Halo, ada apa Andi?"


"Pak, meeting sekarang jadi datang kan!"


Perwira memukul jidatnya, ia lupa hari ini ada pertemuan peting dengan Pak Sanusi. " Ya ampun saya lupa, sekarang jiga saya akan datang. Kamu siapkan saja berkas untuk kita meeting dengan Pak Sanusi. "


"Baik pak. "


Perwira ingin sekali mengikuti taksi yang membawa istrinya itu pergi, tetapi karena pekerjaan, pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kantor.


Saat di dalam perjalanan, Perwira berguman dalam hati, " mudah mudahan tidak ada sesuatu yang terjadi pada Lorenza. "


Perasaan Perwira mendadak tak tenang, membuat ia berusaha mengatur napas, agar tidak berpikir yang tidak tidak. " Aku harus tenang."


*******


Sedangkan dalam perjalanan Lorenza yang berada di dalam taksi, ia terus berdoa dengan hati tak karuan. Berharap jika oprasi kali ini berhasil, ia tak peduli jika hidupnya hanya sampai saat ini.


"Semoga saja, Edwin bahagia setelah aku menyerahkan semua yang dibutuhkan anakku. "


Sampai di rumah sakit, Lorenza turun dari mobil taksi, ia tiba tiba saja dikejutkan dengan Sarah yang memukul pelan bahunya.


"Sarah." Lorenza terkejut, ia memegang dadanya melihat Sarah tersenyum manis dan berkata, " ketamu lagi. Kamu kok baru datang lagi ke rumah sakit?"


Sarah melipatkan kedua tangannya, ia melihat Lorenza yang terlihat bingung saat ingin menjawab perkataan darinya.


"Kenapa, kaya orang bingung gitu?"


Lorenza tersenyum dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Sarah.


"Ini, aku, sibuk!"


Sarah mengerutkan dahi, tak mengerti dengan jawaban dari Lorenza. " Apaan sih, kamu sibuk gitu?"


"Nah, itu iya." Menganggukkan kepala, tersenyum lebar, di saat situasi seperti ini, Lorenza tak menyangka jika ada Sarah yang tiba tiba saja datang.


"Mm, kalau begitu, kita masuk sekarang saja yuk."

__ADS_1


Padahal niat Lorenza saat ini adalah operasi, ia tak mau bertemu dengan Edwin, dan tahu jika Lorenza akan melakukan hal yang tak pernah diinginkan Edwin.


"Aku mau ke toilet dulu, jadi kamu duluan saja ya. "


"Ya, aku kira kita akan barengan, ya sudah jangan lama lama. "


"Oke."


Lorenza terburu buru pergi ke dokter yang akan menangani Edwin dan juga dirinya, ia berusaha mencari cela agar Sarah tidak memberitahu jika Lorenza datang ke rumah sakit.


"Sarah, tunggu. "


Mengejar sang besan, membuat Sarah menghentikan kakinya, ia menatap ke arah Lorenza dan berkata. " Ada apa?"


"Aku berharap kamu tidak memberi tahu Edwin dengan kedatanganku ke rumah sakit ya, karena!"


"Karena apa?"


Lorenza berusaha memikirkan alasan, agar Sarah percaya dan tak memberitahu jika ia datang ke rumah sakit pada Edwin.


"Heh, malah diam saja. Kenapa?"


"Itu, anu." Lorenza berusaha mengatur napasnya agar tetap tenang dan tak gugup saat memberi tahu alasan sesungguhnya.


"Kenapa? Aku lihat kamu kaya orang yang sedang menyimpan rahasia loh, keliatan gugup sekali."


Lorenza menelan ludah, Sarah selalu tahu dengan ekspresi wajah Lorenza ketika sedang berbohong dan menyimpan suatu rahasia.


Lorenza kembali lagi melamun, membuat Sarah mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah Lorenza.


"Lorenza, hey. "


Lamunan Lorenza seketika membuyar ketika Sarah terus memanggil namanya. " Iya. "


"Ya ampun Lorenza, kamu ini kenapa? Dari tadi aku panggil malah melamun terus. "


"Ehh, anu. Sebenarnya aku mau membuat kejutan untuk Edwin, sudah lama kan aku sebagai ibunya tak memberikan kejutan padanya. "


"Owh, begitu ya. Ya sudah, aku tunggu kamu di ruangan Edwin. "


"Oke."


Sarah meleparkan sebuah senyuman di depan Lorenza, membuat wanita yang menjadi besanya itu ikut tersenyum.


Setelah kepergian Sarah yang jauh dari hadapan Lorenza, waktunya wanita tua itu menjalankan oprasi yang sudah dijanjikan dokter padanya.

__ADS_1


"Ini saat ya, mudah mudahan saja berjalan dengan baik, aku ingin Edwin hidup seperti sedia kala, tak ada rasa sakit yang anakku rasakan, seperti sekarang. "


__ADS_2