
Putri mempelihatkan kedua pipinya yang terlihat memerah, ia seperti malu dengan kejadian yang menimpa dirinya.
Melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar, kini Putri menghentagkan kakinya, " sial, sial, kenapa bisa aku dipermalukan seperti ini. "
Putri berusaha menenangkan hati dan pikirannya, perlahan demi perlahan ia bisa membuang ingatannya tentang rasa malu yang dibuat oleh dirinya sendiri.
"Putri, kenapa dengan kamu ini, bisa bisanya melakukan kesalahan yang kedua kalinya, hey Putri kamu ini lulusan sekolah luar negeri tapi otakmu seperti orang bodoh, "Gerutu Putri melihat dirinya dibalik cermin.
Duduk di atas kasur, ia berusaha mengatur napas, melihat layar ponsel.
" Kenapa di poselku saat ini, tak ada yang menarik sama sekali, " ucap Putri hampir melemparkan ponselnya ke atas lantai.
Namun suara nada pesan berbunyi, Putri melihat siapa orang yang sudah mengirimnya pesan.
Kedua mata membulat, nomor baru yang tak di kenal membuat Putri mengerutkan dahinya.
"Siapa ini. "
*********
Edwin dan juga Natasha kini tertawa terbahak-bahak di dalam kamar setelah apa yang mereka lakukan terhadap Putri.
"Baru tahu rasa dia, sudah dikasih tahu tetap saja ngeyel. "
Mendengar perkataan Natasha membuat Edwin kini memeluk istrinya dan berkata, " apa kamu senang melihat semua yang terjadi pada Putri?"
"Mm, jelas senanglah, dia bikin aku kesal, bisa bisanya gadis berumur delapan belas tahun itu bersikap tak sopan, " ucap Natasha mengeluarkan segala kekesalannya di hadapan sang suami.
" Memangnya apa yang sudah Putri lakukan kepadamu?" pertanyaan Edwin tak sengaja dijawab oleh Natasha dengan terus terang.
"Aku kesal sama Putri, dia terus menerus menanyakan kamu, dan parahnya lagi, dia seperti orang yang sok polos dan .... "
"Kamu cemburu," perkataan Edwin yang memotong pembicaraan Natasha, membuat sang istri terdiam.
Ia membulatkan kedua matanya, terlihat ada raut wajah dan rasa malu dirasakan Natasha.
"Apa sih nggak jelas banget. "
Natasha yang terlihat salah tingkah, melepaskan pelukan dari tubuh suaminya, ia berusaha menghindar dari hadapan Edwin.
__ADS_1
Namun Edwin yang terkesan jahil itu, kini menarik tangan istrinya lalu memeluk tubuh sang istri dengan begitu erat.
"Edwin, lepaskan." kedua pipi Natasha terlihat memerah, ia seperti malu saat Edwin memperlakukannya begitu romantis.
"Kenapa? Kamu tidak mau aku peluk?" pertanyaan Edwin membuat Natasha berusaha memberontak.
"A-k-u." belum perkataan Natasha terlontar semuanya, Edwin langsung membalikkan tubuh istrinya itu, di mana tubuh Natasha ini berhadapan dengan tubuh suaminya.
"Kamu gugup?" tanya Edwin, perlahan bibir tipis suaminya mulai mendekat dan semakin dekat.
Sampai.
Natasha yang terlihat terkejut kini menutup bibir suaminya dengan telapak tangan, " husst. "
Jari tangan Natasha kini ia tempelkan pada bibir tebalnya, Natasha merasa ada seseorang yang tengah mengintip aktivitas mereka berdua di dalam kamar.
"Sedang apa kamu?" Tanya Natasha, kini berjalan mendekat ke arah jendela kamarnya.
Sontak orang itu keluar dari balik jendela kamar Natasha, terlihat ia tertawa. Membuat Natasha geram dan menarik kerah baju lelaki yang sudah lancang berada dibalik jendela kamar Natasha.
Edwin terkejut, melihat sosok lelaki itu, ia melihat ponsel yang digenggam lelaki itu dengan begitu erat, " ponsel. "
Merebut ponsel dari tangannya, melihat jika lelaki itu sengaja merekam aktivitas Natasha.
"Apa maksud kamu, siapa yang sudah memerintah kamu? Cepat jawab?"
Lelaki itu beberapa kali menelan ludah, ia seperti takut dengan ucapan Natasha yang terdengar sedikit membentak. " Tidak ada?"
Natasha yang kesal, kini mengelintirkan tangan lelaki itu, sampai ia meringis kesakitan. " Mau mengaku, atau aku sakiti tanganmu ini?"
"Ahk, kumohon jangan!" Lelaki itu terus meringis kesakitan, ia hampir menangis karena tangannya terus dibuat Natasha membalik.
Karena melihat tangisannya, membuat Natasha terpaksa melepaskannya begitu saja.
Dengan kesempatan yang ada, lelaki itu merencanakan untuk melarikan diri.
"Aku harus keluar dari rumah ini, " gerutu hati lelaki tua itu. Ia berusaha tetap fokus, melihat kelengahan Edwin dan juga Natasha.
"Edwin, cepat telepon kantor polisi sekarang juga. " printah Natasha pada suaminya. Dengan terburu buru pada akhirnya Edwin menurut, lelaki itu berlari untuk mengambil ponselnya.
__ADS_1
Bagi lelaki itu, ini adalah kesempatan yang sangat bagus, mana ia bisa melarikan diri untuk segera pergi dari hadapan Natasha.
Dengan aba-aba yang Iya buat sendiri di dalam hatinya, lelaki itu berhasil kabur dari genggaman tangan Natasha, namun Natasha yang tak bisa dibohongi, dengan Sigap membuat lelaki itu terjatuh hingga mengakibatkan kepalanya terbentur pada jendela.
Ia terkulai lemah di atas lantai kamar Natasha, di mana tawa dilayangkan oleh Natasha, " bisa-bisanya, kamu berniat melarikan diri. Apa kamu tidak tahu, kalau aku ini bukan wanita lemah."
Lelaki itu terlihat tak berdaya, untuk berdiri pun terasa begitu berat, membuat ia hanya bisa terkapar di atas lantai.
" Siap-siap saja polisi akan menjemputmu sekarang juga. "
Natasha mencengkram belakang baju lelaki itu membuat wajah nya berhadapan langsung, " jadi kamu tetap tidak mau mengatakan. Siapa orang yang sudah memerintah kamu untuk merekam aktivitas aku dan suamiku?'
Lelaki itu tetap bersih keras, ia tak ingin mengatakan siapa orang yang sudah memerintah.
" Saya tidak akan mengatakan siapa orang itu."
Natasha hanya menggelengkan kepala. merasa kasihan dengan lelaki yang sudah membuatnya kesal. " bisa-bisanya kamu menyembunyikan identitas orang yang memerintahkan itu. Padahal dia itu tidak akan rugi, sedangkan kamu masuk ke dalam penjara. "
Lelaki itu menelan ludah terus menerus, ia seperti ketakutan ketika ungkapan Natasha membahas tentang kantor polisi," Jadi bagaimana, kamu benar-benar ingin masuk ke dalam penjara?"
"Aku lebih baik masukkan penjara daripada harus mengatakan. Siapa orang yang sudah memerintah. "
Obrolan keduanya tiba-tiba saja terhenti, saat Edwin dan juga kedua orang tuanya datang.
"Aduh, sebenarnya kenapa ini?"
Natasha masih meringkuk lelaki yang sudah membuat masalah bagi dirinya.
Sarah mendekat melihat sosok lelaki itu," heh, ngapain kamu mengintip anak-anakku, Siapa yang sudah memerintahkan?"
Bukan Natasha saja, saat ditanya lelaki itu tetap diam membisu.
Rudi ikut serta melihat raut wajah lelaki yang tengah diringkuk oleh anaknya. Mengusap pelan dagunya, dan kini melayangkan sebuah perkataan, " aku seperti mengenalmu, perasaan kita pernah ketemu ya, tapi dimana?"
Lelaki itu berharap jika Rudi tidak mengatakan sebuah nama, yang akan membuat dirinya harus membongkar orang yang sudah memerintahnya.
"Tunggu, kamu Asep ya. Pegawai OB yang sudah aku pecat kemarin itu. "
Semua orang yang berada di sana membulatkan mulutnya," jadi Nama kamu itu Asep, Kenapa kamu mau mau saja diperintah menjadi pecundang seperti ini?" pertanyaan Natasha membuat lelaki itu terdiam membisu.
__ADS_1