
Dan pada akhirnya Rudi berjalan cukup lumayan jauh, ia melihat istrinya tengah bersantai, membuat dia melabaikan tangan dan berteriak, " Sarah."
Teriakan lelaki tua itu, membuat orang orang saling memandang satu sama lain ke arah Sarah dan juga dirinya.
Sarah mendengar teriakan itu, ikut melabaikan tangan, " papah. "
Mamah muda itu berlari menghampiri sang suami yang terlihat kelelahan, napasnya terengah engah.
"Mama, kenapa tega ninggalin papah?"
Sarah tersenyum tipis dan berkata, " mama nggak bermaksud ninggalin papah kok, mama nggak sadar aja jalan mama itu terlalu cepat!"
"Mama ini gimana sih, nggak ngeliat kondisi fisik papah yang tua ini ya. "
Sarah memandangi sang suami dari ujung kepala hingga ujung kepala, melirik kulit keriput begitupun dengan wajah keriputnya.
"Ahk, iya juga sih, apa yang dikatakan papah, berarti dulu mama bodoh sudah nikah sama papih yang tua ini. "
Terlihat Rudi tak terima dengan perkataan istrinya, ia mengusap belakang kepalanya. " mm, lalu kenapa mama mau dulu, kalau mama sadar papah ini sudah tua. "
"Ya kan papah baik hati. "
Sarah mencubit pipi mengkerut milik suaminya, " akh, sakit mama, nyubit kaya orang kesal aja. "
Sarah tertawa terbahak bahak dan berkata, " papah ini, habisnya ngegemesin deh. "
"Ngegemesin apa nyebelin?"
"Mm, dua duanya kali ya!"
"Mama."
Sarah kini menarik tangan suaminya, agar tidak menjadi pusat perhatian orang orang yang dari tadi melirik dengan saling berbisik.
"Loh, nggak jalan kaki. "
Menghentikan mobil taksi, kini Sarah menyuruh suaminya untuk cepat masuk ke dalam mobil.
"Ayo pah, kita masuk. Natasha pasti menunggu kita. "
"Iya mah. "
Keduanya kini naik taksi untuk kembali lagi ke rumah sakit, mereka tak sadar jika langkah kaki mereka terlalu jauh.
Di dalam taksi, Sarah menunjukkan barang belanjaanya begitu banyak, ia berkata, " papah lihat, mama sudah banyak beli makanan. "
Lelaki tua itu bergiding ngeri, melihat makanan yang dibawakan Sarah, membuat ia bertanya, " papah nggak suka, ini enak loh. "
"Nggak mau, makanannya nggak higeinis dan kurang sehat. "
Sarah mulai meraih dadar gulung yang ia beli, memakannya dihadapan sang suami.
__ADS_1
"Ya sudah kalau papah memang nggak suka, mama saja yang makan. "
Perut lelaki tua itu terasa keroncongan, ia tak bisa menahan rasa lapar mereka sendiri.
"Kenapa, pasti papa lapar. "
Melirik sekilas, dan mengurungkan niatnya untuk tidak memakan makananya yang dibelikan sang istri.
Karena ras lelah, ditambah lagi perut kosong membuat Rudi tak bisa menahan aroma dari jajan yang baru saja dimakan oleh istrinya.
Tak tahan karna perut terus berbunyi, pada akhirnya Rudi mengambil makanan istrinya dan langsung mencicipinya begitu saja.
"Ya elah, tadi sok soan nolak, sekarang pengen makanan ujungnya. "
Rudi tak mempedulikan perkataan istrinya, ia merasa baru pertama kali memakan makanan di luar, " ternyata rasanya tak seburuk yang aku pikirkan. "
Sarah tertawa terbahak bahak, " makananya jangan selalu asal menilai makanan orang. "
Rudi dengan begitu semangatnya, melahap makanan yang dibeli istrinya.
Sampai, Rudi mulai meminta lagi makannya, namun Sarah tidak memberikan keinginan suaminya.
"Papah ini kaya kesurupan aja, ini punya Natasha. Siapa suruh mama beli, papah malah nggak mau. "
"Ayolah mama, papah minta satu saja. Papah masih lapar. "
"Sudah biar nanti kita beli di restoran setelah mengantarkan cemilan dan minuman ini pada Natasha. "
Rudi masih melirik pada keresek yang dipegang oleh istrinya, ia terlihat masih ingin mencicipi jajanan jalanan yang selalu disukai anaknya.
Sampai mereka di rumah sakit, Sarah melihat Natasha dan juga Lorenza tengah mengobrol, terlihat dari kejauhan keduanya begitu serius.
Sarah melihat anak perempuanya itu menangis, seperti sesuatu terjadi pada dirinya.
Melangkahkan kaki dengan cepat, Natasha berusaha berdiri dan pergi dari hadapan sang mertua, karena ia menyadari ada sang mama yang pulang membawa makanan.
"kemana Natasha pergi?"
Pertanyaan Sarah terdengar sedikit kasar, membuat Lorenza berusaha bersikap tenang. " Dia katanya mau ke toilet. "
Sarah mulai duduk, ia bertanya pada sahabat yang pernah jadi musuh ya dulu. " aku mau tanya sama kamu?"
"Tanya apa!"
"Apa yang sudah kamu katakan pada anakku, kenapa tadi aku melihat jika Natasha menangis. Kamu sudah melukai hatinya ya. "
Lorenza tak tahu jika ia pulang dari tadi, membuat ia berkata, " oh tadi, Natasha kelilipan jadi ia menangis, matanya katanya perih jadi ia pergi ke toilat. "
" Jangan bohong kamu, aku tahu kamu sedang bercanda kepadaku kan? "
"Sarah, kenapa kamu malah marah marah tak jelas seperti itu, sebaiknya kamu tanyakan pada anakmu itu!"
__ADS_1
Sarah berusaha tetap tenang, ia duduk menunggu kedatangan anaknya yang tak kunjung kembali.
"Lorenza, kalau kamu bohong dan terbukti menyakiti anakku, aku tak akan segan segan membuat kamu menderita. "
Begitu sayangnya Sarah pada Natasha, ia sampai sampai mengancam Lorenza.
"Terserah kamu, toh aku sudah menjelaskan semuanya."
Natasha kini kembali dari toiletnya, " mama. "
Mendengar suara Natasha, membuat Sarah langsung melirik dan berkata. " Natasha, apa kamu baik baik saja, terjadi sesuatu dengan kamu setelah mama pergi meninggalkan kamu bersama mertuamu. "
Natasha sekilas menatap ke arah mertuanya dimana wanita tua itu terlihat santai dan biasa saja.
Sarah memegang kedua bahu anaknya. " kenapa kamu malah diam saja, mama nanya loh dari tadi. Kamu ini kenapa?"
Natasha menggelengkan kepala, berusaha tidak menceritakan semuanya.
Sarah tetap harus tenang, ia tak mungkin menekan anaknya untuk bercerita dihadapan.
"Natasha, sebaiknya kamu duduk, biar perasaan kamu tenang. "
Sarah yang melihat sesuatu yang aneh pada keduanya, " apa yang mereka ceritakan ketika aku tidak ada di dekat Natasha. "
"Ini sayang, mama buatkan cemilan yang enak buat kamu. "
Sarah yang memberikan makanan itu, pada anaknya, berpura pura mengabaikan Lorenza.
Tak menawarkan makanan yang ia beli pada besannya sendiri, Sarah terlihat kesal, entah karena apa, membuat ia hanya memperhatikan anaknya.
Namun Natasha tak tega dengan mertuanya itu, ia memberikan makanan kesukaannya pada Lorenza, " Mommy, ayo makan."
Sarah yang melihat pemandangan itu merasa tak suka, sampai ia berkata, " Natasha. "
Sedangkan Natasha tak mempedulikan sama sekali perkataan sang mama, ia memberikan sebagian makanan yang dibelikan sang mama.
Dan mau tak mau, Sarah harus mengikhlaskan makanan yang ia beli diberikan pada mertua anaknya.
Natasha menikmati makanan yang dibelikan sang mama, dimana Sarah tersenyum bahagia dan bertanya. " Bagaimana makananya enak. "
Natasha menganggukkan kepala, ia tersenyum lebar, namun senyumannya itu tak membuat hati Sarah tenang, karena Sarah merasa ada sesuatu yang tak beres dengan anaknya.
"Habiskan ya sayang. "
Rudi terus memanggil istrinya untuk pergi ke restoran, karena perut buncit Rudi terus mengeluarkan suara.
"Mama ayo kita makan di restoran, papa lapar sekali nih ma. "
"Ya ampun, papah ini bisanya mengganggu saja. "
"Ayo."
__ADS_1
Mau tidak mau Sarah harus meninggalkan anaknya lagi bersam Lorenza, dalam lubuk hati yang paling dalam ada rasa takut menyelimuti hati Sarah.