Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 26


__ADS_3

Saking lelahnya, Sarah terbangun dari tidur secara tiba tiba karena merasakan getaran ponsel pada saku celana.


"Jam berapa ini." Menatap layar ponsel dengan menyipitkan kedua mata, Sarah melihat balasan pesan dari Lorenza.


(Heh, anakku pasti bertanggung jawab, jadi kamu jangan takut. )


"Hem, jam segini nenek peot itu baru membalas pesanku. Dasar lemot. " Gerutu Sarah, mengenggam erat ponselnya.


Malas membalas pesan dari Lorenza sang musuh, Sarah kini menaruh ponselnya kembali, ia baru sadar ada selimut yang menyelimuti tubuhnya. Ia tersenyum, " mm. Ini pasti kerjaan papah. "


Saking senangnya, Sarah bangun, beranjak berdiri dengan mulut menguap beberapa kali, tubuhnya terasa lemas, ia berencana menghampiri suaminya di dalam kamar. " Jangan jangan papah bangun karenaku. "


Masuk ke dalam kamar, tampak di dalam terlihat kosong, tidak ada tanda tanda suaminya.


"Kemana papah?"


Sarah sedikit curiga, ia bergegas pergi keluar kamar mencari keberadaan suaminya, tanpa harus berteriak memanggil manggil nama sang suami.


"Apa jangan jangan. Ahk,"


Sarah kini mempercepat langkah kaki, mencari keberadaan sang suami, yang ia curigai ada di dalam kamar Iyem.


Perlahan berjalan, menempelkan telinga pada pintu kamar.


"Ahkkk. Tuan aw, sakit. Pelan pelan. "


Sarah mendengar rintihan Iyem yang terdengar mendesah seperti menikmati sesuatu.


"Apa jangan jangan. "


Tangan Sarah mulai membuka clop pintu, namun ia urungkan lagi.


Mendengarkan terlebih dahulu. Sebelum terburu buru masuk " Tuan, ah ih uh. "


"Sabar sayang, mayones sebentar lagi keluar, tahan ya. "

__ADS_1


Kesempatan yang sangat bagus untuk Sarah, Brakkkk ....


Keduanya kini berpencar, " Oh jadi ini kelakuan kalian di belakang saya. Hah. "


Rudi mulai menutup otong yang hampir mengeluarkan manyones, terasa sudah lama membeku, giliran mencari terhalang karena terkejut dengan gertakan sang istri.


Disatu sisi lain, Iyem menarik selimut, menutupi tubuhnya. " Nyonya?"


Tatapan tajam Sarah memperlihatkan kekesalan pada pembantunya itu, " apa. Mau beralasan kamu?"


Rudi kini mendekat kearah Sarah, " apa mas, jangan sentuh aku, aku jijik. Aku jijik. "


"Gimana aktingnya keren kan, tunggu. Kita mulai dari awal lagi. Satu, dua, tiga, action."


"Sarah, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan sayang, ini semua hanya kebetulan saja. " Rudi mulai mencari alasan dan pembelaan.


"Tidak seperti yang aku pikirkan, memangnya kamu tahu apa yang aku pikirkan sekarang, hah?"


tanya Sarah. Membuang muka di hadapan suaminya.


"Kenapa tidak kamu teruskan perkataan kamu itu, kamu takut mengakui semuanya. Sekarang sudah ada bukti nyata, " tegas Sarah, berjalan menghampiri pembantunya itu.


"Heh pembantu tidak tahu diri, dasar L*nte, j*blai. kamu tidak tahu dirinya, sebagai seorang gadis harusnya kamu menjaga kehormatan kamu. Bukan malah kamu berikan percuma cuma," Sarah menarik rambut Iyem begitu sadis. Menariknya hingga Iyem terjatuh ke atas lantai.


"Aduhh, nyonya ampuuunnn. "


Teriakan Iyem membuat Rudi merasa tak tega, tetapi di satu sisi lain, ia juga takut di amuk oleh istrinya.


"Beraninya kamu, tidak punya malu. Masih baik saya, malam ini membiarkan kamu tidur di rumah, agar kamu bisa pulang besok, karena saya menghuatirkan kamu. " Hardik Sarah, mendorong kepala pembantunya itu.


"Ampun nyonya, saya benar benar hilaf. Saya mohon jangan siksa saya, " keluh Iyem, dengan harapan jika sang majikan mau memaafkannya.


Tangan Sarah terasa gatal, ingin sekali ia menarik Iyem keluar rumah dan membiarkan pembantunya itu di amuk masa, begitupun dengan Rudi.


Namun ia masih mempunyai hati Nurani, karena jika ia melakukan semua itu, yang ada keluarga bahagianya di nilai buruk oleh orang lain, apalagi imez sang suami yang nantinya akan berdampak pada perkejaan.

__ADS_1


Iyem kini memohon ampun pada Sarah, memegang kaki Sarah dan bersujud berulang kali." Saya akan laporkan kalian berdua ke kantor polisi.".


Mendengar perkataan Sarah, membuat Rudi bergegas menghampiri istrinya. " Sayang, janganlah."


"Mm, ternyata kalian takut juga, tapi saat melakukan hal menjijikan itu, kalian tidak membayangkan rasa takut itu kan."


Rudi dan Iyem saling menatap satu sama lain, mereka saling memberi kode. " Kalian. " Keduanya kini menundukkan pandangan setelah mendengar bentakan Sarah.


Rudi berusaha membuat istrinya percaya padanya, " sayang. Kamu jangan penjarakan aku, please, kalau aku dipenjara nanti keluarga kecil kita bagaimana?"


"Heh, kamu masih memikirkan keluarga kecil kita bagaimana nantinya? Tapi kamu malah selingkuh dan melakukan hal menjijikan bersama pembantumu ini, jangan mengatakan seolah olah kamu itu paling dibutuhkan di rumah ini. Jika kamu di penjara, aku bisa mengelola perusaahan kamu, jadi tak usah kuatir!" balas Sarah dengan begitu angkuhnya.


"Sayang, kamu jangan begitu ya. Aku datang kesini juga dipaksa oleh Iyem, katanya dia ingin mencoba sawahnya dibasahi, " ucap Rudi, seolah olah mengaggap jika Sarah itu bisa dibodohi.


Sarah perlahan memegang pipi suaminya, " lalu kamu menuruti keinginannya, heh. Jangan bertingkah sok polos sudah bau tanah gitu juga. "


"Aduh sayang, kamu kok tega ngatain aku bau tanah, " balas Rudi, memegang tangan Sarah sang istri.


"Cukup pah, jangan merengek seperti anak kecil, aku tetap pada pendirianku, menjebloskan kalian ke penjara. Agar kalian itu kapok tidak melakukan hal menjijikan lagi, " ucap Sarah, dimana ia melirik ke arah pembantunya itu.


"Owh ya, Iyem. Sudah berapa kali kamu dan suamiku berhubungan badan?" pertanyaan Sarah membuat Iyem menantap ke arah Rudi, dimana Rudi berusaha memberikan kode agar pembantu itu tidak berkata jujur.


"Anu nyonya, sudah .... "


Keraguan mulai nampak pada diri Iyem dimana Sarah berusaha menyakinkan gadis itu, " jika kamu berkata jujur, aku pastikan akan membebaskan kamu dari penjara. Mencabut laporan sekarang juga. "


Rudi tahu jika semua itu hanyalah jebakan semata dari Sarah, agar Iyem berkata jujur dan terpancing dengan begitu mudahnya.


Menunjukkan telapak tangan agar berkata bohong, namun Iyem yang tergiur akan perkataan Sarah pada akhirnya berkata jujur, " sebenarnya tuan sudah sering melakukan semua ini pada saya. Saya yang memang diiming iming uang puluhan juta akhirnya menurut dan pasrah. "


Sarah semakin kesal, ia berusaha menahan rasa sakit pada hatinya. " Apa kamu tahu apa alasan suami saya melakukan hubungan itu dengan kamu. "


"Katanya nyonya lemah di ranjang, nyonya tidak bisa gaya kodong ngambang, tanjam singkong, sama kuda berutal. "


Mendengar apa yang dikatakan pembantunya itu, membuat Sarah semakin jijik, dimana ia menatap ke arah suaminya. " Pah, kok mama baru tahu, hah. Jadi selama ini papah berpura pura menikmati percintaan kita yang ternyata hanya omong kosong. Dasar munafik. "

__ADS_1


Plakkk .... Tamparan keras dilayangkan Sarah pada suaminya. " Selama ini aku berusaha setia pada lelaki tua seperti kamu, tapi kamu malah tidak tahu diri. "


__ADS_2