
Natasha pulang dengan raut wajah bahagia, ia sudah memberi pelajaran dan juga peringatan kepada Nadia agar tidak balik lagi ke rumah sakit untuk mengunjungi Edwin.
Lorenza yang melihat kedatangan menantunya kini bertanya," Ke mana saja kamu Natasha, dari tadi Edwin terus menanyakan keberadaan kamu?"
Begitu pentingnya Natasha di mata suaminya, sampai beberapa menit pergi pun Edwin terus menanyakan sang istri.
"Maafkan aku mommy, tadi ada urusan mendadak. "
Terlihat Lorenza memaklumi perkataan menantunya itu, di mana Natasha mulai berjalan mendekat ke arah suaminya.
Tatapan sayu Edwin membuat Natasha merasa sedih, tangan lembut Natasya kini memegang kedua pipi sang suami.
"Jangan pergi, temani aku."
"Edwin, kamu harus bertahan aku akan mencari orang yang mau mendonorkan kerusakan pada org*n tubuhmu. "
Edwin tersenyum dan mejawab, " Mana ada orang yang mau mendonorkan kerusakan pada tubuhku. "
"Ada."
"Siapa, orang itu yang akan rugi nantinya. Walau dibayar mahal. "
"Kata siapa, geratis. "
Edwin mengerutkan dahinya masih tak mengerti dengan perkataan sang istri.
"Maskud kamu?"
Natasha duduk di samping Edwin, ia tersenyum lebar dan berkata, " Aku mau mendonorkan org*n tubuhku untuk kamu, demi kamu kembali sehat lagi. "
Edwin terkejut Mendengar hal itu, Iya menggelengkan kepala, " aku lebih baik mati dari pada harus kehilangan kamu. "
"Kenapa kamu berbicara seperti itu Edwin. "
Edwin memegang pipi kiri istrinya dengan lembut. " Aku tidak mau kehilangan kamu Natasha, aku ingin selalu bersama kamu, wanit barbarku. "
Senyuman kini terlukis dari bibir Natasha, air mata mengalir, terharu dengan perkataan Edwin.
"Edwin, aku ingin melihat kamu sehat seperti semula. "
"Natasha aku juga tak ingin melihat kamu menderita hanya karena aku, apalagi pergi dari dunia ini demi menyelamatkan nyawaku. "
Natasha berusaha tegar, menahan air matanya yang sebentar lagi menetes mengenai kedua pipi.
Lorenza datang, wanita tua itu seperti tahu apa yang dirasakan kedua anak-anaknya, iya berusaha mencairkan suasana agar keduanya tidak bersedih.
"Edwin, mommy berharap kamu bisa menjadi ayah yang baik. "
Edwin terkejut dengan perkataan sang mommy, di mana Natasha meraih tangan Edwin dan menempelkannya pada perut Natasha.
"Di dalam perut ini ada baby. "
"Baby. Jadi kamu hamil. "
Edwin tak menyangka dengan apa yang ia dengar dari mulut istrinya, sampai ia bertanya untuk kedua kalinya," Benarkah itu Natasha?"
"Benar Edwin, sekarang aku mengandung bayi kamu, keinginan kamu sudah terwujud kamu akan menjadi seorang ayah," ucap Natasha dalam kebahagiaan.
Di saat seperti itu Edwin ingin sekali memeluk sang istri, namun apa daya. Selang yang membantu Edwin untuk hidup terlalu mengganggu, membuat Edwin tak bisa memeluk sang istri untuk mengucapkan kata terima kasih.
"Akh."
Natasha mendengar rengekan suaminya, membuat ia berkata, " Kamu jangan terlalu banyak bergerak, badan kamu belum sehat seutuhnya. "
Edwin menganggukkan kepala, ada rasa kecewa dalam diri Edwin, karena ia menjadi sosok lelaki yang tak bisa berbuat apa apa, terkulai lemah dengan bantuan alat rumah sakit.
"Terima kasih Natasha. "
__ADS_1
"Ya sudah sebaiknya kamu istirahat saja dulu, jangan pikirkan apapun tentang kondisi kamu yang sekarang, aku yakin kamu akan mendapatkan pendonor. "
Edwin menurut dengan perkataan Natasha. Ia tersenyum lebar. Menganggukkan kepala dan tak yakin jika akan ada pedonor.
******
Keluar dari ruangan Edwin, Natasha bergegas pergi untuk mencari sarapan.
"Natasha."
Panggilan dari Lorenza membuat Natasha menghentikkan langkah kakinya.
"Iya mom, ada apa?"
"Apa kamu yakin dengan semua ini?"
Natasha menundukkan pandangan, raut wajahnya tampak bersedih, ia ingin menangis, tapi hatinya tak kuasa mempelihatkan semua kesedihannya di depan sang ibu mertua.
"Natasha yakin mom, Natasha akan berusaha mencari pendonor untuk Edwin, mommy jangan kuatir. "
"Kehamilan kamu. Mommy takut kenapa kenapa, kehamilan kamu masih menginjak usia muda Natasha. "
Natasha sebenarnya menghuatirkan hal itu, ia mengusap pelan perutnya, berusaha tetap tenang. Walau rasa lelah sudah menyerangnya terus menerus.
"Mommy tak usah kuatir, Natasha pasti bisa melalui ini semua, jadi mommy jangan banyak memikirkan hal hal yang malah membuat kesehatan mommy drop. "
Lorenza masih terlihat kuatir dengan menantunya, ia mempelihatkan raut wajah tak yakin.
"Ya sudah mommy aku pergi dulu. "
"Baiklah."
Sarah dan Rudi mendekat ke arah Lorenza, mereka berpamitan untuk mengurus perusahaan dan juga rumah, apalagi mereka meninggalkan Putri yang sendirian.
"Maafkan kami ya Lorenza tak bisa berlama lama di rumah sakit, karena banyak urusan yang harus kami kerjakan."
Lorenza memaklumi semua itu, ia hanya menganggukkan kepala dan mejawab, " iya hati hati, di jalan, terima kasih kalian sudah menemani kami di rumah sakit semalaman. "
Lorenza melihat kepergian Sarah, merasa kesepian, karena Perwira pun sudah pergi. Apalagi Natasha, ia kini melangkahkan kaki menuju ke ruangan anaknya.
Melihat Edwin yang terbaring lemah dan tak bisa merasakan kebahagian membuat hatinya sakit.
"Apa aku yang harus turun tangan soal ini, aku tak ingin melihat Edwin seperti ini terus menerus, sepertinya aku harus menjadi pendonor untuk kebahagiaan anakku. "
"Edwin, mommy akan melakukan apapun demi kebahagian kamu. "
Edwin meraih tangan sang mommy, dimana Lorenza mengira jika anaknya itu terlelap tidur.
Namun pada kenyataanya, Edwin tidak tidur.
"Mommy, jangan lakukan itu. "
"Edwin, kamu dengar apa kata mommy, jika mommy tidak melakukan hal ini, kamu tidak akan merasakan kebahagian bersama dengan Natasha dan anak kamu. "
"Tapi mom, Edwin juga butuh mommy, jika tidak ada mommy apa mungkin Edwin akan bahagia?"
Lorenza memegang tangan anak satu satunya itu, menyakinkan Edwin dengan berkata, " kamu bisa bahagia, karena mommy akan selalu ada di dalam hati kamu. Jangan pikirkan kebahagian mommy, pikirkan kebahagianmu, karena masa depan kamu masih panjang Edwin. Mommy sangat berharap sekali kamu bahagia dan bisa menjalani hidup kamu. "
Edwin menggelengkan kepalanya, ini yang pertama kalinya ia menangis dihadapan sang mommy, karena tak sanggup jika harus kehilangan harta berharga dalam hidupnya.
"Mommy, jangan lakukan semua itu. "
Lorenza berusaha melepaskan tangannya dari pegangan tangan Edwin, " tolong jangan cegah mommy, karena mommy melakukan semua ini, demi kebahagian dan kebaikan kamu. "
"Tapi tidak menaruhkan hidup mommy. "
"Seorang ibu akan rela menaruhkan nyawanya demi kebahagian seorang anak, tak perduli dia bahagia yang terpenting anaknya bisa tersenyum."
__ADS_1
Edwin mengusap kasar wajahnya, ia menangis sejadi jadinya, " please jangan lakukan hal itu, mommy akan menderita dan sakit sakitan. "
"Maafkan mommy ini yang terbaik untuk kebahagiaan kamu Edwin. "
"Mommy."
Lorenza berusaha menenangkan Edwin agar tak berteriak, ia kini berucap, " pelankan suaramu Edwin, jangan sampai keluarga kita tahu, jika mommy mengorbankan semuanya untu kamu. "
"Mommy, aku benar benar tak ingin kehilangan mommy, tak mau melihat mommy menderita. "
"Sudah cukup, jangan katakan hal itu lagi, mommy melakukan semua ini demi kamu, terbaik untuk kamu. Jadi menurutlah. "
Dokter datang ke dalam ruangan, ia memanggil Lorenza, dimana Edwin belum bisa tenang dan menerima semuanya.
Edwin berusaha bangkit dari tempat tidurnya, sekuat yang ia bisa. Sampai suster berusaha menahannya untuk tidak bergerak.
"Pak, jangan lakukan semua ini, nanti bapak akan terluka dan kesakitan, kami mohon untuk bapak agar tenang tidak gegabah jika ingin bangkit dari tempat tidur. "
"Suster, tolong tahan ibu saya untuk tidak menandatangani surat persetujuan saya mohon."
"Maaf pak, kami tak bisa, kami hanya pegawai. "
Edwin mengacak rambutnya dengan kasar, merasa prustasi karena ia tak bisa mencegah sang mommy.
"Mommy."
Tidak ada respon sama sekali, saat Edwin terus berteriak memanggil sang mommy.
"Apa yang harus aku lakukan, jika mommy menyetujui semuanya. "
Edwin melihat ke sekeliling ruangan, tak ada Natasha dan juga orang lain yang menjaganya.
"Apa ini semua sudah direncakan mommy, sampai hanya aku saja yang ada di ruangan ini dan tak bisa mencegah mommy, Natasha kamu dimana, saat situasi seperti ini kamu tak ada."
Di dalam ruangan sang dokter, berkas sudah tersedia tinggal Lorenza menandatangani berkas itu. " Silahkan anda tanda tangani, berkas persetujuan ini. "
"Baik dok. "
Lorenza menatap berkas itu tanpa membacanya, ia sudah tahu apa resiko yang akan terjadi pada dirinya setelah oprasi.
Tak peduli, jika ia mati sekalipun, yang terpenting Edwin bisa bahagia.
"Anda begitu ingin melihat anak sendiri bahagia, tanpa membaca resikonya. "
"Saya tak peduli dengan resiko yang terjadi pada diri saya, yang ada pada pikiran saya saat ini melihat anak saya Edwin bahagia."
"Begitu beruntung seorang anak yang mempunyai ibu seperti anda."
"Terima kasih atas pujiannya, karena itu ketulusan saya sebagai seorang ibu. "
"Mommy."
Teriakan Edwin dengan merengek seperti anak kecil, membuat Lorenza terkejut. Wanita tua itu bangkit dan menghampiri anak satu satunya.
"Saya permisi dulu ya dok. "
"Silahkan."
Lorenza datang menghampiri Edwin, dimana Edwin memanggil namanya terus menerus.
"Mommy." Ia meraih tangan sang mommy, mencekramnya dengan begitu erat.
"Mommy tidak menandatangani persetujuan pendonor itu kan?"
Pertanyaan Edwin membuat Lorenza hanya diam, ia tak menjawab sama sekali pertanyaan anaknya.
"Mommy, ayo jawab. Kenapa mommy malah diam saja. "
__ADS_1
Lorenza hanya tersenyum manis.
"Kamu jangan pikirkan apa apa ya sayang. Mommy ingin yang terbaik untuk kamu. "