Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 49


__ADS_3

"Mama gue itu sekarang sekarang agak genit, lu sadar kagak sih, apa lu pura pura. Padahal gue liat lu kaya ketakutan gitu sama mama gue," ucap Natasha, mencubit pipi suaminya.


"Ahk, kamu ini gimana sih, sakit, " balas Edwin, kedua insan itu malah bercanda, terlihat kebucinan mereka tiba tiba muncul.


Kedua pipi memerah, mempelihatkan bertapa malunya Edwin saat itu, ingin mengigit bibir tebal sang istri.


"Kenapa?" tatapan mata Natasha membuat banyangan kejadian saat di kamar mandi terus melingkari isi kepala Edwin.


Ingin saat itu Edwin melahap sang istri yang akhir akhir ini terlihat seksi.


"Hem, Natasha. " Kedipan mata diperlihatkan Edwin, membuat Natasha yang melihatnya menyingkirkan dan berkata, " mau apa lu, hah. "


Edwin mempelihatkan tangan kekarnya, seperti tengah mengobok ngobok sesuatu, menganggkat kedua alis dengan berkata, " mm. "


"Apaan sih," ketus Natasha, memajukkan kedua bibirnya. Edwin yang melihat Natasha seperti itu, dengan sengaja mencium bibir tebalnya.


"Edwin." Mengusap kasar bibir, Natasha kini memukul pelan pipi Edwin.


"Ahk, " rengek Edwin, bangkit dari tempat duduknya.


Dimana ia pergi meninggalkan Natasha sendirian, " Edwin, lu mau kemana?"


Edwin menatap sekilas kearah istrinya dan menjawab, " bukan urusan lu."


Memukul meja makan, " ahk, sakit. "


Natasha pada akhirnya mengejar Edwin dengan gaya jalannya yang ngangkang.


"Heh lu, tunggu. "


Natasha tetap memaksakan diri untuk berjalan mengejar suaminya, " Edwin. "


Edwin melirik sekilas ke arah istrinya yang berjalan seperti pinguin, membuat ia berkata, " Natasha, Natasha. "


Datang mendekat dan mengangkat tubuh istrinya. " Edwin lepaskan, gue bukan anak kecil lagi. Lu paham kagak sih. "


Edwin mencium bibir Natasha, membuat wanita itu diam, " sebaiknya kita rebahan saja, kaya emak emak kalau udah cape, langsung tiduran di kasur. "


Natasha berusaha memberontak dengan berkata, " Gue kagak mau, pasti lu bakal obok obok gue kan. "


"Mm, dari pada gue obok obok tetangga, emang kamu mau. "


"Edwin, apa sih lu nggak jelas, cepat turunin gue. "


"Ya elah, kamu cemburu,"


"Idih gue cemburu, ama laki model ke lu, ogah. "


Wajah pura pura Natasha begitu terlihat oleh Edwin, dimana lelaki berbadan kekar itu berkata, " sudahlah, jangan munafik, jujur aja. "


"Ckk, siapa yang munafik. Pede banget sih lu jadi cowok. "


Natasha terlihat marah, ia masih dalam pangkuan suaminya. " Ya udah lah terserah kamu. "


Edwin kini menurunkan tubuh istrinya, ia masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya segera.

__ADS_1


"Edwin lu. "


Natasha berusaha mengetuk pintu kamarnya sendiri dengan begitu keras, " Edwin, lu keterlaluan . Ini kamar gue. "


Edwin merebahkan tubuhnya, memegang ponsel mengabaikan teriakan Natasha.


"Edwin lu, jangan main main. Cepat buka atau gue cekik lu. "


Edwin merasa risih dengan teriakan Natasha, ia berusaha menutup telinganya dengan hadset.


"Ahk, aman. "


Tok .... Tok ....


"Sialan, si Edwin ini. Bisa bisanya ngerjai gue. "


Mengerutu kesal, Natasha mencoba mencari kunci cadangan.


*****


Sarah baru saja sampai di tempat tujuan, ia mencoba mencari keberadaan Perwira.


"Dimana lelaki itu. "


Setelah merapikan rambutnya, Sarah terlihat tak nyaman, apalagi ia memakai baju yang terlihat begitu seksi.


"Kenapa persaanku tak enak begini ya. "


Tring ....


Sarah membaca pesan dari Perwira, ia berjalan dengan berlengak lenggok, mencari kebaradaan meja kedua yang dikatakan Perwira.


Perwira ternyata sudah menyediakan semuanya, dimana makanan dan minuman sudah ada di atas meja.


Tatapan mata Perwira terlihat genit, ia terus memandangi Sarah dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Kenapa?"


Pertanyaan Sarah membuat Perwira mengusap pelan dagunya.


Menggelengkan kepala dan berkata, " tidak kenapa kenapa, hanya saja aku terpesona dengan kecantikanmu. "


Kedua pipi Sarah tiba tiba saja memerah, dimana ia merasa malu dengan pujian dari lelaki yang sudah beristri.


Perwira menyuruh Sarah untuk duduk. " Ayo duduk. "


Sarah menganggukkan kepala dengan pipinya yang masih terlihat merah seperti cabai.


Saat Sarah duduk.


Berewekkk .... Perwira terus menatap ke arah Sarah, dimana wanita yang menjadi ibunda Natasha itu terlihat panik.


"Saya sudah memesankan makanan untuk kamu. "


Sarah tersenyum lebar, perasaanya tak karuan ia bergumam dalam hati, " ya ampun, gimana ini. Celana d@l@manku sobek, ahk. Memalukkan sekali. "

__ADS_1


"Sarah."


"Sarah."


Berulang kali, Perwira memanggil nama Sarah.


Namun Sarah tak merespon sama sekali panggilan dari Perwira.


"Sarah."


Memegang punggung tangan Sarah, " Ahkk, cancuetku sobek. "


Perwira terkejut ia mengerutkan dahinya, " Sarah kenapa?"


Dengan sigapnya menutup mulut, dan tersenyum kembali, Sarah berusaha bersikap tenang. " Kamu kenapa, seperti panik begitu. "


Mencoba menjawab dengan nada tenang, namun sobekan itu semakin merambat. " Ya ampun gimana ini?" gumam hati Sarah.


"Sarah, hey. Kamu kenapa?"


Sarah merasa malu jika mengatakan semua yang terjadi pada Perwira. " Aku malu. "


Perwira terkejut dengan jawaban Sarah," kamu malu bertemu denganku?"


Natasha berusaha menjelaskan semuanya pada Perwira, " bukan itu. Sebenarnya celanaku sobek, aku takut jika orang melihatnya nanti. "


"Hem, nggak papa dong. Itukan hanya di dalam bukan di luar."


Medengar jawab Perwira membuat Sarah kesal, " aku malu, tetap malu. "


Lelaki berbadan kekar itu kini membuka jas lalu berdiri, mengikatkan pada pinggang Sarah.


"Bagaimana, sudah tidak malu lagi. "


Sarah merasa malu, ia tak menyangka jika Perwira begitu romantis dan pengertian. " Perwira, apa kamu tidak kedinginan. "


Perwira menggelengkan kepala, " Kamu jangan kuatir, hanya karena jas itu aku tidak akan kedinginan. Owh ya, setelah makan malam, kita pergi ke mall, mungpung masih banyak waktu. "


"Pergi ke mall, untuk apa?"


"Menganti baju dalaman kamu yang sobek!"


Jawaban yang mengejutkan saat didengar oleh Sarah, " ya ampun, kamu tak usah sampai berlebihan begitu. "


Perwira tiba tiba saja memegang punggung tangan Sarah dengan lembut, dimana lelaki itu tersenyum dan menjawab, " tak apa apa, aku hanya ingin menyenangkan hati kamu. "


"Tapi, Lorenza, apa dia tidak akan tahu pertemuan kita ini, aku takut jika nanti Lorenza malah salah paham. "


Obrolan yang tadinya formal kini berubah begitu saja, Perwira tak sengan sengan merayu Sarah, wanita yang dulu pernah ia tolak.


"Kamu jangan memikirkan Lorenza, dia itu sudah tak peduli lagi dengan penampilannya, uang yang aku berikan padanya selalu ia simpan. Tak pernah ia belikan pada kebutuhannya, biar mempercantik diri, atau merubah dandannanya. "


Sarah tak menyangka jika Perwira akan mengeluh tentang Lorenza yang berubah derastis seperti nenek nenek. " mm, padahal aku juga berpikir seperti kamu kemarin, bisa bisanya seorang Perwira tidak bisa membuat istrinya cantik. "


"Ahk, itulah yang aku kuatirkan tentang pandangan orang. Makanya aku selalu malas jika melihat penampilannya yang terlihat kolot dan tak terurus itu. "

__ADS_1


Bisa bisanya Perwira menjelek jelekan Lorenza di depan Sarah. Wanita yang menjadi musuhnya itu.


__ADS_2