
Sampai di toko yang tak diharapkan, Edwin kini berbisik pada sang ayah, " Dad, ngapain kita datang ke sini, mau di taruh dimana muka Edwin."
"Sudah buang saja rasa malumu itu, ayo kita berjuang demi apem. Kamu dengar itu. "Teriak sang ayah pada anaknya.
Edwin menggelengkan kepala tak mengerti akan jalan pikiran ayahnya yang bela belaain membeli sesuatu yang memalukan bagi para wanita.
" Edwin, ayo pilih. "
"Daddy, kenapa di obral seperti ini, emang nggak ada bungkusan apa, Edwin tak sanggung megang ini daleman. "
Perwira malah memukul punggung tangan anaknya, " heh, kalau ini emang di obral, tidak kaya punya laki, terpajang rapi. "
"Malas lah Dad, apa kata wanita di sini, kita pegang pegang ini dalaman obralan "
"Aduhh, kamu rempong kaya wanita. "
"Jelas Daddy yang repong dari tadi. "
"Sudah, kita jangan berdebat lagi, sekarang fokus pilih pilih, biarkan orang lain berkata apapun yang terpenting kita tidak mencuri."
Edwin mengacak rambutnya kasar di depan sang ayah, " bukan itu masalahnya, tapi Edwin bingung ukuran cangcuet Natasha. "
"Bhahha, masa nggak tahu punya istri sendiri. "
Edwin mengerutkan dahinya, berdecak kesal, lalu bertanya balik, " Memangnya Daddy tahu ukuran cangcuet mommy?"
"Mm, tidak. "
"Bhaha, bisa bisanya meledek Edwin, dirinya sendiri tak tahu, memalukkan. "
"Heh, Edwin tinggal ukur saja di pinggang kita. "
"Apa?"
"Ukur saja di pinggang kita. "
"Hah, " Edwin semakin stres dengan perkataan sang ayah.
"Beda ukuran Dad, kita kan ada yang menonjol sedangkan wanita. Ahk, susah menjelaskannya. "
"Tinggal selepetin, susah amat. "
"Astaga, emangnya apem diselepetin, ini batang loh Dad, bukan kue "
"Hah, sudah ayo pilih saja. Jangan banyak ngomong. "
Ketika memilih, Edwin ditonton oleh para ibu ibu dan wanita muda, ada yang memfotonya, membuat kedua pipi Edwin memerah.
"Dad, nggak nyadar apa?"
"Astaga, apa lagi. Edwin?"
Edwin mendekat ke arah sang ayah, membisikan sebuah perkataan sembari menatap sekilas pada ibu ibu yang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Mereka mempotret kita. "
"Sudahlah biarkan saja. "
"Dad, ya ampun. Daddy ini kolot ya, kalau kita viral gimana?"
"Ya ampun Edwin, kamu repot sekali, kalau kita viral bagus dong terkenal. "
"WHAT. No, no."
Edwin malah membayangkan dimana dirinya viral di tok tok dan video yanto, dengan capion yang ditulis oleh orang orang. ( Viral Kedua laki laki berjas kantor sedang membeli segi tiga pengaman bernama cacuet.)
Mengusap kasar wajah, sudah tak dibayangkan lagi, bertapa malunya Edwin saat itu.
"Tidak, tidak. "
Edwin malah berteriak, membuat Perwira menutup mulut dengan segi tiga pengaman yang pas sekali ia pegang.
"Edwin, sadar. Kamu ini kenapa?"
"Mm, " Edwin memuntahkan segi tiga pengaman itu.
"Hoohk ohok. "
"Edwin, memalukan ngapain kamu teriak?"
Edwin menarik tangan ayahnya untuk keluar dari toko segi tiga pengaman wanita.
"Edwin."
Menghempaskan tangan anak semata wayangnya itu, Perwira kini berkata, " Edwin, kamu ini kenapa?"
"Daddy, sudah kita pulang saja, Edwin tak tahan ada di sini, ayo pulang. "
"Edwin. Kamu lihat ini. "
Lelaki tua itu malah mempelihatkan buruannya, ia malah terlihat bahagia, tersenyum dihadapan anaknya.
__ADS_1
"Kamu lihat, segi tiga berwarna merah ini, di tengahnya bolong dan kamu tahu, batang kita bisa masuk begitu saja. BHahhah. "
Edwin menggelengkan kepalanya, bisa bisa ia gila, setelah pulang dengan sang ayah.
"Ayo kita masuk lagi, Daddy mau bayar ini dulu. "
"Astaga. Daddy. "
Terpaksa Edwin mengikuti langkah kaki sang ayah, ia telihat kelelahan. Dengan perasaan yang menahan rasa malu karena kelakuan lelaki tua yang menjadi ayahnya itu.
Setelah masuk kembali ke toko, para wanita terlihat cuek, mereka tak ada yang menatap lagi Edwin.
"Sepertinya mereka sudah tak mempehatikanku dan Daddy. "
Sampai dimana Edwin tak sengaja melihat sesuatu yang terlihat menggoda.
"Tunggu apa itu?"
Perlahan berjalan ke arah barang yang dituju, dengan sigap Edwin memberikan pada kasir.
"Edwin, sudah. "
"Ya."
Wanita yang menjadi kasir itu, mendelik dan berbisik. " munafik. Malu malu tahunya mau. "
Edwin mendengar ucapan seorang wanita penjaga kasir itu. Berusaha tetap tenang dan tak memperdulikan perkataannya.
"Berapa."
"Seratus lima puluh ribu. "
Mendengar nominal yang diucapkan pelayan kasir itu, membuat Edwin membulatkan kedua mata. " hanya satu segi tiga muda, bisa mencapai ratusan ribu. "
Edwin melirik ke arah lelaki tua yang menjadi ayahnya, Edwin melihat lelaki itu begitu senang kegirangan setelah mendapatkan apa yang sudah ia inginkan.
"Dad, bisa tidak tak harus senang kegirangan gitu."
" kamu itu nggak mengerti ya kebahagiaan seorang laki-laki ketika memberi hadiah kepada seorang istri, apa lagi hadiah yang sudah diberikan seorang lelaki akan di timbal balik oleh wanita dengan apem berharga miliknya. "
"Astaga, bisa disaring tidak perkataannya Dad, ini tempat umum. Bisa-bisanya tidak mengontrol perkataan. "
"Hah, di sini semua orang pada cuek jadi kamu tenang saja tak usah malu seperti itu, Edwin."
Edwin menarik napasnya mengeluarkan secara perlahan, " haduh, apa Daddy ini berpura pura bodoh atau emang sudah bodoh dari tadinya. "
Perwira malah memukul pelan kepala Edwin, " Aduhh, dad."
"Iya iya. "
Pada akhirnya mereka pulang, sampai perwira lupa untuk membeli sebuah BH untuk istrinya.
"Daddy lupa. "
Edwin melihat sang ayah menghentikan langkah, membuat Iya bertanya, " ada apa lagi, Dad. "
"Kita balik lagi, Daddy lupa beli BH. "
"Astaga, sudahlah Dad, Edwin lelah ingin pulang, bukannya semua belanjaan ini sudah cukup menyenangkan hati istri kita. "
"Tetap saja, tidak ada BH tidak kompelit, jadi ayo pergi lagi. "
"Sudah, Edwin nunggu saja di mobil. "
Mendengar perkataan Edwin membuat lelaki tua itu menarik tangan anaknya, " sudah sekarang kamu jangan banyak alasan. Ayo cepat ikut. "
"Astaga, Dad. "
Edwin ingin sekali menangis saat itu, tak sanggup lagi ikut bersama sang ayah. " sudahlah Dad. "
Edwin dan juga perwira masuk lagi ke dalam toko, ya mencari BH untuk perempuan.
"Akhirnya ketemu juga. Ayobeli. "
Entahlah, saat itu juga rasa malu dalam diri Edwin perlahan demi perlahan hilang, Edwin yang tadinya benar-benar terlihat kekar dan juga gagah kini berubah kemayu hanya karena membeli keperluan wanita.
memilih-milih sampai di mana perwira yang begitu jahil, malah menempelkan BH itu pada wajah Edwin.
"Nah, ini cocok sekali. "
"Mommy, sudah cukup. Jangan gila. "
Edwin melepaskan Bh yang sengaja dipasang oleh ayahnya, Iya melemparkan begitu saja, sampai di mana BH itu mengenai wajah pengunjung yang tengah memilih-milih segi tiga pengaman. "
"Aduhh."
" Dad, aku benar-benar tak sengaja," ucap Edwin membuat Perwira menggelengkan kepala.
Wanita yang terkena lemparan BH oleh Edwin kini datang menghampiri Edwin, terlihat wajahnya memerah, wanita itu tampak kesal sekali.
Edwin menundukkan pandangan merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan, wanita itu kini mencaci maki Edwin yang sudah ceroboh melemparkan BH sampai mengenai wajahnya.
__ADS_1
"Heh, gara-gara kamu ya wajahku kena. "
Perlahan Edwin mulai mengangkat wajahnya, yang memperlihatkan wajahnya itu pada wanita yang tak sengaja ia lemparkan BH.
"Saya minta maaf, saya benar-benar tidak sengaja. "
Wanita itu malah membulatkan kedua matanya, setelah melihat raut wajah Edwin yang begitu tampan.
Menempelkan Kedua telapak tangan pada pipinya, " kamu begitu tampan. "
Edwin berusaha menghindar, melepaskan tangan wanita yang menempel pada pipinya secara tiba-tiba," Maaf saya ada urusan."
"Mau kemana?"
Edwin mulai berlari menarik tangan perwira untuk masuk ke dalam mobil.
Dimana lelaki tua itu berteriak memanggil anaknya," Edwin hentikan. Apa yang kamu lakukan?"
setelah masuk ke dalam mobil, Edwin terlihat terengah-engah, ia menatap ke arah jendela, takut jika wanita itu berlari mengejarnya sampai ke mobil.
"Edwin, kamu ini kenapa?"
Edwin mengusap pelan dada bidangnya, berusaha tetap tenang mengatur. " Kebetulan sekali tadi ada orang gila yang mau mengejar Edwin. "
"Orang gila, mana ada di toko orang gila. "
Edwin tak memperdulikan perkataan sang ayah, yakini menancapkan gas untuk pergi dari toko yang membuatnya stress.
"Kita cari toko lain saja. "
"Edwin, kamu ini ada ada aja. "
"Daddy sih lama, bikin darting saja. "
Edwin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera pulang menemui Natasha di rumah. " Edwin. bisa tidak jangan ngebut. "
Edwin tak memperdulikan perkataan sang ayah yang terlihat begitu ketakutan, " Edwin. "
"Sudahlah pah, jangan takut. "
"Edwin, kamu ingin buat Daddy jantungan. Cepat hentikan mobil ini. "
Edwin benar-benar tak memperdulikan perkataan sang ayah, ya terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Sampai dimana Edwin melihat sebuah toko yang dicari oleh ayahnya.
"Sudah sampai. "
Perwira terlihat begitu berantakan, berusaha membuka pintu mobil untuk segera keluar, kepalanya terasa berdenyut karena Edwin yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
"Edwin kamu ini benar benar ya, mau bikin Daddy mati. "
"Sudahlah Ded, Sekarang kan sudah sampai, waktunya kita memilih BH mommy dan Natasha. "
Tanpa rasa malu sedikitpun, Edwin kini melangkahkan kaki Masuk ke dalam toko yang terlihat begitu sepi.
Perwira mulai memilih-milih warna kesukaan istrinya, di mana Edwin memberanikan diri untuk membeli sebuah BH untuk istrinya.
******
Di dalam rumah, Lorenza dan juga Natasha begitu asik mengobrol. Tanpa mereka sadari jika kedua suami mereka tidak pulang-pulang ke rumah.
"Sudah jam lima sore mereka itu pergi ke mana sih, bisa-bisanya tidak memberi kabar kepada kita berdua. "
. Natasha yang terlihat menikmati pijitan dari sang mertua, membuat ia tidur dengan mendekur.
"Natasha."
Berulang kali Memanggil nama Natasha, wanita tua itu kini melirik ke arah wajah menantunya.
"Natasha kamu tidur. "
saking menikmati pijitan sang ibu mertua, Natasha tertidur begitu lelap, sampai Lorenza menggelengkan kepala.
" Edwin ini bagaimana sih, menantuku sampai kelelahan begini. Harusnya ia tuh pulang dan mengurus istrinya yang sedang ngidam ini. "
Lorenza menggerutu kesal, memarahi anaknya yang tak pulang-pulang ke rumah begitupun dengan suaminya.
Perlahan tangan lorenza mulai meraih ponsel pada saku celananya, Iya mengecek tak ada satu pesan pun dari sang suami.
" benar-benar keterlaluan sekali mereka, tak ingat istrinya yang ada di rumah, sebenarnya mereka itu ke mana."
Lorenza berusaha tetap tenang, ia mengatur napas agar jantungnya tetap stabil, Iya tak mau hanya karena seorang suami yang tak pulang begitupun anaknya membuat dirinya malah sakit jantung.
Karena rasa penasaran yang terus, Lorenza kini mengalah untuk menghubungi suaminya, beberapa kali menelepon namun tak ada satu panggilan yang diangkat dari Lorenza.
" Mereka itu kemana, kenapa jam segini tidak pulang pulang. "
Menahan rasa sesak di dada. Loreza kini bangkit dari tempat tidur Natasha, wanita tua itu berjalan keluar kamar.
"Dimana kalian ini. " Mengepalkan satu tangan, meninjunya beberapa kali, " awas saja kalau mereka pulang, aku akan beri pelajaran. "
__ADS_1