
Natasha datang berusaha menghentikan Sarah yang terus menjambak rambut Putri, dengan mengguyurkan badan keduanya dengan air, hingga mereka berhenti. Saling menjauhi diri satu sama lain, kedua mata mereka saling menatap tajam mengisyaratkan kebencian.
Baju yang mereka kenakan begitu basah, begitupun dengan rambut mereka," masih mau bertengkar lagi hah?" tanya Natasha melihat kekanak-kanakannya sang mama.
Mamah muda itu mendekat ke arah anaknya, berusaha mencari rasa simpati dari Natasha, berharap anak angkatnya itu membela dirinya dan memberikan kata maaf.
"Natasha, tolong mengertilah mama saat ini. " Tangan yang memegang pundak Natasha, kini dihempaskan begitu saja, membuat Sarah terkejut dan merasa sakit hati.
"Natasha, kenapa kamu jadi begitu pada mamamu sendiri, " ucap Sarah, mempelihatkan raut wajah sedihnya.
"Mama, masih tanya kenapa, apa mama tidak pernah merasa jika perlakuan mama terhadapku sangatlah menyakitkan, " tegas Natasha dihadapan Sarah, wanita yang selalu di sapa sebagai mama muda itu menundukkan wajah, ia merasa malu pada dirinya sendiri.
"Natasha, mama tid .... "
"Sudah cukup ma, jangan terus membela diri, jika mama bersalah cukup mengaku saja, " Natasha terlihat geram dengan perkataan Sarah yang terlalu bebelit, sampai dimana ia berucap kembali, " Natasha berharap mama itu sadar dari kelakuan mama yang tidak baik itu. "
Natasha pergi sembari meneteng baskom yang sudah kosong tanpa tersisa air sedikit pun, ia pergi dengan raut wajah kesalnya.
Sampai dimana. Brukkk ....
Natasha terjatuh, membuat ia berteriak, " ahk, pinggangku. "
Pemandangan serius itu tiba tiba berubah menjadi tawa, Natasha bangkit dan melirik pada orang orang yang mentertawakannya.
"Kenapa kalian tertawa?"
Semua kembali diam membukam mulut mereka masing masing, dimana Natasha pergi dengan rasa malunya.
"Kalian ini benar benar ya. "
Berjalan bungkuk dengam memegang pinggang, Natasha berusaha menahan rasa sakitnya karena rasa malu.
*********
Sedangkan Edwin melajukkan mobil dengan kecepatan tinggi, ia tak sabar ingin bertemu dengan sang mama dan juga Perwira, lelaki tua yang sudah mengecewakannya saat ini.
"Daddy, aku tak menyangka jika dia sejahat itu pada mama, berselingkuh dengan mertuaku, picik sekali pikiran Daddy. "
Mobil akhirnya sampai di tempat tujuan, Edwin keluar dari dalam mobil, memanggil sang papah yang mungkin tengah bersantai di pagi hari seperti ini.
__ADS_1
Lelaki berbadan kekar itu memanggil manggil, sang papah dengan sebutan khasnya.
"Daddy. Daddy. "
Teriakan yang membuat Perwira kesal dan merasa terganggu, lelaki tua yang tengah memainkan ponselnya kini bangkit dari sofa tempat duduknya. Menghampiri anak satu satunya yang terus berteriak memanggil namanya saat itu.
"Daddy."
Tatapan mata Perwira seakan mengisaratkan rasa heran dengan anaknya yang tiba tiba saja datang. Dengan raut wajah penuh amarah.
"Ada apa kamu berteriak tak sopan seperti itu pada papahmu ini?" Pertanyaan Perwira yang mempelihatkan ketegasannya membuat Edwin muak.
Ingin sekali ia membuang ludah pada wajah sang papah yang sudah mengkhianti mamanya itu.
Namun demi menjadi anak yang berbakti, walau sebesar apapun kekesalan, Edwin harus tetap menjaga kehormatannya, tak mungkin meredahkan dirinya karena kesalahan sang papah.
"Kenapa kamu malah diam saja, Edwin. "
Bibir yang penuh rasa kesal itu, tiba tiba diam membisu, dimana Edwin berusaha mengatur emosi agar tidak membuat keributan dan yang nantinya akan menyakiti hati Lorenza sang mama tercinta.
Menarik napas mengeluarkan rasa sesak yang mendera, " Apa benar papah sudah selingkuh dengan mertua Edwin, Tente Sarah? "
Deg ....
"Siapa yang mengatakan semua itu?"
Perwira tampak gelisah, ia berusaha tetap tenang agar Edwin tak mecurigainya.
Edwin tersenyum kecil, ia merogoh saku celana. Yang dimana Perwira semakin tak bisa mengontrol diri, ia emosi.
Mengeluarkan ponsel, Edwin tersenyum tipis, ia kini menunjukkan sebuah bukti nyata.
"Daddy lihat ini. "
Di saat Video itu ditunjukkan, saat itulah Lorenza melintas melihat perdebatan antara anak dan suaminya. Ia juga melihat rekaman video yang membuat hatinya kecewa dan kesal.
Perlahan mendekat dan mengambil ponsel Edwin, kedua mata Lorenza berkaca kaca, " papih, apa video ini beneran papih?"
Tanya Lorenza masih tak percaya, lelaki tua itu mulai merebut ponsel anaknya yang digenggam sang istri.
__ADS_1
"Video ini tak benar." Lelaki tua itu mulai meleparkan ponsel Edwin ke atas lantai.
Namun dengan sigapnya Edwin menahan aksi sang papah, " cukup Dad. jangan malah merusak ponsel Edwin. Mengaku saja. "
"Kamu gila ya, mana mungkin Daddy melakukan semua ini, kamu gila ya. Dia itu mertua kamu dan rasanya tak pantas papah melakukan semua itu. "
"Tak pantas? Jika Daddy tahu semua itu tak pantas, lalu kenapa Daddy mau berjalan berduaan dengan istri orang?"
Kesal yang kini dirasakan Perwira, ia berusaha menahan diri untuk tidak memukul anak satu satunya itu.
Lorenza berusaha menahan isak tangis, agar ia bisa mempertanyakan semuanya dengan tegas.
"Papih, mami tanya sama papih sekali lagi, apa benar video ini, jika papih memang berselingkuh dengan Sarah. "
"Mi, semua hanya kesalah pahaman semata. Jadi mami jangan terlalu percaya, papih akan jelaskan semuanya. "
Edwin mencoba merangkul sang mommy, berusaha menenangkan setiap kegelisahan yang dirasakan wanita tua itu.
"Edwin, apa kamu bisa mengatarkan mommy ke rumah nenek kamu. "
"Baiklah mom. "
Perwira yang mendengar hal itu, membuat ia berusaha menahan Lorenza agar tak pergi. " Tunggu sayang. "
Lorenza tak mempedulikan Perwira sama sekali, sampai dimana Perwira menarik baju istrinya. " Sayang tunggu. "
"Lepaskan, aku tidak sudi mempunyai suami yang tidak tahu diri seperti kamu. "
"Perwira? Lepaskan tanganmu dari baju Mommyku. "
Perwira mendengar anaknya menyebut nama, membuat ia murka dan kesal, menunjuk wajah Edwin dengan mempelihatkan raut wajah kesalnya. " Lancang kamu menyebut Daddymu ini sebuah nama. "
"Apa. Kenapa? kamu mau marah, silahkan! Aku akan mendengarkan amarhmu itu, setelah apa yang kamu lakukan terhadap Mommyku,. Kenapa kamu tidak menyadari kesalahanmu sendiri? Jika kamu bisa menghargai momiku. Pastinya aku akan menghargai kamu sebagai Daddy yang terhormat, yang tak pernah melukai mommy, wanita sudah melahirkanku susah payah."
"Cukup, jangan menyalahkan Daddymu ini terus-menerus. "
Edwin membuang wajah di hadapan Perwira, ia mengajak Sang Mommy, untuk segera pergi dari rumah yang saat ini ditempati oleh Perwira.
"Edwin, Lorenza tunggu. "
__ADS_1
Keduanya tak mendengarkan teriakan dari sang Daddy, keduanya pergi mengabaikan Perwira begitu saja.
"Mami, please percayalah kepada Papi, mana mungkin Papi berkhianat, tapi ini Sayang sekali terhadap mami," teriakan Perwira, tak mampu membuat keduanya luluh dan percaya, mereka terus berjalan untuk segera menaiki mobil.